
Hari ini Dirga membawa Kirania pulang ke apartemennya di Jakarta.
" Kamu ingin kita tinggal di mana, Yank? Di apartemen ini atau di rumah biasa?" tanya Dirga saat Kirania selesai memasukkan baju-bajunya ke lemari pakaian.
" Rumah mana?" Kirania mengeryitkan keningnya.
" Mama memberikan hadiah pernikahan sebuah rumah, seperti saat menikah dengan Nadia dulu. Kalau kamu ingin tinggal di rumah, nanti kita pindah saja ke sana." Dirga menerangkan.
" Aku mau di sini saja deh, Mas. Nanti mungkin kalau sudah ada anak kita baru pindah ke sana." Kirania menyahuti yang langsung membuat Dirga menyeringai.
" Kalau begitu ayo kita bikin anak." Dirga langsung mengangkat tubuh Kirania dan meletakkannya di atas tempat tidur.
" Mas, jangan sekarang. Aku lelah sekali." Kirania mengeluh.
" Kau ini banyak alasan."
" Aku benar-benar lelah, Mas. Tadi pagi kamu sudah aku kasih, istirahat dulu. Kamu terlalu perkasa dan aku belum bisa mengimbanginya." Dengan wajah merona Kirania mengucapkan kalimat tadi.
" Okelah, aku kasih kamu waktu untuk mengumpulkan tenaga untuk nanti malam." Dirga lalu merebahkan tubuhnya di samping Kirania.
" Mas, aku boleh tanya?"
" Tanya apa?"
" Saat kamu menikah dengan Bu Nadia dulu, apa kalian pernah melakukan ini?" tanya Kirania malu-malu.
" Melakukan apa, hmm?" tanya Dirga memposisikan tubuhnya kini menghadap Kirania.
" Melakukan seperti yang kita lakukan."
" Hubungan suami istri maksudmu?"
" Iya ...."
" Kamu sudah tahu 'kan alasan aku menikahi Nadia karena apa? Aku sangat marah dan kesal saat aku diminta menggantikan posisi Bang Bima menikahi Nadia, jadi bagaimana mungkin aku menyentuhnya? Aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak aku cintai." Jemari tangan Dirga menyampirkan rambut Kirania ke belakang telinga istrinya itu.
" Bu Nadia pernah bilang padaku, kamu berhenti mencintainya karena kamu nggak sanggup menjalani hubungan jarak jauh. Lalu kenapa kamu nggak melakukan hal yang sama terhadapku, Mas? Padahal kita sudah berpisah selama enam tahun, tapi kenapa rasa cinta kamu ke aku tidak juga pupus?" Kirania menatap manik mata sang suami.
" Itu karena saat kita putus dulu, kau sudah membawa hatiku pergi bersamamu, Sayang. Sehingga aku tidak bisa untuk beralih dan memberikan cintaku kepada wanita lain." Ucapan Dirga membuat cairan bening langsung menganak sungai di mata Kirania.
" Aku sangat terharu atas perasaan kamu ke aku, Mas. Aku nggak pernah menyangka aku sampai dicintai begitu dalam olehmu. Sebab kalau ingat bagaimana kita awal bertemu, apalagi saat aku tahu kalau kamu menjadikan aku sebagai taruhan ...."
" Sssttt ... sudah jangan diingat lagi soal itu. Anggap itu sebagai jalan terjal kita untuk mencapai ke titik ini." Dirga menyeka air mata yang akhirnya luruh di pipi Kirania.
Teetttt
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar bunyi bel berbunyi, Dirga langsung melihat arah layar monitor CCTV di bagian pintu depan.
" Kau bukankan pintunya sana, Kayla yang datang." Dirga menyuruh Kirania membukakan pintu apartemen yang dengan segera dituruti istrinya itu.
" Ateu Lania ..." sapa Kayla saat Kirania membukakan pintu apartemen.
" Oh hai, Kayla. Apa kabar, Sayang?" Kirania membungkukkan tubuhnya mensejajarkan posisinya dengan gadis kecil itu seraya mengusap lembut pipi Kayla.
" Aku baik, Ateu Lania," jawab Kayla riang.
" Ayo masuk," Kirania langsung meraih tangan mungil Kayla lalu menggenggamnya. " Masuk, Sus." Kirania menyuruh pengasuh Kayla untuk masuk.
" Maaf, Bu. Saya diminta Pak Dirga hanya mengantar Kayla saja, Kayla ditinggal di sini," jelas Sus Wati.
