
Zian terus membelai wajah Naya dengan kelembutan. Tatapannya kini penuh cinta, tatapan yang sangat berbeda dengan Zian yang dulu.
"Kau tidak apa-apa, kan? Mereka tidak melukaimu?" tanya Zian diikuti gelengan kepala oleh Naya. "Syukurlah..." ucap Zian kemudian, dan kecupan mendarat lagi di kening.
"Tadinya aku pikir aku akan mati. Aku melihat Marvin mau menembakku. Tapi saat aku bangun, aku sudah di rumah sakit..." Wajah Zian pun kembali menggeram, mengingat Marvin mengikat Naya dengan tali membuat darahnya mendidih.
"Maafkan aku... Seharusnya aku menjagamu sejak awal. Karena kesalahanku, kau harus banyak mengalami kekerasan."
Naya terdiam, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.
"Jika saja sejak awal aku lebih memperhatikanmu, kau tidak akan sakit sampai separah itu. Kau tidak akan mengalami trauma dan stres. Aku selalu bersikap kasar dan selalu memarahimu." Setitik air matanya menetes lagi dan lagi, mewakili seluruh perasaan bersalahnya. Naya kemudian menghapus air mata yang berjatuhan itu dengan jarinya.
"Bukankah kita sudah berjanji akan memulai semuanya dari awal lagi? Mari kita lupakan masa lalu."
"Aku akan merasa bersalah padamu seumur hidupku."
"Aku sudah melupakannya," ucap Naya seraya tersenyum.
Beberapa saat mereka terlibat drama tatap-tapan, hingga Zian kembali mendekatkan wajahnya, hendak mengecup bibir itu, namun belum sempat menempel, Anita dan Dimas muncul dari balik pintu, menggagalkan aksinya.
"Selamat pagi, Bos..." ucap Dimas mengagetkan dua orang itu.
Sial! Kenapa mereka selalu muncul di saat-saat penting. Menyebalkan. batin Zian.
Kesal, itulah yang dirasakan Zian. Dia menatap tajam pada dua orang yang baru masuk itu. "Kenapa kalian harus muncul sekarang?" tanya Zian dengan wajah kesalnya.
"Memangnya kenapa? Apa kami mengganggu?" Dimas yang polos itu tidak menyadari wajah gusar sang bos.
Sudah tahu mengganggu, pakai tanya lagi. batin Zian lagi.
Naya akan terbangun dari posisi berbaringnya, namun Zian menahannya. "Mau kemana? Aku melarangmu bangun!"
"Tapi kan..." Naya baru akan protes namun nyali nya langsung menciut begitu mendapat pelototan dari Zian.
Anita mendekat ke pembaringan itu, "Bagaimana keadaanmu? Tidak ada luka serius, kan?"
"Aku tidak apa-apa... Setidaknya tidak ada tulang yang patah..." jawab Zian.
"Syukurlah..." Anita menghela napas lega.
Naya menatap Zian dan Anita bergantian. Pertanyaan pun bermunculan di benaknya. Tentang ada hubungan apa antara Zian dan Anita.
Di balik keanggunannya, dia adalah seseorang yang sangat berbahaya. Jika Zianku ternyata adalah bos mereka yang bernama Maliq, apa jangan-jangan Anita ini adalah Marissa yang pernah disebut Marvin?
"Kenapa kalian bisa menemukan kami di sana?" Naya memberanikan diri bertanya pada Dimas.
"Ceritanya panjang..." jawab Dimas.
Flashback On
Malam itu Zian memasuki gerbang sebuah bangunan besar, dia meraih ponselnya dan mengirimkan titik lokasi keberadaannya pada Anita.
Beberapa orang pria menyambutnya dengan menodongkan senjata dan membawanya ke sebuah ruangan dimana Naya dan Marvin berada.
Anita yang mendapat pesan singkat berupa titik lokasi keberadaan Zian pun sudah mengerti jika terjadi sesuatu pada bosnya itu. Dengan segera wanita itu bersama Dimas mengimpulkan anak buahnya dan menuju ke lokasi itu. Dan benar, sesampainya di lokasi itu, Anita melihat ada banyak pengawal Marvin di sana.
Setelah berhasil melumpuhkan para pengawal itu, Anita kemudian menuju sebuah ruangan tempat Marvin menyekap Naya dan Zian. Saat Anita tiba di sana, Zian sudah tidak sadarkan diri dengan tubub penuh luka, sedangkan Naya masih menangis ketakutan.
__ADS_1
Saat melihat Marvin membidikkan senjata ke arah Naya, saat itulah Anita melepaskan tembakan yang tepat mengenai lengan Marvin. Naya pun pingsan setelah mendengar suara tembakan yang keras itu.
