
Dirga dibuat terkesima dengan sikap istri Yoga yang terlihat sangat santai, cuek dan penuh percaya diri saat mengucapkan kalimat yang memuji suaminya. Untuk seorang Prayoga yang dia kenal dengan pembawaan yang tenang dan kalem, dia sangat terkejut Yoga mendapatkan istri seorang wanita seperti Natasha yang terkesan cerewet, sangat berbeda dengan sosok dengan Kirania.
" Apa Pak Dirga ini teman satu kampus dengan Mas Yoga?" tanya Natasha kemudian, membuat Dirga berhenti melakukan penilaian kepada wanita itu.
" Bukan, kami tidak satu kampus." Dirga kemudian menyahuti.
" Oh, aku pikir kalian satu almamater. Sayang sekali, padahal aku ingin mencari tahu dari Pak Dirga."
" Mencari tahu apa?" Dirga mengeryitkan keningnya.
" Kamu cari tahu apa, Yank?" Yoga pun tak paham apa maksud dari ucapan istrinya itu.
" Aku penasaran dengan wanita yang pernah dekat dengan suamiku ini."
" Yank ..." Yoga mencoba menghentikan rasa penasaran istrinya.
Mendengar ucapan Natasha, bola mata Kirania langsung membulat seraya menelan salivanya. Dan Dirga sendiri langsung melirik ke arah Kirania.
" Untuk apa Anda tahu siapa wanita yang pernah dekat dengan suami Anda? Bukankah itu hanya masa lalu?" tanya Dirga kemudian.
" Memang cuma masa lalu, tapi rasanya aku nggak rela kalau ternyata dulu ada wanita yang menerima perhatian dan kasih sayang dari suamiku ini." Natasha membelai wajah Yoga tanpa memperdulikan dua mahluk lain di depannya.
Dirga terkekeh mendengar alasan Natasha. " Lalu apa yang akan Anda lakukan saat Anda mengetahui wanita di masa lalu suami Anda? Apa Anda akan melabraknya?" sindir Dirga kembali melirik Kirania yang nampak tak nyaman dengan perkataan Natasha.
" Cih, Pak Dirga pikir aku ini ABG labil yang main labrak-labrak orang?" Natasha menanggapi seraya memutar bola matanya.
" Hmmm, maaf ... aku ke mushola dulu." Kirania buru-buru bangkit pamit untuk sholat Dzuhur. Dia ingin menghindari pembahasan yang dilontarkan Natasha.
" Kita bareng saja kalau begitu." Tanpa diduga Natasha pun ikut bangkit, berniat mengikutinya.
" Yank ..." Yoga menahan tangan Natasha,
" Sebentar, kok, Mas." Natasha mendekatkan wajahnya kemudian mengecup pipi Yoga tanpa merasa canggung.
Hal yang dilakukan Natasha tadi tentu saja membuat Kirania dan Dirga kembali terkesima. Tapi tak lama Kirania berjalan ke arah musholah bersama Natasha.
" Selepas sholat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Kirania." Perkataan Natasha sempat membuat Kirania gelisah. Apalagi saat pertemuan sebelumnya, Natasha terlihat marah saat meninggalkan Yoga bersama dirinya. Apakah Natasha pun akan seperti Nadia yang memperingatkan dirinya agar tidak berusaha mendekati Yoga. Padahal hal itu terpikirkan olehnya pun tidak. Tapi dari bahasa tubuh Natasha, Kirania bisa mengambil kesimpulan jika wanita itu cemburu terhadapnya.
Sementara itu di dalam ruangan restoran terjadi perbincangan antara Dirga juga Yoga sembari menunggu pesanan datang.
Sejujurnya Yoga dibuat gelisah dengan kepergian Natasha tadi mengikuti Kirania. Entahlah hatinya merasa tak tenang.
