RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Kirania mendengus kesal saat tahu ternyata Dirga banyak mengetahui tentangnya yang dia sendiri tidak mengerti, dapat dari mana informasi tentang keluarganya itu. Apa mungkin budenya yang memberitahukan semuanya? Yang pasti Kirania sangat kesal dengan sikap sok akrab yang ditunjukkan Dirga tadi.


" Mau kamu apa, sih? Apa kata-kata aku waktu itu kurang jelas? Aku tuh nggak suka kamu ikutin terus!" geram Kirania langsung meninggalkan Dirga sendirian di ruang tamu.


Dengan kesal Kirania masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit kencang hingga membuat Bude Arum yang melihat mengeryitkan keningnya.


Bude Arum langsung kembali ke ruang tamu.


" Ada apa, Nak Dirga? Kok Rania sampai banting pintu segala?" tanya Bude Arum penasaran.


" Kirania marah sama saya, Bude."


" Marah gimana maksudnya?"


" Sebenarnya Kirania itu sudah menyuruh saya untuk menjauhinya, tapi saya bandel nggak menanggapi," Dirga menggaruk kepalanya sembari tersenyum.


" Oalah ... jadi karena itu, toh. Kirania itu memang nggak pernah dekat dengan pria sebelumnya, jadi harap dimaklum ya, Nak Dirga." Bude Arum terkekeh.


" Iya, Bude. Kalau begitu saya pamit saja, Bude." Dirga kemudian berdiri lalu menyalami tangan Bude Arum. Tak lama dia pun meninggalkan rumah bude dari Kirania itu.


Sementara itu di dalam kamarnya Kirania sedang menangis karena merasa kesal. Sungguh dia merasa hidupnya sial sekali karena harus berhubungan dengan pria yang entah dia sendiri tidak mengerti kenapa pria itu bisa tertarik kepadanya. Kirania merasa dia bukanlah wanita yang istimewa untuk seorang pria populer seperti Dirgantara. Kirania merasa jika kelak akan mendapatkan banyak masalah jika dia terus berhubungan dengan Dirga.


Tok tok tok ...


" Ran, Bude boleh masuk, nggak? Tolong buka pintunya, Bude mau bicara."


Kirania langsung menyeka air matanya sebelum membukakan pintu kamarnya.


" Kamu ini sebenarnya kenapa, Ran?" tanya Bude Arum saat melihat wajah masam Kirania dengan sisa air mata yang masih menumpuk di bola matanya.


" Bude kenapa sih pakai kasih tahu mama segala ke Dirga?"


" Kasih tahu? Kasih tahu apa maksud kamu?"


" Bude kenapa cerita tentang Mama Saras ke Dirga? Terus kenapa juga Bude kasih nomer mama ke dia?" Kirania menyeka air mata yang akhirnya luruh lagi di pipinya.


" Cerita tentang Saras?" Bude Arum terlihat bingung. " Bude nggak cerita apa-apa tentang mama kamu ke Nak Dirga, apalagi kasih nomer HP segala," bantah Bude Arum.


Kirania langsung menoleh ke arah Budenya. " Jadi, Bude nggak cerita tentang mama?"

__ADS_1


Bude Arum menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Kirania. " Nak Dirga cuma bilang minta ijin ke Bude buat restuin dia. Katanya dia suka sama kamu, terus dia ingin jadi pacar kamu, sudah itu saja. Nggak ada bude cerita tentang Saras."


Kirania langsung mengeratkan giginya, ternyata Dirga hanya mengerjainya saja.


" Tapi kalau Bude nggak cerita dari mana dia tahu tentang nama Mama Saras?" tanya Kirania bingung.


" Mungkin dia cari info di kampus kamu, Ran. Kalau orang sedang jatuh cinta pasti berusaha cari info tentang orang yang disukainya itu. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu menolak Nak Dirga, Ran? Ganteng gitu kok ditolak."


" Bude nggak tahu saja dia itu seperti apa." Kirania duduk di tepi tempat tidur.


" Memang Nak Dirga itu seperti apa? Pasti banyak yang suka, ya?"


" Bukan cuma banyak yang suka, Bude. Tapi dia itu playboy, sering ganti-ganti cewek. Malah ada yang bilang katanya dia itu sering tidur sama cewek, bawa cewek ke hotel."


" Astaghfirullahal adzim, kamu kata siapa berita seperti itu?"


" Dari teman-teman kampus."


