
" Selamat siang, Ibu. Silahkan ... ada yang bisa dibantu? Mau ke kasir atau customer servis?" sapa satpam saat membukakan pintu untuk seorang wanita cantik yang memakai dress di bawah lutut warna maroon dengan tas mungil branded negeri Pizza berinisial huruf D dan G di tangannya.
" Hmmm, saya ingin bertemu dengan Bapak Gilang Aditya. Apa dia ada di tempat?" tanya Nadia, wanita cantik itu.
" Pak Gilang?" Satpam itu mengeryitkan keningnya. " Maaf, apa ibu sudah ada janji sebelum dengan Bapak?" tanya satpam lagi.
" Hmmm, belum ... Bapak bisa bilang saja, saya temannya Kirania, tunangannya Pak Gilang," sahut Nadia.
" Oh, mohon tunggu sebentar, Bu." Pak satpam itu kemudian beranjak ke dekat meja telepon, menghubungi seseorang. Tak lama satpam itu mendekati Nadia.
" Mari saya antar, Bu." Pak satpam itu kemudian membawa Nadia ke lantai atas, di mana Gilang berada dan mengantarkannya ke sekretaris Gilang.
" Permisi, Pak. Ini Bu Nadia, yang ingin bertemu dengan Bapak." Nuning mempersilahkan Nadia masuk dan kembali menutup pintu ruang kerja Gilang.
" Selamat siang, Pak Gilang," sapa Nadia.
" Selamat siang." Gilang memperhatikan wanita cantik di hadapannya itu. " Silahkan ..." Gilang bangkit seraya mempersilahkan Nadia duduk di kursi depan mejanya.
" Terima kasih." Nadia tersenyum kemudian duduk di kursi yang ditunjuk Gilang.
" Maaf, tadi saya dapat info dari sekretaris saya jika Anda itu teman Kirania? Teman ... apa, ya?" tanya Gilang.
Nadia menyampirkan rambutnya sebelum menjawab pertanyaan Gilang.
" Oh iya, perkenalkan saya Nadia." Nadia mengulurkan tangannya ke arah Gilang yang disambut ramah oleh Gilang dengan senyuman kemudian Gilang pun kembali duduk.
" Bu Nadia ini kenal Kirania di mana?"
" Hmmm, sebenarnya saya ini ... " Nadia menjeda ucapannya. " Maaf, apa saya mengganggu waktu Pak Gilang?"
" Ah, tidak ... silahkan saja jika Anda ingin bicara." Gilang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan pena yang dia pegang di tangannya.
" Baiklah, tapi sebelumnya saya minta maaf jika saya lancang mengatakan hal ini." Kening Gilang langsung berkerut mendengar perkataan Nadia.
" Maksud Anda?" Gilang kini mengembalikkan posisi duduk lebih serius.
" Apa Pak Gilang yakin akan meneruskan pertunangan Bapak dan menikahi wanita yang tidak mencintai Bapak?"
Gilang menatap tajam ke arah Nadia, seketika hatinya merasa terusik dengan perkataan yang dilontarkan Nadia tadi.
" Apa maksud dari perkataan Anda? Dan siapa Anda sebenarnya?!" Gilang mulai berucap dengan nada dingin.
" Saya orang yang pernah mengalami nasib seperti Anda, menikah dengan pria yang mencintai wanita lain. Dan sampai empat tahun lebih usia pernikahan kami, dia tidak pernah sedikitpun mencintai saya. Bahkan kini kami akan segera bercerai, karena saya sudah benar-benar menyerah. Saya harap Pak Gilang juga tidak mengalami nasib seperti saya."
" Maaf sebelumnya, masalah yang terjadi dengan rumah tangga Anda, itu urusan Anda. Tak ada sangkut pautnya dengan urusan pertunangan saya." Gilang menyela perkataan Nadia.
__ADS_1
Nadia tersenyum tipis menanggapi jawaban dari Gilang. " Tentu saja ada Pak Gilang. Karena calon mantan suami saya itu adalah pria yang mencintai dan dicintai tunangan Anda."
Deg
Gilang terkesiap mengetahui jika wanita cantik di depannya itu adalah istri dari rivalnya, atau lebih cocok disebut mantan rival. Karena dia merasa jika dialah yang memenangkan battle dalam memperebutkan posisi sebagai pemilik Kirania.
Seringai langsung tercetak di sudut bibir Gilang tak lama kemudian tawa bernada sinis terdengar dari mulut Gilang. " Ow ... jadi Anda adalah Nyonya Dirgantara?" Gilang lalu bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah Nadia dan mendudukkan bokongnya di tepi meja dekat Nadia duduk.
" Apakah tujuan Anda kemari adalah atas perintah dari suami Anda?" sindir Gilang melipat tangan di dadanya.
" Tidak! Dia sama sekali tidak tahu. Justru mungkin dia akan marah besar jika dia tahu saya datang menemui Anda, Pak Gilang." Nadia menyangkal.
" Lalu apa tujuan Anda kemari?" ketus Gilang menatap tajam Nadia.
Nadia menelan salivanya mendapat tatapan tajam nan menakutkan seperti itu.
" Saya ... saya mohon kebesaran hati Pak Gilang untuk membatalkan pertunangan Anda."
Gilang tertawa kencang mendengar permintaan Nadia yang dia anggap konyol.
" Kenapa saya harus menuruti permintaan konyol Anda?" tanya Gilang bernada menyindir.
" Karena bukan Anda yang Kirania cintai tapi Dirga."