" Tak usah tegang, bukankah istrimu sendiri tadi bilang tidak akan melabrak wanita yang dulu pernah kau sukai atau mungkin sampai sekarang pun rasa suka itu masih ada?" ucapan bernada sindiran dari Dirga mengalihkan perhatian Yoga yang sedang gundah terhadap istrinya.
Yoga tersenyum mendengar pertanyaan Dirga. " Saya sudah punya kehidupan sendiri, Bang. Dan saya sangat bahagia dengan pernikahan saya ini. Saya juga sangat mencintai istri saya," sahut Yoga.
Dirga menyeringai. " Pantas istrimu terlihat sangat posesif terhadap suaminya. Istrimu sangat menarik, terlihat beda dengan Kirani. Dia terlihat sangat agresif, pantas juga kalau kau bilang sangat bahagia," sindir Dirga.
" Bang Dirga sendiri, bagaimana hubungan Bang Dirga dengan Rania?" Yoga mengalihkan topik pembicaraan, dia merasa tidak nyaman istrinya dibahas oleh Dirga.
" Dia asistenku. Dia bekerja untukku."
" Saya pikir, kalian akan hidup bersama."
" Apa kamu menyesal?" sindir Dirga memancing reaksi Yoga, karena Yoga tahu jika saat ini Kirania dan dirinya belum bersatu.
Yoga tersenyum sambil menggelengkan kepala. " Saya tidak menyesal apa yang terjadi pada diri saya, Bang. Seperti yang saya bilang tadi, kalau saya sudah bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Jika ada yang perlu disesali, mungkin saya akan menyesal jika wanita sebaik Rania tidak mendapatkan pria yang baik untuk dirinya." Jawaban Yoga sukses membuat Dirga mengeratkan giginya hingga membuat rahangnya mengeras.
***
" Ada apa kamu ingin bicara denganku, Natasha? Kita pasti ditunggu di meja." tanya Kirania selepas mereka melaksanakan sholat Dzuhur.
" Kamu terlihat takut sekali dengan Pak Dirga. Apa dia itu atasan yang semena-mena terhadap karyawan?" selidik Natasha.
" A-aku rasa, kamu tidak menahanku di sini untuk membicarakan itu, kan?" Kirania menghindari pertanyaan seperti yang Natasha lontarkan tadi.
__ADS_1
" Ah, iya ... tentu saja, untuk apa aku ikut campur urusan kalian." Natasha menyahuti.
" Lalu masalah apa yang ingin kamu bicarakan?"
" Hmmm, soal hubungan kamu dengan suamiku dulu."
Kirania menghela nafas dalam-dalam, karena dia sudah menebak apa yang akan dibicarakan Natasha.
" Apapun yang terjadi antara aku dengan Yoga, semua itu hanya masa lalu. Kalau kamu khawatir dengan kehadiran aku, sebaiknya kamu hilangkan perasaan itu. Kalau kamu sangat mencintai Yoga, percayalah padanya. Jangan biarkan pikiran-pikiran buruk bermain-main di pikiranmu." Kirania berucap dengan tenang namun penuh ketegasan. " Sebaiknya kita kembali ke dalam."
Natasha mengangguk-anggukkan kepala, tanda memahami jawaban yang diberikan oleh Kirania. " Baiklah." ucap Natasha kemudian menyetujui ajakan Kirania.
Natasha dan Kirania pun akhirnya keluar dari Mushola dan beranjak kembali ke bagunan restoran. Saat Natasha dan Kirania menaiki anak tangga tiba-tiba dari arah belakang ada dua orang anak berlari dan menabrak Kirania, hingga membuat Kirania hilang keseimbangan. Natasha yang melihat Kirania hampir terjatuh berusaha menahan tubuh Kirania. Tapi karena mereka berdua sama-sama berdiri di anak tangga yang hanya berjumlah tiga itu membuat mereka sama-sama hilang keseimbangan dan terjatuh bersama ke lantai.
Buugghh
" Aaawww ...."
Pekik Natasha dan Kirania bersamaan.