Para pengawal yang tersisa pun tidak luput dari peluru yang dilepaskan Anita. Wanita tangguh itu tidak akan segan-segan menyerang siapapun yang berani menyentuh tuannya.
Anita kemudian mendekati Marvin yang sedang meringis kesakitan memeganngi lengannya yang terkena tembakan itu. Sementara Dimas dan beberapa pengawal segera membawa Zian dan Naya keluar dari ruangan itu.
"Kau ingin aku membunuhmu sekarang?" tanya Anita pada Marvin seraya menodongkan pistolnya.
"Marissa, apa kau benar-benar akan membunuhku?"
Anita terkekeh sinis, "Padahal kau tahu benar, Maliq adalah segalanya bagiku. Siapapun yang berani melukainya harus berhadapan dengan Marissa."
"Jadi apa yang akan kau lakukan?"
Senyum tipis hadir di sudut bibir wanita itu, "Marissa akan melakukan apa yang Anita tidak bisa lakukan. Jadi terimalah hukumanmu!"
"Kita sudah berteman lama, Marissa..." Marvin berusaha mengulur waktu, namun Anita bukanlah seorang wanita yang mudah ditipu.
"Kau benar, kita sudah berteman lama. Tapi sayangnya aku bukan seseorang yang bisa bermurah hati. Aku tidak memiliki belas kasih seperi Maliq... Jadi, aku akan memberimu apa yang pantas kau terima!"
Setelah urusannya dengan marvin selesai, dengan cepat Anita dan Dimas membawa Zian dan Naya menuju rumah sakit tempat Dokter Fahri praktek. Naya dan Zian dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Flasback off
****
"Jadi begitu ceritanya..." tutur Dimas.
Naya bergidik ngeri mendengar ucapan Dimas. Dia mulai merasa Anita benar-benar mengerikan.
"Bos, sampai jumpa... Aku harus pergi." ucap Dimas saat sudah berada di ambang pintu.
Zian kemudian menatap Naya, "Kenapa wajahmu begitu?" tanya Zian.
"Apa kau tidak merasa kalau Anita itu sangat mengerikan? A-apa dia membunuh Marvin?" Suara Naya yang gemetaran bertanya membuat Zian tertawa.
"Memangnya kenapa kalau Anita membunuhnya?" Ucapan Zian yang terdengar santai itu malah membuat Naya membelalakkan matanya.
Dasar mafia. Santai sekali mereka membunuh orang. Batin Naya.
"Aku tidak tahu apa yang Anita lakukan pada Marvin. Itu urusannya." Zian kembali menarik Naya ke dalam pelukannya.
"Sebenarnya kau dan Anita ada hubungan apa? Tadinya aku pikir Anita adalah kekasihmu, lalu aku mendengar tentang seseorang bernama Kia..." Wajah Naya pun langsung berubah setelah menyebut nama Kia. Dia masih merasa telah menjadi penghalang Zian menemukan Kia.
"Anita itu sahabatku, aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Aku sangat merindukanmu." Zian mengeratkan pelukannya, melepaskan lautan rindunya.
Hari itu pun dihabiskan Zian dan Naya dengan berbagi tempat tidur yang sempit itu. Zian tidak membiarkan Naya beranjak sedikitpun dari sisinya. Dia hanya mengizinkan Naya meninggalkannya untuk ke toilet saja. Sisanya menemaninya berbaring, mengobrol, dan menyuapinya makan.
****
Malam harinya...
Naya berbaring dengan menjadikan lengan Zian sebagai bantal. Matanya terfokus pada tayangan di tv. Gadis itu terus mengganti chanel tv yang isinya hanya pemberitaan tentang gedung dan rumah sakit yang baru selesai di bangun oleh Kia group dan sebentar lagi akan diresmikan setelah istri dari bos Kia Group kembali.
Apa? Jadi Bos Kia Group itu sudah menikah, ya... Syukurlah. Artinya dia tidak akan mencari pemain piano itu lagi, kan...
"Kenapa tv isinya ini semua...?" gumam Naya kesal. Zian yang sejak tadi terus memandangi Naya tidak menyadari berita yang di muat di tv itu. Hingga dia mengalihkan pandangannya ke tv dan terkejut melihat apa yang ada disana.
__ADS_1
Terlihat Anita dan Dimas yang sedang menghindari kejaran beberapa wartawan. Naya yang melihat Anita dan Dimas di sana pun bertanya-tanya.
"Sayang... Bukankah itu Anita dan Dimas? Apa mereka bekerja di Kia Group?" tanya Naya penasaran.
Buru-buru, Zian merebut remote tv itu dari tangan Naya dan mematikan tv, membuat Naya keheranan. Zian sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Naya identitas dirinya yang sebenarnya.