" Tapi berita itu belum tentu benar, kan? Jangan berghibah, dosa ... kamu masih puasa?"


" Masih Bude."


" Nah, apalagi sedang puasa. Bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga puasa dari ucapan, pendengaran dan penglihatan, juga menahan diri dari emosi," nasehat Bude Arum kembali. " Ya sudah, kamu istirahat saja dulu ..." Bude Arum beranjak meninggalkan kamar Kirania.


Kirania memalingkan wajahnya saat melihat sesosok pria yang tersenyum melihat kehadirannya.


" Aku pikir ini mimpi. Ternyata isi pesan kamu yang bilang minta ketemu, ternyata kamu benar-benar datang." Dirga menyunggingkan senyuman.


" Aku mohon sama kamu, jauhi aku! Jangan berusaha mendekati apalagi sok akrab dengan keluarga aku!" ketus Kirania yang siang ini memang meminta Dirga menemuinya di taman belakang kampus.


" Kalau aku nggak mau?"


Kirania berdecak. " Kamu jangan nyusahin, deh."


" Nyusahin apaan, sih? Aku cuma mau kamu jadi pacar aku, nyusahin apanya coba? Aku itu akan bikin kamu senang bukan bikin kamu susah," tegas Dirga, membuat Kirania menjejakkan satu kakinya hingga membuat Dirga tersenyum melihat tingkah menggemaskan Kirania yang merajuk.


" Kalau kamu mau jadi pacar aku, aku janji nggak akan mengganggu kamu." Dirga terkekeh.


Kirania memutar bola matanya. " Justru hidup aku semakin terganggu jika aku jadi pacar kamu."

__ADS_1


" Kenapa sih kamu nolak aku gini? Kenapa kamu seperti takut banget aku dekati? Apa menjadi pacar seorang Dirgantara itu terlalu menyeramkan?" Dirga berjalan lebih dekat ke arah Kirania berdiri hingga membuat gadis itu mundur ke belakang.


" A-aku ...."


" Apa karena rumor tentang aku seorang player itu yang mengganggu kamu?"


Kirania menggigit bibirnya menatap wajah Dirga yang semakin dekat dengannya.


" Ah, shit!" umpat Dirga, dia memejamkan mata sambil menengadahkan kepala. " Tolong jangan lakukan hal itu di depan aku kalau kamu nggak terima aku jadi pacar kamu, Ran." Tentu saja melihat Kirania menggigit bibirnya itu sebuah godaan untuk Dirga.


" Apa maksud Kak Dirga?" Dengan polos Kirania.


" Kasih aku kesempatan." Dirga buru-buru mengalihkan arah pembicaraan. Tak mungkin juga dia mengatakan rasanya ingin mengecup bibir ranum gadis itu melihat Kirania menggigit bibirnya. Yang ada gadis itu akan langsung kabur, sedangkan dia berusaha menaklukkan kerasnya hati Kirania.


" Aku nggak bisa ...."


" Kenapa nggak bisa? Kasih aku kesempatan buat mendapatkan hati kamu. Kasih aku waktu satu bulan. Biarkan aku mendekati kamu. Jika usaha aku dalam sebulan ini tidak sanggup melunakkan kekerasan hati kamu, aku akan menyerah. Tapi jika dalam kurun waktu itu aku bisa membuktikan kalau aku serius dengan kamu, kalau aku bisa membuat kamu goyah, please jangan tolak aku lagi."


Kirania menelan salivanya, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dia terlihat gelisah, entah kenapa pria di hadapannya itu bersikeras ingin menjadikannya seorang kekasih.


" Kenapa kamu memaksa aku?"


" Aku hanya minta kamu kasih aku kesempatan, untuk membuktikan jika aku serius menyukaimu."


" T-tapi ...."


" Please, satu kesempatan saja. Jika dalam satu kesempatan ini aku gagal, aku janji tak akan ganggu kamu lagi ..." kata-kata Dirga terdengar penuh permohonan.


" Kasih aku waktu untuk memikirkannya."


" Aku kasih waktu kamu sebulan untuk mengambil keputusan, tapi dalam sebulan ini jangan larang aku mendekati kamu. Jangan larang aku mengantar dan menjemput kamu. Jangan larang aku berkunjung ke rumah Bude kamu. Jangan larang aku mengajakmu pergi berkencan. Deal?" Dirga menyeringai.


" Kamu ...." Ucapan Kirania terhenti saat Dirga meraih tangannya lalu menjabatnya layaknya orang sedang melakukan kesepakatan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2