
Mata Kirania hampir saja terpejam saat suara dering teleponnya berbunyi. Dengan setengah malas tangannya meraih ponsel miliknya yang dia letakan di sofa yang terletak di sisi tempat tidurnya. Dengusan kecil terdengar saat dia melihat nomer yang muncul di ponselnya adalah nomer Gilang yang belum sempat dia save. Kirania melihat waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
" Assalamualaikum ..." sapa Kirania akhirnya memutuskan menjawab panggilan telepon dari Gilang.
" Waalaikumsalam, kamu belum tidur, Ran?" balas suara Gilang dari seberang.
" Ini baru mau ..." Kirania menyahuti.
" Oh, maaf ... aku ganggu kamu dong, ya?" Gilang merasa bersalah.
" Ada apa, Kak?"
" Aku cuma kasih tahu, besok aku sudah mulai dinas di sini. Sekarang aku sudah di rumah dinas." Gilang memberitahukan.
" Oh ...." hanya kata itu yang keluar dari mulut Kirania, menanggapi penjelasan Gilang.
" Oh ya, kamu sekarang tinggal di mana? Masih di hotel atau sudah pindah?"
" Hmmm, aku sudah pindah, Kak."
" Pindah ke mana?"
" Ke dekat tempat aku kerja."
" Aku boleh minta alamatnya? Siapa tahu ada waktu senggang aku bisa berkunjung ke sana."
" Emmm, nanti saja ya, Kak. Aku nggak hapal nama jalannya, besok aku tanyakan dulu alamat sini." Kirania mencoba menepis keinginan Gilang untuk mengetahui alamat dia berada sekarang.
" Ya sudah, nggak apa-apa. Kamu sudah mau istirahat, kan? Selamat istirahat, semoga mimpiin aku." Terdengar suara kekehan Gilang.
" Assalamualaikum, Kak." Kirania buru-buru mematikan teleponnya sebelum Gilang mengeluarkan kalimat-kalimat rayuannya.
Kirania memijat pelipisnya. Jika boleh dia mengeluh, dia ingin mengeluh kenapa selalu dipusingkan dengan pria-pria yang selalu memburunya. Tidak bisakah dia hidup tenang tanpa harus menghindar dari banyak pria. Menikah, mungkin jika dia menikah tidak akan ada pria yang akan terus memburunya. Tapi dengan siapa? Sampai saat ini hatinya masih belum bisa menerima kehadiran pria lain, sedangkan pria yang selama ini telah mengisi hatinya sudah terikat pernikahan dengan wanita lain. Walaupun pria itu menjanjikan akan sesegera mungkin melepas pernikahannya. Apa dia cukup tega berbahagia di atas kesedihan orang lain. Apalagi saat dia mengingat gunjingan beberapa karyawan di toilet siang tadi.
***
Mata indah Kirania terbelalak saat dia melihat kehadiran Nadia yang sedang menunggu di depan pintu lift khusus, bersama wanita paruh baya yang dia ingat adalah mama dari Dirga. Seketika rasa cemas dan gugup menyerang dirinya. Kirania hendak menarik langkahnya dan memutar arah namun suara seorang anak kecil memanggil namanya.
" Ateu Lania ...."
Kirania terpaksa menelan salivanya, apalagi saat gadis mungil itu kembali memanggilnya. " Ateu Lania, cini," panggil Kayla lagi. Dia pun dengan langkah berat mendekati mereka bertiga dibawah tatapan mata Mama Dirga, Nadia, Kayla dan beberapa karyawan yang juga terlihat ada di sana.
__ADS_1
" Ateu Lania, kita ketemu lagi," celoteh Kayla.
" Hai Kayla." Kirania membungkukkan sedikit tubuhnya sembari mengelus pipi lembut milik Kayla. " Selamat siang, Bu." Kirania kemudian menegakkan kembali menyapa ramah Nadia dan Mama Dirga dengan mengembangkan sedikit senyuman.
" Siang, suami saya ada di tempat?" tanya Nadia memberi tekanan di kata suami dalam kalimatnya itu.
" Ada, Bu. Bapak ada di ruangannya." Kirania menyahuti. Tapi matanya melirik ke arah Mama Dirga yang tak lepas menatapnya dengan tatapan mata sulit diartikan
Ting
Tak lama lift khusus direksi pun terbuka.
" Kamu mau ikut sekalian ke atas sama kami?" Nadia menawarkan.
" Tidak, Bu. Terima kasih, saya mau ke pantry dulu." Kirania menolak halus.
" Okelah. Ayo, Ma. Kayla ayo masuk." Nadia, Mama Dirga dan Kayla pun masuk ke dalam lift itu hingga akhirnya pintu lift tertutup.
