
Gilang baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat Ashar saat ponselnya berbunyi. Gilang langsung melihat ponselnya, wajahnya langsung tersenyum saat melihat nama Mama Saras yang menghubunginya.
" Hallo, Assalamualaikum, Ma. Gilang baru saja mau menghubungi Mama." Gilang menyapa lebih dahulu calon mertuanya.
" Waalaikumsalam, kamu mau telepon Mama? Kamu mau kasih kabar soal Rania?" Mama Saras dengan cepat menimpali.
" Kabar soal Rania? Maksudnya gimana, Ma?" Gilang yang awalnya terlihat sumringah mulai menampakan wajah seriusnya.
" Rania nggak ada hubungi kamu?"
" Tadi pagi saja aku WhatsApp dia, Ma. Siang tadi aku hubungi nomernya nggak aktif. Memangnya ada kabar apa ya, Ma?" Hati Gilang mulai tak tenang.
" Hmmm, Rania nggak ada di rumah. Tadi siang dia pamit ke Mama mau pulang ke rumah sebentar terus balik ke toko lagi. Tapi ternyata sampai Mama tutup toko dan sampai di rumah anak itu nggak ada. Mama hubungi teleponnya juga nggak aktif. Motor yang dia bawa ada di halaman rumah. Pagar rumah juga terkunci tapi anehnya kunci motor sama kunci rumah tergeletak di lantai pekarangan rumah. Seperti sengaja dilempar dari luar kuncinya."
Hati Gilang sudah mulai dirayapi perasaan gelisah. " Apa Rania nggak bilang apa-apa sebelumnya sama Mama?"
" Ya cuma bilang ingin pulang sebentar nanti balik lagi ke toko. Mama sudah hubungi Karina, siapa tahu Rania hubungi dia, tapi ternyata nggak ada."
Gilang mendengus kencang seraya megusap kasar wajahnya. " Ma, apa ada hal yang mencurigakan yang Mama rasakan pada Rania belakangan ini?"
" Hal mencurigakan? Nggak ada seingat Mama." Mama Saras menjawab. " Tapi ...."
" Tapi apa, Ma?" Gilang cepat meminpali, dia benar-benar tidak sabar ingin mengetahui apa yang ingin dikatakan Mama Saras.
" Beberapa hari lalu ada tamu datang kemari, wanita. Siapa ya ... Mama lupa namanya. Dia dari Jakarta. Mama sempat lihat dia menangis saat bicara dengan wanita itu."
" Menangis? Apa wanita itu berkata kasar pada Rania, Ma?" Gilang seketika khawatir wanita itu menyakiti Kirania.
" Tidak, wanita itu ramah dan santun bicaranya, kok."
" Mama tahu ciri-ciri wanita itu?"
" Tinggi, cantik, kulit putih bersih, rambut panjang agak sedikit pirang."
Gilang memejamkan mata mendengar ciri-ciri yang disebutkan Mama Saras. " Apa nama wanita itu Nadia?"
" Nadia? Ah ... iya benar, namanya Nadia."
" ****!" Gilang mengumpat dalam hati.
" Kamu kenal dia, Lang?" tanya Mama Saras.
" Dia istri Dirga, Ma."
" Istri Dirga? Astaghfirullahal adzim."
" Memang Mama nggak tanya sama Rania siapa wanita itu, Ma?"
" Tanya, cuma Rania bilang dia itu manajer marketing, atasannya dia waktu di Jakarta."
Tangan Gilang kemudian mengepal, rahangnya pun mulai mengeras. sepertinya dia sudah bisa menebak siapa otak dibalik menghilangnya Kirania.
***
Dirga sedang menandangani beberapa berkas yang sudah disiapkan Lisna di meja kerjanya saat ketukan pintu dibarengi suara Lisna terdengar.
" Maaf, Pak. Di bawah ada tamu, dia maksa ingin bertemu Bapak. Namanya Pak Gilang, Kepala Cabang Bank XXX."
Gigi Dirga langsung mengerat saat mendengar nama pria yang kini telah menjadi tunangan dari wanita yang dicintainya itu. " Mau apa dia kemari?" batinnya.
__ADS_1
Dirga melirik ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan jam empat sore lewat lima belas menit.
" Biarkan dia masuk!" perintahnya pada Lisna.
" Baik, Pak." Lisna pun melangkah keluar ruangan Dirga.
