RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Cerita Padaku


__ADS_3

" Di kamar tamu ada mukena. Kita sholat di sana saja." ujar Dirga setelah selesai mengambil air wudhu.


" Di kamar?" Kirania mengeryitkan keningnya.


" Kita mau sholat, lho. Atau kamu ingin melakukan sesuatu yang lain sama aku di kamar?" goda Dirga memainkan alisnya.


" Astaghfirullahal adzim ...!" tangan Kirania refleks memukul lengan Dirga.


" Yaaahh ... batal, deh." sesal Dirga saat lengannya kena sentuh Kirania, membuat wudhu nya batal. Sehingga dia harus kembali lagi mengambil air wudhu.


" Maaf," ucap Kirania dengan senyum menahan geli melihat Dirga memberengut.


Setelah kembali mengambil air wudhu, Dirga melangkah ke arah kamar tamu. Dia mengambil mukena dari dalam lemari dan menyerahkan kepada Kirania.


" Kamu sedia mukena di sini?" Kirania tergelitik menanyakan hal itu. Karena ada mukena di apartemen pria itu. Apakah Dirga sering membawa teman wanitanya kemari, pikirnya.


" Itu punya mamaku. Kalau sewaktu-waktu mamaku kemari, pakai mukena itu." Dirga melirik ke arah Kirania. " Memangnya apa yang ada di dalam pikiranmu? Kamu pikir wanita yang ingin menemaniku, yang ingin berkencan denganku itu mikir tentang ibadah? Yang ada di pikiran mereka itu cuma bersenang-senang saja. Lagipula aku nggak pernah membawa teman wanita ke apartemen ini selain kamu. Kamu wanita pertama yang aku bawa kemari. Aku harap kamu akan jadi satu-satunya wanita yang aku ajak kemari," tegas Dirga menatap wajah cantik Kirania yang kini telah memakai mukena. Sesaat mereka saling pandang dengan lekat, seakan terbius dengan pesona lawan bicara mereka dan seolah tak ingin memutuskan pandangan masing-masing.


Kirania mengerjap, dia mulai kembali kepada kesadarannya, begitu juga dengan Dirga.


" Kita mulai sholat sekarang. Kamu siap 'kan jadi makmum aku? Kalau aku sudah sangat siap jadi imam kamu." Dirga sempat-sempatnya menggoda Kirania yang langsung membuat wajah Kirania merona.


***


Entah berapa kali Kirania harus memalingkan atau menundukkan wajahnya sambil meremas jemarinya, saat adegan dewasa di film yang dipilih oleh Dirga itu muncul. Dirga sendiri terlihat lebih santai duduk di samping Kirania sambil menikmati popcorn.Tak lama Dirga merebahkan kepalanya di paha Kirania hingga membuat wanita itu tersentak.


" Kamu mau ngapain?" Nada cemas terdengar dari kalimat yang diucapkan Kirania.


" Numpang tidur di pangkuan kamu. Kepala aku mendadak pusing. Aku butuh tidur, biar yang itu ikut tidur juga. Kalau aku bangun, ada yang ikut bangun juga. Kepala aku malah tambah pusing." Kalimat absurd yang tidak dipahami oleh Kirania membuat Kirania tercenung dan tidak bisa menolak permintaan Dirga.


Dirga benar-benar tertidur di pangkuan Kirania. Walau dia merasa tenang Dirga tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya, tapi saat Dirga tertidur di pangkuannya itu cukup membuat detak jantungnya tak beraturan.


Kirania menatap wajah tampan Dirga dari samping. Tangannya terulur membelai rambut hitam lebat milik pria itu. Dia sungguh tidak pernah menyangka akan berurusan dengan pria paling populer di kampusnya itu. Pria yang belakangan berhasil mengobrak-abrik hatinya.


" Uugghh ...."


Dirga tiba-tiba menggeliat membuat Kirania menarik tangannya kembali. Tapi seketika Kirania membulatkan matanya saat Dirga memutar arah tidurnya seratus delapan puluh derajat membuat wajah Dirga kini tepat di depan perutnya. Dan itu sangat membuat Kirania sangat tidak nyaman.


" Kak ..." Kirania mencoba membangunkan Dirga dengan menepuk pipinya.


" Hmmm ..." Tanpa membuka matanya Dirga menyahuti Kirania.


" Bangun, sudah mau Maghrib," ucap Kirania saat dilihatnya jam sudah mendekati setengah enam petang.

__ADS_1


Dirga merentangkan kedua tangannya menggeliat. " Aku tertidur, ya?" suara parau Dirga terdengar.


" Iya."


Dirga melirik arlojinya sambil bangkit dari posisi tidur. " Aku tidur satu jam lebih. Nggak kerasa, enak banget tidurnya. Mungkin kerena tidur dipangkuan kamu. Aku bahagia dengan kebersamaan kita seperti ini." Dirga menarik sudut bibirnya ke atas.


" Kamu mandi saja dulu. Pakai saja kamar mandi di kamar tamu. Nanti aku siapkan handuk baru. Setelah Maghrib kita cari makan di luar. Setelah itu aku antar kamu pulang." Dirga beranjak mematikan televisi.


" Aku pulang sendiri saja, Kak."


Dirga memutar tubuhnya menatap Kirania. " Aku nggak akan biarkan kamu pulang sendirian apalagi saat malam hari. Tidak baik wanita secantik kamu pulang sendiri tanpa ada yang menemani," tegas Dirga.


