
Naya masih menangis sesegukan memikirkan kenyataan bahwa ternyata orang yang menikahinya adalah orang yang menembaknya beberapa tahun lalu.
Dan bayangan-bayangan penyiksaan Zian terhadap dirinya semakin membelenggu hatinya. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya memaki takdir yang seperti sengaja mempermainkannya.
Naya kemudian teringat pada sosok lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Seseorang yang menyelamatkannya tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, saat Naya hampir tertimpa sebuah lampu hias besar yang menggantung di langit-langit ruangan itu. Jika bukan karena laki-laki itu, entah apa yang terjadi padanya.
"Kenapa aku tidak bertemu dengannya saja? Kenapa malah bertemu penjahat itu?"
Naya masih merenung di sana, menatap deburan ombak malam itu. Melupakan ucapan kakak dokternya untuk tidak pulang malam. Namun, malam itu langit seperti runtuh menimpanya. Entah dosa apa yang pernah dilakukan gadis polos itu sehingga takdir menghukumnya seperti sekarang. Begitulah isi pikiran gadis polos itu.
Tanpa Naya sadari, sosok lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali, lelaki kejam yang menembaknya dan malaikat yang rela memberikan separuh hatinya padanya, sebenarnya adalah orang yang sama. Gadis itu hanya dapat menangis dan menangis merenungi nasibnya.
Di kediaman keluarga Azkara, sudah terjadi kepanikan luar biasa. Fahri baru saja memarahi sang sopir yang tidak membawa Naya pulang ke rumah itu.
"Kak, aku akan pergi mencarinya." Evan menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja, lalu langsung pergi. "Aduh, Naya tidak punya ponsel, ya... Bagaimana cara melacaknya." gumamnya seraya menyetir. Mengarahkan pandangannya kekanan dan kiri.
Sementara Fahri menghubungi Zian untuk memberitahu tentang Naya yang belum juga pulang.
Begitu mendapat kabar dari kakaknya, Zian seperti kebakaran jenggot. Secepat kilat, pria itu keluar dari rumah sederhananya lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Naya kemana, tadi dia pergi bersama Mia, kan..." Zian langsung menghubungi Mia, namun sahabat Naya itu tidak mengetahui kemana perginya Naya. Kekhawatiran Zian pun semakin bertambah.
***
Dengan langkah gontai, Naya berjalan di atas sebuah jembatan. Tatapannya kosong, dia merasa hidupnya tidak berarti lagi.
Kenapa aku tidak mati saja. Kenapa harus ada seorang malaikat yang memberiku separuh hatinya.
Naya terus berjalan dengan menundukkan kepala. Lesu, itulah yang gadis itu rasakan.
Hingga dia melihat sepasang sepatu berwarna hitam di bawah sana. Naya pun mendongakkan kepalanya. Di depannya ada seorang pria tinggi yang tidak asing baginya.
Seketika dia mundur perlahan begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Saat hendak berlari, pria itu segera menangkap tangannya.
"Aku sudah menunggu saat ini sejak berbulan-bulan. Dan sekarang, tidak akan ada yang bisa menghalangiku. Suami mu akan tahu sedang berhadapan dengan siapa." Marvin mencengkram pergelangan tangan Naya, lalu menariknya dengan paksa menuju mobilnya. Naya terus berusaha memberontak.
Naya pun pingsan setelah satu tamparan keras mendarat di wajahnya.
Maliq... Kau sendiri yang mencari masalah denganku. Sekarang aku akan membalas semua perbuatanmu padaku.
****
Marvin membawa Naya menuju sebuah tempat yang mirip dengan gudang. Pria itu mengikat Naya dan membaringkannya begitu saja di lantai. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mengambil gambar Naya.
"Kita lihat bagaimana reaksimu melihat wanita yang kau cintai ada bersamaku,"
Sudah pukul sembilan malam, Zian belum juga menemukan Naya. Anita dan Dimas yang ikut mencari juga belum menemukan keberadaan Naya.
TRING!
