RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Banyak Jalan Menuju Roma


__ADS_3

Dirga menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Bekas pukulan masih terasa nyeri di wajah dan perutnya. Dirga mendengus nafasnya kasar, kejadian tadi sama sekali tidak pernah terbesit di pikirannya. Walaupun dia pernah melakukan lebih dari yang dia lakukan terhadap Kirania, tapi selama ini dia tak pernah tersandung seperti tadi.


Dirga mencoba memejamkan matanya, tapi bayangan Kirania yang ketakutan seketika melintas di pelupuk matanya. Dia kemudian meraih ponselnya, mencoba mencari kontak WhatsApp Kirania, kemudian mengetikan pesan dan mengirimkannya kepada gadis itu. Dia menunggu hingga beberapa saat, tapi pesan itu tak juga dilihat oleh Kirania. Dirga berpikir mungkin gadis itu sudah terlelap.


Dirga kembali menghela nafas. " Kenapa gue sampai lepas kontrol kaya tadi, sih? Bakal makin sulit dapetin dia," gumam Dirga sembari menelan salivanya.


Sementara itu sejak masuk ke kamar, Kirania mengunci diri di kamar itu. Bahkan Bude Arum yang mengetuk pintu kamarnya tak digubris olehnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Situasi chaos yang dihadapinya tadi benar-benar membuatnya syok. Apalagi saat dia teringat akan perbuatan salah satu pria tadi yang hendak memaksanya melepas baju yang dikenakannya. Hal itu makin membuat air matanya semakin berlinang berbarengan dengan suara isak tangisnya, hingga membuatnya kelelahan dan terlelap.


***


" Perasaan semalam aku taruh di saku sweater, sekarang kok nggak ada, sih." Kirania sedari tadi mencari ponsel yang tidak juga dia temukan.


" Apa jangan-jangan ponsel aku jatuh semalam waktu pria itu menarik bajuku, ya?" Kirania memijat pelipisnya. " Duh ... gimana ini?" gumam Kirania sambil berjalan hilir mudik seraya Mengelus tengkuknya.


" Ran?"


Kirania menoleh saat sosok Budenya muncul di kamarnya.


" Iya, Bude." Suara Kirania terdengar serak.


" Pakde kamu mau bicara tuh," ucap Bude Arum memperhatikan Kirania yang masih sibuk mencari sesuatu.


" Iya, Bude. Nanti aku keluar."


" Kamu sedang cari apa?"


" HP aku, Bude pegang HP, nggak? Tolong misscall ke nomer aku dong, Bude."


" HP Bude ada di kamar. Ya sudah kamu temui Pakde kamu sana, Bude mau masak dulu." Bude Arum kemudian meninggalkan Kirania, yang tak lama ikut keluar menemui Pakdenya.


" Duduk sini, Ran." Perintah Pakde, yang terlihat duduk sambil membaca koran di kursi makan.


" Iya, Pakde." Kirania mengambil posisi duduk di depan Pakdenya.


Pakde Danang kemudian melipat koran dan melepas kacamata bacanya.


" Sebenarnya apa yang terjadi semalam?" tanya Pakde Danang kemudian.


Kirania menarik nafas sejenak " Rania nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Pakde. Tiba-tiba saja aku terbangun, aku dengar orang teriak sambil pukul mobil Kak Dirga."


" Lho, memangnya kamu tidur, Ran? Kok kamu bilang terbangun?" Bude Arum yang penasaran atas apa yang terjadi sampai harus bolak-balik dapur - ruang makan.


" Iya sepertinya aku tertidur dalam perjalanan pulang, Bude." Kirania sendiri tak mengerti kenapa dia sampai tertidur, hal yang sangat memalukan, menurutnya.


" Lantas apa yang mereka perbuat terhadap kalian?" selidik Pakde kembali.


Kirania menelan salivanya, mengingat peristiwa semalam adalah hal yang dia anggap paling mencekam setelah kepergian Papanya dua tahun lalu.

