
Penjelasan dua orang karyawan tadi tentang gadis kecil yang sedang menangis dalam gendongannya itu sedikit membuat Kirania terusik. Apalagi saat teringat perkataan beberapa rekan kerjanya di divisi marketing tentang bagaimana sikap big bos mereka. Tapi Kirania berusaha tenang, karena memang dia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Dia justru menolong anak kecil itu. Seandainya tadi dia tidak ikut masuk kembali ke dalam lift, bisa dibayangkan seperti apa ketakutannya Kayla harus sendirian dalan lift berjalan dari lantai delapan ke lantai empat.
Dan setelah dua karyawan itu keluar lift di lantai tujuh, Kirania tetap berusaha memberikan pengertian pada bocah cilik yang terus menangis itu.
" Adik sayang, Tante itu tolong kamu. Tante nggak mau culik kamu, kok." Kirania mencoba menenangkan gadis itu yang terus mengamuk, memukul wajah Kirania hingga menjambak rambut Kirania yang terikat. Kirania sampai harus beristighfar melihat kelakuan gadis kecil itu yang terlihat bar-bar.
" Boong, Ateu boong! Ateu olang (orang) jahat! Bial nanti Kela lapol ke papa bial Ateu ditangkap polici ( Biar nanti Kayla lapor ke papa, biar Tante. ditangkap polisi )"seloroh anak itu masih terus terisak.
Kirania tetap berusaha bersabar menghadapi anak kecil itu, hingga akhirnya dia sampai juga ke lantai delapan. Dan saat pintu lift terbuka, bersamaan itu juga dia mendengar suara seorang pria seperti sedang marah dengan intonasi yang cukup tinggi berkata.
" Kalian berdua kerja nggak becus! Menjaga satu anak umur tiga tahun saja sampai kecolongan begini!! Kalian berdua mau saya pecat?!"
Deg
Mendengar suara itu Kirania segera menurunkan Kayla yang masih saja berontak. Dia bisa menduga jika pria yang sedang marah-marah tadi adalah ayah dari anak yang digendongnya.
" Papa ...!" teriak Kayla berlari ke arah pria itu.
Pria yang dipanggil papa itu memutar setengah badannya saat dipanggil Kayla.
" Kayla?" Pria itu langsung membungkuk dan menangkap tubuh Kayla sebelum akhirnya menggendong gadis kecil itu. Sementara Kirania masih bergeming di tempatnya. Matanya bertumpu pada sosok pria yang sedang menggendong Kayla.
Kirania menatap tanpa berkedip pria itu, seketika jantungnya berdebar sangat cepat. Pria itu ... pria yang tadi sempat marah-marah, pria yang dipanggil dengan sebutan "Papa" oleh gadis kecil itu, entah kenapa dia merasa sangat familiar dengan sosok itu.
Dan entah karena dorongan apa kini Kirania berjalan mendekat dengan perlahan untuk memastikan bahwa dugaannya itu benar.
" Papa, Papa ... Kela mau dicuyik cama (sama) Ateu jeyek itu, Pa!" teriak Kayla menunjuk ke arah Kirania.
Papa dari anak kecil itu sontak mencari orang yang dimaksud oleh Kayla. Dan matanya langsung membulat sempurna saat mendapati seorang wanita cantik yang kini juga sedang menatap lekat ke arahnya. Mereka berdua sama-sama terkesiap, Kirania bahkan langsung menghentikan langkahnya. Tapi pandangan mata mereka tak juga berhenti. Mereka berdua saling menatap tanpa ada suara yang keluar dari bibir mereka masing-masing, hanya mata mereka yang seolah saling bicara.
" Pa, ayo lapol polici bial Ateu itu ditangkap, Pa"
Suara Kayla sontak membuat Kirania memutuskan pandangan dan kini mengarahkan pandangannya ke arah Kayla.
" Apa benar yang dikatakan Nona Kayla, Ran?" tanya Pak Leo yang saat ini berada di samping Papa dari anak gadis itu.
" Tidak, Pak. Itu tidak benar. Saya tadi melihat anak itu berlari ke dalam lift saat saya baru keluar dari lift. Saya suruh anak itu keluar tapi dia menolak. Saya hanya berusaha membantu anak itu agar tidak terkurung di dalam lift sendirian, karena kemudian lift itu mengarah ke lantai empat. Saya sama sekali tidak bermaksud jahat kepada anak itu, Pak." Kirania berusaha menjelaskan sejujurnya. Kirania kembali menatap papa dari anak itu yang masih diam tapi kini menatap dingin ke arahnya.
__ADS_1
" Tapi Nona Kayla terlihat sangat ketakutan melihat kamu. Apa kamu sampai menyakiti Nona Kayla?"
Kirania memicingkan matanya menatap ke arah Pak Leo yang seolah mengintimidasi dirinya, bukan melakukan pembelaan karena dia adalah bawahannya di divisi marketing.
" Siapa dia, Pak Leo?"
