
Jika Zian menghadapi hari persidangan dengan santai, maka berbeda dengan Fahri , Evan dan Elma. Dengan raut wajah penuh kecemasan, mereka turut hadir di persidangan yang digelar pagi itu. Evan dan Fahri langsung mendekat dan memeluk saudaranya itu, begitu melihatnya memasuki ruang sidang dengan dikawal beberapa orang polisi.
"Apapun hasil sidang hari ini, aku akan tetap bangga menjadi kakakmu!" ucap Fahri sambil mengusap kepala adiknya itu.
Zian hanya menunjukkan senyum tipisnya, kemudian melirik Evan yang terlihat sangat sedih.
"Hey, Keong Laknat! Kenapa wajahmu begitu?" tanya Zian membuat Evan langsung memeluknya lagi. "Kau tenang saja! Aku tidak berencana mati karena vonis pengadilan." Zian berbisik di telinga Evan.
"Kau harus bebas, Kak! Apa kau tidak mau bermain dengan anakmu? Dia sangat menggemaskan. Apa kau tega meninggalkannya dengan menjerumuskan dirimu sendiri? Bibi bilang, Deniz setiap malam memandangi fotomu sebelum tidur. Dia menantikanmu setiap hari."
"Aku sedang berusaha untuk itu," ucap zian.
Sidang pun di mulai, bersamaan dengan Alex dan Kenzo yang baru saja tiba di persidangan itu. Dengan tujuan yang sama, yaitu menekan Zian agar tetap bungkam. Dengan percaya dirinya mereka memunculkan batang hidungnya. Mereka benar-benar sudah tidak sabar menunggu vonis pengadilan yang akan dijatuhkan pada Tuan Maliq itu.
Sementara Zian, tersenyum tipis saat melihat kedua orang itu memasuki ruang sidang. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia bahkan duduk dengan santainya tanpa beban sedikitpun. Padahal vonis hukuman mati sedang menantinya.
Persidangan terus berlanjut, sementara pemberitaan mengenai Zian di tv dan internet semakin heboh, bahkan sampai ke luar negeri.
Di luar sana, ribuan orang sedang berbondong-bondong mengarah ke pengadilan, yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Setiap ruas jalan menuju ke pengadilan pun ditutup oleh sekelompok mahasiswa itu. Adapula yang membawa spanduk bertuliskan 'Justice For Mr.Maliq' disertai dengan teriakan penuh semangat.
Kawanan ibu-ibu pun tidak mau kalah. Mereka secara kompak mengenakan jersey bertuliskan 'Bebaskan Tuan Maliq' di bagian depan, dan lambang timbangan di belakang kaosnya. Diikuti oleh ribuan anak panti asuhan dari Yayasan Kia yang turut hadir. Mereka datang dengan harapan bahwa pengadilan akan memberi keadilan bagi bos Kia Group itu.
Dan, yang mencengangkan adalah, bukan hanya dari kalangan masyarakat biasa saja yang hadir untuk berdemo hari itu. Namun, terlihat juga banyak aktivis yang secara kompak menyuarakan harapan mereka agar Tuan Maliq dibebaskan. Bahkan, Dokter dan beberapa pasien dari rumah sakit milik Zian turut hadir.
Suara riuh terdengar dari luar, mengagetkan siapapun yang ada di ruangan itu. Beberapa polisi dengan sigap berjaga di depan gedung pengadilan itu, guna mengatasi jika masyarakat bertindak anarkis. Namun, unjuk rasa pagi itu masih berlangsung tertib. Hanya sorakan dan yel-yel yang terdengar menggema.
"Kami ingin keadilan untuk Tuan Maliq."
"Tuan Maliq orang baik."
"Bebaskan Tuan Maliq."
"Tuan Maliq tidak bersalah."
Begitulah bunyi sorakan dari ribuan orang yang terus menggema.
Kenzo dan Alex yang duduk berjarak, hanya saling memberi kode saat mendengar sorakan dari luar sana. Kenzo mengirimkan pesan kepada Dimas agar tetap mengawasi Naya dan Anita yang disekap di tempat berbeda.
Tidak lama kemudian, seorang pemuda memasuki ruang sidang dengan mendorong sebuah kursi roda. Leo, melempar senyum sinis pada Alex seraya mendorong kursi roda yang diduduki oleh Rama, asisten ayah Naya, yang disekap oleh Alex selama bertahun-tahun. Rama, adalah satu-satunya saksi kejahatan Alex saat menipu ayah Naya sehingga perusahaan Adiwinata diambil alih olehnya.
