
" Kenapa muka kamu ditekuk terus? Seolah-olah bekerja bersama saya itu seperti siksaan buat kamu. Mestinya kamu itu senang, punya bos ganteng, dapat salary tinggi. Belum tentu di tempat lain kamu bisa dapat seperti itu."
Kata-kata Dirga saat mereka berdua berada di dalam mobil yang membawanya menuju restoran yang akan dituju untuk makan siang, membuat Kirania hanya sanggup menghela nafas panjang.
" Kamu seperti nggak nyaman berada dekat saya, apa jangan-jangan kamu memendam perasaan sama saya? Bukannya dulu kamu pernah bilang kamu nggak cinta sama saya? Mestinya kamu bisa santai dong, atau ... apa jangan-jangan yang dulu pernah kamu bilang itu semua kebohongan?"
Deg
Kirania langsung menelan salivanya saat mendengar kalimat-kalimat terakhir dari Dirga. Dia memejamkan mata, mencoba mencari kekuatan agar bisa menghadapi pertanyaan-pertanyaan Dirga yang terkesan menyudutkan dirinya.
" Bapak jangan terlalu percaya diri sekali. Jika saya merasa tidak nyaman, itu karena saya tahu sifat Bapak itu seperti apa." Kirania berusaha menyangkal semua tuduhan yang diucapkan Dirga, yang sialnya semua itu benar adanya.
" Memang sifat saya seperti apa yang kamu ingat?" tanya Dirga sedikit menyindir.
Kirania memilih memalingkan wajahnya, tak ingin menjawab pertanyaan Dirga. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Dirga memasuki kawasan parkir sebuah rumah makan seafood.
Kirania mendesah saat mengetahui restoran yang didatanginya kali ini.
" Kita makan di sini saja. Restoran ini punya cerita legenda, lho." Dirga menyeringai sementara tangannya melepas seat belt, kemudian melirik ke arah Kirania yang juga sedang membuka sabuk pengamannya." Mau saya bantu bukakan?" tanya Dirga meledek.
" Tidak usah, terima kasih!" tolak Kirania membuka seat belt yang untungnya kali ini dia tak kesulitan melepasnya.
Sesampainya di meja, Dirga memesan beberapa menu makanan untuknya juga Kirania.
" Kamu mau tahu legenda yang pernah terjadi di rumah makan ini? Jadi jaman dulu itu pernah ada sepasang kekasih pergi kencan pertama ke sini. Cowoknya ganteng keren, pakai baju rapih, tapi ceweknya itu cuma pakai piyama tidur, rambut dicepol asal, seperti nggak niat pergi kencan."
Kirania mendelik seraya mendengus kesal saat Dirga menyingung kenangan saat mereka berdua kencan pertama di rumah makan ini.
" Mau tau akhirnya seperti apa dengan kencan sepasang kekasih itu? Mereka berdua hampir digrebek massa." Dirga terkekeh mengenang kisahnya dulu. " Oh ya, gimana kabar pakde sama bude kamu?" tanya Dirga kemudian karena dia ingat setelah itu dia mendapat larangan dari Pakde Danang untuk menemui Kirania lagi.
" Pakde sudah nggak ada," lirih Kirania, karena setiap mengingat pakdenya itu, rasa kehilangan selalu saja muncul.
" Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Oh, maaf ... aku turut belasungkawa." Dirga merubah panggilan formalnya menjadi aku. " Sudah lama meninggal?"
" Dua tahun lalu."
" Lalu bude kamu?"
__ADS_1
" Bude kembali ke keluarganya di Purwokerto."
" Aku kangen sama mereka."
Kirania menoleh ke arah Dirga yang juga sedang memandangnya. Tak ada aura menyebalkan yang terlihat di sorot matanya saat ini.
" Kapan-kapan bolehlah kita berkunjung ke rumah bude kamu." Kirania kemudian mengerutkan keningnya saat Dirga mengucapkan kalimat tadi.
" Untuk apa?" tanya Kirania.
" Kan tadi sudah aku bilang, aku kangen sudah lama nggak ketemu."
" Buat apa juga Bapak kangen sama bude saya?" Kirania bertanya dengan nada ketus.
" Ini di luar kantor, nggak usah formal seperti itu bicaranya." Dirga terlihat tidak suka, Kirania masih saja memanggilnya dengan panggilan Bapak.
" Di dalam atau di luar kantor, Bapak tetaplah atasan saya. Sudah seharusnya saya menghormati Bapak seperti karyawan lain," tegas Kirania.
" Ck, kamu itu pembangkang sekali. Kalau kamu menganggap aku bos kamu, turuti dong, apa yang aku suruh!" protes Dirga.
