Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
JERITAN HATI MAUREEN


__ADS_3

Pagi Jo, duduklah ada hal yang ingin aku bicarakan kepada mu."


Asisten Jo langsung duduk di hadapan Austin ketika mendengarkan perintah dari Austin.


"Katakan kepada ku bagaimana keadaannya saat ini?"


Austin mengatakan hal tersebut sambil memandang tajam ke arah Jo.


"Semuanya aman tuan Austin, nona Huaran telah sampai di selatan dengan selamat, saat ini nona Huaran sudah bersiap - siap untuk kembali."


Mendengarkan apa yang telah di katakan oleh asisten Jo, Austin langsung tersenyum.


"Ya, aku ingin dia sampai di sini dalam keadaan selamat Jo."


"Pasti tuan Austin."


"Ada satu hal yang ingin aku bicarakan kepada mu Jo."


"Hal apa itu tuan Austin?"


"Tentang formula obat ini."


Austin mengatakan hal tersebut sambil meletakkan satu botol kecil di atas meja.


"Ini adalah obat baru yang telah di produksi di dalam laboratorium, semalam aku mencoba obat ini kepada wanita malam itu, dan kau tau hasilnya sangat luar biasa."


Jo langsung menganggukkan kepala seakan - akan mengerti apa yang di maksudkan oleh tuan mudanya tersebut.


"Aku minta untuk produksi obat ini agar diperbanyak, kita bisa menjualnya ke tempat hiburan malam di seluruh dunia, dan kita bisa meraup untuk besar dari hasil penjualan obat ini."


"Apa yang dikatakan oleh tuan Austin memang benar, tapi apakah ini tidak terlalu beresiko? mengingat saat ini pemerintah di setiap negara sedang mengawasi dengan ketat obat - obatan yang masuk ke dalam negara mereka."


"Kau benar, tapi kita bisa menggunakan cara seperti kita menggunakan cara kepada Huaran bukan?


"


Jo hanya mengernyitkan dahi ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Austin.


"Tapi tuan Austin."


"Tidak ada kata tetapi Jo, lakukan saja apa yang aku perintahkan, dan semuanya akan berhasil seperti kasus - kasus yang sebelumnya."


Austin mengatakan hal tersebut sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Baik tuan Austin."


"Satu hal lagi, nanti malam bawa wanita malam itu ke taman, aku ingin bercinta dengannya di alam terbuka."


"Baik tuan Austin."


"Sekarang kau boleh pergi Jo."


Setelah mengatakan hal tersebut Jo langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan Austin.


"Black Devil, ya Black Devil adalah kelompok mafia nomor satu yang sampai saat ini tidak akan pernah tertandingi oleh siapapun."


Austin mengatakan hal tersebut sambil membelai pistol kesayangan nya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.


Sementara itu di penjara cinta, pagi ini Maureen yang kembali beristirahat mengalami kegelisahan di dalam tidurnya.


"Hentikan, hentikan, hentikan!"


Maureen kembali berteriak - teriak di dalam tidurnya dan langsung kembali terbangun.


"Mimpi buruk lagi."


Dengan keringat yang bercucuran, Mauren membuka mata dan langsung kembali terbangun.


"Aku melihat dari satu anak kecil perempuan yang bersembunyi di balik meja dan melihat penembakan sadis di depan matanya."


"Kenapa dadaku rasanya sesak sekali ketika aku bermimpi aneh seperti ini."


Maureen mengatakan hal tersebut sambil memegang dadanya yang kini terasa sangat sesak.


"Di dalam mimpi itu aku juga melihat satu laki -laki mengangkat tubuh mungil gadis kecil tersebut, bayang - bayang itu membawa gadis kecil tersebut ke suatu tempat yang masih samar."


"Aku bisa melihat gadis kecil itu menangis, menjerit - jerit dengan sangat nyaring karena tidak mau di bawa oleh bayang - bayang laki - laki tersebut."