Seketika, raut ketakutan di wajah Alex mulai terlihat, saat Rama menatap sinis padanya. Sedangkan Kenzo, sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk segera melarikan diri dari ruang sidang itu. Leo dan Evan kemudian saling melempar senyum.
"Yang Mulia, ini adalah bukti-bukti keterlibatan Tuan Marvin Alexander rusman sebagai mafia obat-obat terlarang, sekaligus bukti Klient saya, Tuan Azkara tidak bersalah," ucap salah seorang pengacara Zian seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat.
Wajah Kenzo dan Alex kemudian berubah pucat, menyadari bahaya sudah di depan mata.
"Sepertinya kita melakukan kesalahan dengan hadir di persidangan ini. Aku sudah bilang padamu untuk membunuh Leophard Pyordova, tapi semua pengawal yang direkrut orang kepercayaanmu itu benar-benar tidak becus untuk melakukan tugas semudah itu," ucap Alex pada Kenzo yang mengutuki ketidak becusan Dimas dalam bekerja.
Para pengawal setia Alex dan Kenzo sama sekali tidak dapat melukai pemuda itu seujung kukupun.
"Kau tenang saja. Aku sudah meminta Dimas untuk membawa Naya dan anaknya ke tempat yang aman. Maliq tidak akan bisa berbuat apa-apa," ucap Kenzo.
Benar sekali, Dimas memang membawa Naya, Deniz dan Anita ke tempat yang aman. Karena baru saja Kenzo mengucapkan kalimat itu, Anita sudah ada di ambang pintu dengan pengawalan dari Kia Group.
Kenzo tersentak kaget melihat Anita ada di sana. Dia teringat Dimas yang dipikirnya adalah bawahan setianya ternyata telah bekhianat padanya. Dimas, memang hengkang dari Kia Group untuk bisa masuk dalam kelompok Kenzo dan mengumpulkan bukti-bukti.
__ADS_1
Dan bagai permainan catur, Dimas mengepung sang raja dengan meminta sang raja mengganti semua pengawalnya yang dianggap Dimas tidak layak, lalu tanpa sepengetahuan sang raja, Dimas merekrut orang-orang Kia Group untuk menjaga Naya dan Anita selama disekap. Kenzo pun tidak pernah menaruh curiga. karena Dimas menuruti apapun perintahnya, sekalipun itu sangat sulit. Bahkan, Dimas dan Zian harus bersandiwara dengan perkelahian di dalam rumah tahanan.
Disisi lain, Leo yang punya sejuta rencana, berhasil menyusupkan pengawalnya dalam komplotan Alex dibantu pengawal Kia Group. Bahkan, Leo punya kartu as yang dapat membungkam Kenzo.
Alex pun tidak menyadari kedekatan Deniz dengan salah satu pengawal Kia Group yang selama ini menjaga bocah keci itu di villa.
"Ini tidak aman bagi kita," bisik Alex. Dengan segera, kedua orang itu pun hendak berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana kalian?" teriak Fahri menghentikan langkah kaki kedua orang itu.
Menyadari keadaan tidak aman, dan polisi sudah mengetahui kejahatan mereka, Alex menarik seorang wanita yang berada paling dekat dengannya dan menjadikannya sandera, lalu menyeretnya keluar dari ruang sidang. Seorang pria yang merupakan anak buah Alex segera melempar senjata api pada Kenzo begitu melihat bosnya keluar dari ruang sidang.
Sebelum masuk ke ruang persidangan, Kenzo dan Alex menitipkan senjata apinya pada pengawal yang berjaga di luar ruangan yang menyamar sebagai orang biasa. Mengingat peraturan yang tidak mengizinkan membawa senjata ke dalam ruang persidangan.
sementara wanita itu terlihat sangat ketakutan dengan todongan senjata dari Kenzo di kepalanya. Suasana kepanikan pun terjadi di ruang sidang itu.
"Jangan mendekat atau dia kami tembak!" ancam Alex dengan langkah kaki perlahan mundur, sedangkan Kenzo kembali mengarahkan senjatanya kesegala arah.
Langkah mereka pun terhenti oleh sekelompok mahasiswa yang mana merupakan teman-teman Leo dan Evan yang jumlahnya puluhan orang.
Atas arahan dari Leo dan Evan, para mahasiswa itu mengepung Alex dan Kenzo sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Polisi pun segera menangkap Alex, Kenzo dan beberapa anak buahnya, lalu membawanya ke ruang sidang.
Zian masih duduk santai di tempatnya dengan menerbitkan senyumnya. Tanpa melakukan apapun, Lelaki yang mendapat julukan mafianya mafia itu mampu mengalahkan kedua mafia yang paling berbahaya itu.
