Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Berita di TV


__ADS_3

Naya masih melamun di halaman rumah dengan perasaan tak menentu. Hingga tepukan lembut mendarat di bahunya.


"Ada apa, Naya?" tanya Bibi Carlota.


Naya mengusap air matanya yang lolos begitu saja, "Tidak apa-apa, Bibi. Aku hanya merasa tidak enak."


"Tidak enak?"


Naya mengangguk pelan, "Iya, Bibi. Aku merasa sesuatu akan terjadi. Tapi entah apa."


Wanita paruh baya itu kemudian merangkul Naya, lalu mengajaknya masuk ke rumah. "Itu hanya perasaanmu saja. Wanita hamil sering mengalaminya. Kadang perasaannya berubah-ubah. Apalagi mendekati hari kelahiran. Biasanya kecemasan melanda ibu hamil. Tapi percayalah semua akan baik-baik saja."


"Tapi aku merasa aneh, Bibi. Semalam aku bermimpi buruk. Aku benar-benar takut."


Bibi Carlota mendudukkan Naya di sofa ruang tamu, lalu menuang air putih ke dalam gelas. "Minumlah, wajahmu terlihat pucat. Kau mimpi apa?"


Naya meraih gelas berisi air putih dari tangan Bibi Carlota, namun gelas itu terjatuh begitu saja dari tangannya sehingga pecahannya berhamburan di lantai. Hal itu semakin menambah perasaan tidak enak di hatinya.


"Ma-maafkan aku, Bibi! Aku tidak sengaja," ucap Naya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa. Bibi akan membersihkannya." Bibi Carlota segera menuju dapur untuk mengambil peralatan kebersihan. Sedangkan Naya masih mematung di kursi, menatap pecahan gelas yang berhamburan itu. Entah kenapa pikirannya selalu tertuju pada sang suami.


Ada apa ini? Kenapa hatiku jadi sakit begini? Naya membatin.


***


Sementara itu, di gedung perkantoran Kia Group, Zian baru saja selesai rapat. Dia bergegas menuju ruangannya bersama Dimas untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda.


Sementara Anita sedang sibuk sendiri di ruangannya sambil nonton acara berita di tv.


"Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin. Aku akan libur dulu beberapa minggu untuk menemani Naya. Beberapa minggu lagi jadwal operasinya. Dia sering merasa takut kalau aku meninggalkannya," ucap Zian seraya membaca beberapa berkas di tangannya.

__ADS_1


"Wah, aku jadi tidak sabar melihat anakmu, Bos!"


Zian melirik hasil foto USG 4D yang menampilkan wajah anaknya yang terbingkai di atas mejanya. Dia memandangi foto itu dengan wajah berbinar. Saking tidak sabarnya menantikan kelahiran anaknya, lelaki itu sampai membingkai foto hasil USG anaknya dan meletakkan di meja kerjanya.


"Aku juga tidak sabar," ucapnya lalu meraih foto itu dan mengusapnya dengan jari. "Baiklah, aku jadi semakin semangat bekerja setelah memandangi fotonya. Padahal wajahnya belum terlihat jelas. Tapi aku sudah bisa membayangkan bagaimana wajahnya."


Zian pun melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat. Hingga Anita masuk ke ruangannya dengan paniknya. Dimas terlonjak kaget melihat Anita yang tidak biasanya masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa dengan monster betina itu?" gumam Dimas. Zian mengalihkan pandangannya pada Anita.


"Maliq... Apa kau sudah melihat berita di tv? Glenn ditangkap polisi semalam," ucap Anita.


Zian tampak tidak terkejut mendengar ucapan Anita. Namun, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. "Baguslah. kalau dia tertangkap. Dengan begitu dia tidak bisa lagi merusak generasi muda dengan menjadi mafia obat-obatan terlarang."


"Bukan itu masalahnya, Maliq!" Anita duduk di sofa, lalu menatap Zian dengan ekspresi wajah yang tak tertebak. "Dia melibatkan namamu!" ucap Anita kemudian.


Zian mengerutkan alisnya mendengar ucapan Anita. Dimas pun terlihat sangat terkejut. Dimas kemudian menyalakan tv dan mencari berita seputar penangkapan Glenn yang merupakan teman Zian dan Anita di masa lalu.


"Kau lihat? ZMA. Itu inisial namamu!" ucap Anita.


Dimas yang belum mengerti sepenuhnya dengan pembicaraan kedua orang itu hanya dapat menatap mereka bergantian.


"Bos, apa seseorang yang bernama Glenn itu ingin memfitnahmu? Kau tidak pernah terlibat dalam sindikat mafia obat-obatan terlarang itu, kan?" tanya Dimas.


Zian dan Anita hanya saling melirik, tanpa menjawab pertanyaan Dimas. Lagi-lagi, Dimas dibuat bertanya-tanya tentang arti tatap-tatapan dua orang di depannya.


"Anita, hubungi orang di rumah! Pastikan Naya tidak melihat berita ini!" titah Zian kemudian.


Anita pun segera menghubungi seorang pengawal yang berjaga di rumah itu, dan meminta agar tidak ada yang menyalakan tv.


"Aku rasa sebentar lagi polisi akan kemari dan menangkapku," ucap Zian.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, Bos?"


"Aku tidak punya pilihan lain. Glenn menyebut namaku, pasti ada tujuan di baliknya. Dia pasti punya rencana kenapa melibatkan aku."


"Alex. Ya, pasti Alex yang menyuruhnya."


Zian memejamkan matanya sejenak. Ketakutannya bukan pada polisi, namun khawatir pada sang istri yang sebentar lagi akan menjalani operasi caesar.


"Aku akan pulang dulu melihat Naya. Aku harus memastikan dia baik-baik saja," ucap Zian seraya menyambar kunci mobil yang ada di atas meja. Lalu secepat kilat keluar dari ruangan itu.


Dimas dan Anita hanya saling melirik, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


****


Di rumah ...


Naya sedang duduk melamun dengan pandangan mengarah ke taman belakang rumah. Mimpinya semalam masih terbayang-bayang. Sesaat kemudian sosok tangan kekar memeluknya dari belakang, dan melingkar di perut buncitnya.


"Sayang ..." Zian berbisik di telinganya.


Wajah yang tadinya sedih. berubah bahagia mendengar bisikan itu. Naya langsung berbalik dan mendapati sang suami yang dirindukannya ada di sana.


"Kau disini?" tanyanya lalu memeluk erat suaminya itu. "Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga." Zian mengusap rambut sang istri, turun ke punggung.


"Aku pikir kau akan pulang sore."


"Aku pulang untuk mengatakan sesuatu," ucap Zian tanpa melepaskan pelukannya.


****

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2