Kirania menarik nafas perlahan, karena bertemu kembali dengan Mama Dirga atau Nadia adalah hal yang tidak ingin dia temukan lagi. Kirania kemudian melihat beberapa karyawan yang sedang menunggu di depan lift umum terlihat berbisik sembari memasang pandangan seolah mencibir ke arahnya.
" Jangan bergunjing di belakang. Tanyakan saja langsung, butuh penjelasan apa?!" tanya Kirania dengan lugas.
" Siapa juga yang bergunjing? Pede banget," sahut salah seorang karyawan yang disambut tawa mencibir beberapa rekannya yang lain.
***
Kirania sengaja membantu apa yang dikerjakan Lisna, sembari menunggu Nadia dan Mama Dirga selesai dengan diskusinya di ruangan Dirga.
" Canggung ya, Ran. Ada ibu bos?" ledek Lisna pada Kirania, membuat bibir Kirania mencebik.
" Aku ngerti kalau ada di posisi kamu," lanjut Lisna terkekeh, hingga kening Kirania berkerut.
" Mbak Lisna ngomong apaan, sih?"
" Bekerja dengan mantan itu memang nggak enak, apalagi jika mantan itu ternyata masih mencintai kita." Kirania langsung tercengang mendengar susunan kata-kata yang diuntai dalam kalimat yang diucapkan Lisna serasa menohok di hatinya.
" M-maksud, Mbak?" Kirania langsung salah tingkah karena perkataan sekretaris Dirga itu.
" Aku tahu kamu dan Pak Dirga punya hubungan spesial sebelumnya," bisik Lisna terkekeh.
Kirania terbelalak. " M-mbak Lisna tahu dari mana?" Kirania langsung dilanda gelisah.
__ADS_1
Lisna tersenyum. " Nanti lain waktu aku beritahu."
Jawaban Lisna tentu saja membuat Kirania tak tenang. Pantas saja jika akhirnya ada karyawan lain yang bergunjing. Mungkin karena apa yang dilakukan Dirga terhadapnya cukup mengundang perhatian karyawan lain.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kirania yang masih kepikiran dengan ucapan Lisna langsung meraih ponselnya itu, ternyata Dirga lah yang memanggilnya.
" Kamu di mana? Cepat masuk ke ruanganku."
Tak sempat Kirania membalas, Dirga sudah terlebih dahulu menutup Teleponnya. Kirania akhirnya bangkit guna mengikuti permintaan Dirga, dengan perasaan yang tak karuan, karena saat ini orang tua Dirga juga sedang ada di dalam ruangan.
Setelah mengetuk pintu, Kirania pun melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penuh ketegangan. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat susah.
" Bapak memanggil saya?" Kirania berusaha mengontrol diri dari rasa gusarnya.
Tak lama pintu ruangan kembali terbuka. " Permisi, Pak?" Lisna pun ternyata diminta Dirga masuk ke dalam ruangannya.
Dirga yang saat itu sedang menggendong Kayla langsung mendekat ke arah Lisna. " Kayla, sama Tante Lisna dulu ya, Sayang. Papa mau bicara sama Nenek, Mama Nadia sama Tante Kirania juga." Dirga berkata lembut kepada Kayla.
" Kela nda boleh dengal (dengar), ya?" tanya polos gadis kecil itu.
" Ini obrolan orang dewasa. Kayla masih kecil, jadi masih belum boleh dengar. Kayla mengerti, kan?"
Kayla mengangguk tanda menyetujui apa yang diucapkan Dirga.
" Tolong jaga dia sebentar, Lis." Dirga memerintahkan sekretarisnya.
" Baik, Pak." Lisna kemudian mengambil tubuh Kayla dari Dirga kemudian membawanya pergi dari ruangan Dirga, meninggalkan Kirania yang saat itu juga tangannya langsung berkeringat. Serasa Dejavu, ingatannya seakan kembali pada kejadian enam tahun silam saat Dirga mempertemukannya untuk berbicara dengan mamanya dan Nadia. Dan apakah saat ini juga Dirga akan melakukan tindakan yang sama dengan kejadian dulu. Yang tetap akan mempertahankannya?
" Duduklah, Ran."
Lamunan Kirania seketika buyar saat Dirga menyuruhnya duduk di sofa bergabung dengan Tante Utami juga Nadia.
Bersambung ...
Maaf kalo dua hari ini rada telat up dan cuma up 1 bab aja. Lagi kurang mood sebenernya, jadi nulis 1 bab aja bisa seharian ga kelar²🤭🤭🙏🙏
Visual Nadia
__ADS_1
Happy Reading❤️