Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Dimas Vs Zian


__ADS_3

Setelah menonton acara talkshow di tv yang melibatkan Leo, Kini Kenzo dan Alex menyusun rencana baru. Masyarakat pun dihebohkan dengan beberapa orang yang muncul di tv dan mengaku pernah ditolong Tuan Maliq. Kini jejaring sosial dipenuhi dengan tagar 'Justice for Mr. Maliq', 'bebaskan Tuan Maliq', dan 'Tuan Maliq tidak bersalah'.


Bahkan banyak wartawan yang sedang tertarik menulis kisah Tuan Maliq dan mulai mencari tahu info yang berhubungan dengannya. Nama Kanaya Indhira Adiwinata pun kembali di soroti. Keberadaan Naya yang merupakan istri Tuan Maliq tidak diketahui oleh publik sejak dua tahun lalu, membuat publik bertanya-tanya.


Setelah kelahiran Deniz, Naya dan Anita dibawa ke sebuah villa yang terletak di tengah hutan belantara. Sehingga mereka benar-benar terisolasi dari dunia luar.


Evan dan Fahri pun tidak luput dari incaran awak media. Namun dua saudara Zian itu selalu dapat bermain kucing-kucingan dengan para pencari berita yang berusaha mendekati mereka. Fahri harus meminta seorang penjaga melarang awak media masuk ke dalam rumah sakit tempatnya praktek. sedangkan Evan harus bersembunyi jika para awak media mendatanginya di kampus.


Di pihak lain, sehari sebelum sidang, Kenzo berniat menemui Zian di rumah tahanan dan memberinya ancaman untuk tetap bungkam dan mengaku bahwa semua yang dituduhkan padanya adalah benar adanya. Kini, Naya dan Deniz sudah berada di tangan Alex. Sehingga mereka dapat mengancam Zian dengan menggunakan istri dan anaknya.


Zian terlihat menggeram ketika melihat seorang pria tinggi menjulang datang bersama mantan orang kepercayaannya, Dimas. Laki-laki itu terlihat seperti begitu terkejut, mengetahui orang kepercayaannya selama ini telah bersatu dengan musuh untuk menjebaknya.


"Apa kabar, Bos!" ucap Dimas dengan seringai liciknya. "Ah, maaf, aku hampir saja lupa kalau kau hanyalah mantan bosku. Dan sekarang Bosku yang sebenarnya, Tuan Kenzo ingin bicara denganmu."


Zian kemudian duduk bersama dua orang itu di sebuah ruangan, membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Zian dengan raut wajah datarnya.


Kenzo terkekeh sinis mendengar ucapan Zian. "Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan, apa yang aku inginkan, Tuan Maliq! Karena kau pasti tahu apa tujuanku kemari."


Zian menghela napas kasar, mencoba menahan amarah yang sedang menguasai hatinya. "Aku sudah melakukan apa yang kalian inginkan. Lalu apa lagi yang membuatmu kemari?"


Kenzo mendekatkan wajahnya, dengan tatapannya yang sangat mengintimidasi. "Minta Leophard Pyordova menghentikan penyelidikannya tentang kasusmu! Sekaligus menghentikan pemberitaan tentangmu di tv. Aku hanya memberimu peringatan saja. Kau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anak dan istrmu, kan?"


Zian tersentak mendengar ucapan Kenzo, lalu melirik Dimas dengan tatapan membunuh.

__ADS_1



"Apa yang kalian lakukan pada istri dan anakku?" Zian menaikkan suaranya, geram dengan Dimas yang merupakan satu-satunya orang kepercayaannya yang tahu dimana Naya dan Deniz disembunyikan.


Seringai licik hadir di sudut bibir Dimas, namun laki-laki itu tetap terdiam. Membiarkan Kenzo yang bicara.


"Selama kau tetap mengaku bersalah, maka anak dan istrimu akan tetap aman. Tapi kalau kau sampai buka mulut sedikit saja, maka kau pasti akan menangisi mayat mereka," ucap Kenzo dengan suara agak menekan.