Ponsel milik Zian berbunyi menandakan pesan masuk. Zian meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Sambil menyetir, dia membuka pesan itu. Matanya seketika membulat melihat gambar Naya sedang terikat dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Sesaat kemudian, ponsel itu berdering. Zian langsung menggeser simbol hijau.
"Maliq... Bagaimana kabarmu?" tanya Marvin sambil terkekeh sinis.
"Alex... Tolong jangan sakiti Nayaku... Apa yang kau inginkan..."
"Kau tanya apa yang aku inginkan? Aku hanya ingin membalas apa yang pernah kau lakukan padaku. Kau ingin Kanaya selamat? Datanglah sendirian! Aku akan mengirim lokasiku. Ingat, kalau kau berani datang membawa anak buahmu, maka kau akan menangisi Nayamu ini!"
"Baiklah, aku akan datang sendiri!" Sambungan terputus.
Tidak lama, ponsel milik Zian kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk yang berisi lokasi tempat Naya dan Marvin berada. Zian pun segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat sesuai isi pesan itu.
****
Pelan-pelan, Naya membuka matanya. Dia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak, lalu kemudian tersadar sedang dalam keadaan terikat.
Gadis itu meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan itu, hingga membuat pergelangan tangannya lecet.
Marvin yang melihat Naya telah terbangun langsung mendekatinya. "Kau ingin melepas ikatanmu? Haha, tunggulah Zianmu beberapa saat lagi. Saat dia sudah sampai, aku pasti akan melepas ikatanmu."
"Aku mohon lepaskan aku... Kenapa kau mengikatku di sini?" Marvin menarik rambut gadis itu dengan kasar membuat Naya meringis kesakitan.
"Seharusnya, aku sudah selesai denganmu. Tapi Maliq yang bodoh itu menghalangiku. Aku hanya ingin membalasnya. Jika dia beruntung, dia tidak akan sampai mati..."
Naya membulatkan matanya mendengar Marvin menyebut nama Zian. Naya yang ingatannya belum sempurna itu hanya bisa meringis memegangi tangan Marvin yang menarik rambutnya.
"Kau mengenalnya? Kau mengenal Zian?" tanya Naya terbata-bata.
Tidak lama, seorang pengawal Marvin memberitahu bahwa Zian sudah sampai di sana. Marvin lalu memberi kode pada anak buahnya agar membawa Zian masuk ke tempat itu.
"Pastikan dia tidak membawa senjata!" kata Marvin pada pengawalnya.
"Baik..."
Tidak lama, beberapa orang pengawal membawa Zian masuk ke ruangan itu dengan menodongkan senjata api di kepala. Marvin pun menyambutnya dengan gelak tawa seraya bertepuk tangan.
"Senang bertemu denganmu, Maliq..." kata Marvin seraya tertawa sinis. Zian mengarahkan pandangannya pada Naya yang terbaring dalam keadaan terikat. Lalu menatap tajam pada Marvin.
"Kau ingin membalasku, kan... Kau boleh membunuhku, tapi lepaskan Naya."
Naya membulatkan matanya mendengar ucapan Zian. Dia merasa sedang berada di antara dua orang yang sama jahatnya.
Zian dan Marvin, kedua orang itu hanyalah orang jahat di mata Naya.
"Tenanglah, Maliq... Kita bersenang-senang dulu. Aku sudah menantikan saat ini selama berbulan-bulan dan baru mendapatkan kesempatan itu sekarang."
"Kau hanya punya urusan denganku. Jadi lepaskan Naya!" ujar Zian membuat marvin tertawa lantang.
"Kanaya Indhira... Kau kabur di pernikahan kita karena kau takut menikah dengan seorang mafia berbahaya sepertiku, kan?" Marvin kembali tertawa, namun Naya sama sekali tidak merespon ucapannya. Dia diam seribu bahasa.
"Apa kau tahu, aku hanya anak buah seorang mafia, dan kau telah menikah dengan bos mafia..."
__ADS_1
Wajah Naya langsung berubah pucat mendengar ucapan Marvin, gadis itu enggan menatap wajah Zian yang membuatnya merasa ketakutan.
