RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Menjauh


__ADS_3

Selepas turun dari motor Yoga, Kirania langsung berlari menuju kamarnya. Dia sampai melewatkan mengucapkan terima kasih pada Yoga juga melewatkan memberi salam pada budenya.


Apa yang dilakukan Dirga benar-benar melecehkan dia sebagai seorang wanita. Entah apa salah yang telah Kirania buat, sehingga dirinya harus terlibat dengan pria itu. Dosa apa yang telah ia buat hingga harus merasakan sakit hati dipermalukan seperti ini.


Rasa malu karena video pengakuan Dirga tentang tujuan pria itu mendekatinya, walaupun sangat mengecewakan tapi dia masih bisa bertahan. Tapi pelecehan yang dilakukan sepulang kuliah tadi, menciumnya di muka umum, itu adalah hal yang paling memalukan yang dialaminya selama ini. Dia tidak tahu harus bagaimana jika ternyata kejadian itu sampai diketahui mahasiswa lain di kampusnya itu.


Kirania menyeka air matanya, rasanya dia tak sanggup menahan malu jika hal itu sampai tersebar luas di kampusnya.


***


Dirga memperhatikan setiap mahasiswa yang melewati gerbang kampus, tapi orang yang dia cari tak juga ditemukannya. Dia juga tak melihat Kirania di antara kedua temannya. Bahkan sampai mata kuliah berjalan hampir setengah jam pun tak juga nampak kehadiran wanita itu. Setelah dia kemarin mencium Kirania, dia langsung bertindak menyuruh Ruben agar meredam gosip yang kemungkinan akan beredar dan akan merugikan Kirania. Dia tak ingin wanita itu terusik dengan gosip-gosip yang beredar.


" Kirania mana?" tanya Dirga pada Sabilla dan Hasna yang masih ada di kelas saat jam mata kuliah berakhir.


" Mau apa lagi Kak Dirga mencari Rania? Aku 'kan sudah bilang, Kak Dirga nggak usah ganggu Rania lagi. Apa Kak Dirga masih belum puas menyakiti hati Rania?" geram Sabilla terlihat emosi.


" Biarpun Kak Dirga sudah menyuruh Naura minta maaf ke Rania, bukan berarti Kak Dirga terbebas dari kesalahan Kak Dirga. Kak Dirga pikir dipermalukan seperti itu nggak menyakitkan? Nggak memalukan? Hampir seisi kampus ini tahu jika Kak Dirga hanya mempermainkan Rania, menjadikan Rania sebagai taruhan!" Hasna pun tak kalah emosinya dari Sabilla.


" Aku kemari mencari Kirania, bukan ingin mendengar ocehan kalian." Dirga menanggapi kemarahan kedua sahabat Kirania dengan dingin.


Sabilla dan Hasna sampai membulatkan matanya mendengar ucapan Dirga, Bisa-bisanya pria itu menanggapi apa yang dialami Kirania dengan santai seolah tanpa rasa bersalah.


" Ke mana dia hari ini?" tanya Dirga masih dengan nada dingin, membuat Sabilla dan Hasna saling pandang.


" Dia nggak berangkat."


" Nggak enak badan."


Hasna dan Sabilla menyahuti bersamaan.


Dirga mengerutkan keningnya. " Dia sakit?"


" Sakit hati sama Kakak!" ketus Sabilla yang ditanggapi dengan seringai tipis di sudut bibir Dirga sebelum akhirnya pria itu pergi meninggalkan kedua sahabat Kirania."


***


Kirania memasuki pekarangan rumah berukuran luas dan nampak asri dengan banyaknya tanaman hias yang terlihat rindang di hampir sebagian besar bagian pekarangan rumahnya.


Flashback on


Selepas menenangkan diri setelah merasa kesal atas perbuatan Dirga, akhirnya Kirania keluar dari kamarnya menemui Bude Arum.


" Bude ..." sapa Kirania pada Budenya yang sedang melipat pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran.


" Ran, ada apa?" Bude Arum meninggalkan pekerjaannya dan mendekat ke arah Kirania.


" Bude aku mau pulang ke Cirebon, aku mau cuti kuliah dulu beberapa waktu ini." Kirania mengutarakan niatnya.


" Lho ... lho ... lho, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba mau cuti kuliah? Apa ada masalah di kampus kamu? Apa ada hubungannya dengan Nak Dirga?"


Kirania menghela nafas panjang. " Rania mohon, Bude tidak menceritakan hal ini ke pakde, ya?!" pinta Kirania.

__ADS_1


Bude Arum mendengus kasar. " Berarti benar karena Nak Dirga? Apa lagi yang sudah dia perbuat?" selidik Bude Arum.


" Sesuatu yang tidak mengenakan, Bude. Tapi Rania mohon, jangan sampai pakde mengetahui perihal ini."


" Lalu Bude akan jawab apa jika pakde kamu tanya?"


" Nanti Rania yang bicara pada pakde. Tapi Bude jangan cerita tentang aku nangis tadi. Nanti aku kasih alasan yang tepat agar pakde mengerti."


Bude Arum kembali menghela nafas. " Baiklah jika kamu maunya seperti itu."


" Tolong jangan beritahu siapapun juga aku ke Cirebon, termasuk Yoga. Aku nggak mau dia mendapat masalah, dia sudah terlalu baik ke aku."


" Baiklah, terserah bagaimana baiknya saja menurut kamu, Ran..." ujar Bude Arum, akhirnya terpaksa menuruti keinginan Kirania untuk menjauh sementara dari aktivitas di kampusnya. Terlebih lagi menjauh dari sosok yang belakangan ini mengacaukan hidupnya.


