RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kamu Mencemaskan Aku?


__ADS_3

Kirania menahan langkahnya saat memasuki pekarangan rumah Pakde Danang.


" Kenapa?" tanya Dirga.


" Hmmm, kamu pulang saja, deh, Kak." Kirania merasa cemas menghadapi pakdenya jika tahu saat ini dia pulang bersama Dirga.


" Kalau seperti itu terus, kapan aku bisa dapat restu dari pakde kamu?" Dirga kemudian menarik tangan Kirania melangkah dengan mantap mendekati pintu rumah Pakde Danang.


" Assalamualaikum ..." Kirania membuka handle pintu ruang tamu yang tidak terkunci.


" Waalaikumsalam ..." Suara Bude Arum yang menjawab dari dalam, yang kemudian disusul dengan kemunculan wanita paruh baya itu dari balik gorden. " Rania, kamu darimana saja?" Pandangan Bude Arum kini bertumpu pada sosok Dirga yang berdiri di sebelah Kirania. Ada sorot kurang bersahabat yang terpancar dari mata Bude Arum. Sangat berbeda dengan saat pertama kali Dirga menginjakkan kaki di rumah ini.


" Bude ..." Dirga tetap mengulurkan tangannya ingin menyalami Bude Arum. Bude Arum menerimanya, walaupun Bude Arum buru-buru menarik tangannya saat Dirga ingin mencium punggung tangan Bude Arum.


" Kamu darimana saja, Ran? Bude sama pakde cemas nungguin kamu. Nak Yoga juga tadi baru saja pulang. Dia cemas dan merasa bersalah sekali terhadap kami karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Terdengar ada nada sindiran dari ucapannya yang keluar dari mulut Bude Arum.


" A-aku, Rania ...."


" Rania saya ajak pergi, Bude. Maaf jika sikap saya terlalu lancang membawa Rania tanpa seijin Bude dan pakde." Dirga berucap menyampaikan permintaan maafnya karena telah berani membawa Kirania pergi. Apalagi saat itu Kirania sedang bersama Yoga.


" Rania sudah datang, Bu?" Dari balik gorden Pakde Danang akhirnya muncul. Suasana tegang seketika merayap ke seluruh bagian ruangan tamu yang tidak berukuran besar itu. Terutama untuk Kirania, dia sampai menelan saliva dan menggigit bibirnya.


Pakde Danang sendiri menatap penuh intimidasi ke arah Dirga.


" Pakde ..." Sama seperti yang dilakukan kepada Bude Arum, Dirga pun menyalami tangan Pakde Danang. Tapi kali ini Pakde Danang membiarkan Dirga menyentuh punggung tangannya.


" Bu, Rania bawa masuk." Pakde Danang kepada istrinya.


" Iya, Pak. Ayo, Ran ..." Bude Arum menarik lengan tapi tertahan karena Kirania seolah tak ingin bergerak.


" Pakde, Rania minta maaf ..." lirih Kirania yang merasa takut pakdenya itu akan melakukan sesuatu hal yang melukai Dirga.


" Kamu nggak perlu minta maaf, karena kamu nggak salah apa-apa di sini," sahut Pakde Danang. " Sekarang kamu masuk. Ada yang ingin Pakde bicarakan dengan dia." Pakde Danang menunjuk Dirga dengan gerakan dagunya.


Kirania langsung menoleh ke arah Dirga. Dirga membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. Seolah dia menyetujui Kirania mengikuti perintah pakdenya.


" Duduk!" perintah Pakde Danang kepada Dirga saat Kirania dan budenya sudah masuk ke dalam rumah.


" Kamu masih ingat apa yang saya putuskan beberapa waktu lalu?" tanya Pakde Danang dengan nada dingin.


" Saya ingat Pakde," jawab Dirga.


" Lalu kenapa kamu melanggarnya? Apa kamu berpikir saya main-main dengan ucapan saya?" tanya Pakde Danang penuh intimidasi.

__ADS_1


" Semua itu saya lakukan karena saya sayang Kirania, Pakde!" tegas Dirga tak ingin terpengaruh oleh intimidasi yang dilancarkan Pakde Danang.


" Kirania itu gadis polos. Dia belum paham untuk masalah laki-laki. Saya hanya melindungi keponakan saya, agar tidak dikecewakan atau disakiti oleh laki-laki mana pun."


" Saya tidak akan menyakiti Kirania, Pakde. Saya berjanji."


" Tapi kenyataannya, apa yang sudah kamu tunjukkan jauh dari perkataan kamu itu. Kirania selalu terlihat menangis dan bersedih sejak kenal kamu."


Dirga menundukkan kepalanya. Dia menyadari belakangan ini dia sudah bersikap sangat keterlaluan terhadap Kirania.


" Saya minta maaf, Pakde. Ijinkan saya menebus kesalahan saya. Saya akan membuktikan jika saya benar-benar serius dan tidak ingin mengecewakan apalagi menyakiti Kirania." Dirga teguh pada pendiriannya.


" Carilah wanita lain. Pasti banyak wanita yang berharap ingin kamu dekati. Jangan Kirania!" Perintah Pakde Danang.


