RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Perintah Dirga


__ADS_3

Kirania langsung beranjak untuk membukakan pintu kamar yang diketuk. Dia membuka sedikit daun pintu dan menyembulkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang datang.


" Pak Adit? Pak maaf, saya baru bisa keluar jam empat, soalnya saya ambil kereta yang sore." Kirania berbicara sembari menyembunyikan tubuhnya di balik daun pintu karena saat ini hanya menggunakan piyama tidur dengan celana setengah paha tanpa mengunakan underwear.


" Oh, saya ke sini bukan karena masalah itu, Mbak. Saya diperintahkan Pak Bos untuk menjemput Mbak Kirania ke kantor." Adit menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Kirania.


Kirania mengerutkan keningnya. " Bos suruh saya ke kantor? Bos siapa?" Kirania dibuat bingung, karena setahu dia Dirga sudah memecatnya, lalu untuk apa lagi dia kembali ke sana?


" Pak Dirgantara, Mbak," jawab Adit


Kirania membelalakkan matanya. " Buat apa dia menyuruh saya kembali ke sana? Bukankah saya sudah dipecat sama dia?!" tanya Kirania.


" Saya kurang tahu, Mbak. Saya hanya diperintahkan untuk jemput Mbak Kirania sekarang." Adit kembali menjelaskan.


" Maaf, Pak Adit. Kayanya saya nggak bisa ikut, deh. Soalnya saya sudah memutuskan untuk kembali ke Cirebon sore ini." Kirania menolak ajakan Adit untuk ikut bersamanya.


" Waduh, gimana ya, Mbak? Pak Dirga pasti marah besar jika saya gagal membawa Mbak Kirania ke sana." Adit terlihat cemas dengan penolakan yang dilakukan Kirania.


Kirania mendengus kesal, bukan kepada Adit tentunya, tapi kepada Dirga yang sedari dulu sifat pemaksanya tidak juga hilang. Dia juga tidak mengerti apa maunya pria yang pernah sangat spesial di hatinya itu, bahkan mungkin sampai kemarin, sebelum dia mendapatkan perlakuan tidak adil dari Dirga.


" Kalau begitu Pak Adit bilang saja ke Pak Dirga, saya nggak ada di tempat. Maaf ya, Pak. Saya tidak enak lama-lama menerima tamu laki-laki di sini." Kirania dengan sangat terpaksa mengusir Adit secara halus.


" Ya sudah, Mbak. Saya permisi ..." Adit pun pamit dan beranjak meninggalkan kamar apartemen Kirania.


" Dasar orang aneh, senangnya memaksakan kehendak. Memangnya dia pikir dia siapa berani perintah-perintah? Kemarin pecat sekarang suruh menghadap. Males banget." Kirania terus menggerutu kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Tok tok tok


Tak berapa lama, pintu kamarnya kembali diketuk. Kirania melirik arah pintu dan dengan bersungut-sungut Kirania melangkah menuju arah pintu dan membuka pintu kamar apartemennya. Masih berposisi seperti tadi Kirania hanya menyembulkan kepalanya dan berucap, " Apa apa lagi Pak Adit ...."


Mata Kirania membulat dan terkesiap saat mendapati sosok yang berdiri di depan pintu apartemennya. Bukan Adit yang ada di hadapannya saat ini, melainkan Dirga. Dan belum sempat Kirania tersadar dari rasa kagetnya Dirga langsung menerobos masuk ke dalam kamar Kirania.


" Bapak mau apa kemari? Kenapa masuk-masuk kamar saya?" Kirania masih berbicara secara formal menghadapi Dirga.


" Kamar kamu? Apa kamu lupa jika ini fasilitas milik perusahaan?" sindir Dirga.


" Iya saya tahu, saya juga sebentar lagi keluar dari sini, kok." Kirania mendelik kesal.


" Mau keluar ke mana? Tidak ada ijin, bolos kerja, sekarang mau kabur. Baru seminggu kerja sudah malas-malasan. Bisa-bisanya kantor cabang kirim kamu ke pusat." Perkataan Dirga membuat tangan Kirania mengepal.


