RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bonchap 2 -- Membesuk Adik Ramadhan


__ADS_3

" Kamu jaga kandunganmu baik-baik ya, Nad. Jangan terlalu lelah. Mama senang akhirnya Kayla akan segera punya adik."


Kirania menghentikan langkahnya saat dia mendengar Mama Utami berbicara dengan seseorang di ponselnya.


" Ya sudah Mama tutup dulu, ya! Jangan lupa diminum vitaminnya, lho. Istirahat juga yang cukup. Assalamualaikum."


Kirania mendesah saat mendengar perkataan mama mertuanya itu dengan seseorang yang dia duga adalah Nadia.


" Telepon dari Kak Nadia ya, Ma?" tanya Kirania kemudian mendekati Mama Utami.


" Iya, tadi dia mengabari kalau dia sekarang ini sedang hamil tujuh Minggu," ucap Mama Utami memberitahukan.


" Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu. Aku ikut senang Bang Edo dan Kak Nadia akan segera memberi Kayla adik," Kirania menanggapi berita itu dengan rasa bahagia walaupun sejujurnya dia juga merasa sedih, karena sudah setahun usia pernikahannya dengan Dirga tapi dia belum juga hamil.


" Kamu sendiri bagaimana, Ran? Apa sudah ada tanda-tanda?" Mama Utami membuyarkan lamunan Kirania yang sedang meratapi kesedihannya.


" Belum, Ma." Kirania menjawab dengan lirih. Sungguh hal yang paling dia takutkan adalah pertanyaan seperti ini dari Mama Dirga itu.


" Kalian sudah menikah setahun ini, apa kalian tidak coba konsultasi program hamil ke dokter lain?" tanya Mama Utami kemudian.


" Iya, Ma. Nanti Rania bilang sama Abang lagi," sahut Kirania.


" Iya cepat kamu konsultasi lagi. Mama sudah nggak sabar ingin menimang cucu dari kalian."


Kirania terdiam, permintaan Mama Utami adalah permintaan yang wajar sebagai orang tua, tapi terasa menjadi beban untuk dirinya.


***


Kirania menatap nanar pemandangan kota Jakarta malam ini dari atas balkon. Perbincangan dengan mama mertuanya siang tadi benar-benar membuat dirinya gelisah.


" Yank, Sayang ... kamu sedang apa di sana?" Dirga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke kamar langsung mencari istrinya saat tidak dijumpainya Kirania. Namun dia mendapati istrinya itu sedang melamun di tepi balkon.


Dirga lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kirania. " Sedang melamunkan apa, hmm?" Dirga mengecup lembut pipi Kirania karena dia merasa jika istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.


Kirania lalu memutar tubuhnya lalu menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu dan kini dialah yang berganti memeluk erat sang suami.


" Hei, ada apa, Sayang?" tanya Dirga melihat Kirania yang terlihat insecure.


" Abang, kenapa aku belum hamil juga?" lirih Kirania di pelukan suaminya.


" Ya, mungkin belum rejeki kita. Kenapa? Apa Mama bertanya padamu?" tanya Dirga.

__ADS_1


" Tadi siang Mama dapat telepon dari Kak Nadia, Kak Nadia sekarang sedang hamil, Abang. Aku sedih nggak bisa kasih Mama Utami cucu," keluh Kirania.


" Bukan nggak bisa, tapi belum, Sayang." Dirga memeluk erat tubuh sang istri.


" Aku takut Abang ...."


" Apa yang mesti kamu takutkan?"


" Aku takut Abang meninggalkan aku jika aku belum hamil."


" Jangan bicara sembarangan! Itu hal yang tidak akan pernah aku lakukan!" protes Dirga menanggapi kecemasan istrinya.


" Kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau adalah nafasku, aku tak akan bisa hidup bahagia tanpamu. Enam tahun aku sudah rasakan hal itu, jadi tidak mungkin aku akan meninggalkanmu, Sayang." Dirga mengecup kening Kirania.


" Kita akan terus berusaha, nanti kita konsultasi lagi kalau perlu kita cari dokter yang terbaik di luar negeri agar kamu bisa hamil."


" Tapi aku takut Mama akan menyalahkanku karena aku belum juga hamil."


" Mama tidak akan berani menyalahkanmu, kau tenang saja. Sekarang kita masuk ke dalam, kita istirahat saja. Tenangkan pikiranmu dan jangan stres karena hal ini." Dirga lalu menuntun Kirania untuk masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu balkon kamarnya.


