
Kirania memandang pahatan wajah sempurna milik Dirga yang kini terpejam di pangkuannya. Kirania tersenyum teringat kenangan dulu saat awal-awal mereka pacaran, Dirga pun pernah tertidur dengan posisi seperti ini. Kirania menoleh jam di dinding yang kini telah menunjukkan pukul sembilan malam.
" Kak, bangun ... kalau mau tidur pindah di kamar saja." Kirania menepuk lengan Dirga.
" Hmmm ..." Dirga hanya menggeliat tak membuka matanya.
" Kak, tidurnya di kamar ..." Kini tangan Kirania membelai wajah tampan pria itu hingga kini matanya terbuka. " Pindah di kamar saja tidurnya," lanjut Kirania.
" Aku mau di sini saja, aku takut kehilangan kamu lagi," ucap Dirga dengan suara parau. Tak lama Dirga pun menyandarkan punggungnya di sofa dan melingkarkan tangannya di pundak Kirania, menyuruh wanita itu agar bersandar di bahunya.
" Kamu kenapa dulu mengikuti perintah mamaku dan Nadia?" Kirania langsung mendongakkan wajahnya saat Dirga bertanya seperti itu.
" Kamu tahu, aku sampai membencimu, karena aku pikir kamu mempermainkanku. Kamu mengkhianatiku karena aku pernah lihat kau pergi berdua dengan Pak Rayhan dulu. Aku tidak menyangka kalau itu karena perbuatan mama dan Nadia." Dirga memainkan anak rambut di kening Kirania. " Aku bisa bayangkan seperti apa perasaan kamu saat itu, pasti sakit sekali, kan? Karena aku pun merasakan hal yang sama." Dirga kemudian mengecup kening Kirania.
" Sejak itu aku seakan berubah menjadi sosok yang berbeda. Tidak bersikap ramah, bersikap kasar dan mudah tersulut emosi. Semua itu adalah pelampiasan karena rasa sakit hati dan kecewa atas keputusanmu. Seandainya saat itu kamu mau bertahan, kamu cerita padaku tentang ancaman mama dan Nadia, mungkin kita nggak akan melewatkan enam tahun perjalanan yang sia-sia ini."
" Aku takut, Kak. Aku nggak punya keberanian untuk berada di samping kamu, karena aku bukanlah siapa-siapa ..." lirih Kirania dengan mata berkaca-kaca.
" Kamu sangat penting untukku, Rania. Sejak dulu, saat ini hingga waktu yang akan datang, kamu adalah hal terpenting untukku. Jangan tinggalkan aku lagi, Ran." Dirga mengeratkan pelukannya pada tubuh Kirania seolah dia takut akan kehilangan wanita itu lagi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kirania sudah terlelap di peraduan, sedangkan Dirga terlihat sibuk menghubungi beberapa orang, salah satunya adalah Ricky, karena sejak tadi dia kesusahan menghubungi kembali asistennya itu.
" Halo, Rick ..." sapa Dirga saat Ricky kembali bisa terhubungi.
" Maaf, Pak. Tadi saya sedang di luar dan ponsel lowbat," jawab Ricky.
" Siapa orang yang memberitahumu, Rick?" Dirga benar-benar dibuat penasaran dengan orang yang membuat Ricky akhirnya melakukan penculikan terhadap Kirania.
" Tuan Muda Wiranata."
" Edo???" Dirga dibuat terperanjat saat Ricky menyebut nama sepupunya itu terlibat dalam hilangnya Kirania. Karena saat dia bertanya kepada Edward, Edward begitu meyakinkan jika dia tidak tahu menahu tentang penculikan Kirania.
" Shit!!" umpat Dirga. " Dia bilang padaku kalau dia tidak tahu soal penculikan Kirania." Dirga terlihat geram, dia merasa sudah dibohongi oleh sepupunya sendiri.
" Pak Edo memang tidak tahu soal rencana penculikan ini. Beliau baru tahu saat Bu Nadia bertanya padanya, apa dia yang menyembunyikan Nona Kirania? Akhirnya dia mencurigai jika sayalah otak dibalik hilangnya Nona Kirania."
" Dia tahu saat Nadia mencurigainya? Berarti saat aku bertanya padanya, dia sudah tahu jika semua ini ulahmu?"
" Sepertinya begitu, Pak.."
" Sialan!! Kenapa dia tidak memberitahukan saat itu juga kepadaku?!" Dirga merasa kesal.
__ADS_1
Ricky terkekeh mendapati bosnya itu sedang menggerutu. " Pak Dirga sangat kenal bagaimana Pak Edo, kan?"
" Iya, lalu bagaimana bisa dia menceritakan tentang masalahku kepadamu, Rick?"