" Ya Allah, maaf ... maafkan anak-anak saya, Mbak." Seorang wanita langsung menghampiri Kirania dan Natasha yang terjatuh.
" I-iya, tidak apa-apa, Bu." Kirania mencoba bangkit, dia pun kemudian membantu Natasha yang terlihat meringis.
" Aawww ... aakkhh ... sakiiiit ... " Natasha memegangi perutnya.
" Natasha, kamu ada yang terluka?" Kirania terlihat khawatir melihat Natasha yang tak juga bangkit tapi malah merintih kesakitan.
" Mari saya bantu, Mbak. Mbak ada yang terluka? Biar saya tanggung biaya pengobatannya." Wanita yang anaknya menabrak Kirania pun membantu mengangkat tubuh Natasha untuk berdiri.
" Sakiiiitt ..." ringis Natasha kembali terduduk.
Saat itu juga muncul dua pelayan restoran ikut membantu Natasha.
Kirania langsung terkesia mendengar ucapan pelayan tadi. "Kamu sedang hamil, Natasha?"
" Aaakkhh ... sakiiiitt ..." Natasha terisak mencengkram kuat lengan Kirania.
" Sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit, Mbak. Sepertinya Mbak ini mengalami pendarahan." Pelayan tadi menyarankan.
Kirania langsung memucat mendengar penuturan pelayan restoran itu. Bayangan buruk langsung berkelebatan di pikirannya.
" Kita ke rumah sakit sekarang saja, Mbak. Pakai mobil saya saja." Ibu dua orang anak tadi langsung menawarkan bantuan karena rasa bersalah atas ulah anaknya.
" Hiks, Mas Yoga ... sakiiiitt ...."
Kirania langsung tersadar saat mendengar Natasha menyebut nama Yoga.
" Mbak, saya titip sebentar, saya mau panggil suaminya yang ada di dalam, ya!" Tanpa menunggu persetujuan dua pelayan itu Kirania langsung bergegas menuju ke meja di mana mereka memesan tempat tadi.
" Yoga, Na-tasha ..." dengan nafas tersengal-sengal Kirania berucap saat sampai di depan meja Yoga dan Dirga menunggu.
Yoga yang melihat Kirania yang terlihat ketakutan dan menyebut nama Natasha, dengan sigap dia berdiri sambil memegang siku tangan Kirania.
Dirga langsung memicingkan matanya saat terlihat Yoga berani menyentuh tangan Kirania..
" Ada apa, Ran? Natasha kenapa? Dia di mana? Kenapa nggak kembali ke sini?" Yoga telihat cemas.
" Natasha jatuh, Ga." Air mata langsung luruh di pipi Kirania.
" Jatuh?? Di mana??" Yoga menoleh ke arah pintu keluar di samping restoran. Tak menunggu jawaban Kirania, Yoga pun langsung berlari menuju arah musholah.
" Ada apa, Ran? Apa yang sebenarnya terjadi?" Dirga akhirnya berdiri, menanyakan apa yang telah terjadi.
" Hiks ... hiks, ini salah aku ... ini salah aku." Kirania menutup wajahnya dan terisak. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Natasha.
__ADS_1
" Hei, kenapa, Ran?" Dirga langsung memeluk tubuh Kirania dan membiarkan wanita itu terisak di dadanya.
" Ini salahku, Seharusnya dia tak usah bertemu denganku. Seharusnya dia tak usah menolongku. Semua ini salahku." Kirania merutuki dirinya atas kejadian yang menimpa Natasha.
Dirga langsung mengurai pelukannya, kini kedua tangannya mencengkram pundak Kirania.
" Apa yang terjadi? Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?" Dirga menatap dua bola mata Kirania bergantian.
" N-Natasha pendarahan, dia sedang hamil. Dia terjatuh karena hendak menolongku. Semua ini salahku, hiks ..." Kirania kembali menutup wajahnya.
Dirga menghela nafas, dia tak tega melihat Kirania yang terlihat sangat bersalah saat ini.
