
Yoga sengaja mengendarai motornya melewati kampus Kirania. Sejak dia tahu ternyata Kirania bukanlah kekasih Dirgantara, dia berusaha mendekati wanita cantik itu. Bukan perkara sulit bagi seorang Prayoga Atmajaya untuk melakukan pendekatan terhadap wanita. Dengan kepintaran dan penampilan fisik yang boleh dibilang mendekati sempurna, belum lagi dia termasuk orang yang ramah, mudah bergaul dengan orang lain, ditambah sikap dia yang ringan tangan terhadap semua orang, tidaklah heran jika dia termasuk anak muda yang banyak disukai di mana pun dia berada.
Yoga memperlambat laju kendaraannya saat melewati halte di mana kemarin dia menemukan Kirania. Tapi seketika hatinya mencelos karena ternyata dia tidak menemui wanita itu di sana. Kemudian dia segera kembali mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Tiba-tiba matanya menangkap sekelompok wanita-wanita yang sedang melakukan aksi bullying terhadap seseorang. Karena jiwa sosial dia yang cukup tinggi, ditambah lagi saat dia mengenali sosok korban bullying itu adalah orang yang dia cari, buru-buru dia turun dan menggertak kumpulan wanita itu. Setelah memberikan sedikit ancaman, akhirnya ketiga wanita pelaku bullying itu pergi dari hadapannya.
Yoga menatap Kirania yang tampak tersengal-sengal dengan tubuh sedikit gemetaran. Dia kemudian meraih tongkat milik Kirania yang terjatuh dan memberikannya kepada wanita itu.
" Kamu nggak apa-apa?" tanya Yoga yang dijawab anggukan kepala Kirania. Sementara terlihat olehnya cairan bening sudah menganak sungai di mata wanita itu.
" Makasih, Yoga." Terdengar suara Kirania bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
" Kamu mau pulang? Aku antar, ya?" Yoga memberikan tawaran yang dengan cepat dijawab anggukkan kepala Kirania.
" Sorry, aku pegang lengan kamu nggak apa-apa? " Yoga meminta ijin untuk menuntun Kirania yang terlihat masih gemetaran. Kirania pun kembali mengganggukkan kepala menyetujuinya. Hingga Kirania menaiki motor Yoga, Yoga benar-benar memperlakukan Kirania sebaik mungkin.
" Mereka tadi itu siapa? Kenapa mereka berbuat seperti itu ke kamu?" tanya Yoga saat dia mulai menjalankan kembali motornya, tapi Kirania diam tak menjawab. " Oh, maaf." Yoga langsung meminta maaf karena dia merasa Kirania tidak merasa nyaman dengan pertanyaannya tadi.
Saat melewati sebuah warung, Yoga menghentikan motornya, membuat kening Kirania berkerut.
" Bang, minta tolong air mineral yang sedang satu, ya." Tanpa turun dari motor Yoga bebicara pada penjaga warung. Tak lama penjaga warung pun keluar memberikan air pesanan Yoga. " Maaf, ya, Bang. Saya nggak turun, kaki teman saya sakit jadi repot saya turunnya." Yoga berucap santun menyampaikan permintaan maaf karena dia merasa bertindak tak sopan kepada penjaga warung itu.
" Oh, nggak apa-apa, Mas." Penjaga warung itu menyahuti.
" Ini uangnya, Bang." Yoga menyodorkan uang lima puluh ribu kepada penjaga warung itu.
" Sebentar saya ambil kembaliannya dulu, Mas."
" Nggak usah, Bang. Ambil saja kembaliannya."
" Oh, makasih, Mas. Semoga Mas banyak rezekinya, panjang jodohnya sama Mbak nya." Penjaga warung itu memberikan doa, membuat Yoga menarik senyuman.
" Aamiin, Bang. Makasih." Yoga menggelengkan kepala, sementara senyuman masih mengembang di bibirnya. Dia kemudian membukakan seal air mineral itu dan memberikan kepada Kirania. " Minumlah dulu, mungkin kamu masih tegang karena kejadian tadi."
" Oh, makasih ..." Kirania menerima pemberian dari Yoga kemudian dia meminumnya. Setelah dilihat Kirania sudah selesai meneguk air mineral yang dia berikan, Yoga segera menjalankan kembali motornya.
" Kalau aku boleh tanya, apa mereka sering melakukan melakukan hal seperti tadi ke kamu?" Sepertinya Yoga masih penasaran atas tindakan cewek-cewek tadi terhadap Kirania.
" Iya, pernah juga kemarin." Kirania menyahuti.
" Kamu harus bisa lawan mereka. Orang-orang seperti mereka jika dibiarkan akan semakin menindas."
" Aku malas meladeni hal-hal nggak penting seperti itu."
" Iya, sih. Tapi kalau terlalu sering mereka berani melakukan hal seperti tadi, itu nggak bagus juga. Setidaknya ada orang yang bisa melindungi kamu."
__ADS_1
Kirania terdiam menanggapi ucapan Yoga tadi. " Hmm ... maksudku, kamu punya teman 'kan di kampus? Usahakan agar kamu selalu ada yang menemani jangan sendirian seperti tadi." Yoga mencoba mejelaskan agar Kirania tak menjadi salah paham.
