RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kirania, Dirgantara Cinta Kamu!


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, hubungan Dirga dan Kirania memang berjalan baik-baik saja. Bahkan Dirga sudah mendeklarasikan bahwa mereka berdua sebagai sepasang kekasih. Sebenarnya keputusan Kirania menerima Dirga kembali mendekatinya sangat ditentang oleh kedua sahabatnya. Mereka sangat khawatir jika Dirga akan kembali menyakiti Kirania. Tapi keputusan semua ada pada Kirania. Belum lagi pengaruh Dirga yang cukup kuat di kampus mereka. Apalagi jika melihat sikap Dirga yang seolah tak ingin jauh dari Kirania. Bahkan bisa dibilang, Dirga sudah seperti asisten bagi Kirania. Dirga benar-benar memperlakukan Kirania seperti seorang ratu. Sangat berbanding terbalik dengan sikap Dirga saat dengan wanita lain, justru para wanita itulah yang meladeninya.


Dan Dirga juga benar-benar membuktikan ucapannya. Jika memang keadaan kampus aman terkendali. Tidak ada mahasiswa yang berani mencemooh Kirania. Bahkan tidak sedikit yang bersikap ramah pada Kirania. Mereka selalu berusaha menyapa saat melewati Kirania.


Bahkan kini di kantin mereka sudah punya kursi dan meja khusus. Kursi yang tidak boleh disentuh atau ditempati oleh orang lain, selain mereka berempat. Berempat? Tentu saja, Untuk mendapatkan hati Kirania, Dirga tidak bisa begitu saja menampik keberadaan dua sahabat Kirania, Hasna dan Sabilla. Jadi selama satu Minggu ini untuk urusan perut, Dirga menjamin kesejahteraan mereka.


Seperti siang ini mereka berempat berkumpul di kantin baso. Sabilla membawakan tiga mangkok baso pesanan mereka, kecuali Dirga.


" Kamu nggak pesan baso juga. Kak? Memang nggak lapar?" tanya Kirania pada Dirga yang hanya memesan air mineral.


" Laparlah pastinya." Dirga menyahuti.


" Kalau lapar kenapa nggak pesan tadi?" tanya Kirania heran.


" Aku inginnya disuapin sama kamu, semangkuk berdua," Dirga tersenyum nakal seraya mengerlingkan matanya.


" Alay banget, sih!" Kirania mencebikkan bibirnya.


" Bukan alay, Yank. Tapi romantis." Dirga menyanggah.


" Yang ada norak, tahu!" cibir Kirania menyendok tiga sendok sambal ke mangkuk baso-nya, Tapi pada saat Kirania hendak memasukan sambal ketiga kalinya, Dirga langsung mencengkram tangan Kirania tapi sambal itu malah akhirnya jatuh juga ke dalam mangkuk.


" Kenapa, sih?" Kirania kesal karena Dirga menghalanginya menyantap baso.


" Sambalnya kira-kira, dong, Yank. Itu racun namanya. Kamu nggak sayang lambung kamu?!" protes Dirga langsung menarik mangkuk baso di hadapan Rania. " Bil, tolong kamu pesankan yang baru. Ini kasih saja ke siapa yang mau!" perintah Dirga.


" Memang dia susah dibilangin, Kak." Sabilla menyindir, mengentikan makannya dan langsung berdiri hendak memesankan lagi baso untuk Kirania.


" Kamu lanjut saja, deh. Bil. Biar aku saja yang pesan." Dirga kemudian bangkit sambil membawa mangkuk baso milik Kirania tadi.


" Dasar pria aneh!" umpat Kirania kesal.


" Aneh-aneh juga kamu suka, kan?" sindir Hasna.


" Siapa yang suka? Aku biasa saja, kok." Kirania menyangkal apa yang dikatakan Hasna.

__ADS_1


" Nggak suka tapi nggak nolak didekati lagi. Kamu plin-plan, sih! Kena rayu dikit saja langsung meleleh," cibir Sabilla.


" Gimana nggak meleleh, dijemput langsung ke kota dia. Sampai rela bantuin angkat-angkat beras segala. Kamu bayangkan saja, Bil. Seorang Dirgantara, yang biasanya mengatur ini itu. Sekarang malah rela capek-capek seperti budak," sambung Hasna menyindir.


" Sudah, deh. Kenapa kalian malah menyudutkan aku, sih?" Kirania mencebikkan bibirnya.


" Kita nggak menyudutkan kamu, Ran. Kita sekedar mengingatkan kembali, mumpung perasaan kamu belum terlalu jauh sama Kak Dirga. Gimana kalau pakde, budemu tahu? Kalian selama ini jalan tanpa sepengetahuan mereka, kan? Mereka melarang kamu dekat sama Kak Dirga. Karena selama ini dia selalu bikin masalah buat kamu. Coba, deh, kamu pikir-pikir lagi ...."


