
Senyum bahagia tergambar jelas di wajah Dokter Fahri membaca tulisan yang tertera pada selembar kertas. Setelah beberapa hari menunggu hasil pemeriksaan, akhirnya siang itu , rasa penasarannya terpenuhi.
"Kau akan selamat peri kecilku..." gumamnya dengan wajah bahagia. Dokter Fahri lalu mengambil ponselnya dari dalam laci dan segera menghubungi Zian.
Zian yang saat itu sedang berada proyek pembangunan gedung Yayasan Kia group, tidak mengetahui bahwa Fahri menghubunginya karena ponselnya disilent. Dia bersama Dimas dan Anita sedang mengawasi pembangunan yang mengalami banyak kemajuan sejak Dimas dan Anita yang menangani.
"Aku yakin dalam tiga bulan pembangunannya akan selesai, jadi peresmiannya bisa dilakukan secepatnya," kata Anita.
Zian menatap pembangunan itu dari tempat yang cukup tinggi sehingga bisa melihat setiap bagian tempat itu. "Tapi aku hanya akan meresmikannya bersama Naya. Dia yang akan memotong pita di acara peresmian itu. Lagipula aku ingin dia bermain piano di sana."
Wajah Anita yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba meredup mendengar ucapan Zian. Sampai saat ini belum ada pendonor yang cocok dengan Naya. Dia bahkan merasa sedang gagal menjalankan tugas yang diberikan bosnya itu padanya. Dimas pun menyadari wajah sedih Anita.
"Bagaimana keadaan Naya sekarang?" tanya Anita.
"Masih sama, tapi aku yakin dia akan sembuh. Jika hasil pemeriksaanku positif, operasi pencangkokan bisa dilakukan secepatnya." Zian masih harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaannya.
Tiba-tiba ponsel milik Anita berdering, dia mengeluarkan ponsel itu dari saku blazernya. Tampak di layar pemanggil Dokter Fahri. "Ini dari Dokter Fahri, kenapa dia menghubungiku?"
Anita pun menggeser simbol hijau dan menerima panggilan itu. "Iya, Dokter..."
"Anita, apa kau sedang bersama Zian?" tanya Fahri.
Anita sekilas melirik Zian yang berdiri tidak jauh darinya, "Iya... Dia ada di sini."
"Aku beberapa kali menghubunginya, tapi dia tidak menjawab. Bisakan aku bicara dengannya?"
"Tentu saja.... kami sedang berada di proyek pembangunan gedung Yayasan Kia. Mungkin nada dering ponselnya sengaja dimatikan," Anita kemudian menghampiri Zian dan memberikan ponsel itu padanya.
"Ini dari Dokter Fahri, sepertinya ada sesuatu yang penting, "ucap Anita seraya mengulurkan tangannya yang memegang ponsel. Zianpun langsung cemas, pikirannya mulai menjalar kemana-mana. Takut terjadi sesuatu pada Sang Istri. Dengan cepat Zian menyambar ponsel milik Anita itu.
"Halo, Kak..." ucap Zian.
"Hasil pemeriksaanmu sudah keluar. Kemarilah!" kata Sang Dokter. Wajah Zian kembali berbinar mendengar ucapan kakaknya itu.
"Sudah keluar?" tanyanya penuh semangat, "Baiklah, aku segera kesana." Zian mengembalikan ponsel milik Anita lalu tanpa permisi melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Kau mau kemana, bos?" tanya Dimas ketika melihat Zian akan pergi. Sesaat Zian berbalik pada mereka.
"Aku harus kembali ke rumah sakit. Hasil pemeriksaanku sudah keluar," jawabnya lalu kembali melangkahkan kakinya.
Setelah mengetahui bahwa Zian mendaftarkan dirinya sebagai calon pendonor untuk Naya, Anita tidak bisa tenang. Dia sangat mengkhawatirkan bosnya itu. Dimas melihat raut wajah Anita seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius. "Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sedih begitu?"
"Aku sedang memikirkan Maliq. Sepertinya dia benar-benar serius ingin menjadi pendonor untuk istrinya," jawab Anita.
"Itu sudah tugasnya. Dia kan suaminya..."
"Aku tahu, tapi bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?"
__ADS_1
"Bos pasti akan baik-baik saja, tenanglah," kata Dimas yang ingin mengurangi perasaan takut dari dalam diri Anita. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit. Aku juga penasaran ingi tahu hasilnya."
"Baiklah, ayo!" Anita dan Dimas kemudian menyusul Zian yang sudah pergi lebih dulu.
Apa pernah dia memikirkan orang dengan serius selain bos? Sepertinya seorang Zian adalah satu-satunya hal penting dalam hidupnya. batin Dimas.
****
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang agak keras, seorang wanita kemudian membuka pintu ruangan itu. Dokter Fahri sedang duduk di singgasananya dengan selembar kertas di tangannya. Dia mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berada di ambang pintu.
"Masuklah..." kata Sang Dokter.