Deg
Bagai diberondong ratusan peluru yang langsung menghujam jantung Kirania saat mendengar papa dari Kayla menanyakan siapa dirinya kepada Pak Leo. Apakah pria itu sudah melupakannya?
" Dia karyawan dari cabang Cirebon yang terpilih karena program pengembangan karir, Pak Dirga." Pak Leo menyahuti.
" Setengah jam dari sekarang suruh dia menghadap saya!" tegas Dirga kepada Pak Leo sebelum akhirnya dia memutar tubuhnya melangkah pergi meninggalkan Kirania dan Pak Leo menuju ruangannya, membuat dada Kirania terasa sesak.
" Kamu dengar apa yang Pak Dirga bilang?" tanya Pak Leo kepada Kirania.
" Iya, Pak," lirih Kirania, tubuhnya serasa langsung melemas saat mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Dirga untuknya tadi.
" Lalu kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Pak Leo kembali.
" Ya sudah, sekarang kamu kembali ke tempatmu." perintah Pak Leo kemudian meninggalkan Kirania juga menuju ruangan Dirga.
Kirania berjalan memasuki lift menuju lantai enam di mana ruang divisi marketing berada. Kirania menyandarkan tubuhnya ke dinding lift seraya menengadahkan kepalanya, menahan serbuan hawa panas di bagian matanya. Sekuat tenaga dia berusaha menghindari Dirga. Dengan susah payah dia mengikis perasaannya kepada pria itu. Tapi kenapa kini dia malah dipertemukan kembali dengan pria yang selama enam tahun ini selalu mengusik ruang rindunya. Kenapa harus kembali berurusan dengan pria yang dengan sangat terpaksa harus dia putuskan. Sekarang dia harus dihadapkan kembali kepada pria masa lalu yang menjadi mantan terindahnya itu. Yang kini menjadi atasannya dan juga telah mempunyai seorang anak perempuan. Kirania memejamkan matanya, seketika itu juga buliran air mata langsung luruh di pipinya.
***
Kirania melangkah pelan dengan kepala menunduk menuju ruang kerjanya.
" Ran, kamu ke mana, sih? Tadi Pak Leo telepon tanya arsip yang dia minta." Winda langsung menyongsong Kirania dengan pertanyaan.
" Sudah aku kasih ke Pak Leo suratnya." Kirania menjawab pelan.
" Kamu kenapa, Ran?" tanya Sheril saat melihat wajah Kirania murung dengan mata memerah.
Sejak Winda mendapatkan telepon dari Pak Leo kembali, seisi ruangan itu langsung cemas, karena mereka khawatir Kirania akan mendapatkan masalah karena telat mengantarkan arsip yang diminta Pak Leo.
" Ran, kamu kena marah big bos, kah?" tanya Sheril lagi cemas.
__ADS_1
Kirania pun menceritakan alasan yang menyebabkan dia terlambat mengantarkan arsip yang ditunggu oleh Pak Leo.
" Oh my God. Aku harap big bos nggak sampai menyalahkan kamu, Ran." Sheril merangkul pundak Kirania.
" Ini semua gara-gara lu, Win!" tuding Pandu menatap kesal Winda.
" Kok lu salahin gue?"
" Ya karena tadi kamu yang suruh Rania antar arsip ke Pak Leo. Itu semua 'kan mestinya tugas kamu yang diminta Pak Leo suruh antar." April pun turut menyalahkan Winda.
" Ya maaf ..." hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Winda.
" Maaf kamu nggak akan merubah keadaan. Gimana kalau Pak Dirga malah menyudutkan Kirania atau lebih parahnya malah memecat Rania?" Pandu masih kesal karena ulah Winda.
" Tapi Rania bilang dia bermaksud menolong anak Pak Dirga, nggak mungkin big bos sampai pecat dia. Nggak usah lebay gitu, deh," sanggah Winda.
" Enak banget lu ngomong gitu!" Pandu makin emosi karena Winda.
Kirania kemudian melangkah masuk ke ruangannya meninggalkan Pandu dan Winda yang masih berdebat. Sungguh bukan karena dia akan dihukum karena dianggap membuat anak Dirga itu ketakutan. Tapi perjumpaannya kembali dengan pria itulah yang membuat dirinya seakan terpuruk.
Mau dikatakan apa lagi ...
Kita tak akan pernah satu ...
Engkau di sana aku di sini ...
Meski hatiku memilihmu ...
Dan dari audio yang terpasang di ruang kerjanya yang memang biasa menyetel musik terdengar suara Raisa yang melantukan tembang yang semakin membuat hati Kirania semakin tergigit.
Bersambung ...
Apa yang akan terjadi setengah jam kemudian? Penasaran? tunggu jawabannya besok ya readers Bang Dirga tersayank š
BTW banyak yang kaget Bang Dirga udah punya anak. Padahal di bab² sebelumnya aku udah kasih tau ada clue di novel MSI tentang gambaran kisah Rania dan Dirga 6 THN kemudian akan seperti apaš¤
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1