__ADS_1


" Mereka ingin mengarak kami, karena mereka mengira kami sedang berbuat mesum, Pakde," lirih Kirania tertunduk.


" Astaghfirullah adzim, Ya Allah ... kenapa bisa begitu, Ran?" Bude Arum terperanjat mendengar penuturan Kirania.


" Kalau kamu bilang kamu tertidur, dan orang-orang itu menuduh kalian melakukan hal yang berdosa, berarti mobil Dirga saat itu posisinya sedang berhenti, yang membuat kecurigaan orang-orang itu. Kenapa dia harus berhenti di jalan?" Pakde Danang curiga.


Kirania terdiam, sungguh dia sendiri tidak mengerti kenapa saat itu mobil Dirga berhenti.


" Bohong, kami tadi melihat kalian berciuman di dalam."


Tiba-tiba Kirania teringat ucapan salah seorang pria semalam yang mengatakan hal itu. Seketika Kirania memegang bibirnya.


" Ya Allah, apa jangan-jangan semalam itu Kak Dirga menciumku?" batin Kirania membuatnya seketika gusar.


" Kenapa, Ran?" tanya Pakde Danang.


" A-aku nggak tahu, Pakde. Tapi salah satu orang di sana bilang melihat kami berciuman." Kirania langsung tertunduk malu.


" Berciuman? Apa kamu berciuman dengan Dirga dalam mobil itu?"


Kirania menggeleng. " Kirania nggak tahu Pakde,"


Pakde Danang menghela nafas panjang. " Berarti kemungkinannya Dirga mencium kamu saat kamu tertidur, dan itu kepergok oleh warga di sana." Pakde Danang menganggukkan kepala.


" Ran, kalau Pakde melarang kamu berhubungan dengan Nak Dirga, apa kamu akan marah pada Pakde?"


Kirania langsung menengadahkan kepalanya menatap Pakdenya. Bagaimana mungkin dia akan marah kepada pria yang sudah dia anggap ayah kedua untuknya, apalagi sejak Papanya pergi meninggalkan dia, Mama dan adiknya, Pakde Danang lah yang bertanggung jawab atas mereka.


" Nggak, Pakde. Apapun keputusan yang Pakde ambil, Rania akan menurutinya," sahut Rania.


" Pakde mengambil keputusan ini, untuk kebaikan kamu. Kamu anak gadis. Pakde nggak ingin terjadi suatu yang buruk terhadap kamu. Karena apamu sudah nggak ada, maka Pakde lah yang bertanggung jawab membimbing kamu dan adikmu." Pakde mencoba memberi alasan atas sikapnya.


" Iya, Pakde. Rania mengerti."


" Ya sudah, cepat kamu bantu Budemu di dapur sana!" perintah Pakde Danang kemudian.


" Baik, Pakde." Rania pun akhirnya melangkah menuju dapur membantu Budenya menyiapkan sarapan.


***


" Nadanya nada panggil, tapi nggak ada bunyi. Apa lowbat? Tapi perasaan semalam masih banyak, kok." gumam Kirania mencoba menghubungi nomernya dengan ponsel Bude Arum.


" Gimana, Ran? Ketemu?" tanya Bude Arum.


Kirania menggelengkan kepala. " Nada panggil tapi nggak ada bunyi, sepertinya memang terjatuh semalam, Bude." Kirania langsung mengerucutkan bibirnya.


" Kalau sudah jatuh di jalan susah, Ran. Apalagi dihubungi seperti ini, ada orang yang dengar, diambil deh ponselnya."


Wajah Kirania berubah masam. Kalau HP nya hilang, berarti dia harus membeli HP baru, sedangkan sisa uang tabungan dia hanya ada saldo buat pegangan jika ada kebutuhan penting dan mendadak.

__ADS_1


" Payah kalau mesti beli HP baru lagi, Bude."


" Kamu pakai saja HP Bude, Ran. Sayang-sayang kalau harus beli lagi."


Kirania mendongakkan kepala ke arah Budenya.


