
Kirania mengoles lipstik warna nude ke bibirnya. Entah berapa kali dia mesti bolak-balik bercermin, untuk memastikan jika dia berpenampilan cantik hari ini. Sejak mendengar kabar dari Dirga semalam. Bahwa pria itu akan menjemputnya, membuat Kirania ingin terlihat sempurna di mata pria itu. Kirania memilih beberapa baju yang cocok yang akan dipakainya untuk kuliah hari ini. Padahal dia tidak pernah seribet ini sebelumnya untuk masalah baju yang akan dipakainya untuk kuliah.
" Ran, ada yang jemput, tuh!" seru Bude Arum dari luar kamarnya.
" Iya, Bude." sahut Kirania kembali bercermin untuk memastikan kalau tidak ada yang kurang dengan penampilannya pagi ini. Setelah itu dengan bergegas dia keluar kamar menemui Dirga di ruang tamu.
" Kak ..." sapa Kirania pada Dirga yang menunggu di teras rumah.
Dirga memutar badannya menoleh ke arah Kirania. " Hai ..." seulas senyum terlihat di bibirnya.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Kirania yang sedikit gugup mendapati senyuman Dirga untuknya.
" Ayo! Bude kamu mana?" Dirga melongok ke dalam rumah ingin berpamitan.
" Sedang di kamar mandi. Sebentar, ya." Kirania kembali masuk ke dalam untuk berpamitan kepada Budenya.
" Bude, Rania berangkat, ya."
" Iya hati-hati, Ran." Bude Arum kemudian keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
" Kak Dirga ingin berpamitan, Bude."
" Ya sudah berangkat saja. Bude belum berpakaian gini."
" Ya sudah, Rania berangkat ya, Bude. Assalamualaikum." Kirania mencium tangan Bude Arum.
" Waalaikumsalam." Setelah membalas salam Kirania, Bude Arum pun memasuki kamarnya, sedangkan Kirania kembali menemui Dirga yang menunggunya di luar.
Dalam perjalanan ke kampus Kirania merasa kikuk, saat dia rasa sedari tadi Dirga bolak balik memperhatikannya dari belakang kemudinya.
" Hmmm, tumben pakai mobil, Kak?" Kirania mencoba mengusir kegugupannya dengan memulai membuka obrolan. Karena sejak masuk ke dalam mobil Dirga tidak berbicara. Dia fokus dengan kemudinya sembari sekali waktu menoleh ke arah Kirania sambil mengembangkan senyum tipis di bibirnya.
" Aku takut kalau naik motor, kamu nekat loncat lagi, seperti terakhir aku antar kamu pulang." Dirga menjawab sambil terkekeh. Dan itu sukses membuat bibir Kirania langsung mengerucut.
" Aku masih nggak habis pikir. Apa yang ada di pikiran kamu sampai nekat loncat dari motor saat itu?" tanya Dirga.
" Sebal saja sama kamu." Kirania mencebik.
" Sebal? Jangan sebal atau benci sama orang, nanti bisa cinta, lho. Ya kalau sebalnya sama aku sih, nggak apa-apa, jadi cinta sama aku. Kalau sebalnya sama orang lain, cintanya jadi sama orang lain. Itu aku nggak mau." Dirga mengacak rambut Kirania.
" Kak, iihhh ..." Kirania menepis tangan Dirga tapi dengan lebih halus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Membuat Dirga melebarkan senyumannya karena kini telah berhasil meluluhkan kekerasan hati Kirania.
***
Satu bulan berlalu, hubungan Dirga dan Kirania semakin akrab. Dirga memang ingin membuktikan kepada Pakde Danang kalau dia serius dengan niatnya. Dirga selama ini menunjukkan perhatiannya terhadap Kirania. Boleh dibilang selama satu bulan ini tak pernah terlihat warna muka sedih di wajah Kirania.
Kirania sendiri merasakan satu bulan berjalan hatinya begitu riang. Rasanya dia ingin selalu tersenyum. Aura wajahnya selalu memancarkan keceriaan. Apakah saat ini dia sedang jatuh cinta? Ingin dia menyangkal tapi kenyataannya saat berada dekat dengan Dirga, hatinya terasa tenang dan bahagia.
Perubahan sikap Kirania tentu saja dirasakan oleh kedua sahabatnya, Hasna dan Sabilla. Mereka berharap Dirga benar-benar tulus terhadap Kirania.
" Kalian mau ikut bareng kita, nggak?" tanya Dirga kepada kedua teman Kirania.
__ADS_1
" Ke mana, Kak?" tanya Sabilla.
" Kak Dirga mau ngajak nonton." Kirania yang membalas pertanyaan Sabilla.
" Nggak deh, Kak. Takut mengganggu." Hasna menyahuti.
" Ganggu apaan, sih? Orang cuma nonton, kok," protes Kirania.
" Iya tetap nggak enak, Ran. Kita juga pernah pacaran kali, Ran. Kalau ada orang lain disaat kita lagi jalan sama pacar itu rasanya nggak nyaman." Sabilla mengungkapkan alasannya.
" Jadi benar nggak pada ikut, nih?" tanya Dirga memastikan.
" Nggak, Kak. Kalian saja berdua yang nontonnya. Selamat bersenang-senang, ya. Jangan dibikin lecet, lho, Kak." Selalu kalimat terakhir itu yang diucapkan Hasna jika Dirga membawa Kirania.