"Iya... Setahuku mereka memang bekerja di Kia Group. Anita dan Dimas adalah orang kepercayaan bos mereka," jawab Zian santai.
"Bos Kia Group itu sudah menikah, ya..." tanya Naya dengan polosnya.
"Aku dengar juga begitu... kenapa?"
"Hehe... Tidak apa-apa!"
Terbesit ide di benak laki-laki itu untuk menjahili sang istri yang polos itu, "Apa kau pernah mendengar beritanya mencari seorang pemain piano yang tampil di ulang tahun perusahaannya?" tanya Zian, "Aku rasa gadis itu bodoh, dia punya kesempatan menikah dengan bos Kia group, tapi dia tidak memunculkan dirinya."
"Be-benarkah?" Naya sudah mulai gelagapan mendengar ucapan Zian. Dia tidak ingin Zian tahu kalau dirinyalah yang bermain piano malam itu.
"Padahal bos Kia group itu sangat kaya. Aku tidak bisa membayangkan berapa jumlah kekayaannya. " ucap Zian lagi dengan wajah pura-pura bodohnya.
"Memangnya kenapa kalau dia kaya?"
"Tidak... aku hanya heran saja dengan gadis itu. Kenapa dia tidak datang pada bos Kia group itu dan mengaku jika dia adalah pemain piano itu..." Naya pun mulai kesal dengan ucapan Zian. Dia mengumpati Zian dalam hati.
Zianku bodoh! mana mungkin aku mengaku pada bos gila itu kalau aku yang bermain piano di sana. Bos gila itu mau menjadikanku istrinya. Dia pikir dengan hartanya yang banyak itu aku mau meninggalkan Zianku. Tidak akan!
"Aku tidak peduli berapa jumlah kekayaannya. Dia pikir dengan menawarkan menjadi ratunya aku mau memunculkan diriku dan mengaku kalau aku adalah pemain piano itu? Tidak akan!" Naya tidak menyadari kata-kata yang terlontar dari bibirnya barusan. Dia telah membocorkan bahwa dirinya lah pemain piano itu. Setelah sadar dengan ucapannya, dia baru mengulum bibirnya.
Zian pun kembali ber-acting, "Ah, jadi kau adalah pemain piano itu?" tanya Zian dengan mimik wajah pura-pura terkejut. Naya pun kembali gelagapan, menggeleng, kemudian mengangguk pelan.
"Apa kau akan marah?" Naya sudah mulai menunjukkan wajah takutnya, membuat Zian tertawa dalam hati.
"Tidak, aku hanya heran saja. Kenapa kau tidak mengakui bahwa kau adalah gadis yang dicari orang itu?"
"Dia kan mencari pemain piano itu untuk dijadikan istri. Aku kan sudah menikah..."
"Tapi waktu itu kan aku terus menyakitimu. Dan kau punya kesempatan bahagia dengan menjadi ratu di Kia group. Kenapa tetap bertahan denganku? Aku kan hanya seorang montir yang tidak punya apa-apa... Aku hanya punya sebuah rumah sederhana yang sempit, dan bengkel kecil yang sekarang sudah tutup."
Dan, ucapan Zian itu membuat Naya benar-benar tersinggung. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kau pikir aku bisa dibeli dengan uang?"
Zian kembali memeluk gadis kesayangannya itu, mengecupi keningnya, "Maafkan aku, Sayang... Aku tidak melihat ketulusanmu mencintaiku. Aku selalu berpikir buruk tentangmu. Aku tidak menyadari bahwa kau adalah berlianku yang paling berharga. Kau bahkan mengabaikan orang seperti bos Kia group dan memilih bertahan dengan orang biasa sepertiku... Kau tahu, aku sangat beruntung memilikimu."
"Kau tidak akan membuangku lagi, kan?" Pertanyaan polos itupun menorehkan luka di hati Zian.
"Tidak akan. Aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu..."
Senyum bahagia pun kembali hadir di wajah gadis itu. Dia kemudian teringat sesuatu. "Kapan kita bisa pulang? Kita pasti sudah menghabiskan banyak uang Anita. Kenapa dia tidak meminta kamar biasa untuk kita? Kenapa harus di kamar ini?" Naya yang polos itu sedang menebak berapa uang yang dihabiskan Anita untuk mereka dirawat di rumah sakit itu.
Istriku yang polos, kenapa aku baru sadar betapa lucu dan menggemaskannya dia... Bagaimana reaksinya jika dia tahu aku adalah pemilik Kia Group? Dan Kia itu adalah inisial namanya...
***
Bersambung
Yang kejam-kejam udah habis gaes... Sekarang yang suit suit menghelikan alay... 😂😂😂
__ADS_1