Sepuluh menit kemudian Lisna kembali dengan seorang pria yang Dirga kenal adalah Gilang.
" Ada perlu apa Anda kemari?" ketus Dirga dengan nada dingin.
" Saya yang harusnya bertanya, Anda sembunyikan di mana tunangan saya?!" geram Gilang dengan tangan mengepal.
Dirga mengeryitkan keningnya. Sungguh situasi ini serasa Dejavu dengan posisi yang berbeda.
" Apa maksud Anda?" Dirga berdiri menghampiri Gilang.
" Anda jangan pura-pura! Ini pasti rencana licik Anda dengan menyembunyikan Rania!"
" Apa kau bilang? Aku menyembunyikan Rania? Apa maksudnya Rania kabur?"
" Jangan bersandiwara di depan saya. Ini pasti rencana licik Anda. Setelah menyuruh istri Anda mempengaruhi saya dan Rania, kini Anda menyembunyikannya! Anda tidak lebih dari seorang pecundang Tuan Dirgantara!!" hardik Gilang dengan wajah penuh amarah.
" Jaga bicara Anda!!"
" Loser!! Kau seorang pengecut, Dirgantara!!" pekik Gilang.
Buggghh
Sebuah tinju langsung mengenai wajah tampan Gilang, bahkan darah mulai menetes dari hidung Gilang.
" Breng*sek!!! Berani sekali kau menghinaku!!" Dirga kembali menarik tubuh Gilang yang tadi sedikit limbung. Tapi sebelum Dirga memberikan hantaman kedua, Gilang lebih dulu menghantam perut Dirga hingga membuat Dirga sempoyongan. Melihat Dirga melemah, Gilang kembali memberikan tendangan ke tubuh Dirga hingga Dirga terjatuh di sofa. Gilang hendak kembali menarik baju Dirga, dan Dirga mengambil kesempatan itu. Kini giliran Dirga yang menyerang Gilang dengan menendangkan kakinya ke arah perut hingga membuat Gilang terpental. Entah berapa banyak barang yang tersenggol, terjatuh dan pecah karena adu duel pria yang mencintai satu wanita yang sama. Mereka benar-benar berduel ala pria dengan tangan kosong tanpa mengunakan alat yang bisa menguntungkan mereka untuk mengalahkan lawan.
" Itu dia orangnya, Pak."
" Pak Dirga, Bapak tidak apa-apa?" Pak Sean langsung membantu Dirga. " Kalian, tangkap orang itu!" perintah Pak Sean kepada kedua satpam.
" Kalian, bawa dia keluar, dan jangan pernah kalian biarkan orang itu menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi. Paham kalian?!" tegas Dirga.
" Baik, Pak ..." Kedua satpam bertubuh tegap itu langsung mencengkram lengan Gilang tapi dengan cepat Gilang menepisnya.
Seraya mengelap darah yang masih menetes di hidungnya dia berkata, " Urusan kita belum selesai! Saya tidak akan biarkan KAU merebut Rania dariku!!" ancam Gilang menekankan pada kata 'Kau' dalam ucapannya, kemudian melangkah meninggalkan ruang kerja Dirga diikuti kedua satpam tadi.
***
Dengan sedikit berlari Dirga memasuki rumah tinggal Nadia. Dia benar-benar butuh penjelasan dari wanita itu. Bahkan sejak tahu jika Nadia dan mamanya lah yang menyebabkan Kirania meninggalkannya enam tahun lalu pun, dia belum sempat kembali menemui wanita itu.
" Tuan Dirga?" sapa Bi Imah saat melihat kedatangan Dirga dengan wajah lebam di beberapa bagian.
" Mana Nadia?" tanya Dirga dengan aura yang sangat dingin.
" Ibu di kamar, Tu ..." Tak sempat Bu Imah menyelesaikan kalimatnya, Dirga sudah terlebih dahulu berlari menaiki anak tangga.
" Nadia !!" teriak Dirga seraya membuka knop pintu kamar wanita yang sebentar lagi akan berstatus mantan istri itu.
" Astaga, kau mengangetkanku, Mas." Nadia yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan bathrobe terperanjat saat melihat Dirga tiba-tiba muncul di hadapannya dengan berteriak. " Mas, kamu kenapa? Kamu habis berkelahi?" tanya Nadia melihat memar di wajah Dirga.
