
Kirania terbelalak saat Dirga berkata hendak menjodohkan adiknya dengan asisten suaminya itu.
" Abang mau menjodohkan Karina dengan Pak Ricky?" Kirania menggelengkan kepala tak percaya.
" Nggak ada salahnya, kan? Siapa tahu mereka itu berjodoh." Dirga menyeringai.
" Nggak, Abang! Aku nggak setuju!" tolak Kirania cepat.
" Kamu ini dari dulu senangnya menentang keputusanku." Dirga menarik hidung istri cantiknya itu.
" Karena Abang itu pemaksa, dari dulu kalau mengambil keputusan itu semau sendiri saja, nggak pernah diskusikan dulu sama aku. Karina itu adikku, Abang. Dia masih punya orang tua, masih punya kakak. Kami itu berhak atas dia." Emosi Kirania yang tadi sempat mereda kini kembali muncul.
" Karena kamu itu kalau nggak dipaksa nggak akan nurut sama aku. Dulu waktu kuliah kalau nggak aku paksa jadi pacar aku, kamu pasti nggak akan mau menjadi pacarku." Dirga mengingatkan kembali kenangan saat mereka pacaran dulu. " Kamu masih ingat saat merajuk karena nggak aku kenalkan kamu sebagai pacarku ke Tanteku dulu? Kamu ini mau-mau tapi gengsi mengakui." Dirga terkekeh membuat Kirania mendengus diingatkan kejadian-kejadian saat mereka pacaran.
" Nggak usah diingat lagi, deh." Kirania mencebikkan bibirnya hingga Dirga mengacak rambut istrinya itu.
" Kamu percaya sama aku, deh. Keputusan yang aku ambil itu adalah yang terbaik untuk adikmu itu "
" Abang, aku bisa memaklumi Karina pindah ke sini agar kita bisa mengawasi dia, tapi jika Abang ingin menjodohkan Karina dengan Pak Ricky jelas aku nggak setuju. Karina itu masih muda masih usia dua puluh dua tahun, sedangkan Pak Ricky itu ..." Kirania menjeda ucapannya mencoba mengingat usia Ricky yang pernah dikatakan suaminya itu. " Usia mereka beda tiga belas tahun, Abang. Akan terlihat seperti keponakan dengan Om nya kalau Karina dengan Pak Ricky." Kirania memberi alasan mendetail kenapa dia menolak Karina dijodohkan dengan Ricky.
" Hei, meskipun usia Ricky sudah kepala tiga penampilan dia tetap good looking. Aku rasa banyak wanita yang ingin berkencan dengannya."
" Iya aku tahu Pak Ricky itu memang terlihat tampan, tapi ...."
" Apa katamu tadi?" Dirga langsung bereaksi saat istrinya mengatakan kata tampan untuk memuji Ricky.
" Kata apa?" Kirania yang tidak memahami maksud dari suaminya itu malah balik bertanya.
" Berani-beraninya kamu memuji pria lain di hadapan suami sendiri," ketus Dirga dengan mata melotot.
" Aku hanya meng-aamiin- kan apa yang Abang ucapkan, kok." Kirania menyangkal.
" Tapi aku nggak suka kamu memuji pria lain tampan." Dirga memprotes.
" Tapi memang kenyataannya Pak Ricky itu Tam ... mmpptt ..." Ucapan Kirania terputus saat tangan Dirga membekap mulutnya.
__ADS_1
" Berani sekali lagi mengatakan Ricky itu tampan, akan aku hukum kamu berlipat-lipat." Dirga mengancam Kirania.
Kirania mengurai tangan suaminya yang menutup mulutnya. " Abang jangan marah, biarpun Pak Ricky itu oke tapi suami pemaksa aku ini adalah pria paling tampan yang pernah aku kenal." Kirania lalu menangkup rahang kokoh sang suami lalu memberikan kecupan manis di bibir suaminya itu, membuat Dirga terkesiap akan tindakan yang dilakukan istrinya. Dan dengan cepat tangan Dirga menarik tengkuk Kirania membalas dan memperdalam ciuman mereka hingga kini suara decapan terdengar di dalam ruangan itu.
" Eheemm ...."
" Oh astaga !!"
Tiba-tiba terdengar suara Ricky dan Karina yang masuk bersamaan ke dalam ruangan Dirga membuat Kirania mendorong dada suaminya agar pagutan mereka berhenti.