" Jangan, Bude. Bude juga 'kan butuh HP."


" Lebih butuh kamu, Ran. Kamu 'kan butuh untuk kuliah."


" Tapi, Bude ...."


" Sudah pakai saja. Paling yang hubungi Bude, kalau nggak pakde kamu, mama kamu, sama warga sini yang kasih tahu ada arisan RT, arisan RW sama pengajian doang, jadi lebih baik dipakai kamu saja, Ran."


" Makasih ya, Bude." Kirania langsung memeluk tubuh budenya. " Kalau Rania ada uang, nanti beli yang baru."


" Nggak usah dipikirkan, yang mesti kamu pikirkan itu belajar dan kuliah yang benar."


Kirania mengangguk dan tersenyum. " Iya, Bude. Makasih ya, Bude. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah kepada Bude dan Pakde, karena selama ini sudah sangat baik kepada Rania." Kirania sampai meneteskan air mata haru.


***


Dirga mengerjap, saat dirasanya sinar matahari menyorot langsung ke wajahnya. Dirga menggeliat seraya melirik arloji yang belum sempat dia lepas semalam, sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia kemudian bergerak mengambil ponselnya di atas nakas, tapi apa yang dia tunggu dari semalam tak juga nampak kehadirannya.


" Nggak dibalas pesan gue." Dirga berdecak, kemudian dia melihat aktivitas last seen WhatsApp Kirania, terlihat jam terakhir dilihat wanita itu adalah dua puluh satu empat puluh, berarti sejak semalam Kirania belum aktif lagi di WhatsApp.


" Apa dia nggak pegang HP sama sekali sampai jam segini? Apa gue telepon saja, ya?" Dirga berbicara sendiri.


Kemudian Dirga menghubungi nomer Kirania tapi tak juga diangkat.


" Nada panggil tapi nggak diangkat. Apa dia marah sama gue, ya? Aaarrgghh ... sial, kenapa semalam gue bisa tergoda cium dia, sih?" Dirga merutuki dirinya sendiri. " Tapi gue nggak nahan sih lihat bibirnya itu." Dirga tersenyum seraya menggigit bibirnya sendiri mengingat kejadian saat bibirnya menyentuh bibir lembut Kirania. " Sial, itu orang-orang ganggu banget, sih!" Dirga kesal mengingat orang-orang yang menggrebeknya semalam, kemudian beranjak menuju kamar mandinya.


Setengah jam kemudian, Dirga berjalan menuju garasi rumahnya. Dia berniat bertemu dengan teman-temannya. Dia memilih mengendarai mobil. Saat dia baru saja menyalakan mesin mobilnya tiba-tiba terdengar suara, tapi bukan berasal dari ponselnya. Dengan cepat Dirga mencari asal suara tersebut, yang ternyata berasal dari bawah kursi penumpang di sebelahnya.


Dirga memicingkan mata, saat melihat sebuah benda pipih tergeletak di bawah kursi di sebelahnya. Dengan cepat dia raih benda itu. Dan sebuah senyum langsung tercetak di bibirnya.


" Pantas dihubungi susah, ternyata HP dia ketinggalan. Kebayang dia kewalahan mencari ini," gumam Dirga. Dirga melihat jika bunyi tadi ternyata notif pesan yang masuk di ponsel milik Kirania.


" Banyak jalan menuju Roma, ada saja cara bisa dapat info tentang kamu." Dirga kemudian menonaktifkan HP Kirania dan meletakan HP itu ke dalam laci dashboard mobilnya. " Sabar ya, setelah urusan gue selesai, gue bakal lihat apa yang ada dalam ponselmu, Kirania." Seringai tipis langsung muncul di sudut bibirnya.


*


*


*


Bersambung ...


Bab terbaru Yoga-Tata agak siangan ya guys, semalam ngantuk berat ga sempat nulis, RTB ini aja baru nulis lepas Shubuh tadi. Kalo lg kumat, nulis 1000 kata aja butuh waktu berjam-jam rasanya😀😀

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2