Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 115


__ADS_3

"Ternyata makan disuapi istri sangat enak," ucap Zian sesaat setelah suapan terakhir mendarat di mulutnya, lalu mengambil segelas air putih. Naya menerbitkan senyum indahnya, membuat Zian selalu akan meleleh setiap kali menatap senyuman itu.


"Ada apa denganmu? Hari ini kau sangat aneh. Biasanya aku yang disuapi olehmu? Sekarang kau minta aku menyuapimu makan."


"Tidak apa-apa, Sayang... Aku hanya ingin memanfaatkan waktuku bersamamu dengan bahagia." Zian lalu mengecupi kening Naya bertubi-tubi.


"Kita masih punya waktu bersama seumur hidup. Kau sudah berjanji akan bersamaku sampai maut memisahkan kita, kan?"


Wajah Zian pun mendadak berubah mendengar ucapan polos dari Naya. Sungguh, laki-laki itu akan melakukan apapun, bahkan bila perlu akan mengorbankan nyawanya jika itu untuk melindungi istri dan anaknya.


"Aku akan selalu berusaha untuk mewujudkannya," ucapnya seraya mengusap lembut rambut panjang sang istri. "Oh, ya... Apa kau masih mual?"


"Sedikit. Tapi aku sudah merasa lebih baik."


"Baguslah, Evan dan Kak Fahri bilang itu normal untuk wanita hamil. Kau tahu, tadi Evan memberiku penjelasan yang agak aneh."


"Aneh apanya?"


"Dia bilang kita adalah spe..." Tiba-tiba Zian menggantung ucapannya, lalu menatap Naya. Seketika wajahnya merah merona mengingat betapa memalukannya ucapan Evan tadi. "Ah, tidak apa-apa lupakan..."


Aku rasa yang aneh itu kau, bukan Evan. ucap Naya dalam hati.


Zian kemudian teringat sesuatu yang tiba-tiba membuat hatinya sangat senang. Beberapa hari lalu dirinya sempat meminta Anita membelikannya sebuah buku, dan baru sempat dibacanya tadi sore di kantor.


"Sayang... Apa kau sedang menginginkan sesuatu? Makanan misalnya atau apa?" Zian bertanya dengan wajah yang sangat antusias.


"Tidak! Aku sedang tidak menginginkan apapun."


"Bohong!" tuduh Zian. "Kau pasti sedang menginginkan sesuatu, kan? Kau hanya menutupinya dariku. Ayo cepat katakan kau mau apa?"


Apa-apaan dia ini? Memang aku menginginkan apa? Aku kan sedang tidak mau apa-apa. batin Naya.


"Tapi aku benar-benar tidak sedang ingin apa-apa sekarang." Naya menjawab dengan wajah keheranan.


"Naya... kenapa sejak awal kita menikah, kau selalu menutupi apapun dariku? Dulu kau sakit dan menyembunyikannya dariku. Lalu sekarang kau hamil dan lagi-lagi kau menyembunyikan keinginanmu dariku!"


Naya membulatkan matanya, otaknya sedang melayang jauh ke atas sana. Mencoba memahami apa maksud sang suami. Bahkan otaknya telah kram memikirkannya, namun tak juga memahami apa maksud sang suami.


"Memang keinginan apa yang aku sembunyikan darimu?" tanya Naya.


"Kenapa kau tanya aku? Kau yang menyembunyikan keinginanmu, kenapa malah tanya aku?" Pembicaraan kedua orang itu semakin seru dan pastinya tidak nyambung.


Apa yang dia bicarakan? batin Naya.

__ADS_1


"Kau kan sedang hamil. Kau pasti mengalami masa ngidam, kan? Katanya wanita yang mengalami ngidam itu sering menginginkan sesuatu."


"Memangnya wanita hamil sering mengidamkan apa?"


"Mana aku tahu, kan kau yang mengalaminya."


"Aku benar-benar tidak mau apa-apa..."


"Ayolah! Suamimu yang baik ini akan memberikan apapun yang kau inginkan. Cepat katakan, apa yang sedang kau inginkan!" Dan, pertanyaan itu berubah menjadi sebuah perintah. Dimana Naya harus mengatakan apa yang diinginkannya.


"Aku mau tidur. Aku sangat mengantuk!" ucap Naya dengan santainya.


"Tidur?"


Kenapa dia malah mau tidur? Tidur kan tidak ada di buku itu. Apa Anita salah membeli buku? batin Zian.


Karena sudah merasa mengantuk, akhirnya Naya bergegas membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tinggallah Zian dengan sekelumit pertanyaan di benaknya.


Laki-laki itu mengambil buku dari dalam laci yang dibeli Anita untuknya, sesuai dengan pesananya. Sebuah buku tentang seputar kehamilan. Bahkan Zian harus membacanya sembunyi-sembunyi di malam hari agar tidak ketahuan Naya.