" Siapa juga yang memecat kamu? Itu 'kan asumsi kamu sendiri menanggapi perkataan saya." Dirga kemudian melangkah kaki ke arah sofa dan duduk di sana dengan berpangku kaki, membuat Kirania semakin kesal. " Sebaiknya cepat ganti baju kamu dan kembali ke kantor, atau ..." Dirga memperhatikan penampilan Kirania yang memakai piyama tanpa mengunakan dalaman dengan celana pendek hingga memperlihatkan paha mulus dan bening wanita itu. " Saya bawa paksa kamu dengan pakaian seperti ini."


Perkataan Dirga sontak menyadarkan Kirania dengan apa yang dipakainya saat ini. Dia langsung melihat baju tidur yang dipakainya kemudian melirik ke arah Dirga yang sedang menyeringai dengan mata nakalnya memperhatikan putih mulusnya tubuh bagian bawah Kirania dan tentu saja tonjolan kecil di bagian dada Kirania.


Kirania terkesiap, dengan cepat dia menarik selimut dari atas springbed dan menutupi tubuh Kirania dari leher sampai bawah kaki.


Kirania mendengus kesal. " Sebaiknya Bapak keluar dari sini, saya tidak mau orang beranggapan macam-macam dengan kehadiran Bapak di sini," usir Kirania.


" Ini apartemen saya, jadi kamu tenang saja tidak akan ada orang yang akan menggrebek kita seperti dulu."


Deg

__ADS_1


Ucapan Dirga seketika membuat hati Kirania tergigit. Bagaimana pria ini tega mengingatkan kembali kepada kenangan yang bisa dibilang merupakan kenangan terburuknya bersama Dirga.


Dan bukannya merasa bersalah karena membuka memori lama yang kurang berkesan untuk Kirania, Dirga malah beranjak pindah ke arah springbed dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan tangan terlipat di belakang kepalanya dan dengan sepatu yang masih menempel di kakinya.


" Bapak ini maunya apa, sih?" Kirania semakin jengkel dengan sikap Dirga yang terlihat seenaknya saja.


" Pijat kakiku sini."


Kirania dibuat terbelalak dengan sikap kurang ajar Dirga.


" Maaf ya, Pak. Saya bukan karyawan Anda lagi. Anda tidak bisa sembarangan suruh saya melakukan ini itu. Sebaiknya Bapak keluar dari sini sekarang juga, atau ...."


" Atau apa?" Dirga bangkit kemudian berjalan ke arah Kirania hingga membuat Kirania berjalan mundur hingga dia tersudut di dinding. Sementara Dirga terus mendekat dengan senyum licik di sudut bibirnya. Dan kini posisi antara Dirga dan Kirania hanya berjarak tiga puluh sentimeter. Debaran jantung Kirania semakin kencang apalagi saat sorot mata Dirga terus terarah ke bibirnya. Kirania sampai harus. menahan salivanya dengan rasa gugup yang kini menerjangnya. Dan saat jarak antara wajahnya dan wajah Dirga semakin menipis, Kirania hanya sanggup mengigit bibir dan memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi dan segera dia tersadar dari mimpi ini.


" Cepat ganti bajumu, aku tunggu kamu di parkiran depan pintu masuk Lobby," bisik Dirga di telinga Kirania membuat Kirania membuka matanya. Dan saat ini Kirania mendapati tubuh Dirga yang sudah agak menjauh darinya. " Aku tunggu di depan Lobby F." perintah Dirga mengacak rambut Kirania sembari tersenyum sambil melangkahkan kaki keluar kamar apartemen Kirania.


Kirania langsung mengisi oksigen ke rongga pernafasannya yang tadi sempat terhambat karena perlakukan Dirga yang hampir membuatnya jantungan. Kirania memegang dadanya, dia masih merasakan degup jantungnya yang masih berdetak tak beraturan.


" Ya Allah, ini nggak benar. Aku nggak bisa terus seperti ini. Dia sudah punya kehidupan sendiri. Dia sudah punya keluarga dan punya anak. Aku tak ingin ada di tengah-tengahnya. Ya Allah, kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan dia?" Seketika Kirania terisak sambil memeluk selimut yang sejak tadi dia pakai untuk menutupi tubuhnya.


Bersambung ...


Lanjutnya besok lagi ya😁 yang kepo² dan ingin menghalu 🤭 dengan visual tokoh di novel aku bisa follow ig rez_zha29 ya


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2