
" Kok menangis? Kamu kenapa?" Tangan Dirga langsung merangkum wajah Kirania, jemarinya pun dia gunakan untuk menyeka air mata yang berlinang di pipi putih mulus Kirania. " Ada apa? Ada masalah apa sampai kamu menangis seperti ini?"
" Nggak, nggak ada apa-apa, Pak." Kirania menyingkirkan tangan Dirga yang menangkup wajahnya dan menghapus air mata dengan tangannya sendiri. " Tadi ada debu yang masuk." Kirania mengerjapkan matanya.
" Debu? Mana ada debu di sini," sanggah Dirga yang merasa alasan Kirania terlalu dibuat-buat. " Kamu jujur sama aku, ada masalah apa?" Dirga mencengkram kedua pundak Kirania, menuntut jawaban yang sejujurnya dari wanita itu.
" S-saya, saya hanya terharu dengan perhatian Bapak terhadap saya." Kirania mengelak dengan berbohong tidak mengatakan masalah yang sebenarnya.
" Terharu? Kamu tahu, Ran." Dirga kembali membelai lembut wajah Kirania. " Aku itu cinta banget sama kamu. Selama enam tahun ini hati aku bahkan tak tersentuh oleh wanita lain, karena aku terlalu sakit hati saat kamu memutuskan aku dulu. Karena itu saat kita kembali bertemu dan aku tahu jika kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain, aku rasa inilah waktu tepat yang diberikan Tuhan untuk kita bisa menjalin kembali apa yang dulu pernah terputus."
Air mata semakin deras meluncur tanpa bisa dibendung di pipi Kirania mendengar penuturan Dirga.
" M-maafkan jika sikap saya selama ini buruk terhadap Bapak." Kirania tetap menggunakan bahasa formal, walau sebenarnya hatinya serasa ingin meledak.
" Kamu nggak perlu minta maaf, aku mengerti kamu melakukan hal itu untuk melindungi dirimu." Dirga membelai lembut kepala Kirania, membuat Kirania tidak tahan untuk tidak meluapkan perasaannya, hingga akhirnya Kirania memeluk tubuh Dirga dan membenamkan wajahnya dengan makin tersedu di dada pria yang tidak bisa dia pungkiri sangat susah untuknya melupakan pria itu
" Sssttt ... sudah jangan menangis." Dirga terus membelai kepala Kirania dan memberikan kecupan di pucuk kepala wanita itu.
***
" Sore, Mbak Risa." Kirania menyapa salah satu staff HRD.
" Sore, Mbak ..." sahut orang disapa Kirania itu.
" Pak Bildan ada?"
" Bapak sedang keluar kantor, ada apa, Mbak?" tanya karyawan yang dipanggil Risa oleh Kirania itu.
" Hmmm, saya mau menyerahkan surat ini. Bisa saya titip ke Mbak Risa saja? Minta tolong diberikan ke Pak Bildan." Kirania menyodorkan surat pengunduran diri beserta bukti transfer dana sebesar tujuh ratus dua puluh juta ke rekening perusahaan.
" Sepertinya Pak Bildan nggak kembali lagi ke kantor deh, Mbak, " sahut Risa.
" Nggak apa-apa, Mbak. Besok saja diserahkannya kalau Pak Bildan nggak balik ke kantor hari ini."
" Ya sudah, nanti saya letakan di atas meja Pak Bildan saja kalau begitu."
" Makasih, Mbak. Permisi ..." Kirania pun kembali ke ruang kerja Dirga
" Sudah selesai ke toiletnya?" tanya Dirga saat melihat Kirania kembali ke ruangannya. Kirania memang beralasan ingin ke toilet. Dia tidak pernah mau menggunakan toilet di dalam ruangan Dirga, dia ingin seperti kebanyakan karyawan yang menggunakan fasilitas karyawan seperti yang lain.
" Sudah, Pak "
__ADS_1
" Ya sudah, kita pulang sekarang." Dirga kemudian bangkit dari duduknya. " Oh ya, besok pagi aku ada pertemuan dengan Pak Dicky, kamu nanti di kantor saja nggak perlu ikut," ucap Dirga seraya berjalan ke arah pintu ke luar.
" Iya, Pak." Kirania menyahuti. " Aku nggak akan ikut, karena aku nggak akan ada di kantor ini lagi besok pagi." batin Kirania seraya membasahi tenggorokannya yang terasa kering dengan salivanya.
***
Mata Kirania menatap nomer kontak di ponselnya. Dia merasa gamang, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah keputusannya kali ini sudah tepat?
Kirania menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya dia menghubungi nomer kontak tersebut.
" Hallo ... Assalamualaikum, Ran?" sapa Gilang, orang yang Kirania hubungi.
" Waalaikumsalam ... Kak, apa niat Kakak untuk meminang aku masih berlaku." Walau ragu tapi akhirnya Kirania mengucapkan juga kata-kata itu.
