Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Pulang?


__ADS_3

Setelah persidangan selesai, Zian meminta Naya untuk membawa Deniz kembali ke rumah bersama Anita. Sedangkan Zian dan Dimas, masih harus mengurus beberapa hal sebelum akhirnya diizinkan meninggalkan rumah tahanan.


Sore itu, Zian melangkahkan kakinya ke sebuah tempat dimana dia ditahan selama dua tahun. Tempat yang sekarang dihuni oleh Kenzo. Karena alasan keamanan, Kenzo dan Alex ditempatkan di sel terpisah.


Laki-laki bertubuh tinggi besar itu langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Zian dan Dimas ada disana.


Dengan seringai liciknya, Zian berdiri dengan memasukkan tangan kedalam saku celananya, sambil menatap sinis pada Kenzo. Laki-laki itu terlihat menggeram ketika melihat Zian dan Dimas ada di luar dengan wajah penuh kepuasan.


"Pengkhianat!" gumamnya sambil menatap tajam Dimas.


Dimas pun terkekeh mendengar ucapan Kenzo. "Aku kan sudah bilang padamu, Tuan! Kesetiaan itu mahal. Kau tidak akan bisa membelinya dengan uangmu!"


Kenzo semakin geram mendengar ucapan Dimas. Rasanya ingin membunuh Dimas saat itu juga.


"Sebaiknya kau mengkhawatirkan nyawamu. Karena kalau aku sampai berhasil keluar dari sel tahanan ini, maka kau akan jadi orang pertama yang aku cari," ucap Kenzo dengan penuh kemarahan.


"Tapi sepertinya akan sangat sulit bagimu untuk bisa keluar dari sini. Semua bukti rekaman percakapanmu dengan Alex sudah aku serahkan pada polisi, termasuk uang yang kau berikan padaku. Dan kau bahkan tidak menyadari sesuatu. Aku menaruh penyadap di mobilmu. Ah, satu lagi, semua pengawalmu yang setia kau pecat, sebaliknya aku memasukkan pengawal Kia Group untuk mengepungmu," ucap Dimas panjang lebar dan tidak berahlaknya, tanpa mempedulikan wajah Kenzo yang seolah akan terbakar hangus mendengar ucapannya.


"Kau!!!" sentak Kenzo. "aku tidak akan pernah melepasmu, Dimas!"


"Terima kasih, sepertinya kau terlalu menyukaiku, sampai kau tidak rela melepasku," ucap Dimas yang mendadak menjadi orang paling menyebalkan di dunia.


Sejenak, Dimas melupakan Anita, seseorang yang akan memakannya sampai habis jika bertemu nanti. Sementara Zian hanya terkekeh mendengar ucapan Dimas.


"Kalian benar-benar aktor yang hebat! Kalian bahkan berkelahi di depanku hanya untuk meyakinkanku!" ucap Kenzo.


Dimas tertawa mendengar ucapan Kenzo. "Apa kau tahu, perkelahian kami itu hanya untuk menjebakmu agar kau mau datang ke persidangan, sehingga polisi tidak perlu jauh-jauh untuk menangkapmu," ucap Dimas.


"Jangan menyulut kemarahanku!" bentak Kenzo.


"Sepertinya kau lupa sedang berhadapan dengan siapa. Apa kau tidak tahu kenapa mereka menyebutku mafianya mafia. Lalu, apa kau suka permainan kami?"


"Dia pasti suka, Bos! Saking sukanya, dia sampai berada di sel tempatmu ditahan selama dua tahun untuk menggantikanmu."


Kenzo sudah tidak dapat mengontrol emosinya yang memuncak. Seolah Dimas sedang menabur garam di atas lukanya. Perbuatan Kenzo dan Alex yang membuat sang bos tercintanya terpisah selama dua tahun dari istri dan anaknya membuat Dimas menjadi orang yang tidak memiliki belas kasih pada musuhnya itu.

__ADS_1


Dimas melihat sendiri, bagaimana Naya berusaha untuk tetap tegar menghadapi kesendiriannya di tengah perjuangannya membesarkan anaknya. Dan juga Anita yang selama dua tahun terus bersembunyi dari Kenzo.


"Ayo, Dimas! Aku kemari hanya untuk memastikan dia dan Alex sudah benar-benar sudah ditahan," ucap Zian lalu meninggalkan tempat itu tanpa permisi.


Dimas yang berjalan di belakangnya, kemudian mempercepat langkahnya.


"Bos, aku mau bicara sesuatu hal yang sangat penting!" ucap Dimas sesaat setelah naik ke mobil. Sejak keluar dari ruang sidang, Dimas terlihat sangat gelisah cenderung takut. Zian mengalihkan pandangannya sejenak,alu menatap wajah asistennya itu.


"Hal penting apa?" tanya Zian dengan serius.


"Aku sedang dalam masalah besar, Bos! Aku benar-benar sudah di ujung tanduk, antara hidup dan mati. Aku ada di jembatan yang hanya terbuat dari kayu yang rapuh. Dan sebentar lagi, aku akan terjatuh kedalam sarang buaya."


