
Zian terdiam, tidak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari bibirnya walaupun Dimas terus menyerangnya dengan kalimat yang menyakitkan. Dia merasa menjadi manusia paling jahat di muka bumi. Kini yang ada di pikiran pria itu hanya mencari Naya dan membawanya pulang.
Tanpa permisi, Zian menyambar kunci mobil yang ada di atas meja, lalu meninggalkan Dimas seorang diri di rumahnya. Dimas pun hanya mampu geleng-geleng kepala melihat perilaku bosnya itu.
Sekarang kau tahu kan, bagaimana rasanya menyesal. Nikmatilah penyesalanmu itu, Bos. Naya memilih pergi itu karena kesalahanmu. batin Dimas.
Setelah kepergian Zian, Dimas segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah sederhana itu, lalu mengunci pintunya. Selama beberapa saat, Dimas masih terdiam di sana, pikirannya menebak-nebak kemana perginya Naya.
"Naya pergi kemana? Dia sakit dan sangat lemah. Dia bisa apa dengan kondisi tubuh yang selemah itu," gumam Dimas.
Dimas mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi seseorang. Meminta bantuan untuk mencari Naya. Lalu setelah sambungan terputus, Dimas beranjak meninggalkan tempat itu.
****
Hari sudah larut, namun Zian masih berkeliling mencari Naya di luar sana. Selama berjam-jam mencari, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan sang istri.
"Dia mau kemana? Dia bahkan tidak punya uang." gumam Zian dengan setitik cairan bening yang lolos melalui ekor matanya. "aku tidak pernah memberinya uang yang cukup untuk keperluannya sendiri. Sekarang dia sendirian di luar sana. Dia akan makan apa, sedangkan dia tidak bisa makan sembarang makanan."
Bagaimana kalau Naya sedang kedinginan di luar sana. Bagaimana kalau Nayaku kelaparan? Dan bagaimana kalau dia sakit perut, pusing atau bahkan mimisan... Seperti yang selama ini sering dia alami. Bagaimana jika dia pingsan di jalan. Adakah orang baik yang akan menolongnya?
Pikiran-pikiran itu terus bermunculan di benak Zian. Air matanya seakan mendobrak memaksa keluar. Walaupun terus berusaha menahannya, Namun penyesalan dan rasa bersalah yang teramat besar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menangisi sang istri yang telah pergi entah kemana.
"Aku harus pulang, bagaimana kalau Naya pulang dan tidak menemukanku di rumah. Ya, dia pasti akan pulang," ucap Zian pada dirinya sendiri lalu bergegas melajukan mobilnya.
Setelah dua puluh menit, Zian tiba di depan rumah, dengan harapan Naya sudah pulang. Namun lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Karena tidak ada siapapun di rumah itu.
Zian kemudian masuk ke dalam dan duduk bersandar di sofa. Pintu dibiarkannya terbuka dengan harapan Naya muncul di sana.
Merenung. Kembali mengingat semua perbuatannya pada sang istri selama setahun ini.
__ADS_1
Zian mengarahkan pandangannya ke pintu. Di sanalah dirinya pernah mendorong Naya dengan kasarnya hingga terhuyung ke teras, saat mengusirnya dan menutup pintu dengan membantingnya keras.
Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon jangan usir aku. Buka pintunya, tolong biarkan aku masuk. Suara Naya dari balik pintu yang menangis memohon untuk dimaafkan saat Zian mengusirnya kembali terbayang-bayang di telinga Zian, membuat pria itu kembali menangis -- menyadari betapa kasarnya memperlakukan istrinya selama ini.
"Naya..."
Bayangan-bayangan itu terus bermunculan menghantuinya. Zian mengingat semuanya. Saat Naya menjual mobilnya dan memberikan uangnya pada Zian, bukannya senang, laki-laki itu malah marah-marah sehingga Naya harus berlutut memohon maaf padanya.
Zian masih duduk di sofa itu ketika telinganya seperti menangkap suara pecahan kaca dari arah dapur. Kembali teringat Naya yang hampir setiap hari memecahkan benda. Setiap kali Naya melakukan itu, yang baginya adalah sebuah kesalahan, Zian akan membentaknya dengan keras. Dan bodohnya, Zian baru menyadarinya setelah kakaknya, Dokter Fahri menjelaskan, bahwa akibat sakit yang menderanya, penglihatan Naya terkadang menjadi buram.
"Maafkan aku, Naya. Aku mohon kembalilah."
Menjelang subuh, Zian masih terjaga. Duduk di sofa ruang tamu yang berdekatan dengan pintu masuk. Pintu itu dibiarkan terbuka lebar hingga udara dingin dari luar masuk ke dalam rumah.
****
Tidak lama setelahnya, Zian beranjak menuju kamar Naya, membaringkan tubuhnya di kasur lusuh itu. Baru beberapa menit berbaring di sana, keringat telah membasahi tubuhnya. Hawa panas dalam kamar itu membuatnya tidak tahan.