Zian langsung masuk ke ruangan itu dan duduk di kursi. "Bagaimana hasil pemeriksaanku? Apa aku bisa menjadi pendonor untuk Nayaku?" tanya Zian penasaran.
Dokter Fahri kemudian tersenyum tipis, "Hasil pemeriksaannya cocok. Kau bisa menjadi pendonor untuk Naya."
Senyum sumringah langsung terbit di wajah pria itu. Dia tidak dapat menyembunyikan raut kebahagiannya.
"Syukurlah, Nayaku akan sembuh," ucap Zian dengan mata berkaca-kaca, "Lalu kapan operasi mencangkokan bisa dilakukan?"
"Secepatnya. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk operasi itu."
"Terima kasih, Kakak..." Zian kembali tersenyum. Harapannya untuk hidup bahagia bersama Naya semakin terbuka.
Tiba-tiba senyum yang mengembang di wajah Zian berubah. "Kakak, boleh aku minta sesuatu darimu?"
"Katakan!"
"Aku tidak mau Naya tahu bahwa aku yang mendonorkan hatiku untuknya," ucao Zian diikuti kerutan di alis kakaknya itu. Dia tidak habis pikir kenapa Zian ingin merahasiakannya.
"Kenapa?" tanya Dokter Fahri singkat.
"Aku tidak mau membuatnya sedih. Selama ini dia selalu mengutamakan kepentinganku, bahkan dia tidak mau membebaniku dengan sakitnya sampai dia memilih merahasiakannya dariku. Dia akan sedih kalau tahu aku melakukan ini untuknya."
Dokter Fahri pun mengangguk pelan, dia mengerti kekhawatiran Zian. Dia juga tahu seberapa besar Naya mencintai Zian.
"Baiklah, aku akan merahasiakannya."
"Aku mau melihat Naya dulu, aku sangat merindukannya," ujarnya lalu keluar dari ruangan itu begitu saja tanpa permisi, membuat Sang Dokter geleng-geleng kepala seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
"Rindu? Bukankah baru beberapa jam kau meninggalkan Naya di sana. Lagi pula setiap malam kau tidur di sampingnya." gumam Dokter Fahri.
****
Zian membuka pintu kamar perawatan Naya. Dia mendekat ke temoat pembaringan itu lalu duduk di samping Naya. Zian kemudian mendaratkan bibirnya di kening istrinya itu, lalu menatap wajah itu lekat-lekat.
__ADS_1
"Kau akan segera sembuh, Sayang... Lalu kita akan pulang ke rumah kita. Kau dan aku akan memulai segalanya dari awal. Aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia. Kau akan kembali mengejar mimpimu yang belum tercapai, kita akan pergi berkeliling dunia. Aku akan menemanimu mengunjungi museum Pablo Picasso. Kita akan menggelar pernikahan yang indah dengan tema Disney seperti yang kau inginkan, kau akan memakai gaun indah seperti yang dipakai para putri Disney. Lalu kita akan menua bersama." Zian membisikkan kalimat itu dengan berderai air mata.
Tanpa disadari oleh Zian, setitik air mata mengalir melalui ekor mata Naya. Seolah dia dapat mendengar ucapan Zian.
Zian kemudian teringat pada buku catatan Naya. Dia belum membaca lembar terakhir buku itu. Dia kemudian membuka laci meja yang ada di sampingnya, lalu mengeluarkan buku itu.
Setiap kali memegang buku itu, air matanya akan meluncur dengan bebasnya. Buku catatan itu membuatnya membenci dirinya sendiri. Di buku itu Naya menuangkan semua perasaannya.
Tangannya bergetar membuka lembar terakhir buku itu. Naya menulis catatan itu setelah Zian mengusirnya untuk terakhir kalainya malam itu. Malam sebelum Naya menghilang. Dan, air mata pun kembali membanjiri wajah lelaki itu.
Zianku...
Maafkan aku yang telah menjebakmu ke dalam penjara cintaku
Katakanlah aku egois, karena memang begitulah adanya
Aku ingin memilikimu sepenuhnya, sendirian...
Tapi aku bahkan telah menyiksamu dengan keberadaanku
Kau adalah kekuatanku menjalani hidupku yang entah kapan akan berakhir.
Kau pun adalah kelemahanku.
Karena terlalu menginginkanmu, aku menjadi serakah
Jika saja hidup memberiku satu pilihan
Aku akan memilih untuk selalu berada di dekatmu,
Aku tidak akan takut, walaupun aku harus membayarnya dengan nyawaku
Karena seumur hidupku, yang ku tahu hanya menantimu,
Dan, untuk beberapa saat yang singkat itu,
biarlah hidupku dipenuhi olehmu.
Hingga Yang Kuasa datang menjemputku dan membawaku ke dalam keabadiannya.
Saat itu tiba, aku akan menutup mataku dengan bahagia di dalam pelukanmu
Zianku...
Aku mencintaimu, selamanya...
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih untuk komen like dan vote... 😘😘😘😘