" Tapi ...."


" Aku akan bilang ke pakde kamu, kalau kamu aman bersamaku. Aku nggak membuat lecet kamu sedikit pun, kan? Lagipula kamu sudah kabari Bude kamu, kalau kamu baik-baik saja, kan?!"


" Ck, kamu bisa nggak, jangan selalu menentang keputusan pakde? Kalau kamu selalu begini, bagaimana pakde bisa melunak sikapnya ke kamu?" ketus Kirania.


Dirga tersenyum mendengar kata-kata Kirania yang menurutnya mengandung arti. Dia bisa menyimpulkan jika Kirania juga menginginkan hubungan mereka tetap berjalan. Berharap jika hubungan mereka bisa direstui oleh pakdenya.


***


Selepas sholat Maghrib, Dirga membawa Kirania makan di rumah makan cepat saji. Dirga menggenggam tangan Kirania, menautkan jemarinya dengan jemari Kirania. Dirga tersenyum saat tak ada penolakan dari wanita itu.


" Aku ikut kamu saja."


" Pinter, calon istri yang baik harus ikut kata calon suami." Dirga terkekeh menanggapi jawaban Kirania tadi.


Kirania hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Dirga.


" Yank, lihat deh, itu." Dirga menunjuk sepasang anak sekolah yang masih menggunakan seragam putih abu-abu sedang saling suap menyantap makanan di hadapannya. " Kamu pasti waktu SMA nggak pernah begitu, kan?" ejek Dirga terkekeh. " Sudah lewat Maghrib masih keluyuran, pacaran. Nanti ujung-ujungnya juga hamil duluan."


Kirania menatap sepasang remaja yang ditunjuk Dirga. Dulu saat usianya segitu, jam segini dia sudah masuk kamar dan belajar.


" Kamu pengalaman, ya?" tanya Kirania kemudian.


Dirga terkekeh. " Kalau ngajak cewek jalan sampai malam dan masih pakai seragam, sering banget. Tapi kalau sampai hamilin anak orang sih, nggak." Dirga lantas menyahuti.


Tiba-tiba Kirania teringat ucapan Hasna beberapa waktu lalu yang mengatakan kalau kakak laki-laki Hasna pernah memergoki Dirga masuk ke hotel bersama seorang wanita. Dan entah mengapa mengingat hal itu membuat dada Kirania tiba-tiba terasa sesak.


" Kita pulang saja, aku nggak mau makan," ketus Kirania.


" Lho, kenapa? Kita bentar lagi sampai antriannya." Dirga mengeryitkan kening melihat perubahan sikap pada diri Kirania.

__ADS_1


" Aku nggak napsu makan." Kirania bergerak hendak melangkah, tapi karena jemarinya masih bertautan dengan jemari Dirga, membuat langkah nya terhenti.


" Kenapa tiba-tiba berubah pikiran, sih? Ada yang salah sama ucapanku tadi? Tapi aku benar nggak pernah hamilin anak orang, kok."


" Antar aku pulang," Kirania menarik tangannya dari genggaman tangan Dirga.


" Oke-oke kita pulang." Dirga akhirnya meluluskan keinginan Kirania.


Sesampainya di mobil Kirania langsung menutup pintu mobil dengan agak kencang membuat Dirga semakin heran. Apalagi saat Kirania memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, membuatnya semakin penasaran.


Perlahan Dirga menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Kirania. Tangannya terulur mengelus kepala Kirania dan berucap. " Kamu kenapa, sih?"


Tangan kanan Kirania menepis tangan Dirga, dan tangan kirinya menyeka air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.


" Hei, kamu menangis? Kenapa? Ada apa tiba-tiba begini?" Dirga kembali membelai kepala Kirania tak perduli wanita itu akan menolaknya dan sikap Dirga itu membuat Kirania semakin terisak.


" Ada apa, sih? Kalau ada yang mengganjal di hati kamu, kamu bilang sama aku. Kalau kamu begini aku malah jadi bingung."


Dirga menyadarkan kepala Kirania ke pundaknya saat terlihat wanita itu sudah tak menolak belaian tangannya.


" Mulai sekarang, apapun yang menjadi unek-unek kamu tentang aku, katakan langsung. Jangan hanya dipendam saja. Itu justru membuat hati kamu tersiksa sepeti ini, kan?" Dirga mencoba menghapus air mata Kirania. " Cerita padaku, apa yang membuat kamu begini?"


" A-aku takut, Kak," lirih Kirania.


" Apa yang membuat kamu takut?"


" A-aku, aku takut tersakiti."


" Siapa yang akan menyakiti kamu? Aku nggak akan menyakiti kamu." Dirga mengecup pucuk kepala Kirania berusaha menenangkan kegelisahan hati wanita yang kini berada dalam dekapannya.


*


*


*


Bersambung



Readers pencinta RTB, Alhamdulillah banget novel kesayangan pecinta Dirga&Kirania udah jadi karya kontrak, Terima kasih untuk support yg udah kalian kasih buat RTB selama ini🙏 Aku minta terus dukung RTB ini ya, jangan bosen² kasih like & komen nya. Makasih banyak🙏🤗🤗


Nb ; Reader RTB yg belum kenal kisah Yoga, ditunggu kehadirannya di kisah MSI, Semoga MSI juga bisa nyusul RTB, Aamiin

__ADS_1


Happy Reading.❤️


__ADS_2