Flashback on
Ricky baru saja memposting tumpukan laporan di meja kerjanya dengan caption "Samarinda, 2021" ke story' WhatsApp nya. Tak berselang lama suara notif pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dia mengeryitkan keningnya saat nama Tuan Edward Wiranata yang terlihat di ponselnya.
Saat pesan masuknya dibuka ternyata itu adalah komen atas story' WA yang dibuatnya tadi.
" Pulang woi, pulang!! Urus bos lu tuh jangan keluyuran terus! 🤣🤣"
Itu isi pesan dari Edward yang membuat sudut bibirnya tertarik ke atas. Tentu saja kedekatannya dengan Pak Poetra membuatnya juga merasa akrab dengan keluarga besar mereka, termasuk dengan Edward.
" Pak Edward apa kabar?" balas Ricky menjawab pesan dari Edward tadi
" Gue sih baik, bos lu itu yang sedang sakit "
Ricky mengeryitkan keningnya kembali lalu berkata, " Pak Dirga? Sakit apa?" Karena dia sendiri tidak mendengar kabar soal sakitnya bosnya itu.
" Sakit hati 🤣🤣🤣🤣🤣"
Ricky menggelengkan kepala mengetahui jawaban dari Edward.
Tak lama panggilan telepon pun langsung berbunyi dan itu berasal dari Edward.
" Buruan lu tengokin bos lu! Kasihan dia, jangan sampai dia nyusul Abangnya ke alam baka gara-gara putus cinta ditinggal wanita yang sama kedua kalinya."
" Maksud Pak Edo?"
" Lu tahu wanita yang namanya Kirania?"
" Kirania? Siapa? Saya belum pernah dengar sebelumnya." Ricky menjawab.
" Lu yang selalu bersama Om Poetra saja nggak tahu, apalagi gue yang banyak di luar negeri ya."
" Memang siapa wanita itu, Pak?"
" Dia wanita yang sanggup meluluh lantakkan hati bos lu," sahut Edward. Kemudian Edward pun menceritakan semua hal yang dia tahu tentang Kirania, termasuk tentang keterlibatan Tante Utami dan Nadia dalam upaya memisahkan Dirga dan Kirania sejak enam tahun lalu dan juga perubahan sikap Dirga yang menjadi pemarah dan dingin.
Flashback off
" Sialan tuh Edo!! Sial, gue mesti bilang terima kasih ke dia." Dirga seolah tak rela harus mengucapkan rasa terima kasih karena bagaimana pun ada andil Edward dalam usahanya merebut kembali apa yang dimilikinya sejak enam tahun lalu.
__ADS_1
" Ya, Anda mesti melakukan itu, Pak." Ricky terkekeh.
" Siapa saja yang tahu dan terlibat selain Edo?"
" Untuk mendapatkan data tentang Nona Kirania saya sempat hubungi Pak Bildan tapi beliau tidak tahu tentang rencana ini. Selebihnya ... orang-orang suruhan saya lah yang menjalankan rencana ini. Termasuk mencari alamat dan membujuk orang terdekat Nona Kirania agar mau bekerja sama untuk memuluskan rencana ini."
" Membujuk orang terdekat? Siapa yang kamu maksud?"
" Adik dari Nona Kirania."
" Karina??" Dirga kembali dibuat terkejut saat mengetahui jika adik dari Kirania yang kemarin sempat menentangnya kini berpihak kepadanya. Seketika senyum mengembang di bibirnya
" Benar, Pak "
" Oke, Rick. Terima kasih atas bantuanmu ini."
" Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik semampu saya, Pak Dirga. Setelah ini giliran Pak Dirga lah yang harus berjuang. Tapi saya harap, usaha saya sampai harus pulang ke Jawa tidaklah sia-sia."
" Tak akan ada yang sia-sia, Rick. Aku akan mengakhiri apa yang kau mulai dengan membawa Kirania ke pelaminan."
" Saya doakan, Pak."
" Okelah, sudah larut. Sekali lagi ... thanks, Rick."
" You're welcome, Pak."
Dirga pun mengakhiri panggilannya. Kini dia merogoh saku celana untuk mengambil sesuatu yang dia sembunyikan di sana.
Dirga menatap sebuah cincin yang tadi dia lepas dari jari manis Kirania. Sebenarnya dia tidak membuang cincin itu. Dia hanya melakukan gerakan tipuan untuk mengecoh Kirania dan wanita itu tak mencurigainya.
" Cincin ini akan kembali kepadamu, karena Kirania bukanlah wanita yang tepat untukmu." Seringai tipis terlihat di bibir pria berwajah tampan itu.
*
*
*
Bersambung ...
Sambil nunggu Si Abang up, yang belum mampir ke novel aku yang lain silahkan ditunggu kunjungan reader semua, Nuhun🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️