RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Terpaksa Menjauh


__ADS_3

Kirania dengan cepat melipat asal mukenanya karena budenya memberitahu ada tamu yang mencarinya di luar selepas sholat Isya. Jantung Kirania berdetak kencang saat mendengar penuturan dari budenya, bahwa tamu yang mencarinya itu dua orang wanita. Yang satu paruh baya, satu lagi wanita muda dengan tampilan seperti orang kaya menurut budenya itu.


Kirania menghela nafas dalam-dalam. Pikirannya sudah mengarah ke mamanya Dirga dan Nadia lah yang datang ingin bertemu dengannya. Tiba-tiba rasa takut mulai merambat di hatinya. Ada apa mereka kemari? Apa mereka akan mengancamnya untuk menjauhi Dirga? Bagaimana kalau mereka berbuat keributan dengan mencaci makinya sebagai perebut kekasih orang? Apakah dia akan sanggup menghadapi Nadia dan mama kekasihnya itu sendirian? Dan apa yang akan terjadi setelah ini? Berbagai dugaan akan hal-hal buruk terus menari di benak Kirania.


Kirania masih meremas jemarinya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia bukan tipe orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain, apalagi dengan kondisi permasalahan seperti yang sedang dihadapi sekarang.


" Ran, sholatnya sudah selesai belum? Tamunya nungguin, lho!"


" I-iya, Bude. Sebentar ..." Teriakan Bude Arum dari luar kamar membuat Kirania akhirnya mau tidak mau harus keluar kamarnya untuk menemui tamunya itu.


Kirania kembali mengambil nafas dalam-dalam sambil membaca doa dalam hati agar dia bisa melalui semuanya dengan tenang sebelum menyibak gorden pembatas ruang tengah dan ruang tamu.


Deg


Jantung Kirania berdetak semakin kencang, saat dugaannya tentang orang yang mencarinya adalah Mama Dirga dan Nadia ternyata benar.


Dengan menelan saliva yang langsung melembabkan kerongkongannya, Kirania melangkah mendekati kedua orang yang sedang duduk menunggunya.


" Selamat malam, Bu," sapa Kirania dengan nada santun.


Mama Dirga yang disapa oleh Kirania langsung menoleh ke arahnya. " Malam," jawab Mama Dirga singkat.


" Maaf rumah pakde saya sempit seperti ini." Kirania kembali mencoba berbasa-basi sambil berusaha menenangkan diri. " Apa kedatangan Ibu dan Kak Nadia kemari ada hubungannya dengan Kak Dirga?" Ingin rasanya Kirania menanyakan hal itu tapi dia tak cukup mampu mengerakkan bibirnya untuk mengucapkan hal itu.


" Maaf kami mengganggu waktu kamu."


Kirania sedikit terkesiap saat mendengar perkataan Mama Dirga yang terdengar dengan nada yang sangat lembut di telinganya.


" Hmmm, Nggak apa-apa, Bu." Kirania menjawab santun.


" Kamu teman kampus Dirga, kan?" tanya Mama Dirga kemudian.

__ADS_1


" Iya, Bu."


" Ambil fakultas apa?"


" Ekonomi & Bisnis."


" Semester berapa sekarang?"


" Enam, Bu."


" Beda setahun dengan Dirga, ya?"


" Iya, Bu."


" Ya semoga kelak ilmu yang kamu pelajari saat kuliah bisa bermanfaat untuk kamu ke depannya."


" Aamiin, Bu. Terima kasih."


Kirania benar-benar tak menyangka jika Mama Dirga mengajaknya bicara dengan sangat ringan, walaupun yang dilontarkannya kebanyakan pertanyaan. Sama sekali tak menandakan jika mereka berniat buruk kepadanya.


" Sekitar empat bulan ini, Bu." Mama Dirga terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


" Empat bulan kenal, dan sekitar empat bulan juga kalian langsung akrab, ya?"


Kirania menelan salivanya. Dia rasa perbincangan ini sudah mulai masuk ke dalam inti permasalahannya.


" Apa selama ini Dirga sangat mengganggu kamu? Saya dengar Dirga selalu bikin ulah untuk bisa dekat dengan kamu. Gosip yang beredar beberapa waktu lalu, sangat menyudutkan kamu, dan Dirga lah salah satu penyebabnya. Sampai kamu harus cuti kuliah dan pulang ke tempat asal kamu untuk menghindari Dirga, tapi Dirga malah dia ikut nyusul kamu ke sana, ya?"