Bagaimana aku bisa sekejam ini. Selama ini aku tidur di kamar yang nyaman, sementara istriku tidur di kamar yang tidak layak ini. Dia bahkan tidak punya bantal dan selimut. Kenapa aku bisa sekejam ini padanya. Hanya karena menginginkan Kia, aku sampai membuat Naya hidup menderita.
Zian kemudian mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri dan mencari foto Naya di ponselnya. Sialnya, tak ada satupun foto Naya di sana.
Zian kemudian membuka aplikasi instagram dan mengetikkan nama Kanaya Indhira Adiwinata di pencarian.
Matanya terpaku menemukan akun instagram milik Naya yang telah lama tidak diaktifkan. Zian lalu membuka foto-foto satu persatu, memandanginya dengan berderai air mata. Betapa menyalanya senyum seorang gadis remaja sebelum masuk ke dalam hidupnya.
Hingga akhirnya Zian menemukan sebuah foto yang membuat seluruh tubuhnya terasa meremang, irama jantungnya lebih cepat dari biasanya, bahkan napasnya pun memendek.
Senyum indah seorang gadis yang masih remaja dengan gaun berwarna putih tulang. Dengan kalung bertuliskan nama Kia menggantung di lehernya. Zian masih ingat betul wajah polos itu.
__ADS_1
"Kia? Ini adalah foto Kia. Kenapa foto Kia ada di Instagram milik Naya?" Zian mencoba menyimpulkan temuannya. "Apakah artinya, Naya adalah Kia?" Zian bergumam sendiri dengan berderai air mata.
Laki-laki itu segera membuka video singkat seorang gadis remaja yang sedang bermain piano dan menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya. Zian begitu meresapi suara merdu itu sambil memejamkan matanya. Suara yang sama dengan suara yang membuatnya jatuh cinta saat pertama kali mendengarnya.
Suara ini, wajah ini... Naya adalah Kia? gumam Zian dalam hati.
Membuka foto dan video satu persatu, Zian hendak memastikan bahwa Naya adalah benar Kia atau bukan. Dan tiba-tiba Zian kembali menangis saat baru menyadari nama Kia yang merupakan inisial nama sang istri.
Kia... Kanaya Indhira Adiwinata. Ya, Kia adalah inisial nama Naya. Kenapa aku sebodoh ini? Kenapa aku tidak pernah menyadari sebelumnya.
Zian pun teringat pernah melihat bekas luka menyerupai bekas luka tembakan di perut bagian kanan istrinya itu. Dan Naya pernah menatap jaket kulit milik Zian yang digunakannya di hari kejadian itu. Tidak ada kata yang sanggup menjelaskan betapa hancurnya perasaan Zian menyadari semuanya. Naya adalah Kia yang selama ini dicarinya. Seorang gadis ceria yang kemudian menjadi gadis pendiam dan tertutup karena sang suami yang memperlakukannya seperti sampah.
Zian menangis memandangi foto itu, hatinya bagai di tusuk ribuan pisau, menemukan foto di mana Naya tampil di pembukaan showroom mobil keluarga Azkara. Laki-laki itu kembali teringat saat pertama kalinya melihat seorang gadis cantik yang bermain piano dan menyanyikan sebuah lagu. Zian langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu.
Hingga sebuah kecelakaan hampir menimpa gadis itu ketika lampu hias yang menggantung terjatuh dan hampir menimpanya. Zian dengan sigap berlari ke arah gadis itu dan mendorongnya sehingga mereka terjatuh ke lantai.
Zian menutupi tubuh gadis itu dengan tubuhnya, agar tidak terkena pecahan lampu, seketika ruangan itu menjadi gelap. Namun, saat lampu di sudut ruangan kembali menyala, gadis itu sudah tidak ada. Dan, entah bagaimana kalung bertuliskan nama Kia bisa berada di genggaman tangannya.
Saat itu, Zian terus mencari gadis itu selama berminggu-minggu, hingga terjadilah sebuah peristiwa yang akan membuatnya merasa bersalah seumur hidupnya. Ketika tanpa sengaja melepaskan satu tembakan dan entah bagaimana gadis belia itu ada di sana dan menjadi korban penembakannya.
Dan, yang paling menyedihkan, gadis yang selama lima tahun dicari-carinya ternyata ada bersamanya dan telah menjadi istrinya. Namun, Zian dibutakan oleh cintanya pada Kia, sehingga sengaja menyakiti Naya dengan berbagai cara.
Zian pun terbelenggu dalam penyesalan yang dalam. Dia terus dan terus menangisi Naya.
Teringat kembali pembicaraannya dengan Evan. Ketika adiknya itu berkata gadis yang dicari Zian sama sekali tidak tertarik menjadi ratu di kerajaan Kia Group dan lebih memilih suaminya yang hanya seorang laki-laki biasa. Naya begitu mencintai Zian hingga mengabaikan seorang bos besar pemilik Kia Group dan lebih memilih suaminya yang hanya seorang montir.
Namun saat semuanya telah terungkap, gadis itu memilih untuk menyerah. Naya telah pergi meninggalkan segalanya. Membawa luka hatinya sendiri.
****
__ADS_1
BERSAMBUNG