RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Permintaan Bude Arum


__ADS_3

Kirania berjalan menggunakan tongkat jalan setinggi pinggulnya Setelah diobati dan diperban bagian pergelangan kakinya oleh dokter Riska, Dirga membelikan tongkat bantu jalan itu yang memang tersedia di klinik tersebut. Karena selain praktek dokter dan apotek, di klinik itu juga tersedia alat-alat kesehatan.


" Dokter Riska itu keluarga kamu?" tanya Kirania saat mereka berjalan keluar klinik.


" Iya, dia Tanteku, adik sepupu Mamaku, kenapa?" Dirga balik bertanya.


" Pantas saja ...."


" Pantas saja apa?" Dirga mengeryitkan keningnya.


" Pantas kamu jujur bilang aku teman kamu," Kalimat yang diucapkan Kirania terdengar sarkasme.


Dirga menyeringai. " Memangnya kamu ingin aku jujur bilang apa? Pacar? Kamu sendiri masih ogah-ogahan terima aku buat jadi pacar kamu, kok. Nanti sudah aku kenalkan kamu baik-baik sebagai pacar aku, ujung-ujungnya kamu nolak, nggak mau aku dekati lagi kaya kemarin. Aku itu nggak sembarangan kenalkan teman cewek ke keluarga aku, karena jika aku kenalkan ke satu orang keluargaku, yang lain akan tahu beritanya," ungkap Dirga.


" Iya kamu benar. Aku rasa aku setuju dengan kamu nggak memperkenalkan aku sebagai pacar kamu. Karena aku juga nggak akan terima kamu sebagai pacar kamu, tanpa harus menunggu kesepakatan kita selesai!" tegas Kirania, segera berjalan agak cepat.


" Pak, Pak ... di sini ada mobil angkutan umum yang lewat, nggak?" tanya Kirania pada tukang parkir klinik itu.


" Angkutan umum adanya di depan, Mbak. Sekitar seratus meter dari sini." Tukang parkir itu menjawab.


" Oh, ya sudah. Makasih, Pak." Kirania kemudian melangkah keluar dari halaman parkir klinik.


" Kamu mau ke mana?" Dirga langsung mencengkram lengan Kirania.


" Aku mau pulang. Nggak perlu kamu antar. Biaya dokter sama obat, besok aku ganti." Kirania menghempaskan tangan Dirga.


" Aku akan antar kamu pulang."


" Tolong, Kak. Aku sedang tak ingin berdebat, jadi biarkan aku pulang sendiri. Dan tolong setelah besok aku ganti uang kamu, kamu nggak usah dekati aku lagi!" tandas Kirania dengan dada yang terasa bergejolak. Entah kenapa pengakuan Dirga tentang dirinya kepada dokter wanita itu seketika membuat hatinya kesal.


" Kamu ini kenapa, sih? Kamu marah karena aku nggak memperkenalkan kamu sebagai pacar aku? Terus kamu mau nya gimana? Aku anggap pacar kamu nolak-nolak, aku anggap teman, kamu marah. Jadi mesti gimana?" Kirania sama sekali tak menatap Dirga, saat pria itu mengucapkan kalimat-kalimat tadi.

__ADS_1


" Lantas, kamu anggap aku ini sekarang apa?" Kirania kini berani menatap Dirga. " Pacar pura-pura? Target yang mesti kamu taklukan? Calon korban kamu?" tanya Kirania dengan air mata yang sudah mulai mengembun dan siap tumpah kapanpun juga.


Dirga kembali menarik sudut bibirnya. " Jujur saja, deh. Kamu sebenarnya sudah mulai suka sama aku, kan? Kamu kesal karena aku nggak mengakui kamu sebagai pacar aku, kan? Oke ... kita balik lagi temui Tanteku, aku akan memperkenalkan kamu sebagai pacar aku ke dia."


" Nggak usah, nggak perlu! Lagipula siapa juga yang ingin diakui sebagai pacar kamu, pede banget." Kirania menyeka air mata yang tanpa seijinnya menetes di pipinya, kemudian melangkah dengan gerakan perlahan karena menggunakan tongkat. Tapi tanpa Kirania duga, ternyata Dirga langsung mengangkat tubuh Kirania dengan lengannya.


" Aaahhh ... Kak Dirga, kamu mau apa? Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Kirania meronta. Tapi Dirga tak memperdulikannya, dia bergegas masuk ke klinik menuju ruang praktek Tantenya, sontak kelakukan Dirga kembali mengundang perhatian orang di sekitar situ.


" Ada apa lagi, Dirga? Ada yang ketinggalan? Apa kerasa sakit lagi kakinya?" tanya dokter Riska heran melihat kemunculan Dirga seperti pertama kali masuk ruangannya.


" Nggak ada, Tante. Aku cuma mau bilang, dia ini sebenarnya pacar aku, Tan. Tadi dia merajuk karena nggak aku kenalkan sebagai pacar." Dirga terkekeh. Pengakuan Dirga langsung membuat wajah Kirania memerah menahan rasa malu.


