RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bonchap 3 -- Seblak


__ADS_3

" Dirga, apa istrimu itu belum hamil juga?" tanya Mama Utami saat Dirga dan Mamanya berbincang santai akhir pekan ini di teras belakang rumah orang tua Dirga.


" Kami selalu berusaha, Ma. Mungkin masih belum dikasih rejeki sama Yang Kuasa." Dirga berucap bijak.


" Tapi ini sudah empat tahun kalian menikah, mau menunggu sampai kapan lagi? Mama tidak mau keturunan Poetra Laksmana berhenti di Kayla," keluh Mama Utami.


" Mama jangan bicara seperti itu? Kami pasti akan punya anak, dan Kayla pun kalau sudah dewasa pasti akan menikah dan punya keturunan. Tidak mungkin keturunan keluarga Poetra Laksmana hanya terputus di Kayla!" tegas Dirga merasa tak suka dengan kata-kata mamanya itu.


" Nadia sekarang sedang hamil anak ketiga, seandainya kamu dulu tidak berpisah dari Nadia pasti ...."


" Ma, cukup! Jangan pernah mencoba mengusik ketentraman rumah tanggaku lagi! Aku sudah bahagia dengan Rania sekarang, walaupun belum ada anak di antara kami, itu tidak menjadi masalah untukku!" geram Dirga.


Sementara itu di balik pintu, Kirania yang mendengarkan percakapan Dirga dan ibu mertuanya, seketika membuat dadanya sesak. Dia pun kemudian berlari ke arah kamar Dirga di rumah Mama Utami itu.


Kirania langsung terisak mengingat perdebatan suami dan ibu mertuanya tadi. Dan saat pintu kamar terbuka hingga sosok Dirga muncul dari balik pintu, Kirania langsung berlari dan memeluk suaminya itu.


" Abang ..." Tangis Kirania kembali pecah di pelukan suaminya.


" Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Dirga terkesiap melihat istrinya menangis tersedu.


" Maafkan aku, Abang. Aku belum juga hamil. Aku minta maaf karena ... karena membuat Mama Utami kecewa, hiks ...."


" Sayang, kenapa harus membahas hal ini lagi? Kamu nggak perlu bicara seperti ini. Belum ada anak di antara kita, ini bukan atas kemauan kita." Dirga mengusap kepala Kirania yang tertutup hijab.


" Tapi aku tidak merasa sempurna sebagai seorang istri, Abang ..." sesal Kirania.


" Jangan berkecil hati seperti itu. Kau ini istri seorang Dirgantara, jangan jadi lemah seperti ini." Dirga memberikan pelukan yang benar-benar membuat Kirania merasa sangat nyaman.


***


Dua bulan berselang ...


" Abang, nanti berhenti di rest area sebentar, ya!" pinta Kirania saat dia dan suaminya sedang berada di dalam mobil di Tol Cipali dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah menikmati akhir pekan di rumah Mama Saras.


" Kenapa?" tanya Dirga saat melihat istrinya sedari tadi menutup mulutnya.


" Perutku mual, Abang ..." keluh Kirania.


" Aku bilang juga apa? Kamu tadi disuruh sarapan dulu tapi nggak mau. Mau perjalanan jauh perut mesti diisi dulu." Dirga menggerutu.


" Tapi perutku rasanya nggak enak kalau diisi makanan," Kirania memberikan alasan.


" Apa kamu makan pedas lagi? Nggak ingat sama penyakit lambungmu?" tegur Dirga.


Kirania menggelengkan kepalanya sambil terus menutup mulut dengan telapak tangannya.


" Abang aku sudah nggak tahan. Huek ..." Kirania tetap berusaha menahan agar tidak memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


Dirga langsung menepikan mobilnya ke bahu jalan.


" Abang, apa nggak apa-apa berhenti di sini?" Karena suaminya itu menghentikan laju mobilnya.


" Ini memang digunakan untuk keadaan daruat, kalau ada yang patroli dan menilang tidak masalah untukku, yang penting kamu tidak tersiksa harus menahan mual seperti ini," ujar Dirga kemudian melepas seat belt dan membuka pintu mobilnya. Kirania pun lebih dulu keluar dari mobil dan mencoba memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya itu.


" Huek ... huek ...."


" Kamu tadi nggak makan apa-apa, kan?" tanya Dirga sambil memijat tengkuk istrinya itu.


" Huek ... huek ... pahit sekali rasanya ..." keluh Kirania.


" Aku ambilkan minum dulu." Dirga kemudian berlari ke arah mobilnya dan mengambil air mineral.

__ADS_1


" Minumlah ..." Dirga menyodorkan kepada istrinya setelah membuka sealnya terlebih dahulu. Dia lalu mengusap peluh yang mengembun di kening Kirania. Dia juga melihat jika istrinya itu mulai memucat wajahnya.


" Sayang, apa kamu sakit? Kamu pucat sekali seperti itu." Dirga nampak khawatir.


" Kita keluar pintu tol terdekat lalu cari dokter, ya!"


" Nggak usah, Abang, kita lanjutkan perjalanan saja." Kirania mencoba bangkit namun nampak sempoyongan membuat Dirga akhirnya mengangkat tubuh istrinya itu.


" Sebaiknya kamu tidur di kursi tengah saja ya, Sayang. Istirahat ..." ucap Dirga yang kemudian diangguki kepala Kirania.