"Buku apa ini? Katanya wanita hamil sering mengidam dan menginginkan sesuatu. Buktinya Naya tidak menginginkan apapun. Dasar buku tidak berguna!" Karena merasa di bohongi oleh buku itu, Zian akhirnya membuang buku itu di tempat sampah, lalu ikut berbaring di sana dan seperti biasanya memeluk sang istri dalam tidurnya.


*****


Dimas mendapat perintah oleh bos besar agar mengikuti Anita kemanapun gadis itu pergi. Bahkan Dimas di minta menjadi bayangan ataupun kutu Anita bila diperlukan.


Dari jarak aman, Dimas terus mengikuti Anita secara sembunyi-sembunyi. Dalam hati, laki-laki itu mengumpati takdir yang mempertemukannya dengan gadis itu. Baginya Anita hanyalah seorang monster wanita yang mengerikan.


"Berhenti mengikutiku!" teriak Anita di depan sana, membuat Dimas terperanjat.


Matilah aku! Apa dia tahu aku mengikutinya sejak tadi. Ibu... Tolonglah anakmu ini dengan doamu! Dimas membatin.


"Kalau kau tidak keluar dari persembunyianmu, maka aku akan menembakmu!" Jika Anita sudah mengancam seperti itu, makan menciutlah nyali seorang Dimas.


Dengan sangat terpaksa, laki-laki itu keluar dari persembunyiannya, lalu menghampiri Anita.


"Kau tahu darimana kalau aku mengikutimu?" tanya Dimas takut-takut.


Anita memutar bola matanya malas. Baginya, Dimas hanyalah laki-laki bodoh dan sangat banyak bicara.


"Kau sangat bodoh! Kau bahkan tidak berbakat menjadi penguntit." ucap Anita lalu pergi meninggalkan Dimas.


Lihatlah! Betapa mengerikannya seorang Anita. batin Dimas.

__ADS_1


Akhirnya, Dimas pun segera menyusul langkah kaki cepat Anita.


"Apa Maliq yang memintamu mengikutiku?" tanya Anita dengan ketusnya.


"Kau seharusnya tidak perlu bertanya. Tidak mungkin aku mengikutimu atas inisiatifku sendiri, kan? Aku tidak mau mati konyol ditembak olehmu!"


Anita menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Dimas, membuat laki-laki itu membeku.


"Aku tidak butuh penjagaan. Apalagi hanya oleh orang sepertimu," ucap Anita lalu kemudian kembali melangkahkan kakinya.


"Benarkah? Kau tidak takut bertemu Kenzo Salvatruchi itu? Bagaimana kalau di depan sana kau bertemu dengannya. Apa yang akan kau lakukan?"


"Apa kau sedang mencoba menakutiku?"


Dimas menatap wajah Anita lekat-lekat. Bahkan, laki-laki itu dapat melihat raut wajah Anita yang seperti berusaha menahan ketakutannya.


"Kau tenang saja! Aku akan melindungimu dari Salvatruchi itu."


"Dasar! Kau bahkan salah menyebut nama orang itu!"


Mereka berjalan beriringan menuju suatu tempat, lalu mampir ke sebuah cafe.


"Anita, boleh aku tanya sesuatu?"


"Awas saja kalau kau mengajukan pertanyaan tidak penting!" Anita mulai mengancam seperti biasanya.


"Anita, kau dan bos sudah saling mengenal sejak lama. Kalian berdua saling menjaga. Bahkan sebelum bos bertemu dengan Kia alias Naya, kau sudah lebih dulu berada di sisinya. Apa tidak pernah ada cinta di antara kalian berdua?"


Anita terlihat kesal mendengar pertanyaan Dimas. Namun, gadis itu berusaha menepis kekesalannya. "Kau benar-benar ingin aku menembakmu, ya?"


Dimas tidak menjawab. Hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya, laki-laki itu kemudian menyeruput kopi yang baru saja dibawakan seorang karyawan sebuah cafe.


Bos bilang kau tidak semengerikan itu. Kau hanyalah seorang gadis rapuh yang harus dilindungi. Tapi kenapa aku merinding setiap dekat denganmu? Aku jadi ingin tahu, ada rahasia apa sebenarnya antara kau dan bos di masa lalu. batin Dimas.


****


Bersambung.


Nah, pada tanya kan, kenapa visual Anita lebih cantik dari Naya??? 😂😂


Sejak episode awal, sudah dijelaskan bahwa Anita adalah wanita tercantik yang ada di sisi Zian, bahkan Naya sempet minder gegara Anita.


Makanya semua orang heran, kenapa Zian dan Anita tidak cinlok, padahal Anita memiliki kecantikan sempurna di mata setiap lelaki.

__ADS_1


Lalu, ada rahasia apa antara Anita dan Zian di masa lalu?


__ADS_2