" Kalian ... mengganggu saja!" umpat Dirga kesal karena keasyikannya bersama istrinya terganggu. Sedangkan Kirania langsung berlalu dan segera memasuki kamar istirahat Dirga disusul Karina.
" Astaga, Mbak. Tadi itu hot banget kissingnya." Karina terkikik menggoda Kirania hingga membuat Kirania menutup wajahnya karena saat ini rona merahlah yang mewarnai wajahnya.
" Aku nggak sangka Mbak aku yang kalem ini bisa seperti itu, pasti Kak Dirga yang mengajari ya, Mbak?" Tak henti-henti Karina menggoda kakaknya.
" Kamu jangan godain Mbak dong, Dek. Mbak malu tahu ..." Kirania mencebikkan bibirnya.
" Haha ... sama adik sendiri saja kenapa pakai malu sih, Mbak?" Karina terkekeh.
" Pak Ricky itu 'kan asistennya Kak Dirga. Tenang saja, dia pasti nggak akan berani bergosip di belakang kalian." Karina tergelak.
" Iisshh ... kamu ini." Mereka berdua pun akhirnya sama-sama tertawa.
Sementara itu di ruang kerja Dirga ...
" Baru sekarang-sekarang ini saya lihat Pak Dirga terlihat begitu bahagia sekali," sindiran halus terucap dari bibir Ricky.
" Tentu saja aku bahagia karena berhasil mendapatkan kembali dan menikahi cinta sejatiku." Dirga berucap bangga. " Makanya, Rick ... cepatlah kau menikah, agar kau bisa merasakan bagaimana menjalani suatu ikatan yang halal." Kali ini Dirga yang menyindir Ricky, karena seingatnya Ricky hampir jarang terlihat menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Ricky tersenyum tipis. " Mungkin jika sudah waktunya, saya pun akan berpikir ke arah sana." Ricky menjawab.
" Iya tapi kapan? Ingat umur kamu, Rick. Mumpung belum kiamat, jangan sampai kau tidak sempat merasakan nikmatnya surga dunia. Atau ... mungkin kau pernah juga mencicipi surga dunia?" kelakar Dirga.
Ricky sedikit menarik sudut bibirnya hingga senyumnya terlihat samar.
__ADS_1
" Masih ada yang harus saya cari, Pak Dirga," sahutnya kemudian.
" Apa lagi yang kau cari, Rick? Wajah dan penampilan keren. Materi pun kau sudah sangat mapan. Atau kamu ingin aku carikan wanita untukmu?" ledek Dirga.
" Tidak perlu, Pak Dirga ... terima kasih." Ricky menolak.
" Oh ya, Rick. Aku rencananya akan menarik Karina di perusahaan ini, biar aku bisa mengawasi dia. Aku ingin menempatkan dia sebagai anak buahmu, membantu pekerjaanmu."
" Maaf, Pak ... tapi rasanya saya sanggup menghandle tugas saya sendiri." Ricky berusaha menolak apa yang ditetapkan bosnya itu.
" Tidak ada bantahan, mulai Minggu depan, Karina akan bekerja untukmu. Kau bimbinglah dia agar dia bisa menjadi pekerja yang handal," perintah. Dirga.
" Baik, Pak." Mau tak mau Ricky pun harus menerima apa yang diputuskan Dirga.
***
Karina menatap langit-langit kamar tamu apartemen kakak iparnya itu. Bayangan saat dia mendapati kakaknya juga kakak iparnya berciuman mengingatkan kembali akan kejadian saat dia dan Gilang melakukan hal yang sama dengan Dirga dan Kirania.
Karina memejamkan matanya, masih bisa dia rasakan hangatnya sentuhan bibir Gilang di bibirnya. Setetes air mata langsung luruh di pipinya.
" Kalau Kak Gilang berpikir aku akan membenci Kakak karena peristiwa malam itu, Kak Gilang salah. Aku akan tetap mencintai Kak Gilang, dan akan tetap berusaha meluluhkan kerasnya hati Kak Gilang. Aku yakin suatu saat Kak Gilang akan membalas rasa cintaku ini." batin Karina dalam hati.
Karina kemudian mengambil ponselnya, membuka galery yang banyak tersimpan foto Gilang yang dia ambil dari media sosial yang dimiliki pria itu. Karina mengusap foto wajah Gilang yang sedang tersenyum, senyum yang sekarang susah sekali dia dapati dari pria itu.
" Aku ingin kelak menjadi istrimu, Kak. Semoga Pemilik semesta ini merestuinya," lirih Karina mengecup dengan lembut gambar Gilang di ponselnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1