
Kirania terus terisak memegangi tubuh Dirga yang ada dalam pankuannya dengan darah yang semakin membasahi baju kemeja denim Dirga.
" Kak Dirgaaaa!!! Banguuuunn !!! Jangan seperti ini aku mohon ... bangun Kak Dirga!!! Banguuunnn !!!" Kirania terus menguncang tubuh Dirga yang tetap bergeming. " Kak Dirgaaaaa!!" Kirania berteriak histeris hingga teriakannya menggelegar ke setiap sudut ruangan restoran.
Tok tok tok
" Ran, Rania ...!! Buka pintunya, Ran!! Kamu kenapa? Buka pintunya, Ran!!"
Suara Sabilla dan ketukan pintu mencoba menyadarkan Kirania dari luar kamar.
" Dikunci nggak pintunya, Yank?" tanya Aldi kepada istrinya.
" Dikunci, Mas." Sabilla menyahuti.
" Coba diketuk lebih kencang lagi," ujar Aldi.
" Rania, bangun, Ran." Sabilla kembali mengetul pintu dengan suara agak kencang.
Sementara di dalam kamarnya Kirania masih terlelap dengan kegelisahan, peluh sampai menetes di dahinya. Dalam keadaan tanpa sadar dia terus meneriaki nama Dirga.
" Kak Dirga, tidaaaakkk !!!" Kirania akhirnya terkesiap dan terbangun dari tidurnya.
" Astaghfirullahal adzim ..." Kirania memegangi dadanya, deru nafasnya tak beraturan turun naik
" Ran, kamu baik-baik saja?" seru Sabilla dari luar.
Kirania melirik jam yang masih menunjukkan pukul dua puluh dua lewat tiga puluh menit. Dia kemudian berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Sabilla.
" Ran, kamu nggak apa-apa?" Sabilla langsung memeluk Kirania. " Kamu mimpi buruk, ya? Tadi kami dengar kamu teriak histeris, sampai kami berdua kaget." Sabilla menceritakan.
" A-aku nggak apa-apa, tadi sepertinya mimpi buruk saja." Sungguh rasanya malu sampai ketahuan mimpi sampai teriak-teriak seperti itu. " Aku minta maaf sudah mengganggu kalian," Kirania pun merasa tak enak hati karena sudah mengganggu istirhat Aldi dan Sabilla.
" Ya sudah, kamu istirhat lagi saja," ujar Sabilla.
" Sekali lagi aku minta maaf." Sabilla mengangguk seraya menepuk pundak Kirania lalu bersama suaminya meninggalkan Kirania.
Kirania menutup pintu dan mendengus kasar seraya menyandarkan tubuhnya di pintu.
" Astaghfirullah, kenapa bisa mimpi menyeramkan seperti itu?" keluhnya kemudian seraya memejamkan matanya.
***
" Semalam kamu mimpi apa, Ran? Sampai kamu teriak-teriak nama Kak Dirga gitu?" tanya Sabilla saat pagi ini, dia memberikan ASI kepada bayinya.
Kirania menatap Sabilla sebentar, kemudian menatap bayi dalam gendongan Sabilla lalu mengelus pipi lembut bayi itu.
" Aku mimpi Kak Dirga dan Kak Gilang berduel, sampai akhirnya terjadi insiden penusukan." Kirania menutup wajahnya dengan telapak tangannya. " Serem banget pokoknya, Bil ..." ucap Kirania seraya mengedikkan bahunya.
" Astaghfirullahal adzim, sampai segitunya, Ran? Sabilla terkesiap. " Itulah yang aku takutkan, Ran. Aku takut mereka sampai duel seperti itu. Aku ingat cerita kamu waktu Kak Dirga meninju Yoga dulu. Baiknya kamu pikir-pikir lagi tentang keputusan kamu itu, Ran."
" Aku nggak mungkin mundur, Bil. Kak Gilang juga sudah bicara dengan keluarganya, dan mungkin sekarang sedang mempersiapkan segalanya."
