RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Backstreet


__ADS_3

" Kirania ...."


Kirania dan dua orang sahabatnya menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, terlihat Dirga berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.


" Sorry kalau mengganggu kalian, boleh aku minta waktu sebentar untuk bicara dengan Kirania?"


Kirania dan kedua sahabatnya saling berpandangan, dari sorot matanya Kirania nampak keberatan, dia berharap pada teman-temannya untuk menolak permintaan Dirga.


" Sebentar saja, nggak akan bikin dia lecet, kok. " Dirga melebarkan senyuman. " Bisa, kan?"


" Oh oke, silahkan, Kak." Sabilla buru-buru bangkit disusul oleh Hasna.


" Jangan dibikin nangis ya, Kak." Hasna menimpali.


" Kalian apa-apaan, sih? Kenapa malah pada pergi?!" Kirania mencebik, sungguh sikap teman-teman-nya itu sangat berbeda. Jika di belakang mereka seolah anti terhadap Dirga, tapi di hadapan orangnya langsung, mereka seakan menuruti.


" Aku rasa, kalian butuh bicara empat mata." Sabilla kemudian menarik lengan Hasna. " Ayo. Has."


" Bicarakan baik-baik ya, Kak." Kalimat yang sempat diucapkan Hasna sebelum meninggalkan Kirania dan Dirga berdua.


" Kamu puasa, ya?" Dirga mendudukkan dirinya di sebelah Kirania.


" Aku minta maaf soal kejadian kemarin, ya. Aku tahu kamu pasti marah sama aku, aku juga tahu kamu pasti kecewa sama aku. Maaf kalau kencan pertama kita membuat kamu trauma, aku yang mengacaukan segalanya." Tangan Dirga mencoba menggenggam tangan Kirania tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.


Dirga menatap wajah Kirania yang tak sedikitpun mengarah ke wajahnya.


" Aku mengerti kalau kamu marah, tapi aku ingin menebus kesalahan aku, ijinkan aku memperbaiki semuanya, beri aku kesempatan satu kali lagi."


" Pakde sudah membuat keputusan, dan aku setuju dengan keputusan Pakde aku!" tegas Kirania mantap.


" Aku minta kamu kasih aku kesempatan lagi, dan aku akan membuktikan ke Pakde kamu, kalau aku tidak seperti yang beliau pikirkan."


Kirania menoleh ke arah Dirga. " Malam itu apa kamu berusaha melecehkan aku?"


Dirga menelan salivanya, selanjutnya menghela nafas perlahan. " Aku nggak bermaksud seperti itu, Rania." Dirga mengelak.


" Tapi kamu mencium aku, kan? Seperti yang dituduhkan orang-orang itu?" tuding Kirania. " Apa sebenarnya tujuan Kak Dirga dekati aku? Apa kamu penasaran karena aku sosok yang tidak mudah didekati pria? Apa karena aku beda dari wanita-wanita yang dengan mudah kamu taklukan, hingga kamu tertantang untuk menjadikan aku pacar kamu?!" Ada rasa sesak di dadanya saat mengucapkan kalimat itu.


" Itu nggak benar, Rania. Aku nggak pernah berpikir ke arah sana." Dirga kembali membantah.


" Aku ini bukan siapa-siapa, Kak. Kenapa kamu memaksakan diri terus mendekati aku? Kenapa Kak Dirga nggak memilih wanita lain saja yang bisa mengikuti permainan Kakak?" Kirania sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata walaupun saat ini matanya sudah mulai memanas. " Kejadian kemarin benar-benar membuat aku takut, aku hampir di arak massa, ditelanjangi atas apa yang nggak aku lakukan, dan itu ... itu sangat menakutkan buat aku." Dan tanpa bisa dibendung lagi cairan bening itu luruh di pipi mulus Kirania.

__ADS_1


Tangan Dirga langsung merangkum wajah Kirania, sontak hal itu membuat Kirania tersentak, dia hendak menjauhkan tangan Dirga dari wajahnya, tapi Dirga tak menghiraukannya. Bahkan jemari Dirga kemudian menyeka air mata yang menetes di wajah gadis cantik itu.


" Jangan menangis, aku nggak suka melihat kamu seperti ini, please ... maafkan aku, aku siap lakukan apapun juga untuk menebus kesalahan aku itu."


" Kak, lepaskan ... ini di kampus, banyak orang yang akan melihat." Tangan Kirania mencoba mengurai tangan kokoh Dirga tapi tak juga berhasil.


