RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Mrs. Edward Wiranata


__ADS_3

Kirania berjalan hilir mudik dengan sangat gelisah, dengan tangan saling meremas jari. Terkadang dia memijat pelipisnya, namun kadang terlihat juga dia mengelus tengkuknya, untuk menghilangkan rasa cemasnya. Saat dia mengejar Yoga tadi, untung saja Yoga menemukan mobil polisi yang sedang berpatroli. Dan dengan bantuan mereka, akhirnya Yoga bisa membawa Natasha ke rumah sakit. Dirga pun yang setelah dihubungi tentang keberadaan mereka tak lama langsung sampai di rumah sakit.


" Tenanglah, doakan saja yang terbaik. Semoga mereka tak apa-apa." Dirga mencoba menenangkan Kirania.


" Bagaimana aku bisa tenang? Aku takut jika terjadi sesuatu pada Natasha dan bayinya, itu semua salah aku."


" Jika sesuatu terjadi dengan mereka, itu sudah takdir, mungkin jalannya memang seperti ini. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri." Dirga mencoba menepis anggapan Kirania yang masih saja menyalahkan dirinya sendiri.


" Yoga, bagaimana dengan Natasha?" Kirania langsung memberikan pertanyakan saat melihat Yoga kembali.


Yoga menghela nafas sejenak. Wajahnya nampak terlihat murung. " Kami kehilangan calon bayi kami," lirihnya.


" Innalillahi wainnaillaihi rojiun." Kirania menutup mulutnya, sedangkan air mata langsung jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya seketika lemas dan terhuyung ke belakang. Jika saja Dirga tidak dengan cepat menangkapnya mungkin saat ini tubuh wanita itu sudah luruh jatuh ke lantai.


Beberapa saat kemudian Dirga berpamitan kepada Yoga, karena dia melihat Kirania yang tak henti-hentinya menangis, seolah dialah yang kehilangan bayinya.


Kirania merasa jika kehadirannya kembali ke Jakarta, telah membawa sial para istri dari pria-pria yang pernah dekatnya. Setelah Nadia yang terancam akan bercerai dengan Dirga. Kini Natasha yang harus kehilangan janinnya, karena tentu saja Natasha merasa sangat khawatir dengan pertemuan kembali suaminya dengan Kirania.


" Hei, sudahlah ... semua ini bukan murni kesalahanmu, jangan terus seperti ini." Dirga mencoba menyeka air mata yang menetes si pipi Kirania saat mereka berdua kini sudah masuk ke dalam mobil.


" A-aku mau kembali ke hotel," ucap Kirania kemudian.


Dirga berpikir beberapa saat. " Baiklah, mungkin kamu memang butuh istirahat. Aku antar kamu ke sana." Akhirnya Dirga pun membawa Kirania kembali ke hotelnya.


" Istirahatlah, jangan terus menyalahkan dirimu. Ini sudah diatur sama Yang Kuasa. Mungkin belum rezeki Yoga dan istrinya untuk memiliki momongan." Dirga lalu mengeluarkan kartu debit dari dompetnya. " Pakailah untuk keperluanmu, PIN nya tanggal lahirmu. Aku kembali ke kantor." Dirga pun meninggalkan Kirania yang kini termenung.


***


Satu Minggu berselang, Dirga benar-benar memperlakukan Kirania seperti seorang karyawan dengan sangat profesional. Tak ada tingkah menyebalkan Dirga yang membuat Kirania salah tingkah hingga naik darah. Tapi pergi mengikuti Dirga di jam kantor, tetap mesti dia turuti. Kirania pun kini sudah pindah kembali ke apartemen yang pertama kali dia tempati saat dia sampai di Jakarta ini.


Kirania baru saja hendak masuk pantry. Namun langkahnya terhenti saat dia melewati toilet dan dia mendengarkan sepintas beberapa karyawan yang sedang bergunjing.


" Aneh juga sih memang. Gue juga sampai kaget, waktu kemarin jalan nggak lihat-lihat nabrak pak bos, dia cuma bilang 'lain kali hati-hati' gitu doang sambil senyum. Gue sampai ternganga melihatnya."


" Bener, sekarang pak bos lebih banyak senyum. Kalau disapa juga selalu membalas. Beda banget sama pak bos yang dulu kelihatan dingin dan garang."


" Kalau gue inget-inget sih, sejak punya aspri pak bos jadi mencair gitu, deh."


Kirania mengeryitkan keningnya sembari mempertajam pendengarannya saat mereka mulai membawa-bawa posisinya.

__ADS_1


" Eh, iya bener, deh. Apa jangan-jangan mereka ada affair, ya? Secara pergi makan siang juga mereka bersama."


Kirania kini membelalakkan matanya seraya membekap mulut dengan telapak tangannya demi mendengarkan obrolan-obrolan karyawan tadi.


" Hmmm, kasihan dong, Bu Nadia. Denger-denger selama ini hubungan rumah tangga mereka kurang harmonis, ditambah jika gosip affair boss sama Aspri itu bener, bahaya tuh buat rumah tangga pak boss."


" Iya, padahal Bu Nadia baik banget, ya? Kok pak bos bisa gitu, sih?"