" Kamu kenapa terlalu cepat mengambil keputusan sih, Ran? Mestinya kamu minta pendapat terlebih dahulu, sama aku misalnya." Sabilla menyesali keputusan Kirania yang menurutnya gegabah. " Kalau sudah begini 'kan serba nggak enak. Kalau sampai kamu membatalkan pertunangan, pasti berdampak pada hubungan kedua keluarga."
Kirania menatap Sabilla seraya menggelengkan kepala. " Aku nggak akan mundur, Bil. Aku sudah mengambil keputusan."
__ADS_1
Sabilla menghela nafas panjang mendengar keputusan Kirania. " Lantas orang tua kamu sudah kamu beritahu?"
" Sudah semalam."
" Pendapat mamamu?"
" Semua terserah aku, mama sendiri sudah lama menginginkan Aku dan Kak Gilang menikah sejak aku kembali ke Cirebon enam tahun lalu."
" Ya, apapun yang terjadi aku harap semua akan berjalan baik, dan berakhir dengan kebahagiaan. Kamu orang baik, Ran. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik."
" Aamiin ... makasih, Bil." Kirania memeluk tubuh Sabilla.
" Oeekk ... oeekk ... oeekk ..."
" Astaghfirullahal adzim, kejepit Tante ya, Sayang? Maafin Tante Rania, ya." Kirania mengecup pipi gembil anak kedua Sabilla.
***
Dirga hendak menjalankan mobilnya saat tiba-tiba notif ponselnya berbunyi. Segera dia mengambil benda pipih itu dari balik blazernya.
" Assalamualaikum, Kak. Kak, aku dapat kabar dari mama kalau Mbak besok lusa tunangan sama Kak Gilang."
Dirga membelalakkan matanya membaca pesan yang masuk dari Karina. Rahangnya seketika mengeras, wajahnya pun seketika menegang membaca pesan dari Karina.
" Shit!!" Dirga memukul stir mobil dengan kedua tangannya, kemudian dengan cepat dia menghubungi adik Kirania itu.
" Halo, Karina? Kakakmu ada di sana?"
" Nggak ada, Kak."
" Iya, semalam Mbak Rania telepon mama. Mbak Rania bilang katanya lusa keluarga Kak Gilang akan datang untuk mengikat Mbak. Memangnya ada apa Mbak Rania sama Kak Dirga hingga memutuskan akan bertunangan dengan Kak Gilang, Kak?"
" Kakak kamu ada di mana sekarang?" Dirga mengabaikan pertanyaan Karina.
" Aku nggak tahu, mama nggak bilang Mbak ada di mana."
Dirga mendengus kasar. " Kamu tahu mereka akan mengadakan acara pertunangan di mana?"
" Di rumah saja, sih."
" Oke, kamu kabari aku terus jika mendapat informasi tentang kakak kamu."
" Oke, Pak Bos!"
" Ya sudah, aku tutup teleponnya."
" Kak ...."
" Ada apa?"
" Aku berharap, Kak Dirga yang akan menjadi jodoh Mbak Rania."
Satu sudut bibir Dirga terangkat mendengar ucapan Karina. " Aamiin ..." sahutnya kemudian.
***
__ADS_1
Mobil Dirga terparkir tak jauh dari bangunan bank tempat Gilang bertugas. Dia sengaja menunggu pria itu keluar dari tempat dinasnya itu. Dia berniat membuntuti Gilang, berharap pria itu pergi ke tempat persembunyian Kirania. Walaupun jika mengikuti emosi rasanya ingin segera menemui dan memberikan bogem mentah pada pria itu karena ternyata pria itu tahu di mana keberadaan Kirania. Bahkan yang membuat hatinya serasa tercabik-cabik adalah rencana pertunangan Gilang dengan wanita yang dicintainya.
Tak lebih dari tiga puluh menit dia melihat mobil Gilang keluar dari area bank, setelah sebelumnya mendapatkan informasi dari orang suruhannya yang mencari tahu kapan waktu biasanya Gilang pulang kantor dan kendaraan apa yang digunakannya.
