RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Membuat Dia Membencimu


__ADS_3

Kirania memandangi layar ponselnya yang sejak tadi bergetar. Wajah Dirga lah yang memenuhi layar ponselnya saat ini, karena pria itulah yang sedari tadi menghubunginya. Air mata semakin mengalir jika mengingat kisah percintaannya dengan pria itu harus segera berakhir.


Kirania lalu menonaktifkan ponselnya, karena dia tahu Dirga tidak akan berhenti menghubunginya jika belum dia jawab panggilan teleponnya. Kirania lalu bangkit dari posisi tidurnya, karena saat ini dia merasakan dadanya sangat sesak dan susah sekali untuk bernafas. Dengan memegangi dadanya Kirania melangkah mendekati arah pintu.


" Bu-bude, bude ...!" Dengan nafas yang seakan sulit masuk ke rongga pernafasannya Kirania memanggil-manggil budenya.


" Ada apa, Ran? Astaghfirullah adzim, kamu kenapa, Ran?" Bude Arum yang melihat mata keponakannya itu sembab dan wajah basah karena air mata dengan tangan memegangi dadanya langsung berlari mendekat dengan khawatir.


" Bu-bude, da-daku sakit se-kali. Nafasku se-sesak, ." Kirania sampai memejamkan matanya karena benar-benar terasa sakit karena dia kesulitan bernafas.


" Astaghfirullah, Pak ... bapak, Kirania, Pak!" seru Bude Arum memanggil suaminya yang sedang bersantai di kamarnya.


" Ada apa teriak-teriak, Bu?" tanya Pakde Danang sembari menggulung sarungnya di bagian perut.


" Keponakanmu ini, lho. Ibu mau siapkan air panas. Bapak pegangin Kirania ini." Bude Arum kerepotan menyanggah tubuh Kirania yang memang lebih tinggi dari dirinya yang hanya berukuran seratus lima puluh lima sentimeter.


" Kamu kenapa, Ran?" Pak Danang langsung memapah tubuh Kirania dan mendudukkan tubuh Kirania di sofa ruang tengah. " Ada masalah apa?" tanya Pakde Danang melihat wajah Kirania yang terlihat pucat, belum lagi mata sembab dan pipinya yang lembab kerena sapuan air mata.


" Pasti ini ulah Dirgantara!" geram Pakde Danang berusaha bangkit, dia ingin mengambil ponselnya dan menelepon Dirga menanyakan apa yang telah dilakukan pemuda itu kepada keponakannya sampai seperti ini.


Tangan Kirania berhasil mencekal lengan pakdenya. " Ja-ngan sa-lahkan Kak Dir-ga, Pakde," ucap Kirania masih menahan sakit.


" Pak, cepat ambil minyak kayu putih sama handuk kecil." Bude Arum yang muncul membawa baskom kecil berisikan air panas di tangannya.


" Minyak kayu putih taruhnya di mana, Bu?" tanya Pakde Danang.


" Di dalam nakas di kamar, biasa ibu simpan obat-obatan, Pak." Bude Arum menyahuti.


Pakde Danang pun bergegas menuruti perintah istrinya mengambil minyak kayu putih dan handuk kecil.


Setelah meneteskan beberapa tetes minyak itu ke wadah berisi air panas, Bude Arum segera menyuruh Kirania menundukkan wajahnya di atas baskom yang kini uapnya beraromakan eucalyptus oil tadi dan ditutup handuk agar uapnya hanya berpusat ke wajah Kirania. Hingga uap itu bisa dihirup oleh Kirania.


" Airnya terlalu panas nggak, Ran?" Kirania menjawab pertanyaan budenya hanya dengan gelengan kepala saja.


Setelah beberapa saat, sesak nafas Kirania mulai berangsur pulih.


" Sebenarnya apa yang terjadi, Ran? Sejak tamu tadi datang kamu jadi seperti ini. Mereka itu siapa, Ran?" selidik Pakde Danang.

__ADS_1


" Pak, biarkan Rania istirahat dulu. Besok saja tanya-tanyanya. Kasihan Rania kelihatan lemas begitu. Ayo, Bude antar kamu ke kamar." Bude Arum kemudian memapah tubuh Kirania membawanya kembali ke kamar Kirania.


***


Selepas menjalankan ibadah sholat Shubuh, Pakde Danang meminta Kirania menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Kirania pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi tentang hubungan dengan Dirga. Tentang permintaan mamanya Dirga untuk menjauhi pria itu, dan juga rencana pertunangan Dirga. Tapi Kirania memohon kepada pakdenya untuk tidak marah, menyalahkan atau membenci Dirga. Karena Dirga justru menginginkan mereka bersama.


Pagi hari saat berangkat ke kampus, Kirania sengaja meminta pakdenya untuk mengantar ke kampus. Dia tidak ingin Dirga menjemputnya. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Dirga saat ini. Walaupun pasti di kampus akan susah menghindari pria itu. Karena mata Dirga hampir ada di setiap sudut kampus, seakan tak ada tempat untuk sembunyi. Tapi untungnya hari ini pria itu benar-benar tidak menampakan diri. Kirania sendiri tidak tahu kenapa, tapi dia cukup bersyukur karena dia tak perlu menghadapi Dirga.


Kirania juga sudah menceritakan kepada dua sahabatnya Hasna dan Sabilla. Mereka sudah pasti sangat menyesali kejadian ini. Walaupun mereka sudah bisa menduga jika kemungkinan hubungan Kirania dan Dirga tidak akan awet, tapi mereka tak menyangka jika harus berakhirnya bukan karena Dirga yang memutuskan atau meninggalkan Kirania.