"Apa ini, rasanya sesak sekali ketika di dalam mimpi aku bisa mendengarkan suara teriakan gadis kecil itu."


Maureen mengatakan hal tersebut sambil mencoba menghapus air mata yang kini mulai mengalir dengan deras dari ke dua matanya.


Dengan cepat Maureen beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba untuk membuka jendela kamar penjara cinta.


"Semuanya terkunci, semuanya, buka, buka, aku tidak mau di kurung lagi di tempat mewah seperti ini, buka!"


Maureen mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk membuka jendela kamar penjara cinta.

__ADS_1


Semua pintu jendela di dalam mansion Black Devil memang terkunci dengan sangat rapat, dan tidak ada satu pintu pun yang bisa di buka oleh tangan.


"Nona Maureen hentikan teriakan anda!"


Tiba - tiba saja pengawal perempuan masuk ke dalam kamar penjara cinta dan mengatakan hal tersebut kepada Maureen.


"Aku hanya ingin menghirup udara pagi pengawal, kenapa semua pintu jendela ini terkunci dengan sangat rapat!"


Maureen mengatakan kembali semua hal tersebut dengan tidak kalah histeris kepada salah satu pengawal wanita yang masuk ke dalam kamar.


"Sebaiknya nona Maureen tidak banyak bertanya hal - hal yang tidak perlu nona Maureen ketahui."


"Jika nona Maureen masih seperti ini, kami tidak lagi bisa menjamin keselamatan nona Maureen di tempat ini."


Setelah mengatakan hal tersebut pengawal wanita tersebut meninggalkan kamar penjara cinta tanpa berkata - kata apapun lagi.


Maureen yang kini kembali sendiri langsung terduduk di lantai dan menenggelamkan wajahnya.


"Tuhan, aku merasa terkurung di tempat ini, aku merasa diperlakukan seperti seorang budak wanita."


"Tuhan jika saat ini Engkau masih mau untuk mendengarkan aku, aku ingin bebas dari sini, aku ingin bebas dari dunia gelap ini."


"Tuhan, apakah kau masih mau mendengarkan permintaan ku ini? aku Maureen yang sudah tidak pernah menghadap kepadaMu, aku Maureen yang tidak pernah lagi menceritakan semua kesedihan ku kepada Mu."


Aku bisa gila jika aku terbelenggu di dalam hal ini seumur hidup ku.


"Tuhan bolehkah aku meminta satu permintaan kecil kepada Mu?"


"Aku ini hanya wanita biasa yang ingin memiliki keluarga dan di cintai oleh satu orang laki - laki yang dapat menerima masa lalu ku yang kotor ini, apakah masih ada laki - laki yang mau menerima aku?"


Dengan air mata yang mengalir dengan deras, Maureen mengatakan semua isi hatinya tersebut.


Isi hati yang sudah lama Maureen pendam, isi hati yang sama sekali tidak berani Maureen ungkapkan karena Maureen hanyalah nona malam yang merasa sudah tidak memiliki kebebasan sama sekali.


Pagi hari ini pada akhirnya Maureen memberanikan diri untuk mengatakan semua isi hatinya yang terpendam sejak lama.


Bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan pun, hal tersebut lah yang Maureen rasakan saat ini.


Maureen menangis dengan histeris untuk semua beban hati yang pada akhirnya dapat dia ungkapkan.


"Nona Maureen, sebaiknya anda beristirahat, karena malam nanti tuan muda kami akan kembali mengunjungi anda."


Dari luar kamar penjara cinta salah satu pengawal wanita mengatakan hal tersebut kepada Maureen, dan Maureen yang masih menangis sama sekali tidak memperdulikan lagi perkataan pengawal tersebut

__ADS_1


Hai, hai pembaca setia penjara cinta sang mafia, terus dukung author nya yah, dengan memberikan like dan vote sebanyak - banyaknya, agar authornya tetap semangat. Terima kasih


__ADS_2