Dari jarak lima puluh meter Dirga mengekori kendaraan yang digunakan Gilang, hingga mobil yang dikemudikan Gilang berhenti di sebuah rumah minimalis berlantai dua. Saat dia melihat Gilang memarkirkan dan keluar mobilnya, dengan cepat Dirga pun bergegas turun dari mobilnya. Dengan sedikit berlari dia menghampiri Gilang dan menarik pundak pria itu hingga kini menghadapnya dan dengan secepat kilat dia meninju wajah Gilang hingga membuat tubuh Gilang menghantam mobilnya.
" Breng*sek kau!! Di mana, Rania?!" Dirga kembali mencengrkam baju Gilang.
Gilang yang awalnya kaget karena pukulan yang Dirga lesatkan kini hanya tersenyum mengejek kepada Dirga seraya mengelap darah yang menetes dari hidung dengan tangannya.
" Saya tidak akan katakan di mana calon tunangan saya kepada Anda," seringai tipis terus tercetak di sudut bibir Gilang.
" Breng*sek!!" Dirga berniat memberi pukulan lagi ke wajah Gilang.
" Ada apa ini ribut-ribut?!
Tiba-tiba terdengar suara membuat gerakan Dirga terhenti di udara.
" Astaghfirullah ada baku hantam?!" pekik suara yang lain.
Dirga mendapati beberapa bapak-bapak dengan sajadah tersampir di pundaknya. Sepertinya mereka hendak melaksanakan ibadah sholat Maghrib di Mesjid.
" Mas Gilang kenapa? Orang ini melakukan pemukulan terhadap Mas Gilang?" tanya satu pria lagi menghampiri Gilang saat terlihat bekas darah di bawah hidung Gilang.
" Wah, jangan biarkan orang ini pergi kalau begitu." sahut yang lain langsung mencengkram lengan Dirga.
" Ah, tidak ada apa-apa, Bapak-bapak. Dia ini ... teman lama saya, kami sudah lama tidak berjumpa, ya ... seperti inilah cara kami jika bertemu sambil nyoba ilmu, Pak." Gilang terkekeh mencoba menutupi. " Benar kan, bro?!" Gilang merangkul pundak Dirga membuat gigi Dirga mengerat. Kalau saja tidak ada bapak-bapak itu rasanya ingin menghajar lagi wajah Gilang yang sedang menyeringai itu.
" Oalah, anak muda jaman sekarang ada-ada saja. Ya sudah, kalau begitu kami mau lanjut ke mesjid. Assalamualaikum ..."
" Waalaikumsalam ...."
Bapak-bapak tadi pun kemudian berjalan meninggalkan Dirga dan Gilang.
Sepeninggal bapak-bapak tadi Dirga langsung menepis lengan Gilang yang melingkar di pundaknya.
" Di mana kau sembunyikan, Rania?!" geram Dirga.
" Dia tidak ada di sini, dan saya juga tidak tahu dia ada di mana saat ini."
" Kau jangan membohongiku. Kau ingin bertunangan dengannya, mana mungkin tidak tahu. Asal kau tau, aku tidak akan biarkan itu terjadi!" tegas Dirga.
Gilang terkekeh. " Apa Anda tahu, Rania sendiri yang menghubungi saya? Dia yang meminta untuk segera bertunangan dengan saya. Anda tahu artinya apa? Dia lebih mempercayakan saya untuk menjadi suaminya. Jadi saya ingatkan Anda Tuan Dirgantara, jangan pernah Anda mengusik calon tunangan saya. Dan Anda ..." Gilang mengibas punggung tangannya ke pundak Dirga. " Anda uruslah keluarga Anda sendiri, istri dan anak Anda bukankah mereka yang lebih butuh perhatian Anda?!" Gilang menyeringai sebelum akhirnya melangkah memasuki rumahnya meninggalkan Dirga yang semakin tersulut emosinya.
*
*
Bersambung ...
Ah, Othor ....
Aku ga pernah menciptakan tokoh jahat pake banget² loh
Happy ReadingđŸ˜‰đŸ˜‰đŸ˜˜
__ADS_1