
Jika Zian sedang dipusingkan dengan urusan membujuk anaknya agar segera tidur, maka disisi lain ada Dimas yang sedang harap-harap cemas. Laki-laki itu melirik kesana-kemari dengan mata membulat, mencari objek yang sebenarnya tidak ingin dilihatnya.
Jika monster betina itu menemukanku di sini, maka novel yang berkisah tentang Dimas tidak akan pernah terbit, ye kan author! batin Dimas.
(Suka-suka guweh, Dimas! guweh authornya! wkwkwk)
Ingin sekali Dimas menyembunyikan dirinya di dalam batu layaknya film-film yang ditontonnya saat masih kecil dulu, saat menghadapi keadaan bahaya dapat bersembunyi di dalam batu. Namun, ini adalah kehidupan nyata, Entah apa yang bisa dilakukannya untuk selamat dari amukan si Monster Betina.
Sambil mengucapkan ribuan do'a agar terhindar dari mara bahaya , Dimas mendekati Zian yang sedang sibuk membujuk anaknya.
"Bos, sepertinya aku harus segera pulang!" ucap Dimas dengan nada takut-takut. Matanya melirik ke tangga, berharap Anita tidak muncul dari sana.
"Kenapa kau tidak menginap di sini saja?" tanya Zian.
Dimas memutar bola matanya, berusaha mencari-cari alasan agar dapat segera keluar dari rumah yang kini baginya lebih menyeramkan rumah hantu.
"Aku kan harus menemani Rama di rumah sakit, Bos!" ucapnya.
"Baiklah, kau boleh pergi. Aku akan libur beberapa hari. Jadi kau urus segalanya bersama Anita. Aku akan menikmati masa kebersamaanku dengan istri dan anakku."
DUARRRR
"Tamat sudah riwayatku!" gumam Dimas.
"Aku juga mau libur, Bos! Aku sudah masuk ke kandang macan dan berpura-puran layaknya pawang dalam sirkus. Aku tidak mau masuk ke kandang serigala lagi! Kau tahukan, Bos! Singa memang raja hutan, tapi serigala tidak pernah main sirkus."
"Siapa yang kau maksud dengan serigala?" Terdengar suara lembut tapi menusuk yang membuat Dimas benar-benar merinding.
Glek!
Dengar beratnya, Dimas menoleh pada sumber suara itu. Tampak Anita berdiri di sana dengan setelan piyamanya. Menatap tajam pada Dimas.
"Hehe, Anita... Apa kabar? Apa kau baik-baik saja?" Dimas berusaha mencaikan suasana, namun Anita tetap tidak bergeming.
"Kau bukan hanya menyebutku monster betina. Dan yang kau maksud dengan serigala itu aku, kan?" teriak Anita.
Ya ampun, selamatkanlah aku, Tuhan! Kasihani aku! Monster betina ini benar-benar akan mencincang diriku. batin Dimas.
"Anita... Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengikatmu. Bos yang memintaku melakukannya!" suara Dimas terdengar getir namun Anita semakin garang.
Zian tersentak kaget mendengar ucapan Dimas, "Aku kan tidak memintamu mengikatnya. Salah sendiri kenapa kau mengikatnya." Zian mencoba menyelamatkan diri dari amukan Anita.
"Sungguh teganya dirimu, Bos!" ucap Dimas lalu mencoba memohon ampun pada Anita. "Hehe, Anita yang cantik jelita, aku mohon ampunilah aku. Aku melakukan itu agar Kenzo yakin bahwa aku benar-benar ada di pihaknya. Kau mengerti. kan?"
"Tidak!" jawab Anita singkat.
"Apa? Kenapa?" Dimas semakin gusar.
"Aku kesal padamu bukan karena kau mengikatku. Tapi karena kau terus menyebut monster betina di hadapanku!!" Anita melangkah maju, seiring dengan Dimas yang terus mundur ke belakang. Sampai akhirnya, tubuhnya merapat ke dinding rumah itu.
__ADS_1
Anita mencengkeram kerah kemeja Dimas, membuat laki-laki itu membeku. Hembusan nafas Anita membuatnya tidak berkutik. Dimas hanya melirik Zian dengan ekor matanya.
Sementara Zian pura-pura tidak melihat, dia hanya sibuk membujuk Deniz.
"Aku tidak serius berkata begitu, Anita! Aku hanya... hanya... hanya..."
PLAK PLAK PLAK PLAK
*
*
*
*
*
*
Dimas mengusap wajahnya keluar dari rumah Zian. Laki-laki itu baru saja mendapat hadiah persatuan lima jari milik Anita. Lebam sudah wajah tampannya.
Dimas mengucapkan ribuan sumpah serapahnya, sambil memonyongkan bibirnya, berjalan menuju mobil yang terparkir di sana. Sementara itu, seorang sopir yang sedang berada di pos penjaga seperti sedang menertawakannya.
Ya Tuhan, aku akan berdoa dari bangun tidur sampai tidur lagi, tapi jangan beri aku jodoh yang karakternya seperti monster betina itu. Dia lebih mengerikan dari mantan suaminya. batin Dimas.