Deg


Kirania sungguh tidak percaya jika Mama Dirga sebegitu detailnya mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya selama ini. Apakah Mama Dirga sampai menyuruh orang untuk menyelidikinya.

__ADS_1


" Saya tahu, bagaimana pergaulan Dirga selama ini. Tapi saya tahu dia tidak pernah serius dengan wanita-wanita yang mendekatinya. Dan setelah saya mengetahui siapa kamu. Kamu seorang wanita sederhana yang tidak pernah bertingkah macam-macam. Taat dalam menjalankan ibadah dan tidak pernah dekat dengan pria sebelumnya. Saya jadi mengerti kenapa Dirga begitu tertarik dengan kamu bahkan sampai bersikukuh mempertahankan kamu." Semua kalimat-kalimat yang dilontarkan Mama Dirga semua diucapkan dengan intonasi yang sedang tanpa ada intimidasi membuat rasa gugup Kirania menguap dengan sendirinya.


" Saya tidak melarang kamu berteman dengan Dirga. Tapi untuk lebih dari sekedar teman, saya mohon maaf, saya tidak bisa memberikan restu."


Deg


Akhirnya kalimat itu terdengar juga. Membuat Kirania langsung menundukkan wajahnya. Dia sudah menduga jika tak akan mudah menjalin hubungan dengan Dirga. Bahkan saat beberapa hari lalu dia meminta Dirga untuk jaga jarak, kemungkinan seperti ini harus dia persiapkan.


" Saya mohon maaf karena kami, saya dan papanya Dirga sudah memilih calon yang sudah kami persiapkan untuk mendampingi Dirga." Mama Dirga menoleh ke arah Nadia, yang membalasnya dengan senyuman.


" Kami sudah berjanji untuk menyatukan Dirga dan Nadia sejak lama. Orang tua Dirga dan orang tua Nadia sudah lama bersahabat sejak kami remaja. Saya tidak ingin kegagalan hubungan Dirga dan Nadia akan mempengaruhi persahabatan yang sudah kami jalin sejak lama, hanya karena Dirga yang tidak bisa menjaga hatinya. Kamu paham 'kan maksud saya?"


Kirania mencoba menatap Mama Dirga. " Saya paham, Bu." Dengan suara yang tercekat di tenggorokan, karena dada yang sesak seolah terhimpit bongkahan batu besar dan hawa panas yang sudah menyerang di sekitar matanya, Kirania masih mampu menjawab.


" Syukurlah kalau kamu mengerti." Mama Dirga menjeda ucapannya sesaat. " Karena itu saya mau minta tolong ke kamu, untuk bisa menjauhi Dirga. Kamu tahu sendiri, dia sangat keras kepala. Dia tidak akan mau jika kami paksa untuk melepaskan kamu. Maka dari itu saya mohon, kamu saja yang bertindak untuk mulai menjauhi dan melepas Dirga. Kamu bisa 'kan membantu kami?" Ada nada permohonan yang terdengar dalam ucapan Mama Dirga.


Kirania menatap Mama Dirga kemudian berganti menatap Nadia yang menyunggingkan senyum tipis kepadanya.


" Baik, Bu. Saya akan coba menjauh dari Kak Dirga mulai sekarang." Walau sangat berat Kirania akhirnya mengambil keputusan untuk mengabulkan permintaan Mama Dirga.


" Terima kasih kamu sudah mau membantu kami. Saya doakan kelak kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Dirga. Dan saya mohon untuk hal ini, jangan sampai Dirga mengetahuinya. Dia pasti akan sangat marah jika tahu apa yang kami lakukan ini. Kamu bisa 'kan merahasiakan pertemuan kita ini kepada Dirga?"


" Baik, Bu. Saya berjanji, saya nggak akan bicara apapun tentang hal ini pada Kak Dirga." Dada Kirania rasanya ingin meledak saat itu juga. Sungguh apa yang terucap di bibirnya sangat ditentang oleh hatinya. Tapi apa mau dikata, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan itu. Apalah dia untuk keluarga besar Dirga yang terkenal sebagai keluarga terpandang.


Setelah Mama Dirga dan Nadia berpamitan, dengan langkah cepat Kirania menuju kamarnya.


" Tamunya sudah pulang, Ran?"


Bude Arum yang sempat melihat Kirania langsung bertanya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.


Setelah menutup dan mengunci pintunya Kirania langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan isak tangis dan air mata yang tak tertahankan akhirnya keluar juga membasahi pipinya. Ini pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta. Dan dia sungguh tidak menyangka mencintai seseorang harus serumit dan sesakit ini.

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2