RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Posisi Sulit


__ADS_3

" Dari mana kamu?"


Kirania terperanjat saat dia keluar dari lift dan berpapasan dengan Dirga. Kirania memandang Dirga dengan pandangan yang sulit jabarkan. Rasa lelah, sakit, sedih, kecewa, kesal, marah, tak berdaya seakan bercampur menjadi satu dia rasakan saat ini. Dan semua itu terjadi karena dia selalu berada di posisi yang sulit sebagai pihak yang lemah, yang selalu hanya bisa pasrah menerima dan mengikuti orang yang berkuasa mengatur langkahnya.


" Kamu kenapa melamun?" pertanyaan Dirga sontak membuyarkan lamunan Kirania yang sempat termenung.


" T-tidak ada apa-apa, Pak." Kirania berbohong.


" Kamu habis dari mana?" Dirga kembali menanyakan.


" Saya habis ke kantin makan siang, Pak." Kirania kembali berbohong.


" Aku hubungi kamu dari tadi nggak ada respon, kenapa?" selidik Dirga.


" Oh ... itu tadi ponsel saya silence karena lowbat, Pak." Kirania beralasan.


" Sus Wati sama Isah sudah ke sini jemput Kayla tadi?" Dirga berputar arah kembali ke ruangannya.


" Sudah, Pak." Kirania mengekor Dirga di belakang.


" Kamu makan apa tadi? Aku lapar banget, tadi nggak sempat makan, terlalu serius membahas proyek sama klien." Dirga berjalan menuju kursi kebesarannya. " Tolong pesankan aku makanan, tapi jangan terlalu lama, aku sudah lapar," perintah Dirga.


" Bapak mau makan apa?" tanya Kirania.


" Terserah kamu saja, kamu yang pilihkan." Dirga menyahuti.


" Bapak mau makanan yang ada di kantin?" tanya Kirania menawarkan.


" Hmmm, kamu bisa bikinkan mie instan, seperti dulu kamu buatkan untukku?"


Kirania sampai harus menelan salivanya mendengar permintaan Dirga.


" Aku sudah lama lho, nggak makan mie instan. Terakhir makan itu enam tahun lalu, pacar aku yang buatin." Dirga memberikan senyuman terbaiknya, membuat hati Kirania mencelos, karena harus mengingat kembali kenangan manis mereka saat masih bersama dulu.


" Coba saya lihat ke kantin dulu ya, Pak. Sedia atau tidak bahannya di kantin," ujar Kirania, dia tak ingin berlama-lama berada di samping Dirga saat ini, dia takut air matanya luruh saat mengingat nostalgia mereka.


" Ya sudah, tapi harus bikinan kamu ya, jangan orang lain."


Kirania mendesah mendengar permintaan Dirga, sebelum akhirnya dia keluar ruangan Dirga menuju pantry kantor.


" Mas, punya mie instan kuah, telur, sosis sama sawi nggak ya?" tanya Kirania pada seorang OB yang berada di pantry saat itu.

__ADS_1


" Mie instan sama telur sih ada, Mbak. Kalau sosis sama sawi nggak sedia," jawab OB bernama Amir.


" Bisa tolong carikan di kantin, Mas? Soalnya Pak bos minta dibuatkan mie instan pakai itu." tanya Kirania.


" Sebentar saya tanya ke kantin dulu ya, Mbak" Amir lalu menelepon kantin yang ada di area kantor Dirga.


" Ada di kantin, Mbak. Sedang di antar ke sini," ujar Amir selepas menutup panggilan teleponnya.


" Oke, makasih ya, Mas." Kirania langsung mendekatkan bahan-bahan lainnya. Dan setelah sepuluh menit menunggu bahan pelengkap pun datang, Kirania mulai memasak mie instan pesanan Dirga.


" Mau saya buatkan, Mbak?" Amir menawarkan bantuannya.


" Nggak usah, Mas. Biar saya saja." Kirania menolak halus.


" Oh ya sudah, kalau begitu saya tinggal ya, Mbak," pamit Amir.


" Silahkan, Mas. Terima kasih, ya." Kirania menyahuti.


Kirania menarik nafas yang terasa sesak. Apa yang diminta Dirga membuka kembali memorinya akan masa-masa indah mereka bersama yang tak pernah bisa dia lupakan. Sedangkan saat ini dia berada di posisi yang sulit, kondisinya sangat tertekan karena kehadirannya sebagai orang ketiga di antara Dirga dan Nadia, yang diakui oleh mereka berdua jika rumah tangga mereka tidaklah berjalan harmonis.


Beberapa menit kemudian Kirania selesai membuat mie instan pesanan Dirga dan membawanya menuju ruang kerja Dirga.


" Apa itu, Ran?" tanya Lisna yang melihat Kirania membawa nampan.


" Oh ..." Lisna menanggapinya seperti itu, tapi dia dengan cepat membantu Kirania membukakan pintu ruangan Dirga.


" Makasih, Mbak," ucap Kirania sebelum masuk ke ruangan Dirga.


" Sudah matang?" tanya Dirga saat melihat Kirania membawa nampan berisi mangkuk mie instan pesanannya. Dia kemudian berjalan menghampiri Kirania dan meraih mangkuk berisi mie instan. " Hmmm, aromanya tetap sama, menggugah selera." Dirga langsung mengaduk mie itu dan menyuap satu sendok ke mulutnya.


" Awas masih panas, pelan-pelan makannya." Kirania refleks mengucapkan kalimat yang hampir sama dia ucapkan dulu.