Sejenak, Dimas melirik kaca spion, menatap wajahnya yang lebam.
Dengan cepat, Dimas melajukan mobilnya menjauh dari rumah itu.
****
Di dalam sana, Deniz masih merengut karena sang ayah baru saja memaksanya berganti pakaian dan membawanya ke kamarnya. Kamar yang dulu sengaja Zian buat untuk anaknya sebelum akhirnya ditangkap polisi.
"Deniz suka kamar ini, kan?" tanya-nya pada bocah itu. Sebenarnya bukan jenis pertanyaan, tapi penekanan. Bagaikan sebuah ancaman serius.
"Aku mau tidur dengan ibu, Ayah..." Lirihnya.
Zian garuk-garuk kepala mendengar permintaan anaknya itu. Ternyata menidurkan seorang anak tidak semudah menidurkan seorang wanita. Zian mulai kehabisan akal untuk bisa membuat Deniz tertidur.
Akhirnya, terbesitlah ide di otaknya. Zian menggendong Deniz keluar dari kamar itu, lalu menuju sebuah kamar yang terletak di ujung sana. Zian mengetuk pintu kamar itu dengan sedikit lebih keras membuat penghuni kamar terlonjak kaget.
Tidak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka. Tampak Anita yang begitu terkejut melihat Zian dan Deniz ada di depan pintu kamarnya. Sepertinya kebiasaan Zian sejak lama sangat susah dihilangkan, yaitu mengganggu Anita malam-malam.
"Mau apa kau kemari?" tanya Anita menatap curiga pada bosnya itu.
"Atasi dia!" titah Zian sambil menyerahkan Deniz ke dalam gendongan Anita.
Anita yang sudah bisa menebak kenapa Zian malah membawa Deniz ke kamarnya hanya dapat geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Selamat malam, Nak! Malam ini tidurnya dengan Bibi Anita, ya...!" ucap Zian tanpa rasa berdosa.
Malam ini ibumu hanya milikku. Tidak akan kubagi dengan siapapun, termasuk denganmu. Kau sudah merebutnya dariku selama dua tahun ini. Dan malam ini, aku tidak akan membaginya denganmu. batin Zian.
Anita pun segera membawa Deniz masuk ke kamarnya dan menidurkannya. Sementara Zian segera kembali ke kamarnya. Sudah tidak sabar melewati malam indahnya.
Dan, bagai gayung bersambut, Naya sengaja berdandan cantik untuk menyambutnya. Zian begitu terpaku saat melihat wajah cantik sang istri. Rasa hangat pun menjalar di hatinya.
"Sayang..." bisiknya sambil memeluk dari belakang. Naya segera berbalik dan membalas pelukan suaminya itu.
"Aku sangat merindukanmu! Jangan pernah meninggalkan aku lagi." Lirih Naya.
"Aku berjanji. Mulai hari ini, sampai maut memisahkan kita, aku akan tetap berada di sisimu."
Naya kembali memeluk sang suami dengan eratnya. Lalu sesaat kemudian teringat pada anaknya. "Deniz... Dimana dia?"
"Aku sudah selundupkan dia ke tempat yang aman. Jadi malam ini, kau hanya milikku. Khusus malam ini, aku tidak mau membagimu, sekalipun itu dengan Deniz," ucap Zian menekan.
"Tapi, Deniz kan..."
"Zzttt!! Hanya kau dan aku. Jangan membicarakan orang lain dulu malam ini!"
Apa? Orang lain? Deniz itu anakmu!" batin Naya.
Zian menangkup wajah Naya dan memberinya kecupan di bibir. Pertama kalinya sejak dua tahun, Zian merasakan lagi bibir manis itu.
"Aku mau mandi dulu. Sebaiknya kau mempersiapkan tenagamu. Aku akan menuntut banyak darimu malam ini!"
Naya membulatkan matanya mendengar ucapan Zian yang baginya kelewat mesum itu. Tiba-tiba Naya teringat saat malam pertamanya, ketika Zian benar-benar tidak memberinya kata ampun.
Tidak lama kemudian, Zian keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang. Tanpa basa-basi, laki-laki itu mendekati sang istri dengan wajah yang sudah tidak bisa dikondisikan. Naya bagaikan seekor kelinci kecil yang akan diterkam oleh si raja hutan.
Zian segera menggendongnya dan membaringkannya di temoat tidur, lalu mematikan semua lampu, sehingga hanya lampu tidur yang menyala.
Dan, benar apa yang dipikirkan Naya, Zian benar-benar bagaikan seekor singa yang kelaparan. Dia tidak melewatkan sedikitpun kesempatan itu. Terpisah selama dua tahun membuatnya begitu merindukan aktivitas di tempat tidur.
Malam itu, kamar temaram itu penuh dengan desahan dan rintihan.
Malam yang indah bagi keduanya.
****
BERSAMBUNG.
Ada yang nunggu Kisah Dimas dan Anita??? wkwk
Kisah Dimas Anita dikemas dalam buku baru, nggak akan campur sama Zian dan Naya. Kenapa? Karena Mereka punya jalan cerita yang beda dari Zian dan Naya.
Dan dengan judul berbeda pula.
__ADS_1