Sementara Zian hanya menatap Marvin dengan tatapan dinginnya, lalu melirik Naya yang sudah gemetara di sana.
"Alex, lepaskan Naya. Biarkan dia pergi! Aku mohon jangan menakutinya lagi."
"Kenapa Maliq... Bukankah bagus jika dia tahu siapa kau yang sebenarnya? Apa dia juga sudah tahu kalau kau adalah orang yang menembaknya beberapa tahun lalu?"
Naya semakin ketakutan mendengar ucapan Marvin. Matanya sudah dipenuhi cairan bening.
Aku rasa tidak masalah kalau aku mati di sini sekarang. Daripada aku hidup sebagai istri seorang penjahat... Dia benar-benar mengerikan. Kenapa? Kenapa aku bisa menikah dengannya? Apa yang dia lakukan sehingga aku sampai menikah dengannya? batin Naya.
"Kalian berdua akan mati di sini..." ucap Marvin dengan wajah puasnya. "Kau bodoh, Maliq... Kenapa kau harus memberikan separuh hatimu untuknya? Bukankah kalian akan tetap mati di sini?"
Deg
Mata Naya kembali dipenuhi cairan bening mendengar ucapan Marvin. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
Apa? Dia... Dia yang mendonorkan hatinya untukku? Kenapa? Bukankah dia membenciku, makanya dia selalu menyiksaku?
"Apa yang kalian tunggu. Habisi dia!" perintah Marvin pada pengawalnya.
Beberapa pengawal Marvin kemudian memukuli Zian bertubi-tubi. Ada perasaan tidak tega di hati Naya melihat Zian dipukuli seperti sekarang, walaupun dia merasa kebenciannya pada Zian telah menembus ubun-ubunnya.
Zian tidak melawan sedikitpun, pikirannya hanya satu, melindungi Naya.
Para pengawal itu terus memukuli Zian tanpa ampun dengan benda apapun yang ada di tangannya. Dengan sisa tenaganya, Zian terus merangkak ke arah Naya.
Naya yang merasa ketakutan saat Zian mendekat, hanya mampu memejamkan matanya. Dia merasakan tangan Zian yang berusaha melepas ikatan di tubuhnya. Naya pun kembali membuka matanya.
Dan, saat seorang pria mengangkat kursi kayu, dan mengarahkannya pada Naya, Zian segera menutupi tubuh Naya dengan tubuhnya, sehingga benda itu mendarat dan berhamburan di punggungnya
Naya menatap dalam wajah Zian yang sudah dipenuhi luka lebam. Setitik air matanya jatuh. Tiba-tiba, bayangan-bayangan itu kembali bermunculan, dia ingat saat Zian berusaha melindunginya dari penyerangan di bengkel, Zian menutupinya dengan tubuhnya. Diikuti beberapa ingatan lain tentang Zian yang terekam jelas di memorinya.
"Zianku..." gumam Naya pelan.
Perlahan, Naya mulai mengingat semuanya, betapa dia sangat mencintai sosok lelaki itu. Zian yang masih setengah sadar itu menatap Naya yang masih berada di bawahnya kemudian tersenyum tipis.
"Na-Naya... Aku mencintaimu..." ucap Zian yang kemudian tidak sadarkan diri lagi. Dia menjatuhkan kepalanya di bahu Naya.
Naya berusaha mendorong tubuh Zian yang masih berada di atasnya, dia menangis sejadi-jadinya, lalu meletakkan kepala Zian di pangkuannya.
"Zianku..." panggil Naya dengan berlinang air mata, menepuk pelan wajah suaminya itu. Lalu mengarahkan pandangannya pada beberapa pria yang baru saja memukuli suaminya tanpa ampun.
"Kenapa kalian lakukan ini pada Zianku..." Teriak Naya, lalu kembali menangis memeluk Zian. Sesaat kemudian, dia melihat Marvin mengarahkan senjata api padanya. Naya pun menutup matanya dan melingkarkan tangannya memeluk Zian.
DOR DOR DOR
Terdengar suara tembakan, dan semuanya menjadi gelap.
****
__ADS_1