" Aku nggak yakin Kak Dirga mau melepaskan kamu begitu saja, Ran," ujar Hasna berpendapat.


" Aku juga berpikir gitu. Kak Dirga itu 'kan keras pendiriannya. Apalagi dia cinta banget sama kamu. Mana mau dia putus." Sabilla sependapat dengan Hasna.


" Aku juga bingung, mesti bagaimana supaya Kak Dirga mau putus." Kirania mendesah.


" Kamu benar-benar nggak ingin mempertahankan cinta kalian? Kalau aku dengar cerita kamu sepertinya dia sungguh-sungguh." Hasna mencoba memberikan pandangannya.


" Aku sependapat sama Hasna. Kak Dirga itu sudah cinta mati sama kamu, Ran. Dia ke kamu bukan sekedar main-main atau untuk taruhan. Dia bahkan berani menentang mamanya dan tetap mempertahankan kamu karena memang dia sudah cinta sama kamu. Sayang juga kalau harus putus." Sabilla pun merasakan hal yang sama dengan Hasna.


" Dengan membiarkan Kak Dirga menentang orang tuanya? Aku nggak mau itu terjadi, Has," tolak Kirania.


Kirania hanya mampu mengedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu harus memberikan alasan apa. Dan seandainya pun dia sudah menemukan alasannya, dia tidak yakin Dirga akan meloloskan permintaannya itu.


* Nggak mudah kasih alasan putus ke Kak Dirga, kecuali ..." Sabilla menjeda kalimatnya membuat Kirania dan Hasna memandang ke arahnya.


" Kecuali apa?" tanya Kirania penasaran.


" Kecuali kamu bisa membuat dia membencimu," sambung Sabilla menuntaskan kalimatnya.


***


Saat jam mata kuliah ke dua selesai ...


" Kamu kenapa, Ran? Muka kamu pucat gitu?" tanya Sabilla saat melihat Kirania memegang perutnya dengan wajah yang terlihat pias.


" Sepertinya PMS, deh, Bil." Kirania terlihat meringis. " Mana aku nggak bawa pembalut lagi."

__ADS_1


" Aku ada." Hasna kemudian merogoh tasnya dan mengambilkan barang yang dibutuhkan Kirania.


" Makasih, Has. Aku ke toilet dulu, ya." pamit Kirania kemudian beranjak meninggalkan kelas menuju toilet.


Kirania membelokkan langkahnya saat dia melihat Dirga yang berjalan dari arah halaman parkir ke arahnya. Kirania langsung menyembunyikan tubuhnya di balik dinding. Dia berharap Dirga tidak melihat kehadirannya tadi. Sementara jantungnya berdegup sangat kencang saat merasakan aroma parfum Dirga mulai terasa di indra penciumannya. Seraya memejamkan mata, menggigit bibirnya dan merasakan perutnya diremas-remas Kirania sampai menahan nafasnya agar keberadaannya tidak disadari oleh Dirga.


Kirania bernafas lega saat dia merasakan Dirga lewat tak menyadari posisinya saat ini begitu dekat dengannya.


" Kirania, kamu sedang apa?" Sebuah suara membuat Kirania terperanjat, kaget bukan kepalang.


" Astaghfirullahal adzim," pekik Kirania spontan hingga membuat Dirga yang baru saja melewatinya langsung menolehkan wajah ke arahnya.


" Maaf mengangetkan kamu. Kamu sedang apa? Kamu terlihat pucat? Kamu sakit?" tanya Pak Reyhan yang ternyata mengangetkannya tadi membuat Kirania semakin memucat karena dia bisa melihat Dirga yang kini menyadari keberadaannya.


" Ssshhhh ..." Kirania meringis sambil memegang perutnya karena tiba-tiba rasa sakit perut itu kembali menyerang.


" Kirania kamu kenapa?" Reyhan sampai memegang bahu Kirania karena mahasiswinya itu terlihat kesakitan.


Sementara Dirga yang mendapati sosok Kirania sedang bersama Reyhan apalagi saat dia melihat Reyhan sampai menyentuh Kirania membuat dadanya serasa terbakar. Dengan langkah cepat dia menghampiri Kirania dan Reyhan.


" Kamu kenapa, Yank?" Amarah Dirga seketika menguap saat dilihatnya wajah pucat Kirania.


Rasanya Kirania ingin sekali berhambur memeluk tubuh pria itu dan menangis di dalam pelukannya. Tapi Kirania sadar hal itu tidak mungkin bisa dia lakukan.


" Kecuali kamu bisa membuat dia membencimu"


Kalimat yang diucapkan Sabilla tiba-tiba melintas di pikirannya.


" Yank kamu sakit?" Dirga segera menyingkirkan tangan Reyhan di pundak Kirania. " Kamu sakit apa? Kita ke dokter, ya?" Dirga kemudian merengkuh tubuh Kirania tapi Kirania menepisnya.


" Pak Reyhan, saya bisa minta tolong, Bapak?"


Ucapan Kirania membuat Reyhan dan Dirga sama-sama terkesiap.


Bersambung ...


Jangan lupa baca juga novel baru KISAH CINTA AZZAHRA ya, mohon supportnya, Makasih🙏

__ADS_1



Happy Reading❤️


__ADS_2