" Oh gitu, ya sudah ... makasih banyak ya, Sus."
" Iya, Bu. Permisi ..." pamit Sus Wati.
" Iya, hati-hati." Kirania langsung menutup pintu yang langsung otomatis terkunci.
" Papa mana, Ateu?" tanya Kayla saat dia tidak melihat keberadaan Dirga.
" Papa ada di kamar." Kirania menunjuk ke arah kamar atas. " Ayo kita temui papa." Kirania langsung menggendong tubuh gadis mungil itu dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Dirga.
" Hai, Sayang ..." Dirga langsung merentangkan tangannya menyambut Kayla yang lalu memeluknya.
" Kela kangen Papa." kepala gadis mungil itu bersandar di bahu kokoh Dirga.
" Papa juga kangen sama Kayla. Kayla nakal nggak selama nggak ketemu Papa?" tanya Dirga mengusap kepala anak dari kakaknya itu.
" Nda kok, Pa. Kela nda nakal."
" Pintar, anak Papa mesti pintar ya, jangan nakal, walaupun nanti Kayla jauh dari Papa."
" Pa, kata mama nanti Kela mau pelgi jauh dan nda ketemu papa sama nenek lama."
" Iya, Sayang. Nanti kalau jauh dari Papa dan nenek Kayla mesti jagain mama, ya? Nanti di sana Kayla akan berkumpul sama Opa Fachri dan Oma Farah di sana."
" Memang Bu Nadia akan ke mana, Mas?" Kirania yang sedari tadi mendengar percakapan Dirga dan Kayla ikut bertanya.
" Nadia ingin kembali ke tempat orang tuanya di Milan, dan berencana membawa Kayla ikut serta ke sana." Dirga menerangkan.
" Mama kamu pasti akan sedih harus jauh dengan Kayla ya, Mas?" Kirania mengusap lembut pucuk kepala Kayla.
" Sudah pasti. Kayla satu-satunya peninggalan milik Bang Bima yang sangat berharga, tentu berat untuk mama melepas Kayla. Tapi Nadia sebagai orang tua Kayla dia juga punya hak untuk membawanya ke mana pun dia ingin tinggal." Dirga kini mengelus pipi Kirania. " Jangan khawatir, kita bisa berikan cucu-cucu yang lucu kepada mama nanti, Sayang." ujar Dirga seraya mengerlingkan matanya.
__ADS_1
" Papa kok cayang-cayangan cama Ateu Lania?" tanya Kayla saat melihat tindakan Dirga yang mengelus pipi Kirania.
" Sayang, mulai sekarang Kayla harus panggil Mama ke Tante Rania, ya," ucap Dirga kepada Kayla.
" Kenapa halus panggil Mama? Kela 'kan sudah punya Mama Nadia," jawab gadis itu.
" Iya, sekarang Kayla punya Mama dua, Mama Nadia, dana Mama Rania."
" Mas, jangan terburu-buru biarkan dia memahaminya nanti." Kirania meminta Dirga untuk tidak terlalu cepat meminta Kayla menerima posisinya.
" Mama dua? Kok Papanya satu? Halusnya Papanya juga dua dong, Pa. Bial adil ..." Kayla menghitung jari di tangannya.
" Kayla mau punya Papa dua?" tanya Dirga terkekeh.
" Iya."
" Kalau begitu Kayla bilang sama Mama Nadia, bilang Kayla minta Papa baru, ya."
" Mas ..." Kirania menggelengkan kepala menanggapi sikap suaminya.
" Kenapa mintanya ke Mama, Pa?"
" Ya karena Mama Nadia yang bisa kasih Kayla papa baru." Dirga lalu bangkit dan duduk bersandarkan punggung tempat tidur.
" Yank kemarikan ponselku." Dirga meminta Kirania mengambil ponselnya.
" Kamu mau telepon siapa, Mas?" Kirania mengeryitkan keningnya.
" Calon papa baru buat Kayla." Dirga menyeringai menjawab pertanyaan Kirania.
" Papa baru? Siapa?" Kirania dibuat penasaran dengan kata-kata Dirga.
" Nanti juga kau tau sendiri." Dirga langsung menghubungi nomer seseorang dan melakukan panggilan video call dengan orang yang dia maksud calon papa baru untuk Kayla.
*
*
*
Bersambung ...
Mohon maaf jika kemarin up nya telat banget, karena sedang kurang enak badanš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1