" Janji padaku dulu, kamu mau memaafkan aku, kamu akan memberi aku satu kesempatan lagi." Dirga menatap teduh mata indah Kirania.


" Kenapa kamu maksa banget, sih?!" Kirania langsung mencebik.


Dirga terkekeh melihat ekspresi kesal Kirania. " Apa artinya kita baikan sekarang?" Dirga melepaskan tangannya dari wajah Kirania.


Kirania hanya mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dan dilihatnya sudah pasti banyak pasang mata menatap interaksi dirinya dan Dirga.


" Ini punyamu." Dirga menyodorkan benda pipih ke hadapan Kirania. Kirania yang mengenal benda yang ditujukkan Dirga kepadanya langsung menoleh ke arah Dirga.


" Ini ponsel aku." Kirania langsung merebut ponselnya dari tangan Dirga. " Kamu yang ambil ponselku?" tuduhnya kemudian.


" Kamu pikir aku nggak punya uang apa? Sampai harus mencuri HP kamu segala. Aku menemukan itu di bawah jok mobil, sekarang bukannya dapat ucapan terima kasih malah dituduh mencuri," sindir Dirga memasang wajah masam.


" Terima kasih," ucap Kirania dengan wajah berbinar karena ponselnya telah kembali, jadi dia tidak perlu membeli HP baru lagi. Tapi tiba-tiba dia langsung menghunuskan tatapan tajam pada Dirga. " Kamu buka-buka HP aku, ya?" tuding Kirania lagi.


" Gimana mau dibuka, orang dikunci gitu kok, HP nya." Dirga mengelak, sementara dalam hatinya dia tertawa, karena gadis itu tidak akan menyangka jika dia mengetahui password yang mengunci layar ponsel milik Kirania itu.


" Nggak sengaja."


" Nggak mungkin kalau nggak sengaja, orang Hp aku dikunci gini, kok. Terus kamu tahu dari mana password-nya?" Kirania menatap curiga.


" Cuma nebak saja." Dirga tersenyum.


" Tahu dari mana nomer password-nya?" Kirania kemudian mencubit pinggang Dirga, karena dia memakai tanggal lahirnya makanya Kirania merasa penasaran.


" Sakit, Yank ..." Dirga meringis


" Idih ... pede banget sih panggilnya." Kirania mencibir.


" Lho, nggak apa-apa dong, aku panggil 'Yank', kamu kan pacar aku."


" Kesepakatan kita sudah selesai, ya!"


" Siapa yang menyelesaikan? Aku belum merasa tuntas menjalankannya."

__ADS_1


" Aku yang menyelesaikannya, sejak kejadian malam minggu kemarin."


" Oh, nggak bisa, dong! Kamu nggak bisa memutuskan sepihak kesepakatan kita ini."


" Memangnya kamu sendiri waktu membuat kesepakatan ini nggak memutuskan secara sepihak?? Kamu yang membuat aturan itu tanpa minta persetujuan aku. kan?"


" Kalau aku minta persetujuan kamu, sudah pasti kamu menolak." Dirga terkekeh, tak ingin kalah berdebat dengan wanita cantik di depannya itu.


" Dasar manusia egois!" cibir Kirania.


" Biarin ...."


" Nggak tahu malu!"


" Biarin, weeekkk ..." Dirga menjulurkan lidahnya mengejek hingga membuat wajah Kirania memberengut.


" Nanti pulang kuliah aku antar, ya."


" Nggak mau!"


" Kita 'kan sudah berbaikan."


" Aku nggak mau menentang keputusan Pakde."


" Ya sudah kita backstreet saja kalau gitu." Dirga memainkan alisnya.


" Aku nggak mau, aku nggak percaya sama kamu! Dikasih kesempatan Pakde baik-baik saja kamu langgar, apalagi kalau harus sembunyi-sembunyi." Kirania mengedikkan bahunya.


Dirga terbahak. " Kalau terjadi apa-apa kita tinggal nikah saja, beres, kan?" Dirga mengedipkan matanya menggoda Kirania membuat Kirania bangkit hendak beranjak tapi tangan Dirga mencekalnya.


" Aku tunggu di gerbang pulang nanti, kalau kamu nggak mau, aku akan paksa gendong kamu biar kamu mau." Dirga menarik sudut bibirnya ke atas.


" Dasar gila!" Kirania menghempaskan tangan Dirga kemudian berjalan cepat meninggalkan Dirga yang menyeringai.


*


*


*


Bersambung ..

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2