***


Sesampainya di apartemen Dirga berniat memanggil dokter pribadinya namun Kirania melarangnya. Kirania bahkan meminta suaminya itu untuk tidak berangkat ke kantor dan meminta suaminya itu menemaninya di apartemen. Menemaninya menonton film romantis, meminta Dirga memijat kakinya karena mengeluh pegal. Menyuruh Dirga membuatkan mie instan untuknya seperti yang biasa dirinya buatkan untuk suaminya itu dan banyak hal lagi yang membuat Dirga hanya bisa menggelengkan kepala.


" Abang ..." Kirania menepuk lengan Dirga yang tertidur karena kelelahan akibat seharian ini mesti melayani permintaan aneh istrinya itu.


" Hmmm ...."


" Abang, bangun ..." Kirania semakin keras menepuk lengan suaminya itu.


" Abang ... bangun, aku lapar."


Dirga menggeliat mendengar ucapan istrinya itu.


" Sayang, hari ini kamu sudah makan banyak, masih lapar lagi? Lagipula ini sudah jam berapa?" Dirga melirik ke jam dinding dan sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


" Tuh, sudah tengah malam hampir dini hari, sudah ayo tidur lagi." Tangan Dirga merengkuh pinggang Kirania.


" Tapi aku lapar, Abang." Kirania layaknya anak kecil yang merengek, sangatlah tidak cocok mengingat usianya kini yang sudah menginjak usia tiga puluh satu tahun.


Dirga pun akhirnya bangkit dari tidurnya kemudian mendengus.


" Aku mau seblak, Abang."


Kening Dirga berkerut mendengar nama makanan yang disebut istrinya itu.


" Apa?"


" Seblak, Abang ... aku mau seblak." Kirania mengulang ucapannya.


" Seblak? Makanan apa itu?"


" Ya makanan enak."


" Bentuknya?"


" Ya ... seblak, bentuknya ya seblak gitu."


" Aku nggak pernah lihat makanan itu."


" Ya sudah Abang beli terus nanti cobain, deh. Pasti Abang akan suka." Kirania mengangkat jempolnya.


" Terus aku harus beli di mana makanan itu?"


" Di tepi jalan banyak kok yang jualan."


" Di tepi jalan?"


" Iya."


" Tengah malam begini memang masih ada yang jual?"

__ADS_1


Kirania mengedikkan bahunya.


" Aku nggak tahu, Abang."


" Kamu ganti makanan yang lain saja, ya?"


" Aku nggak mau, Abang! Aku mau


seblak." Kirania bersungut-sungut.


" Lalu kalau sudah nggak ada yang jual gimana?" tanya Dirga mencoba meredam emosinya karena sesungguhnya dia merasa sangat lelah dan mengantuk.


" Ya Abang bikin sendiri saja!" sahut Kirania santai.


" Apa?? Aku mesti bikin sendiri?!" Dirga membelalakkan matanya. " Aku nggak mau!!" tegas Dirga. " Maksudku, bentuk makanannya saja aku nggak tahu, bagaimana aku bisa bikin?"


" Abang 'kan bisa lihat dari internet, cari di goo gle. Sekarang ini 'kan jaman canggih segala info bisa dicari di sana." Kirania menyarankan suaminya untuk mencari resep membuat makanan itu di aplikasi berinisal G itu.


" Biarpun ada caranya kalau aku nggak pernah lihat bentuknya seperti apa pasti nggak berhasil membuat itu." Dirga berusaha terus menolak keinginan istrinya itu.


" Abang nggak mau buatkan aku seblak?" Kirania mencebikkan bibirnya.


" Bukan nggak mau, Sayang. Tapi aku nggak bisa membuatnya."


" Abang sudah nggak cinta sama aku!" Bola mata Kirania sudah mulai mengembun.


" Bukan seperti itu! Kamu jangan pernah ragukan cinta aku!" tegas Dirga. Dia sangat tidak suka Kirania meragukan betapa besar cinta dia untuk istrinya itu.


" Nyatanya Abang nggak mau buatkan aku seblak, hiks ..." Air mata Kirania langsung menetes di pipinya.


" Sayang, aku nggak seperti itu." Dirga langsung mendekati istrinya lalu menghapus cairan bening itu di pipi Kirania.


" Aku minta maaf ya, Sayang. Nanti aku buatkan seblaknya." Dirga berusaha membujuk istrinya agar tidak terus merajuk.


" Terima kasih, Abang." Kirania langsung melingkarkan tangannya di leher Dirga lalu mengecup pipi suaminya itu.


" Kamu jangan mancing-mancing, deh!"


Kirania langsung mengurai pelukannya.


" Aku nggak mancing, Abang. Aku hanya ingin membuat Abang semangat bikin seblaknya." Perkataan Kirania membuat Dirga mendengus.


" Kalau Abang sudah selesai membuat seblaknya, nanti aku kasih bonus, deh." Kirania tersenyum sembari mengerlingkan mata dan menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya.


Tentu saja kode yang diberikan Kirania membuat Dirga bergegas ke dapur dan bersemangat membuat makanan permintaan istrinya itu.


Tiga puluh menit kemudian ...


" Sayang ini seblaknya sudah jadi. Bentuknya sih mirip tapi rasanya aku nggak tahu enak atau tidak," ucap Dirga saat masuk ke dalam kamarnya membawa nampan berisi semangkuk seblak permintaan Kirania.


" Sayang, ini seblaknya sudah ..." Dirga menghentikan ucapannya saat dia menoleh ke arah istrinya ternyata istrinya itu sudah terlelap di alam mimpinya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2