Zian terlonjak kaget mendengar ucapan Dimas yang rasanya sangat mendramatisir itu. "Memang, kau kenapa? Kenapa hidupmu mengenaskan begitu?"


"Anita, Bos! Anita!" ucap Dimas dengan wajah sememelas mungkin.


Zian menghela napas mendengar ucapan Dimas, lalu kembali menatap ramainya jalanan sore itu. "Aku pikir kau mau bilang Kenzo atau Alex melarikan diri dari tahanan. Ternyata masalah Anita. Memang, ada apa dengannya?"


"Bos, apa kau bisa menjamin aku akan baik-baik saja? Anita sangat mengerikan! Waktu itu aku mengikatnya dengan sangat kencang, agar dia tidak terlepas dari ikatannya. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana monster betina itu kalau sedang marah. Dia akan menjadikanku cemilan untuk ikan piranha peliharaannya."


"Aku benar-benar takut padanya. Makanya aku ikat yang kencang. Bisa kau bayangkan bagaimana dia jika ikatannya terlepas. Ibuku akan menangisi mayatku, Bos!"


"Haha, kau tenang saja! Aku akan bicara dengannya nanti."


"Terima kasih, Bos! Setidaknya aku akan selamat dari amukan monster betina itu," ucap Dimas.


Setelah obrolan panjang itu, Zian dan Dimas semakin dekat dengan rumanya. Di sana, Naya dan Deniz sudah menunggunya. Sepanjang jalan, Dimas terus dihantui perasaan takut. Laki-laki itu mencurahkan isi hatinya pada sang bos yang begitu takut pada sosok wanita yang sangat digilai para lelaki itu karena kecantikannya. Beruntung, Zian bukanlah buaya, sehingga dirinya sama sekali tidak tergoda dengan kecantikan Anita.


"Berhati-hatilah, kau ada bakat jatuh cinta pada Anita," ucap Zian seraya terkekeh. Sang sopir yang mengemudikan mobil pun ikut tertawa mendengar ucapan Zian.


"Kalian pasti akan jadi pasangan serasi. Nona Anita akan menyambut pagimu dengan senjatanya," imbuh sopir itu.


"Heh, diam saja kau! Kau sendiri juga takut pada monster betina itu, kan? Dasar!" Dimas terus mengomeli sopir yang malah menambah ketakutannya. Sementara Zian menutupi seringainya dengan jari.


Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, mereka tiba di rumah itu. Zian menatap rumah besar itu dengan perasaan lega. Selama dua tahun terpisah dari istri dan anaknya, akhirnya sekarang tidak ada lagi jurang pemisah antara dirinya dan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Zian segera melangkahkan kakinya masuk, sudah tidak sabar ingin bermain bersama si kecil Deniz. Sementara di dalam rumah, Deniz dan Naya sudah menunggunya sejak tadi.


"Ayah...!" Terdengar suara menggemaskan Deniz yang berlari ketika melihat ayahnya muncul dari balik pintu.


Zian langsung berjongkok seraya merentangkan tangannya, lalu memeluk anaknya itu.


Sementara Naya masih mematung menatap Zian. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak sedang bermimpi. Kepulangan sang suami yang menghilang selama dua tahun benar-benar menyakitkan baginya.


"Sayang, kau tidak menyambutku?" ucap Zian ketika melihat Naya membeku di sudut sana.


Dengan mata berkaca-kaca, Naya mendekat pada Zian dan langsung memeluknya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya diikuti isakan.


Zian mengeratkan pelukannya pada dua orang kesayangannya itu, lalu memberi kecupan secara bergantian. "Aku juga sangat merindukan kalian,"


Dan sore itu, Zian menghabiskan waktunya bermain bersama. Naya membiarkan Zian menikmati kebersamaannya dengan Deniz.


Sore berganti malam, Deniz masih saja meminta sang ayah menemaninya bermain. Padahal Zian benar-benar ingin menghabiskan malam indah dengan sang istri. Namun, si kecil Deniz sepertinya tidak memberinya ruang untuk bisa berduaan dengan sang istri.


Deniz yang begitu senang dengan kepulangan ayahnya terus mengajak sang ayah bermain bersama.


"Ayah, ayo main bola!" ajaknya.


"Main bola? Ini sudah malam, Nak! Anak kecil harus cepat tidur!" Zian mencoba membujuk bocah kecil itu untuk segera tidur, namun gagal.


"Tidak mau, aku mau main bola," ucapnya dengan suara yang masih belepotan.


Zian melirik arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Deniz tak juga merasa mengantuk. Bocah itu malah berdebat dengan sang ayah yang terus menyuruhnya untuk tidur.


Kenapa aku merasa kelakuan bocah ini seperti Evan? Apa jangan-jangan karena selama Naya hamil aku sering ribut dengan Evan, sehingga anakku jadi seperti Evan. Ya ampuun...


****


Abaikan latar, 😂😂😂 kira-kira kek ginilah keadaannya Zian debat sama anaknya.


__ADS_1


bapakmu mau melepas rindu, Nak! Dikau malah menghalanginya.


__ADS_2