" Iya, teman-teman sedang berhalangan jadi nggak bisa menemani," ucap Kirania.
Tin tin tin
Yoga langsung menoleh ke arah spion saat didengarnya suara klakson terdengar cukup kencang seolah menyuruhnya menepi. Karena saat itu dia memang berada di tengah-tengah jalan. Dia mendapati sebuah mobil Alphard putih berjalan di belakangnya, dan setelah dia menepi dan mobil itu sejajar dengan motornya, kaca jendela mobil itu terbuka.
" Minggir, dong! Kalau pacaran jangan di tengah jalan!" sindir seseorang di kursi penumpang depan.
" Dunia boleh milik kalian berdua, tapi jalan ini milik bersama, bukan milik kalian doang." Satu penumpang di belakang ikut meledek.
Yoga yang melihat mereka yang berada di mobil itu hanya melebarkan senyuman. " Maaf, Mbak." Ada tiga wanita yang dia lihat di sana. Dua orang yang berbicara dengannya, satu orang lagi yang duduk di belakang kemudi. Wanita itu tidak terlihat menoleh ke arahnya, tapi sibuk dengan ponsel di tangan kirinya.
" Mbak, kalau bawa kendaraan, jangan mainan HP, bahaya." Yoga menegur si pengemudi Alphard itu. Wanita yang ditegur Yoga pun melirik ke arahnya dengan tatapan terusik.
" Rese, lu! Apa bedanya sama lu yang naik motor ngobrol sambil pacaran?!" Wanita itu menyerang balik Yoga dengan kata-kata.
" Hajar, Nat! Hajar ...!" Sambil tertawa, penumpang di belakang memberi dukungan kepada temannya untuk melawan.
Tak lama kemudian mobil itu pun berlalu dengan cepat dari hadapan Yoga, membuat Yoga hanya bisa menggelengkan kepala.
***
Bude Arum terlihat keluar dari rumahnya saat terdengar suara motor memasuki pekarangan rumahnya.
" Waalaikumsalam, eh ... pulangnya diantar Nak Prayoga lagi, ya?" Bude Arum terlihat sumringah mendapati Yoga yang mengantar Kirania pulang.
" Ah, Iya, Bu. Maaf jika saya lancang mengantar Kirania pulang." Yoga menyalami Bude Arum.
" Lho, kenapa minta maaf? Justru Bude yang berterima kasih, Nak Prayoga sudah mau mengantar keponakan Bude."
" Panggil Yoga saja, Bu."
" Oh, ya sudah ... masuk dulu Nak Yoga, mari ..." Bude Arum mempersilahkan.
" Bude, Yoga barangkali mau bekerja lagi." Kirania merasa tak enak hati dengan sikap Budenya.
" Mampir sebentar nggak apa-apa 'kan, Nak Yoga?" Bude Arum seolah tak perduli dengan keberatan Kirania.
" Wah, dengan senang hati, jika Ibu mengijinkan saya singgah." Yoga berkata dengan kalimat yang santun.
" Tentu saja, boleh. Ayo masuk-masuk." Bude Arum mempersilahkan kembali, membuat Kirania hanya bisa menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Aku ke dalam dulu, Ga." pamit Kirania yang dibalas anggukan kepala oleh Yoga.
" Nak Yoga mau minum apa? Yang dingin atau yang hangat? Nanti ikut makan siang saja sekalian di sini, ya?"
" Aduh, nggak usah repot-repot, Bu. Saya jadi keenakan nantinya, Bu." Yoga berseloroh membuat Bude Arum terkekeh.
" Nggak apa-apa, Bude senang bisa menjamu orang yang sudah berbaik hati menolong Rania."
" Menolong?" Yoga mengeryitkan keningnya.
" Iya, Rania bilang Nak Yoga yang sudah nolongin Rania dari kejadian malam Minggu kemarin."
" Oh, itu kebetulan saya lewat saja, kok, Bu."
" Ya tetap saja, Nak Yoga sudah menolong Rania, kan?"
Yoga hanya mengembangkan senyuman menjawab perkataan Bude Arum.
" Bu, Mushola di sini, sebelah mana, ya? Mau ikut Dzuhur dulu," tanya Yoga kemudian.
" Oh ... ke sana saja, Nak Yoga. Lurus saja, nanti ada pertigaan belok kiri." Bude menunjuk ke arah kanan jalan.
" Kalau begitu saya ke Mushola dulu, Bu. Saya titip tas saya di sini, Bu."
" Oh ya, silahkan, Nak Yoga. Di sini aman, kok."
Akhirnya Yoga pun pergi berjalan menuju arah yang ditunjukkan Bude Arum.
" Masya Allah, sudah ganteng, baik, Sholeh juga. Benar-benar calon menantu idaman." Bude Arum menatap kagum ke arah Yoga.
*
*
*
Bersambung...
Maap Bude, Yoga sudah punya jodoh sendiri, jangan coba-coba jodohin Yoga sama Karinia, loh!๐
Novel tentang kisah Yoga ๐
__ADS_1
Selamat Berpuasa..
Happy Reading๐