Flashback off


" Assalamualaikum ..." sapa Kirania saat melihat ada motor terparkir di halaman rumahnya. Karena biasanya jam-jam segini rumahnya kosong karena mamanya masih ada di pasar menjaga toko kelontongnya.


" Waalaikumsalam." Seorang wanita berusia kisaran empat puluh tahun membukakan pintu rumah. " Mbak Rania? Kok nggak kasih kabar pulang kemari, Mbak?" tanya Bu Atika, Salah satu asisten di toko kelontong di tempat mamanya berjualan di pasar.


" Bu Atika kok ada di sini? Nggak jaga di toko?" tanya Kirania heran.


" Ini baru antar Mbak Karina pulang, minta ditemani." sahut Bu Atika.


" Karina nggak sekolah memangnya?" tanya Kirania.


" Pulang cepat, katanya gurunya ada rapat." Bu Atika menerangkan.


" Oh ... Ya sudah Bu Atika kalau mau balik ke toko, balik saja, Karina biar saya yang temani." Kirania menyuruh pegawai mamanya itu kembali ke pasar.


" Bu, tolong buatkan mie instan, dong!" teriak suara Karina dari dalam kamarnya, membuat Kirania berjalan menghampiri kamar adiknya yang berusia lima tahun lebih muda darinya.


" Jangan terlalu sering makan mie instan, nggak baik untuk kesehatan kamu. Dek." Kirania menasehati adiknya yang saat itu sedang berbaring di tempat tidur dengan memainkan ponsel di tangannya.


" Mbak Rania?" Karina langsung bangkit dari duduknya kemudian berhambur memeluk kakaknya. " Mbak Rania kapan datang? Kok nggak kasih tahu mau pulang kemari?" tanya Karina masih memeluk tubuh Kirania.


" Mbak baru saja sampai," Kirania menyahuti.


" Mbak nggak kuliah?" tanya Karina menarik lengan Kirania, membawa kakaknya itu untuk duduk di tepi tempat tidurnya.


" Mbak cuti kuliah."


" Tumben ...."


" Tumben apanya?"


" Mbak ini 'kan termasuk orang yang rajin, kalau bukan karena hal mendesak, nggak mungkin tiba-tiba cuti kuliah. Biasanya selalu bilang ke mama dulu 'kan kalau pulang ke sini." Karina sangat hapal sikap kakaknya pun mengomentari Kirania yang tiba-tiba cuti kuliah.


" Sekali-sekali merasakan membandel." Kirania terkekeh.


" Mbak Rania nggak sedang ada masalah, kan?" selidik Karina.

__ADS_1


Kirania terkesiap mendengar adiknya berbicara seolah mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan oleh dirinya.


" Tentu saja, memangnya ada masalah apa? Mbak baik-baik saja, kok. Mbak cuma kangen rumah, kangen mama, kangen kamu, kangen papa juga." Kirania menghela nafas dalam-dalam mengingat papanya. " Nanti sore ziarah ke makam papa, yuk, Dek."


" Oke, Mbak. Mbak Rania sudah makan belum? Kita makan di luar saja gimana?"


" Makan di mana?"


" Gokana GCM ( Grage City Mall ) saja, yuk, Mbak."


" Hmmm, boleh ... ayo."


" Mbak yang traktir, ya?"


" Oke, tapi nanti minta penggantian ke mama, ya! Saldo rekening Mbak sudah menipis." Kirania terkekeh.


" Yaaahh, minta penggantian ke mama, sih, sama saja bohong, ujung-ujungnya potong jatah uang jajan bulanan, dong!" Karina mencebik membuat Kirania semakin tersenyum lebar.


***


Dirga melirik ke arloji di tangannya, sejak jam tujuh dia menunggu di gerbang. Bisa dibilang dia sudah seperti penunggu pintu gerbang kampus dua hari ini, tapi seseorang yang dicarinya tak juga terlihat. Dirga kemudian mengarahkan motornya keluar area kampus. Dia melajukan kendaraannya itu menuju rumah Kirania.


Dirga memandangi rumah sederhana di depannya. Nampak sepi seolah sedang tidak berpenghuni. Dengan agak ragu Dirga melangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah pakde dari Kirania itu.


" Assalamualaikum ..." Dirga mengetuk pintu rumah Pakde Danang.


" Orangnya nggak ada, Mas. Bu Arum sedang ke pasar tadi." Seseorang dari sebelah rumah Pakde Danang berteriak kepadanya.


" Oh gitu, ya, Bu. Kalau Kirania nya ada nggak, ya, Bu? Saya teman kampusnya, dua hari ini dia nggak masuk kuliah, takut dia sakit atau kenapa-kenapa."


" Rania bukannya pulang ke Jawa, ya?" Tetangga Pakde Danang malah balik bertanya.


" Maksudnya pulang ke Jawa gimana, ya, Bu?" Dirga seolah tidak mampu mencerna arti dari ucapan orang itu.


" Pulang ke Jawa, pulang ke kampung halaman dia."


" Ke Cirebon, maksudnya?"


" Nah, iya itu ... kemarin ketemu pas mau berangkat. Kata Bu Arum, sih, mau pulang kampung." Orang itu memberikan informasi.


Dirga menarik sudut bibirnya ke atas. " Terima kasih informasinya, ya, Bu. Assalamualaikum ..." pamit Dirga kemudian membawa motornya pergi meninggalkan rumah Pakde Danang.


*


*


*


Bersambung ...


Mak², Mommy² & para gadis sekalian, boleh dong aku minta like & komennya. Reader berharap otor up, otor jg berharap like dan komentar reader sekalian, biar otor semakin semangat nulisnya, makin semangat buat up nya, Maklum aku ini otor amatiran yg masih butuh dukungan semua reader.

__ADS_1


Makasih buat all reader yang selalu setia kasih dukungan.


Happy Reading❤️


__ADS_2