" Tentu saja, Ran. Aku selalu berharap kamu mau membuka pintu hatimu untuk aku." Gilang menjawab penuh semangat.
" Baiklah, a-aku akan memberikan kesempatan itu kepada Kak Gilang." Dengan dada yang terasa sesak Kirania berucap.
" Kamu serius, Ran?" Gilang seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Kirania.
" Iya, Kak." Suara Kirania serasa tercekat di tenggorokan. " Tapi dengan syarat ...."
" A-aku ingin akhir Minggu ini k-kita ber-tunangan, setelah itu secepatnya memilih tanggal untuk ... pernikahan kita." Kirania berucap dengan suara bergetar, air mata pun menetes di pipinya.
" Ber-bertunangan? R-Ran, k-kamu serius, kan?" Gilang pun sampai gugup dibuatnya.
" Aku serius, kecuali Kak Gilang yang nggak serius berniat meminang aku."
" Aku serius, Ran. Demi Allah aku serius. A-aku cuma nggak menyangka saja kamu mau menerima aku. Aku terlalu excited mendengarnya. Tapi aku benar-benar ingin menjadikan kamu istri aku. A-aku ... like a dream come true rasanya bisa memiliki kamu, Ran." Seandainya Kirania tahu, saat ini mata Gilang sudah berkaca-kaca karena terlalu bahagia.
" Jadi Kak Gilang bisa memenuhi permintaan aku?"
" Bisa, Ran. Insya Allah aku bisa memenuhi persyaratan kamu ini. Aku akan hubungi mama untuk mempersiapkan semuanya. Kita cuma punya waktu tiga hari tapi aku rasa mama bisa mempersiapkan segalanya." Mungkin jika bisa terlihat, yang ada di dalam hati Gilang saat ini adalah ribuan bunga yang sedang bermekaran mendapati kenyataan Kirania bersedia menerima cintanya.
" Tolong kabari aku ya, Kak. Biar aku nanti bisa kasih tahu keluarga di Cirebon, untuk acara pertunangan ini."
" Oke, Ran Aku akan kabari secepatnya."
" Ya sudah, aku tutup teleponnya ya, Kak. Assalamualaikum."
" Ran, tunggu ..." Gilang sepertinya tak rela cepat-cepat menyudahi perbicaraan mereka.
__ADS_1
" Kenapa, Kak?"
" Terima kasih, Ran. Terima kasih kamu sudah mau memberiku kesempatan ini. Aku janji, aku akan membahagiakan kamu seumur hidup aku."
Kirania memejamkan matanya, mencoba menghentikan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
" Assalamualaikum, Kak."
" Waalaikumsalam, selamat malam, semoga mimpimu indah, Ran. Aku mencintaimu."
Kirania langsung menutup panggilan teleponnya, tak kuasa membendung kesedihan di hatinya.
Dia sudah memutuskan untuk mencoba menerima Gilang. Mungkin ini jalan terbaik untuk dirinya. Karena ke mana pun dia bersembunyi, dia yakin Dirga akan mencarinya selama dia masih tetap sendiri. Karena itulah dia memutuskan untuk bertunangan dengan Gilang, dengan mengikat suatu hubungan dengan seorang pria, mungkin Dirga akan menyerah dan berhenti mencarinya.
Kirania kemudian membuka galery ponselnya, dia menatap gambar Dirga yang sedang tersenyum dan mengelus wajah Dirga di layar ponsel itu.
" Maafkan aku, maafkan aku yang lagi-lagi harus mengakhiri hubungan ini." batin Kirania.
***
Disambut dengan teriknya matahari siang ini, Kirania tiba menggunakan kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Tawang sekitar jam satu lebih.
" Rania ..." suara seorang pria menyambut kedatangannya seraya melambaikan tangannya.
Kirania mengembangkan senyuman seraya menarik kopernya menghampiri pria itu.
" Apa kabar, Ran? Selamat datang di Semarang." Pria itu kemudian menjabat tangan Kirania kemudian dibalas oleh uluran tangan Kirania.
" Sehat Alhamdulillah, Al. Kamu sendiri gimana?" Kirania menjawab dan balik bertanya.
" Seperti yang kamu lihat sendiri, Ran. Sehat juga, alhamdulillah." Pria itu kemudian mengambil koper yang sedang ditarik Kirania. " Biar aku yang bawa, kamu 'kan tamu di sini, jadi harus dilayani dengan baik oleh tuan rumah."
" Makasih, Al. Sorry ya, aku baru sempat mampir kemari."
" Nggak apa-apa, yang penting 'kan sekarang ini kamu mau berkunjung ke sini. Ayo kita ke mobil sekarang," ajak pria itu dibalas anggukan kepala Kirania tanda setuju.
Kirania bersama Aldi, pria yang menjemputnya itu akhirnya berjalan menuju parkiran untuk membawa Kirania keluar dari area stasiun utama Kota Semarang itu.
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1