" Karena saya merasa bersalah, sayalah yang menyebabkan pisahnya hubungan mereka dulu juga sekarang. Karena sayalah orang yang menyiksa hati mereka selama enam tahun ini. Karena keegoisan saya yang memintanya menjauhi Dirga, dan justru akhirnya membuat dia mengambil keputusan bertunangan dengan Anda. Saya rasa pertunangan ini tidak membuat dia bahagia, karena dia melakukannya secara terpaksa agar Dirga tidak terus mengejarnya atas permintaan saya. Dia tidak akan bisa mencintai Anda, karena dia hanya mencintai Dirga dan hanya menganggap Anda sebagai pelariannya saja."
" Anda dengar baik-baik, Nyonya Dirgantara!" Hardik Gilang seraya menunjukkan telunjuknya ke arah wajah Nadia. " Saya tidak perduli dia mencintai saya atau tidak selama dia bisa menjadi milik saya! Dia hanya perlu menerima cinta saya, itu sudah lebih dari cukup untuk saya!" tegas Gilang dengan rahang mengeras. " Saya rasa kehadiran Anda sudah cukup menyita waktu saya. Silahkan Anda meninggalkan tempat saya!" usir Gilang menunjuk ke arah pintu dengan tangannya.
Nadia yang merasa terusir pun langsung berdiri. " Maaf telah mengganggu waktu Pak Gilang. Saya harap Bapak bisa pertimbangkan lagi. Jangan bersikap egois dan berpikir cukup hanya Anda saja yang bahagia karena berhasil memiliki dia. Permisi." Nadia pun pamit dan beranjak keluar meninggalkan ruang kerja Gilang, meninggalkan pria itu yang langsung mendengus kasar seraya mengusap kasar wajahnya. Tak lama dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomer seseorang.
" Hallo, Assalamualaikum, Ma. Aku ingin pernikahan aku dan Rania dipercepat. Ijab qobul saja dulu yang penting sah. Resepsi tetap berjalan sesuai yang disepakati kemarin." Gilang langsung menyampaikan tujuannya saat hubungan telepon telah tersambung.
" Waalaikumsalam ... memang kenapa sih, kamu nggak sabar banget ingin cepat-cepat menikahi Rania, Lang? Cuma tunggu tiga bulan lagi, kok. Nggak lama, kan?" Tante Dini berseloroh menggoda putranya.
" Aku minta secepatnya, Ma. Kalau bisa besok tolong diurus semuanya. Akhir pekan ini aku ingin menikah dengan Rania," tegas Gilang.
" Ada apa ini, Lang?" Tante Dini mulai menangkap nada serius dalam ucapan Gilang.
" Aku hanya tak ingin Rania berubah pikiran, Ma." Akhirnya Gilang jujur mengatakan kegelisahannya.
" Berubah pikiran? Memangnya Rania ingin membatalkan pertunangan?"
Gilang menghela nafas panjang. " Tidak, Ma."
" Kalau tidak kenapa kamu bilang takut Rania berubah pikiran?"
__ADS_1
" Mama ingat kegaduhan yang terjadi saat acara pertunangan kemarin?"
" Yang budenya Rania keluar itu? Sudah teratasi, kan? Memangnya kenapa?"
" Dia ... dia mantan kekasih Rania, Ma. Dia tidak bisa terima begitu saja aku bertunangan dengan Rania. Dia bukan orang sembarangan, aku takut dia akan menghalalkan segala cara untuk merebut Rania dari tanganku." Gilang memilih jujur mengungkapkan kegelisahannya.
" Astaga ..." pekik Tante Dini.
" Karena itu Gilang minta Mama siapkan dan segera daftarkan rencana pernikahannya besok."
" Tapi Mama mesti bicarakan hal ini dengan papa juga keluarga Rania, Lang. Apa keluarga Rania mau acara ijab qobul nya dipercepat?"
" Nanti aku yang bicara dengan Rania dan Mama Saras juga."
" Ya sudah kalau kamu maunya begitu." Tante Dini pasrah mengikuti keinginan anaknya.
" Aku mengandalkan Mama." Karena Gilang tahu Mamanya sangat aktif ikut kegiatan di lingkungan perumahannya.
" Iya."
" Ya sudah, aku tutup teleponnya ya, Ma. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ..."
*
*
*
Bersambung ...
R : Thor, Othor yang baik, yg gemesin, yg ngeselin pingin nampol. Tau ga sih, kita ini ga perlu cerita Gilang, ga perlu juga cerita si Nadia. Kita cuma butuh Abang sama Rania cepet ditemuin dinikahin, dihalalin, dikawinin, dihamilin #eh🤭 trus the end deh ceritanya😂😂.
Ah apaan, sedihnya panjang banget, menderitanya panjang banget. Giliran udah bahagia nikah + hamil \= Tamat 😂
A : eh, emang Endingnya Rania sama si Abang gitu?
R : Harus dong, coba aja berani pisahin mereka, santet online berjamaah juga nih si Othor. Ingat ya Thor, kamu itu udah bikin readers kesel berjamaah, udah bikin readers sedih berjamaah, bikin readers esmosi berjamah. Dosa, Thor, dosa!! Sok lah geura insyaf jangan terus nambah dosa selalu bikin readers esmosi.
A : 🥱🥱🥱🥱
R : Ngeselin juga nih othor satu ini 💣💣💣💣💥💥💥💥
Just kidding n Happy Reading❤️
__ADS_1