" Saya akan turuti perintah Bapak yang sekiranya memang pantas saya turuti." Kirania dengan cepat menyahuti hingga membuat Dirga mendengus kasar.
" Lis, kalau ada berkas yang mesti saya tanda tangani, berikan kepada Rania saja, biar nanti dia kasih ke saya!" perintah Dirga kepada Lisna sepulang makan siang tadi bersama Kirania.
Lisna yang melihat kedatangan dan perintah dari bosnya itu langsung melirik ke arah Kirania yang kini mengeryitkan keningnya. " Baik, Pak." Akhirnya Lisna menyahuti.
" Apa ada yang mesti ditanda tangani, Mbak?" tanya Kirania kepada Lisna saat Dirga sudah masuk ke dalam ruangannya.
" Sudah ditaruh di meja Pak Dirga semua kok, Mbak," jawab Lisna.
" Oh ... ya sudah, makasih, Mbak," ucap Kirania. " Hmmm, apa sebelumnya pernah ada yang handle pekerjaan saya sekarang ini, Mbak?" tanya Kirania penasaran.
" Kalau asisten ada Pak Ricky. Tapi belakangan Pak Ricky sedang menghandle perusahaan lain milik Pak Poetra di luar Jawa yang sedang ada masalah, Mbak." Lisna menerangkan.
" Pak Poetra??"
" Ayahnya Pak Dirga, Mbak."
__ADS_1
" Oh ..." Kirania mengangguk-anggukan kepalanya.
" Hei, saya menggaji kamu untuk bekerja, bukan untuk merumpi!"
Kirania dan Lisna tersentak saat mendengar suara Dirga dari pintu ruangannya.
" Ma-maaf, Pak." Lisna langsung berdiri seraya membungkukkan sedikit tubuhnya lalu kembali duduk meneruskan aktivitasnya.
" Kamu! Cepat masuk ruangan saya!" perintah Dirga pada Kirania yang masih diam bergeming.
Dengan wajah memberengut kesal Kirania lalu melangkah memasuki ruang kerja Dirga di mana ruang tempat tugas dia juga berada.
" Mana yang perlu saya tanda tangani?" tanya Dirga kepada Kirania.
Kirania memicingkan matanya. Dia sendiri tidak tahu apa yang mesti ditanda tangani oleh Dirga.
" Kenapa diam saja? Saya tanya mana yang perlu saya tandatangani?" Dirga mengulang pertanyaannya karena Kirania tidak merespon.
Kirania langsung melangkah ke arah pintu masuk ruangan Dirga berniat memanggil Lisna.
" Kenapa kamu keluar? Saya 'kan sedang berbicara sama kamu." Dirga terlihat kesal dengan sikap Kirania yang tekesan lambat merespon setiap perintahnya.
" Saya mau tanya Mbak Lisna, Pak. Sebab dia yang taruh berkas itu tadi." Kirania menyahuti.
" Ck, kenapa mesti tanya dia? Sekarang ini 'kan kamu asisten saya." Dirga membalas cepat jawaban Kirania. " Nih, kamu teliti arsip-arsip ini, bagian mana yang mesti saya tanda tangani. Kamu 'kan bukan baru pertama kali bekerja. Pasti tahu bagian-bagian mana yang butuh tanda tangan direktur. Pasti sudah ditandai semua, kamu carilah mana yang sudah ditandai."
" Kalau memang Bapak sudah tahu di mana yang harus ditandai, kenapa mesti tanya saya?!" Ketus Kirania kesal.
" Kamu berani membantah saya?!" Dirga menggebrak meja seraya bangkit dari duduknya membuat Kirania terkesiap.
Melihat Dirga yang terlihat marah, Kirania akhirnya mendekat ke arah meja Dirga dan mengambil beberapa arsip. Dia meneliti bagian-bagian mana saja yang perlu Dirga tanda tangani dan menunjukkan kepada Dirga satu persatu. Sementara dalam hatinya dia merasa sakit atas perlakuan Dirga yang terkesan semena-mena terhadap dirinya. Seandainya saja dia punya uang sejumlah denda yang mesti dia bayar akibat wanprestasi yang dia lakukan di perusahaan Dirga ini, rasanya dia rela kehilangan uang itu daripada harus tersiksa batin seperti yang dia rasakan saat ini.
Bersambung ...
Perkenalkan ini yang bakal jadi rival Dirga yang bakal bikin Abang Dirga kesayangan kita kebakaran jenggot🔥🔥🔥 #tawajahatothor.
__ADS_1
Bersambung❤️