RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tak Perlu Memikirkan Hal Lain


__ADS_3

" Assalamualaikum ..." sapa Karina saat memasuki rumah orang tuanya selepas pulang kerja.


" Waalaikumsalam ..." Dirga yang sedang menunggu Kirania di ruang tamu pun membalas salam Karina


" Kak Dirga?" Karina terperanjat saat mendapati Dirga yang berada di ruangan tamu. Dia memang sempat melihat mobil terparkir di halaman tapi itu bukan mobil Dirga yang dia tahu.


" Kamu baru pulang?" tanya Dirga.


" I-iya, Kak. Baru selesai lembur," sahut Karina menyalami Dirga.


Dirga lalu mengacak rambut Karina. " Thanks ya, Rin." Dirga mengucapkan terima kasih atas bantuan adik dari Kirania itu dalam usaha 'penculikan' Kirania kemarin.


" I-iya, Kak." Karina menyahuti. " Yang lain mana? Kok sepi?" Karina mengedar pandangan ke ruang dalam yang nampak sepi.


" Ada Tante kamu sedang panaskan makanan untuk makan malam. Yang lain sedang ke rumah orang tua Gilang."


Karina membulatkan matanya mendengar jika keluarganya sedang bertamu ke rumah Gilang.


" Siapa saja ke rumah Kak Gilang?" Karina penasaran.


" Kakakmu, Mama Saras dan Om kamu."


" Apa sudah dari tadi, Kak?"


" Sudah hampir setengah jam."


Setelah mendapat jawaban dari Dirga, Karina langsung berlari keluar membuat Dirga mengeryitkan matanya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Karina, Dirga sendiri tak tahu.


Karina mengendarai motornya menuju rumah Gilang, tapi dia tidak berniat ikut bergabung dengan keluarganya yang sudah lebih dulu datang ke rumah Gilang. Karina memantau dari luar, sampai akhirnya dia melihat keluarganya itu berpamitan pulang dan meninggalkan rumah Gilang.


Karina lalu memandang ke arah rumah Gilang, dia mendapati kedua orang tua Gilang yang masih berdiri di teras rumahnya. Karina bergegas masuk ke pekarangan rumah Gilang sebelum kedua orang tua Gilang itu masuk ke dalam rumah.


" Tante, Om ... assalamualaikum," sapa Karina sesampainya di dalam pekarangan rumah Gilang dengan berlari, dia sampai meninggalkan motornya di luar rumah Gilang.


" Waalaikumsalam, Karina? Ada apa?" Om Burhan membalas salam Karina.


" Keluarga kamu sudah pulang barusan." Tante Melly lebih ketus menjawab.


" I-iya aku tahu Tante. Aku kemari karena ..." Karina menggigit bibirnya, sedikit ragu untuk mengatakan maksudnya.


" Karena apa? Cepat ngomongnya, kami mau masuk." Tante Dini kembali berkata tak ramah.

__ADS_1


" Mah, jangan begitu." Om Burhan meminta istrinya agar tidak bersikap jutek terhadap Karina.


" Ck, lagian mau apa lagi, sih? Pertunangan kakak kamu sama Gilang sudah tutup buku. Kakak kamu sendiri yang memutuskan seperti itu." Sambil melipat tangan di dadanya dan membuang muka, Tante Dini berucap seperti itu.


" Aku atas nama Mbak Rania meminta maaf atas semua yang terjadi Tante, Om ...."


" Sudahlah ... tidak perlu dibahas lagi soal itu. Cepat katakan saja apa maksudmu datang kemari?" Tante Dini memang tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya atas keputusan Kirania.


" Ini soal aku sendiri, Tan, Om ...."


" Kamu? Memang kamu kenapa?" Om Burhan mengeryitkan keningnya. " Ayo masuk-masuk, kita bicara di dalam saja." Om Burhan menyuruh Karina masuk untuk membicarakan apa yang ingin disampaikan adik dari Kirania itu. Walaupun awalnya ditentang oleh istrinya namun Tante Dini akhirnya hanya bisa mengikuti apa keputusan dari suaminya.


" Coba jelaskan apa maksud kamu, Karina?" lanjut Om Burhan.


" Aku ... Karina suka sama Kak Gilang, Om. Karena itu jika pertunangan Mbak Rania dengan Kak Gilang batal, ijinkan Karina yang menggantikan tempat Mbak Rania, Om." Karina langsung menundukkan kepala setelah mengatakan tujuannya datang ke rumah Gilang.


Ungkapan hati Karina tentu saja membuat Om Burhan dan Tante Dini terkesiap, mereka tidak menduga jika adik Kirania itu mempunyai perasaan suka terhadap anaknya.


" Karina ... pertunangan itu bukan suatu pekerjaan yang bisa dipindahtangankan, karena itu melibatkan hati. Mana mungkin kamu menggantikan kakak kamu, karena Gilang tidak mempunyai perasaan terhadap kamu, Gilang itu mencintai Kirania, kakak kamu." Om Burhan mencoba menjelaskan.