Dirga tersenyum mendengar perkataan Kirania. " Aku lapar berat dan ini enak banget." Dirga mengacungkan jempolnya. " Besok buatkan lagi seperti ini, ya," pintanya kemudian kembali menyantap dengan lahap beberapa sendok mie buatan Kirania itu.


" Jangan terlalu sering makan mie instan, tidak baik untuk kesehatan." Kirania secara tak sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang sama dengan enam tahun lalu.


" Kamu perduli dengan kesehatanku, kan? Kalau gitu, aaaa ..." Dirga menyodorkan satu sendok mie ke arah mulut Kirania membuat wanita itu terperanjat. " Makanlah, biar aku nggak terlalu banyak makan ini, kamu bantu habiskan."


Kirania cepat menggelengkan kepalanya. " Saya sudah kenyang, Pak." Kirania menolak, padahal sejujurnya dia belum sempat makan siang karena tadi bersama Nadia dia kehilangan selera makan.


" Ayo cepat bantu aku habiskan." tangan Dirga masih memegang sendok berisi mie di depan mulut Kirania.

__ADS_1


" Tapi, Pak ...."


" Aaaamm ..." Dirga terlebih dulu memaksa Kirania memakan mie yang berhasil masuk ke mulut Kirania. Tentu saja Kirania langsung memberengut kesal dengan kelakuan Dirga tadi.


Sementara Dirga menaruh mangkuk mie di meja lalu meneguk air meneral yang sekalian disediakan oleh Kirania " Kalau nggak mau, sini kasih ke aku lagi mienya, tapi lewat mulut, ya?" goda Dirga.


Ucapan Dirga sontak membuat bola mata Kirania membulat dan dengan cepat menelan mie di mulutnya tanpa mengunyah terlebih dulu membuatnya tersedak."


" Hati-hati dong makannya." Dirga menyodorkan air mineral yang tadi dia minum ke arah Kirania seraya menepuk halus punggung Kirania. Kirania yang merasa butuh air untuk meredakan batuknya langsung menerima botol air mineral dan meneguk bekas minuman Dirga tadi.


" Jadi ingat jaman pacaran dulu, kan? Semangkuk berdua, sebotol berdua ..." Dirga terkekeh seraya mengerlingkan matanya menggoda Kirania yang kini mulai memerah pipinya karena menahan malu.


" Aku sangat merindukan moment-moment kita seperti ini, Ran. Enam tahun lamanya kita tidak bersama, rasanya seperti menghabiskan waktu percuma tanpa ada kamu di sisiku." Dirga menatap lekat wajah wanita yang masih dia anggap kekasih hatinya itu, kemudian punggung tangannya membelai lembut pipi mulus Kirania. " Aku mencintaimu, Ran. Bahkan mungkin rasa ini semakin menumpuk setiap harinya karena sudah aku tahan bertahun-tahun," ucapnya kemudian.


Kirania dibuat membeku dengan sikap lembut Dirga terhadapnya, seketika bola matanya langsung berembun dan tak butuh waktu lama air mata itu pun akhirnya tumpah membasahi pipinya.


" Tolong bebaskan saya dari kontrak kerja ini, Pak." Kirania langsung tersedu seraya menepis tangan Dirga di pipinya. Kirania teringat akan kata-kata Nadia tadi.


" Hei, kenapa? Ada apa?" Dirga yang melihat Kirania terisak langsung dibuat penasaran.


" Jika Bapak bilang masih menyanyangi saya, tolong Bapak lupakan saya. Sikap Bapak seperti ini terhadap saya, ini justru akan menyakiti saya, Pak."


" Aku tidak berniat menyakitimu, Rania. Aku justru akan membahagiakanmu. Kita akan menikah setelah urusanku dengan Nadia selesai."


Kirania menggelengkan kepala. " Jangan lakukan itu, Pak. Saya tak ingin menyakiti hati Ibu Nadia."


" Jika Nadia tetap bersamaku. justru itu akan semakin menyakiti Nadia, karena aku tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan," tegas Dirga.


" Tapi Bapak telah menghadirkan Kayla dalam rumah tangga kalian. Dia adalah pengikat kuat untuk hubungan kalian berdua. Kenapa Bapak tidak berusaha kembali memperbaiki hubungan Bapak dengan Bu Nadia? Bukankah Bapak dulu pernah mencintainya? Kenapa Bapak tidak memilih mempertahankan rumah tangga kalian demi anak kalian? Kenapa Bapak lebih memilih mepersulit saya seperti ini?" Air mata Kirania semakin kencang berderai.


Dirga menghela nafas sejenak, kemudian berkata, " Sebenarnya ...."


Ddrrtt ddrrtt


Ucapan Dirga terpotong saat tiba-tiba suara ponsel Dirga berbunyi dari balik blazer yang dipakainya.


" Halo?" Dirga kemudian mengangkat panggilan masuk di ponselnya. " Oh, Pak Edward? Bagaimana kabar, Pak Edward? Lama kita tak berkomunikasi seperti ini, sibuk keliling ke luar negeri rupanya ya, Pak?" Dirga kemudian berjalan kembali ke arah mejanya dan serius dengan teleponnya.


Kirania segera menyeka air mata yang tumpah di pipinya. Matanya kemudian menatap mangkuk mie yang masih sedikit tersisa dengan bentuk yang kini semakin mengembang. Kirania lalu mengambil mangkuk itu, berniat untuk menaruh kembali ke pantry setelah itu dia butuh membasuh mukanya di toilet.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2