" Kalau begini, kita 'kan berasa dilema. Perubahan pak bos yang sekarang humble tentu saja suatu angin segar buat kita sebagai karyawan. Tapi masa kita mesti mendukung pelakor, sih? Kan nggak lucu ...."


Kirania menelan salivanya. Kalimat-kalimat yang terdengar di telinganya serasa menghujam langsung menusuk tepat di hatinya. Kirania akhirnya memilih segera beranjak dari sana. Karena jika semakin lama dia mendengar mereka, semakin sakit pula hatinya dengan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya.


Kirania berjalan ke arah lift setelah membuatkan kopi yang diminta Dirga.


Ting


Kirania segera menggerakkan kakinya memasuki lift, dia mendapati seorang pria bertubuh tegap dengan penampilan casual sedang asyik dengan ponselnya. Pria itu kemudian menoleh ke arah Kirania saat pintu lift tertutup.


" Apa benar ruangan Pak Direktur ada di lantai delapan?" tanya pria berwajah tampan berwajah indo kepada Kirania.


" Hmmm, iya benar. Maaf, Tuan mau ketemu dengan Pak Dirga?" tanya Kirania.


" Maaf, apa Tuan sudah berbuat janji dengan beliau?" Kirania balik bertanya.


Pria berwajah tampan itu mengedikkan bahunya seraya menaikan satu alisnya menanggapi pertanyaan Kirania. " Apa harus buat janji dulu jika ingin bertemu dengan dia? Kalau aku tidak punya janji, apa aku akan ditolak?" Pria itu memicingkan matanya menatap tajam ke arah Kirania membuat Kirania merinding.


Ting


Untung saja pintu lift segera terbuka sehingga Kirania merasa terselamatkan. Kirania buru-buru keluar dari lift menuju ruang kerja Dirga, namun dia langsung mendengus saat tak jumpainya Lisna di sana.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Kirania menoleh ke belakang untuk meladeni pria tadi. " Maaf, ini dengan Tuan siapa? Tuan bisa tunggu sebentar di sana?" Kirania menunjuk sofa di depan ruang kerja Dirga.


Pria itu hanya menoleh ke sofa tanpa menuruti perintah Kirania.


" Memangnya Pak Direktur sedang ada tamu, ya?"


" Saya mesti konfirmasi dulu ke Pak Dirga. Karena itu saya mohon Tuan menunggu di sana." Kembali Kirania menunjuk arah kursi.


" Kamu kerja di sini?" Pria itu malah bertanya kepada Kirania.

__ADS_1


Kirania mendengus kecil. " Iya, saya karyawan di sini. Saya asisten Pak Dirga." Kirania menyahuti.


" Asisten? Bukankah asisten dia itu Ricky?"


" Iya, benar. Pak Ricky itu asisten Pak Dirga, dan sekarang sedang tugas di luar pulau. Dan saya asisten pribadi Pak Dirga."


Pria itu mengeryitkan keningnya. " Asisten pribadi? Sejak kapan seorang Dirgantara memakai asisten pribadi?" tiba-tiba saja pria itu tertawa kencang, membuat Kirania mencebikkan bibirnya.


Dan Kirania dibuat semakin kesal saat pria itu tiba-tiba saja membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Dirga.


" Eh, Tu-tuan, tunggu dulu ..." Kirania pun bergegas masuk walau agak sulit bergerak cepat karena tangannya sedang membawa nampan berisi kopi.


" Maaf, Pak. Tuan ini memaksa masuk kemari, padahal saya sudah menyuruh beliau menunggu sebentar di luar." Kirania segera menaruh kopi di meja Dirga sembari melirik ke arah pria itu.


" Apa Anda tak punya aturan, hingga main selonong ruang kerja orang?" Dirga bangkit dan bertanya kepada pria itu.


" Maaf, Tuan Dirgantara. Rasanya saya sudah tidak sabar untuk menanyakan apa benar sekarang ini Anda mempekerjakan seorang asisten pribadi? Dalam rangka apa?" sindir pria itu.


Dirga sontak menoleh ke arah Kirania sambil mengeryitkan keningnya.


" Kenapa memangnya jika aku memakai asisten pribadi?"


" Apakah itu tidak membahayakan rumah tanggamu? Wanita secantik asisten pribadimu ini pantasnya dijadikan istri bukan sekedar aspri."


Ucapan pria itu seketika membuat Dirga dan Kirania saling pandang dan sama-sama menelan saliva.


" Kau ini 'kan sudah menikah, sudah ada istri. Sebaiknya Asprimu ini kau berikan kepadaku, biar bisa aku jadikan Mrs. Edward Wiranata."


Kirania langsung membulatkan matanya, sedangkan Dirga langsung mengeratkan giginya dengan rahang kini mengeras juga dengan tangan mengepal. Ternyata kedatangan sepupunya yang baru saja tiba di tanah air Minggu lalu mulai mengusik ketenangannya.


Bersambung ...


Edward Wiranata



Bang Dirga, jika dirimu tak segera mengurus masalahmu dengan Nadia, lama-lama othor jodohkan Rania dengan si Edo ini🤣🤣🤣🤣 #tawajahatothor


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2