" Pikir-pikir lagi buat apa?" Suara Dirga seketika menghentikan perkataan Hasna yang sedang berusaha menasehati Kirania.


" Ah, hmmm ... itu, Kak. Aku tadi suruh Kirania, pikir-pikir lagi cari cara untuk meyakinkan pakdenya tentang hubungan kalian." Hasna dengan cepat menyangkal,


" Ini dimakan, sudah aku ganti." Dirga menyodorkan satu mangkok baso ke arah Kirania." Benar kata Hasna, Yank. Kita mesti mencari cara agar pakde kamu bisa luluh hatinya," lanjutnya kemudian. Membuat Kirania menatap tajam Hasna yang memasukan baso ke dalam mulutnya, pura-pura tidak melihatnya.


Selama kedekatan mereka kembali selama ini, Kirania memang menutupinya dari Pakde Danang maupun Bude Arum. Bahkan Kirania melarang Dirga untuk datang ke rumah pakdenya. Saat kemarin kembali ke Jakarta pun, Kirania memperbolehkan Dirga mengantarnya sampai ujung gang rumah Pakde Danang saja. Begitu juga setiap hari saat menjemput dan mengantar kuliah. Kirania tidak mengijinkan Dirga menginjakkan kaki ke rumah pakdenya. Berhubung kedatangan Dirga ke Cirebon tidak sampai tembus ke telinga pakde, budenya. Kirania merasa aman-aman saja. Karena itu di kampus Dirga seolah tak membuang waktu sia-sia. Dia selalu berusaha dekat dengan Kirania.


" Hari Minggu nanti kita jalan bareng, ya!" ajak Dirga saat mereka selesai menyantap baso.


" Kak Dirga ngajak kita?" tanya Sabilla.


" Iya, kalian boleh bawa cowok kalian. Terserah nantinya mau jalan bareng atau misah. Yang penting, kalian bisa jemput Kirania dulu. Kalau kalian yang jemput, pakdenya 'kan kasih ijin."


" Ayo, dong, Yank. Masa kamu tega, sih. Aku sehari nggak ketemu kamu saja itu rasanya kaya setahun nggak berjumpa," Dirga berkelakar.


" Lebay ..." Kirania mencebik.


" Ayolah, Yank. Cuma jalan-jalan, doang. Siang hari nggak akan kena grebek lagi, kok." Dirga menyeringai membuat Kirania memberengut.


***


" Ran ..." Dirga menahan tangan Kirania saat wanita itu turun dari motornya dan hendak berjalan memasuki gang rumah Pakde Danang.


" Kenapa?" tanya Kirania mengeryitkan keningnya.


" Aku sayang kamu ..." suara Dirga terdengar sangat lembut di telinga Kirania, sehingga membuat Kirania menarik sedikit sudut bibirnya ke atas walau terlihat samar.

__ADS_1


" Sudah pulang, sana." Kirania mencoba mengatasi kegugupannya.


" Aku masih ingin berdua sama kamu." Dirga tak juga melepas tangan Kirania.


" Sudah pulang, sana." Kirania mengulang ucapannya.


" Kasih cium dulu." Dirga menunjuk pipinya.


" Nggak usah ngelunjak, deh!" Kirania mendelik sinis ke arah Dirga.


" Mumpung sepi, Yank." Dirga terkekeh sembari mengedar pandangan. " Atau masuk ke gang saja biar aman nggak ada yang lihat?" seloroh Dirga.


" Dasar cowok gendeng!" Kirania menepis tangan Dirga dari cengkraman Dirga.


" Aku bercanda, Yank." Yoga menyeringai.


" Sudah sana pulang!" Usir Kirania kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Dirga.


" Kirania, Dirgantara cinta kamu ...!" seru Dirga membuat Kirania menghentikan langkahnya lalu memutar kepalanya menoleh ke arah Dirga seraya menggelengkan kepalanya menanggapi sikap konyol Dirgantara tadi.


Keesokan harinya ...


Selepas melaksanakan sholat Dzuhur Kirania berniat merebahkan diri di tempat tidur Minggu siang ini, saat tiba-tiba Bude Arum memasuki kamarnya.


" Ada tamu, cari kamu, Ran. Kamu sudah ditunggu pakde kamu juga itu di bawah."


Deg


Jantung Kirania berdecak kencang. Apakah Dirga nekat berkunjung kemari? Apa yang akan dikatakan dia pada pakdenya? Dan bagaimana nanti sikap Pakde Danang? Berbagai kemungkinan seketika membuat hatinya gelisah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


Happy Reading❤️


__ADS_2