" Astaga, Tante kira ada apa? Tante sudah duga ke arah sana sih, tadi." Dokter Riska tersenyum.


" Ya sudah, Tan. Aku permisi." Dirga kemudian pamit meninggalkan ruangan tantenya.


" Dasar gila!" umpat Kirania kesal.


" Gila juga nanti lama-lama bikin kamu jatuh cinta." Dirga bicara penuh percaya diri.


" Nothing is impossible, kita lihat saja nanti." Dirga mengedipkan matanya sembari mengembangkan sedikit senyuman di bibirnya.


" Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Sungguh Kirania tidak ingin terlena dengan semua bentuk flirting yang dilakukan Dirga kepadanya.


" Aku nggak ingin kamu kabur, jadi aku akan gendong kamu sampai duduk di jok, lalu aku antar pulang." Tak ada bantahan dari kalimat yang diucapkan Dirga, karena sekuat apapun Kirania menolak, pria itu akan tetap nekat melakukan apapun yang diinginkannya.


***


Motor yang dibawa Dirga memasuki pekarangan rumah Pakde Danang. Bude Arum yang sedang sibuk mengangkat jemuran di pekarangan langsung menghentikan aktivitasnya dan berlari menuju ke arah Kirania. Kirania memang sempat mengabari Budenya jika dia terjatuh dan terkilir, jadi Bude Arum buru-buru menyambut keponakannya. Tapi Bude Arum terkesiap begitu melihat sosok Dirga yang mengantar Kirania.


" Nak Dirga? Kenapa Nak Dirga bisa mengantar Rania? Apa Nak Dirga lupa apa yang dikatakan Pakdenya Rania?" Bude Arum menunjukkan sikap kurang suka dengan kehadiran Dirga di rumahnya.

__ADS_1


" Maaf, Bude. Saya cuma mengantar Kirania pulang karena kakinya terkilir." Dirga bisa merasakan sikap kurang ramah yang ditunjukkan Bude Arum terhadapnya.


" Ya sudah, terima kasih Nak Dirga sudah membantu Rania, tapi sebaiknya Nak Dirga segera pulang, besok-besok nggak usah antar Rania kemari lagi."


Dirga mencoba tersenyum walaupun dia mendapatkan sambutan tak sehangat biasanya dari Bude Kirania itu. " Maaf, Bude. Bukannya saya menentang apa yang dikatakan Pakde dan Bude. Saya mengaku salah, dan saya akan memperbaiki kesalahan saya itu, tapi beri saya satu kesempatan lagi, Bude. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Begitu juga dengan saya, saya akan menebus kesalahan saya, Bude."


Bude Arum menarik dalam-dalam. " Nak Dirga, Bude yakin banyak wanita yang ingin memiliki Nak Dirga, carilah wanita yang sepadan dengan Nak Dirga. Keluarga kami bukanlah siapa-siapa, sangat tidak cocok untuk Nak Dirga yang seorang anak pengusaha terkenal. Pakde meminta kamu menjauhi Rania, untuk melindungi Rania dari orang-orang yang mungkin akan menyakiti dia."


" Saya tidak akan menyakiti Kirania, Bude." sergah Dirga.


" Mungkin bukan Nak Dirga, tapi mungkin orang-orang di sekitar Nak Dirga yang tidak bisa menerima kehadiran Rania di samping Nak Dirga. Jadi Bude mohon sekali lagi dengan sangat ... tolong jauhi Rania!"


" Tapi, Bude ...."


" Kamu sudah dengar, kan. Apa yang Bude bilang? Jadi mulai sekarang lupakan kesepakatan kita, dan jangan ganggu kehidupan aku lagi!" tegas Kirania menyambung kata-kata Budenya.


Dirga menggelengkan kepala, dengan cepat di menggenggam tangan Kirania, " Kamu lihat aku, tatap mata aku dan katakan, kalau kamu sedikitpun nggak memiliki perasaan ke aku." Kemudian tangannya merangkum wajah cantik Kirania, sontak sikap Dirga membuat Bude Arum terbelalak.


" Nak Dirga, tolong jaga sikapmu!" seru Bude Arum khawatir.


" Sebentar, Bude. Saya hanya ingin memastikan jawaban Kirania." Tanpa gentar Dirga menyahuti perkataan Bude Arum. " Katakan Kirania, katakan kalau kamu memang tidak memiliki sedikit pun perasaan ke aku." Dirga terus menatap mata indah Kirania yang terlihat kembali berkaca-kaca.


Kirania memandang mata elang Dirga, kemudian dia memutuskan pandangannya dari mata Dirga seraya menggelengkan kepala. " A-aku nggak punya perasaan apa-apa ke kamu, jadi tolong mulai sekarang hentikan kegilaan kamu mendekati aku!" tegas Kirania melepaskan tangan Dirga yang memegang. wajahya. " Kita masuk, Bude." Kemudian Kirania masuk ke dalam rumah diikuti langkah Bude Arum meninggalkan Dirga yang masih berdiri sendirian.


" Oke, kita lihat saja, kesungguhan dari ucapan kamu." gumam Dirga dengan seringai tipis terlihat di sudut bibirnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2