" Aku tahu, Om. Lalu apa bedanya aku dengan Kak Gilang? Kak Gilang mencintai Mbak Rania, tapi Mbak Rania mencintai orang lain. Karina juga mencintai Kak Gilang walaupun Kak Gilang mencintai orang lain. Posisi aku dan Kak Gilang sama saja 'kan, Om? Kalau Kak Gilang yakin bisa meluluhkan hati Mbak aku, Karina juga yakin akan bisa meluluhkan hati Kak Gilang suatu saat nanti, jika Karina diberi kesempatan untuk dekat dengan Kak Gilang." Karina bersikukuh.


" Karina mengerti, Om. Om dan Tante tidak perlu memaksa Kak Gilang, cukup mengijinkan aku mendekati Kak Gilang. Aku akan menebus kesalahan Mbak Rania, dengan mencintai Kak Gilang dengan tulus. Om, Tante ... restui Karina mengambil hati Kak Gilang." Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca Karina mengajukan permohonan kepada kedua orang tua Gilang.


Om Burhan menghela nafas panjang lalu melirik ke arah istrinya yang hanya mengedikkan bahunya menyerahkan keputusan pada suaminya.


" Baiklah, Karina ... kami mengijinkan kamu untuk mendekati Gilang, tapi jika akhirnya sikap Gilang tidak bisa menerima kamu, kamu harus berbesar hati dan jangan terlalu memaksakan kehendak." Om Burhan memutuskan.


Karina langsung duduk bersimpuh dan menangis di hadapan Om Burhan dan Tante Dini.


" Terima kasih, Om, Tante. Karina janji, Karina akan mengobati luka hati Kak Gilang karena kecewa akan sikap Mbak Rania. Aku janji Om, Tante ..." Tak henti Karina terisak karena bahagia karena kedua orang tua Gilang merestuinya. Dari sini lah awal kisah Karina dan Gilang. Entah akan seperti apa perjuangannya untuk mendapatkan hati pria yang sebenarnya sudah dia puja sejak dulu, namun selalu berusaha dia tepis karena di tahu Gilang hanya menyukai Kirania.


***


" Kamu menginap di mana, Kak?" tanya Kirania saat Dirga sudah meminta ijin pamit kepada keluarga Kirania.


" Hotel dekat sini saja, karena aku nggak mau jauh-jauh dari kamu." Dirga mencubit hidung mancung Kirania.


" Besok ke sini jam berapa? Jangan siang-siang ya, Kak."


" Kenapa? Nggak tahan ya berlama-lama jauh dari aku." Dirga memberikan sebuah kecupan di pipi Kirania saat mengakhiri kalimatnya.

__ADS_1


" Kak, iiihh ...." Kirania memegang pipinya seraya menjauhkan tubuhnya dari Dirga.


" Kenapa? Biasanya dicium bibir saja nggak protes, kok." Dirga meledek


" Nggak enak kalau dilihat Mama, Om atau Tante ...."


" Kalau mau enak, ikut ke hotel saja, yuk." Dirga berbisik seraya mengerlingkan matanya kembali menggoda Kirania hingga membuat wajah wanita itu bersemu merah.


" Kak ..." Kirania memberikan cubitan di pinggang Dirga, membuat Dirga terkekeh.


" Om Malik bilang semua urusan pendaftaran pernikahan kita sudah beres, akhir pekan ini kita akan menikah. Aku rasanya tak sabar untuk menghalalkan kamu, Yank."


Semburat merah semakin jelas terlihat di wajah cantik wanita itu kala mendengar Dirga mengucapkan hal tadi.


" Mama kamu gimana, Kak?" Kirania mencoba mengalihkan perhatian dengan menanyakan tentang Tante Utami, karena dia masih mengkhawatirkan sikap Mama Dirga yang dulu pernah menentang hubungannya.


" Kamu nggak perlu khawatir, Mama nggak akan menentang keputusanku." Dirga menggenggam tangan Kirania.


" Fokus saja memikirkan bagaimana cara melayani calon suamimu nanti, tak perlu memikirkan hal yang lain, oke?!" Seraya mengedipkan mata Dirga kembali membuat rona wajah Kirania kembali memerah.


*


*


*


Bersambung ...


Alhamdulilah menyusul MSI untuk RTB ini Othor mendapatkan reward kontrak. Berasa kerja keras nulis dari dini hari itu tidaklah sia-sia.


Dan tentu saja dukungan dari readers setia pencinta kisah ini yang tak henti meramaikan kisah RTB dengan like, komen, gift dan vote.


Terima kasih yang sebesar-besarnya🙏🙏 , semoga ini menjadikan Othor semakin giat berkarya menghasilkan novel-novel yang enak dibaca dan yang penting tetap bertahan di platform ini. Karena itu jangan sungkan² memberi like dan komen, karena itu salah satu penyemangat Othor untuk tetap berkarya dan bertahan di sini


Jangan lupa mampir Di Mengejar Suami Impian dan Kisah Cinta Azzahra ya Readers Budiman.


Othor tunggu kehadirannya di sana.


Jangan lupa juga like juga komennya sebagai dukungan untuk karya Othor ini. Hatur nuhun🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2