" Tapi yang saya sukai itu Kirania, Pakde. Bukan yang lain," tegas Dirga.


" Ijinkan saya untuk dekat dengan Kirania, Pakde. Ijinkan saya menyanyangi dia," Dirga memohon dengan nada yang sangat tenang. Dia ingin terlihat serius dengan niatnya.


Pakde Danang menarik nafas dalam-dalam. Anak muda yang dihadapinya saat ini termasuk pria yang sangat kuat akan pendiriannya.


***


Kirania terlihat cemas di kamarnya. Dia terlihat berjalan hilir mudik seperti orang yang kebingungan. Kirania sangat penasaran dengan apa yang terjadi di ruang tamu antara Dirga dan pakdenya. Sesekali dia berjalan mendekati pintu, ingin membuka pintu dan keluar, tapi niat itu kembali diurungkannya karena takut pakdenya akan marah.


Ddrrtt ddrrtt


Kirania melirik ponselnya yang ditaruh di tepi tempat tidurnya. Dengan cepat dia meraih ponsel itu. Ternyata pesan dari Yoga yang masuk ke ponselnya. Seketika itu juga hatinya mencelos, seperti kecewa karena Yoga yang mengirimnya pesan.


" Assalamualaikum, kamu di mana sekarang, Ran? Apa kamu baik-baik saja?" Itu isi pesan yang dikirimkan Yoga untuknya.


" Waalaikumsalam, aku sedang di rumah. Aku baik-baik saja. Soal yang kamu katakan di cafe kemarin. Kamu sudah tahu jawabannya, kan? Aku minta maaf atas perbuatan Kak Dirga terhadap kamu. Tapi aku mohon mulai sekarang, agar kamu bisa jaga jarak sama aku. Aku nggak mau kamu mendapatkan masalah lagi " Dengan cepat Kirania membalas chat dari Yoga.


" Tapi kamu baik-baik saja, kan?"


" Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Sudah dulu ya, Assalamualaikum." Kirania menyudahi chat nya dengan Yoga dan menaruh kembali ponselnya di atas kasur.


Kirania kembali berjalan bolak-balik sambil mengusap tengkuknya mencoba mengusir rasa gelisah yang terus bergelayut di hatinya.


Ddrrtt ddrrtt


Terdengar suara telepon berbunyi, kali ini tanda telepon memanggil.


" Ck, apalagi, sih?" gumam Kirania mengira Yoga yang kini meneleponnya.

__ADS_1


Dengan malas dia meraih ponsel itu dan melihat layar ponselnya. Matanya seketika membulat saat melihat nama Dirgantara yang kini melakukan panggilan masuk ke ponselnya. Dengan cepat dia mengusap layar ponsel untuk menjawab panggilan masuk itu.


" Assalamualaikum, Kak Dirga di mana sekarang? Pakde bilang apa? Apa Pakde mengusir Kak Dirga? Apa Pakde marah sama Kak Dirga?" Rentetan pertanyaan langsung dilontarkan Kirania saat menjawab panggilan masuk itu.


" Waalaikumsalam. Hei, satu-satu nanyanya, dong." Dirga terkekeh saat menangkap nada suara Kirania yang terdengar mencemaskannya. " Kamu mencemaskan aku, ya?" Suara Dirga terdengar seolah menggoda Kirania.


" A-aku hanya takut pakde lepas kontrol dan dilaporkan ke polisi sama kamu." Kirania mencoba menyangkal jika dia benar-benar khawatir akan pria itu.


" Masa sih, nggak cemas sama aku?"


" Pakde bicara apa?" Kirania mengalihkan pembicaraan. Dia sangat malu jika Dirga terus menggodanya. Walaupun mereka tidak berhadapan muka, bukan berarti wajah Kirania tidak memerah saat itu.


" Bilang dulu kalau kamu mencemaskan aku."


" Apa susahnya sih, bilang pakde bicara apa tadi?!"


" Apa susahnya sih, bilang 'iya aku cemas sama kamu'? hehehe ..." Dirga terkekeh.


" Ck, menyebalkan ..." Kirania mencebik.


" Kamu nggak usah khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Aku sedang arah pulang sekarang. Kamu sudah sholat Isya belum? Sholat dulu, sana! Lantas istirhat jangan tidur terlalu larut. Besok aku jemput kamu berangkat ke kampus, ya?" Kirania membulatkan bola matanya mendengar kalimat terakhir Dirga.


" Kak Dirga mau jemput kemari?"


" Iya, dong. Memangnya kamu tinggal di mana lagi selain di rumah pakde kamu sekarang ini?"


" Pakde kasih ijin?"


" Menurut kamu?" Terdengar tawa kecil Dirga di telinga Kirania. " Sudah dulu, ya. Aku sedang berkendaraan. Jangan lupa sholat dan jangan tidur tengah malam. Assalamualaikum ..."


" Waalaikumsalam ...."


Kirania langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kaki menggantung ke lantai dan dengan tangan yang memegang ponsel menyilang di dadanya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Yang terasa di dadanya saat ini serasa ditumbuhi ratusan bunga yang sedang bermekaran.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2