" Beres." Dirga terkekeh menyahuti.
" Ya sudah, aku duluan, ya. Assalamualaikum ..." pamit Kirania.
" Waalaikumsalam." Sabilla dan Hasna menyahuti.
Dan pada akhirnya Dirga dan Kirania tidak pergi nonton ke bioskop. Dirga memilih menghabiskan waktu di apartemennya. Seberapa kali Kirania memang sering diajak ke sana. Sekedar ngobrol di balkon mendengarkan Dirga bermain gitar, atau menonton film yang Kirania pilih. Karena Kirania tidak ingin Dirga memilihkan film yang membuat darahnya berdesir saat melihat adegan intim apalagi harus menonton berduaan dengan Dirga. Untuk Dirga sendiri, dia sangat menikmati kebersamaannya dengan Kirania seperti sekarang ini.
Kuambil gitar dan mulai memainkan ...
Lagu lama yang biasa kita nyanyikan ...
Tapi tak sepatah kata yang bisa terucap ...
" Kak, ini mie instannya sudah jadi." Kirania membuatkan mie instan dengan tambahan sawi, telur dan sosis, saat Dirga sedang bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu fenomenal milik Slank.
" Hmmm, aromanya enak banget, Yank." Dirga kemudian menaruh gitarnya dan meraih mangkok berisi mie instan itu.
" Jangan sering-sering makan mie instan, lho, Kak." Kirania menasehati.
" Sebulan sekali juga belum tentu aku bisa makan beginian." Dirga membalas.
" Iya juga, ya. Kamu 'kan orang kaya, jarang sentuh makanan begini. Beda sama mahasiswa yang biasa kost." Kirania terkekeh.
" Lho, memangnya mie begini dibuat untuk kalangan tertentu, doang? Nggak, kan?! Siapapun bisa makan mie ini," sahut Dirga. " Hmmm, enak ..." Dirga mengacungkan jempol sambil menyantap dengan lahapnya mie instan buatan Kirania.
" Makannya pelan-pelan, dong, Kak. Itu 'kan masih panas."
" Habisnya enak banget ini." Tak berapa lama mie itu telah tandas dari mangkuknya. Dirga benar-benar seperti orang rakus menyantap mie itu.
" Kak, lain kali kita jangan sering ke sini berduaan, ya." Mesti agak sedikit ragu untuk menyampaikan keberatannya tapi akhirnya bisa dia ucapkan juga.
" Kenapa? Kamu takut aku berbuat macam-macam?" Dirga mengeryitkan keningnya.
" Bukan begitu. Nggak enak kalau sampai dilihat orang. Kita memang nggak melakukan hal-hal yang negatif. Cuma nggak enak saja rasanya kita sering berduaan di apartemen. Kesannya ...."
" Kesannya apa? Nggak usah dengar kata orang, deh. Yang menjalankan 'kan kita. Apa yang kita kerjakan di sini nggak ada yang aneh dan menyimpang, kan?"
__ADS_1
" Iya, cuma kita ini 'kan orang timur. Kita nggak bisa menampik pandangan orang lain. Apalagi kalau mereka berpendapat negatif tentang kita, jika sering berdua di dalam apartemen ini. Pakde aku juga pasti akan marah kalau tahu aku sering diajak kamu ke sini."
" Jadi kamu maunya gimana?"
" Ya mending kita keluar ke mana, kek. Atau di rumah pakde aja ngobrolnya. Asal jangan berduaan saja seperti ini."
" Oke, kalau itu mau kamu." Dirga kembali meraih dan mulai memetik gitarnya.
Di malam yang dingin dan gelap sepi ...
Benakku melayang pada kisah kita ...
Terlalu manis untuk dilupakan ...
Kenangan yang indah bersamamu tinggallah mimpi ...
" Kak, jangan nyanyi lagu itu, dong!" protes Kirania yang merasa sedikit terusik dengan lagu yang dia rasa kurang pas dinyanyikan oleh Dirga saat mereka sedang berduaan.
" Memangnya kenapa? Lagunya enak, kok."
" Iya memang enak, tapi ..." Kirania menjeda ucapannya. " Apa kamu punya kenangan sama lagu ini? Kamu lagi kangen sama mantan kamu?"
Dirga tergelak mendengar tudingan Kirania.
" Aku suka sama lagu ini, itu karena memang suka. Nggak ada story' dengan lagu ini. Aku ganti deh, lagunya. Kamu mau aku nyanyi lagu apa? Ah, ini kayanya cocok buat kita."
Hidupku tanpa cintamu ...
Bagai malam tanpa bintang ...
Cintaku tanpa sambutmu ...
Bagai panas tanpa hujan ...
Jiwaku berbisik lirih ...
'Ku harus milikimu ...
Dirga menyanyikan lagu Risalah Hati sembari menatap lekat wajah Kirania. Kirania yang ditatap pun kini membalas tatapan mata elang Dirga. Mereka berdua saling pandang seakan ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka masing-masing. Dan saat Dirga mengerlingkan matanya, Kirania tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya yang seketika itu hadir tanpa diundang olehnya. Membuatnya tersipu malu seraya menundukkan wajahnya.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku ...
Meski kau tak cinta kepadaku ...
Beri sedikit waktu ...
Biar cinta datang karena telah terbiasa ...
Bersambung ....
Kasih yang manis-manis dululah sebelum memisahkan mereka 🤭
__ADS_1
Happy Reading ❤️