Tidak lama kemudian, datanglah Dimas bersama Naya, dengan si kecil Deniz yang berada di gendongan Dimas. Kenzo terlihat begitu geram saat melihat Dimas memasuki ruangan itu dengan santainya.
Sedangkan Naya, tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaannya saat itu. Selama dua tahun tidak mengetahui keberadaan sang suami yang ternyata ditahan membuatnya sangat terpukul.
Suasana yang semakin tidak kondusif membuat hakim memutuskan menunda sidang pagi itu hingga beberapa jam kemudian. Sementara Alex dan Kenzo langsung ditahan oleh para polisi.
Evan dan Leo pun ikut ke kantor polisi untuk mengurus laporannya.
Hingga suasana dalam ruang sidang sedikit lebih tenang, Zian dan Naya memasuki sebuah ruangan untuk bicara berdua. Fahri langsung mendekat dan mengambil Deniz dari gendongan Dimas.
"Kau darimana saja, anakku! Aku sangat merindukanmu!" ucap Fahri seraya memeluk keponakannya itu. Elma pun merasakan kerinduan yang sama pada bocah menggemaskan itu.
"Dimas, terima kasih! Kau sudah mempertaruhkan nyawamu untuk membuktikan adikku tidak bersalah. Aku benar-benar tidak tahu harus berterima kasih dengan cara seperti apa," ucap Fahri.
"Aku akan melakukan apapun untuknya," balasnya.
***
Di dalam ruangan, Naya masih tidak dapat membendung air matanya yang terus berguguran. Kerinduan membuatnya tidak tahan untuk memeluk sang suami. Namun saat akan mendekat, Zian menahannya.
"Sebentar! Aku tidak mau kau memelukku saat aku menggunakan pakaian ini!" ucap Zian, lalu melepas rompi tahanan yang dipakainya.
Naya begitu sedih menatap sang suami yang terlihat lebih kurus, dengan luka lebam di wajahnya.
"Kemarilah!" Zian merentangkan tangannya, Naya pun langsung memeluknya dengan seerat-eratnya, bersamaan dengan suara isakannya yang begitu lirih.
"Kenapa kau lakukan semua ini padaku? Kenapa kau merahasiakannya?" tanyanya tanpa melepas pelukannya.
"Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain. Hanya dengan cara ini aku bisa melindungi kalian semua."
__ADS_1
Suasana haru pun tercipta di dalam ruangan itu. Hingga beberapa saat, Naya masih enggan melepas tangan yang melingkar pada tubuh suaminya itu.
"Terima kasih karena kau sudah menguatkan hatimu untuk menungguku, dan kau menjadi seorang ibu yang terbaik untuk anakku."
Tidak lama, terdengarlah suara ketukan pintu. Fahri membawa Deniz masuk ke dalam ruangan itu.
Zian memandangi anaknya dengan perasaan bahagia dan mata berkaca-kaca. Bocah kecil itu pun segera mendekat begitu menyadari wajah Zian seperti wajah ayahnya yang setiap malam dia pandangi fotonya.
Zian berjongkok di hadapan anaknya itu, dengan perasaan campur aduk. Sementara Deniz menatap ayahnya tanpa berkedip.
*
*
*
*
*
*
*
"Ayah..." panggilnya dengan suara yang terdengar begitu menggemaskan di telinga Zian.
Laki-laki itu begitu terharu, walaupun Deniz masih berusia dua tahun, dan baru pertama kali bertemu, namun bocah itu dapat mengenali wajah sang ayah.
"Anakku... Sini peluk ayah!" ucapnya seraya merentangkan tangannya. Bocah itupun segera mendekat dan memeluk ayahnya itu dengan senyum yang begitu menggemaskan.
-
-
-
-
-
Bahagia, Hanya itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Zian yang terpisah selama dua tahun dengan keluarga kecilnya. Walaupun si kecil Deniz belum begitu mengerti dengan semua keadaan itu, namun anak itu terlihat begitu bahagia atas pertemuan pertamanya dengan sang ayah, yang selama ini hanya dapat dia pandangi melalui foto.
Mereka berdua pun mengobrol layaknya dua orang yang baru berkenalan, Deniz menceritakan pada sang ayah apa saja yang dilakukannya beberapa hari ini, seperti main robot-robotan dengan Om botak, pengawal Kia Group yang paling dekat dengannya selain Om Dimas.
****
BERSAMBUNG.
suka fotonya nggak gaes? 😅
__ADS_1
Eng ing eeenggg siapa yang menantikan hari ini?