***


" Tante Rania ...."


" Wah, Rama sudah punya adik baru, ya! Adiknya buat Tante Rania saja boleh nggak, Sayang?" goda Kirania kepada Ramadhan, putra dari Ricky asisten suaminya itu.


" Nggak boleh, Tante. Nanti Mama sedih kalau adik bayinya buat Tante Rania," protes Ramadhan membuat Kirania terkekeh.


" Adik bayinya ada di mana sekarang?" tanya Kirania kepada bocah miniatur Ricky berusia lima tahun lebih itu.


" Ada di kamar sama Mama, Tante Rania." Ramadhan menjawab.


" Tante lihat boleh nggak?" tanya Kirania.


" Boleh." Ramadhan mengangguk, kemudian dia meraih tangan Kirania dan menariknya untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan perawatan Mama dari Ramadhan.


" Abang, aku lihat Mbak Anin dulu, ya!" Kirania meminta ijin suaminya yang sedang berbincang dengan Ricky dan dibalas anggukan kepala suaminya itu.


" Pak Ricky, saya boleh ke dalam?" Kali ini Kirania meminta ijin kepada Ricky.


" Oh, silahkan, Nyonya Dirga ..." Ricky mempersilahkan.

__ADS_1


" Apa kau menemani persalinannya, Rick?" tanya Dirga pada Ricky.


" Benar, Pak. Saya yang memaksa agar Dessy mengijinkan saya ikut masuk menemani persalinan Anin di dalam." Ricky menoleh ke arah kaca yang ada di pintu masuk kamar rawat Anindita. Dia melihat wanita itu masih terlihat kelelahan setelah melahirkan adik dari Ramadhan.


" Dia wanita yang sangat hebat, Pak Dirga." Ricky berucap penuh rasa kagum.


" Tentu saja, bisa bertahan selama lima tahun dan membesarkan anak sepintar Ramadhan itu bukan perkara mudah. Dan aku rasa gen mu sangat kuat melekat pada anakmu itu, Rick. Karena bukan hanya wajah kalian saja yang sangat mirip, tapi kepintaranmu juga tertular ke Ramadhan. Aku rasa jika besar nanti dia dan anakku kelak akan menjadi penerus kejayaan Angkasa Raya Group," ujar Dirga menepuk pundak Ricky.


" Pak Dirga terlalu berlebihan menilai saya." Ricky berusaha untuk merendah. Walaupun kemampuan dia sudah tidak diragukan lagi, tapi Ricky bukanlah orang yang senang berpuas diri dengan apa yang telah dia dapatkan.


Sementara itu di dalam ruang perawatan ...


" Mama, ada Tante Rania sama Om Dirga, Ma ..." teriak Ramadhan


" Assalamualaikum ..." sapa Kirania saat masuk ruangan.


" Waalaikumsalam, Bu Rania ..." sahut Anindita.


" Selamat ya, Mbak Anin atas kelahiran baby nya." Kirania melihat bayi mungil yang sedang diberi ASI oleh Anindita.


" Terima kasih, Bu Rania." Anindita menyahuti.


" Baby nya laki-laki atau perempuan, Mbak Anin?" tanya Kirania.


" Laki-laki lagi, Bu."


" Wah, Mbak Rania punya dua jagoan dong, ya!" Kirania tersenyum seraya mengusap kulit halus bayi Anindita itu.


" Iya, Alhamdulillah, Bu ...."


" Saya juga ingin secepatnya bisa punya keturunan, Mbak Anin. Tapi sayangnya belum dikasih." Kirania menunduk, ada kesedihan dalam kalimat yang diucapkan wanita cantik itu.


" Ibu Rania harus bersabar, mungkin belum saat ini, yang penting terus berikhtiar dan berdoa, Bu." Anindita mencoba menasehati istri bos dari ayah Ramadhan itu agar tak patah semangat.


" Iya, terima kasih, Mbak Anin. Doakan agar saya bisa ketularan punya anak juga, ya! Saya sedih melihat suami saya. Memang dia tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu agar membuat saya tidak merasa tertekan, tapi di lubuk hatinya pasti dia juga menginginkan punya keturunan." Kirania berkata lirih. Benar yang Anindita bilang, jika yang bisa dia lakukan sekarang ini hanya terus berusaha dan berdoa, mohon kemurahan Sang Kuasa agar segera memberikan buah hati untuknya juga untuk suami tercintanya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2