" Kita temui mereka sekarang, semoga tidak terjadi apa-apa dengan istri Yoga itu." Dirga menarik lengan Kirania lalu berjalan ke arah Yoga tadi berlari.
Sesampainya di tempat kejadian, Dirga dan Kirania melihat Yoga sedang menggendong tubuh Natasha.
" Kamu mau ke rumah sakit? Kita naik mobil aku saja, Ga." Dirga langsung menyarankan.
Yoga langsung menuruti perkataan Dirga, tak perduli mobil siapa yang dia naiki. Yang ada dipikirannya saat ini adalah membawa istrinya ke rumah sakit secepatnya.
" Mas, sakiiiitt ..." Sepanjang perjalanan Natasha terus saja menangis dan merintih. Tentu saja hal itu semakin membuat kecemasan Kirania berlipat-lipat.
" Sabar, Sayang ..." Yoga terus berusaha menenangkan Natasha.
" Ga, apa istrimu sedang hamil?" tanya Kirania kemudian.
" Beberapa hari lalu dicek hasilnya negatif."
" Dicek pakai test pack atau cek ke dokter kandungan?" Kirania semakin dibuat penasaran.
" Pakai alat test kehamilan." Kirania menghela nafas yang terasa berat mendengar jawaban Yoga
" Hiks ... hiks ... sakiiiitt ...!! Natasha memekik kencang.
" Bang, bisa tolong lebih cepat?!" tanya Yoga.
" Macet, Ga. Jam segini tahu sendiri ini jam-jam macet." Dirga menyahuti.
" Padahal rumah sakit sudah dekat, kurang dari satu kilometer dari sini." Kirania pun dilanda kepanikan.
Tak berapa lama terlihat Yoga membuka pintu mobil dan membawa tubuh Natasha keluar dari mobil Dirga.
" Ga, kamu mau ke mana?" tanya Dirga dan Kirania bersamaan, tapi Yoga nampak tak memperdulikan seruan mereka berdua.
Kirania dan Dirga memperhatikan Yoga yang terlihat setengah berlari bergerak ke arah depan seolah membelah kemacetan. Melihat hal itu Kirania langsung membuka seat belt nya dan membuka pintu mobil Dirga.
" Kamu mau ke mana?" Dirga mencengkram lengan Kirania, hingga membuat wanita itu sulit beranjak.
" A-aku ingin menyusul mereka." Kirania sudah tak menggunakan bahasa formal sejak dilanda kecemasan soal Natasha tadi.
" Tunggulah sampai tak macet lagi, kita pasti menyusul mereka."
" Aku nggak bisa, aku harus mengikuti mereka." Kirania menghempas tangan Dirga kemudian berlari keluar menyusul langkah Yoga.
Bersambung ....
Part ini ada di juga di novel MSI, kenapa dimasukin ke sini, karena memang saling nyambung ceritanya. Dan juga nggak semua reader RTB membaca novel MSI, jd aku mau menceritakan apa yang dialami Dirga dan Rania selama mereka melewati waktu termasuk bertemu dengan couple Yoga-Tata ini.
Please jangan bosen dengan kehadiran Couple Yoga&Natasha. Percayalah duet maut mereka sangat penomenal dan sangat dirindukan emak² reader yang khatam baca MSI😁😁
Dan aku tertarik membahas salah satu komen yg bilang seharusnya Yoga sama Rania, Dirga dipasangkan dengan Natasha.
Kalo Yoga dipasangkan dengan Rania rasanya akan flat, hambar karena mereka setipe sama² kalem. Aku justru tertarik dengan Dirga dan Natasha si pemaksa vs si jutek, cocok sih lebih ramai dan berwarna, pasti bakal ribut dan saling sindir, tapi menarik. Mungkin klo bikin next novel bisa bikin karakter model Dirga vs Natasha gini😁😁
Happy Reading❤️
__ADS_1