Zian pun semakin geram, lalu berdiri dari duduknya.


"Pengkhianat kau, Dimas!" teriak Zian dengan suara menggelegar.


Dimas yang berdiri di belakang kenzo hanya tersenyum licik. "Kesetiaan itu mahal, Tuan!" ucap Dimas. "Siapa yang mampu membeli kesetiaan, maka aku akan ada di sana."


Sementara Kenzo tersenyum puas melihat Dimas memukuli mantan bosnya itu. Beberapa polisi yang mendengar keributan itu langsung mendekat dan melerai, bersamaan dengan Fahri dan Evan yang baru saja datang.


Fahri memegangi Zian yang terlihat tidak dapat menahan emosinya. Ingin kembali menyerang Dimas. Namun, Fahri dan Evan terus memeganginya seraya berusaha menenangkan saudaranya itu.


"Apa yang kau lakukan? Tenangkan dirimu!" bentak Fahri pada Zian yang masih tidak dapat menguasai emosinya.


"Mereka mengancam akan me..." Zian menggantung ucapannya ketika melihat raut wajah Kenzo dan Dimas yang bagaikan memberinya sebuah ancaman. Zian terdiam ketika menyadari keadaan akan berbahaya bagi anak dan istrinya jika dia bicara.


"Ada apa, Kak?" tanya Evan.


"Maaf, aku emosi. Ini hanya salah paham," ucapnya pada orang-orang yang ada di dalam ruangan itu seraya menahan emosinya.

__ADS_1


Zian kemudian mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, dengan tatapan tajam ke arah Kenzo dan Dimas.


"Sudahlah! Ayo ikut, aku obati lukamu!" ucap Fahri seraya merangkul adiknya menuju sebuah ruangan. Fahri mengusap wajah adiknya itu yang menjadi lebam setelah dipukuli oleh Dimas.


Sementara Dimas dan Kenzo saling memberi kode, seakan mereka benar-benar puas dengan apa yang telah mereka perbuat.


Kenzo dan Dimas kemudian keluar dari rumah tahanan itu setelah diberondong beberapa pertanyaan oleh polisi terkait keributannya dengan Zian. Baik dari pihak Zian maupun Dimas sama-sama mengaku hanya salah paham, demi keamanan masing-masing.


Kenzo dan Dimas kemudian menaiki sebuah mobil yang terparkir di halaman.


"Sekarang aku yakin, Maliq tidak akan bisa berbuat apa-apa. Setelah aku mengancam akan membunuh istri dan anaknya, dia pasti akan meminta Leophard Pyordova menghentikan penyelidikannya dan menghentikan pemberitaan di tv. Dan dia, akan dihukum mati setelahnya. Aku dan Alex akan terbebas dari jeratan hukum," kata Kenzo dengan kekehan setelahnya.


"Bos, apa kau akan kembali menggeluti dunia mafiamu setelah si Brengseek Tuan Maliq itu dihukum mati? Maksudku adalah, kau adalah seorang bos mafia perdagangan organ tubuh manusia ilegal. Apa bisnis itu tidak akan membahayakanmu?"


"Kau tenang saja! Polisi tidak akan bisa mencurigaiku," jawabnya kemudian.


Dimas terus menanyakan beberapa hal pada Kenzo sembari memperhatikan wajahnya yang lebam di kaca spion mobil. Sementara Kenzo menjawab apapun yang ditanyakan Dimas padanya.


"Si brengsekk itu benar-benar membuat wajahku jadi lebam. Jika bukan karena sedang berada di rumah tahanan, aku pasti sudah menghajarnya habis-habisan," ucap Dimas.


****


Bersambung.


Karena kalian selalu meramaikan novel amatiran ini, jadi aku kasih bonus 1 bab. Semoga terhibur....Sabar yaaa.... semakin dekat dengan klimaks nya.

__ADS_1


__ADS_2