" Apa lagi yang telah kau lakukan ada Rania, hahh?!" Dirga mencengkram leher Nadia hingga membuat Nadia kesulitan bernafas.
" M-mas, le-lepas-kan ..." Nadia benar-benar sukar untuk menghirup oksigen.
__ADS_1
" Apa belum puas kau menyakiti dia, Nadia?!" Dirga menghempaskan tubuh Nadia ke atas tempat tidur.
" Apa kau belum cukup puas jadi pengacau selama ini di antara hubunganku dengan Rania, hah?!" murka Dirga menghamburkan semua perlengkapan kosmetik di atas meja rias Nadia hingga tercecer di lantai dan tempat tidur.
" Apa yang kau katakan pada Rania, hingga sekarang dia pergi?! Apa kau mengancamnya? Katakan apa yang kau katakan padanya, Nadia?!" Dirga menendang springbed hingga membuat Nadia beringsut ketakutan.
" Katakan!! Apa kau yang menyembunyikan Rania?! Di mana kau sembunyikan dia?! Katakan!!!" bentak Dirga kembali menarik tubuh Nadia, mengoncangnya lalu menghempaskan kembali ke atas tempat tidur membuat Nadia terisak.
" A-aku tidak mengerti apa maksudnya, Mas." Nadia benar-benar ketakutan menghadapi Dirga.
" Bohong!! Kau menemui Rania, dan kau juga menemui tunangannya. Apa masih bilang kau tidak mengerti?! Apa tujuanmu sebenarnya, Nadia?! Apaa?!" Suara teriakan Dirga menggelegar di dalam kamar Nadia.
Nadia terus menangis sesekali waktu memejamkan matanya. Dia tidak punya keberanian apa-apa walaupun untuk melakukan pembelaan diri. Mungkin jika saat itu juga Dirga berniat menghilangkan nyawanya dia pasrah tak sanggup berbuat apa-apa.
***
" Halo, ada apa? Apa kau merindukanku?"
Suara Edward dari dalam ponsel terdengar menggoda Nadia.
" Hiks, hiks ...."
" Hey, are you crying? What's up, my dear?" Edward yang mendengar Isak tangis Nadia langsung serius mendengarkan.
" Do, Kirania menghilang. Apa kamu yang menculik Kirania?"
" What?? suara Edward terdengar memekik kencang hingga membuat Nadia sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
" Tadi Dirga datang kemari. Dia marah-marah, aku takut, Do. Kirania hilang, Dirga menuduh aku pelakunya ... hiks."
" Lalu siapa yang menculiknya?" tanya Edward
" Bukankah kemarin kamu bilang ingin menculik dia, Do. Apa kamu yang melakukannya?"
Edward tergelak mendengar tuduhan Nadia. " Are you kidding me?!"
*
*
*
Bersambung
Nah loh, nah loh ... jadi siapa yang culik Rania?
Abang? Bukan ...
Gilang? Bukan ...
Nadia? Bukan ...
Edo ? Kayanya bukan juga deh
Terus siapa lagi menurut readers yang berpotensi menculik Rania?
Oh ya, Othor yg budiman ini mengucapkan terima kasih buat readers yg setia mengikuti kisah penuh terjal dan berliku si Abang Dirga dan Rania. Baik Readers lama maupun reades baru yg cape² maraton ngejer sampe bab terakhir ( udah ngejar maraton, ngos²an ceritanya bikin nyesek lagi, dasar Othor gada akhlak🤭🤭) Terima kasih yang udah suka, masukin ke favorit, kasih like, kasih komen, vote juga gift, Makasih yang sebesar-besarnya, aku mungkin ga bisa balas banyak, hanya bisa balas dgn selalu rajin up aja ( walaupun kadang isi partnya bikin nyesek pengen nampol Othornya) 🤭🤭
Sambil nunggu kelaniutan kisah RTB mampirlah di kisah Mengejar Suami Impian kisah cintanya Natasha & Yoga, kisahnya ga kalah seru, tapi dikemas dengan konflik yg lebih ringan dengan ke uwu an couple favorit TataYoga. Kalo baca dari awal sampai extra part dijamin ga nyesel deh.
__ADS_1
Mampir juga di Kisah Cinta Azzahra belum banyak bab nya masih on going walau kadang suka lama up ya, karena fokus di sini🤭
Happy Reading❤️