
" Bertanggung jawab? Bertanggung jawab apa maksud kalian??" tanya suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang Kirania berdiri.
Naura langsung memutar bola matanya saat mendapati sosok yang sekarang berdiri di belakang Kirania.
" Gue nggak ada urusan ya sama lu!" ketus Naura pada Sabilla yang menatap nyalang ke arahnya.
" Kalau lu senggol Kirania, sama saja lu senggol gue!" hardik Sabilla dengan tegas.
" Mau jadi pahlawan kesiangan, lu?!" sindir Naura.
" Setidaknya gue bukan tokoh antagonis kayak lu!" sergah Sabilla
" Cabut, yuk! Males gue urusan sama Mak Lampir," ujar Naura kepada kedua temannya.
" Cih, lu pikir gue juga senang urusan sama Nenek Gerondong macam lu?!" balas Sabilla tak kalah sengit sebelum Naura dan teman-temannya pergi meninggalkan Kirania dan Sabilla.
" Kamu nggak apa-apa, Ran? Dia bilang apa saja tadi?" tanya Sabilla khawatir, tapi bukannya menjawab serius, Kirania malah tersenyum. " Kenapa?"
" Kamu sama Naura katanya dulu satu sekolah, memang dulu lulusan sekolah ilmu hitam, ya? Yang satu Mak Lampir yang satunya lagi Nenek Gerondong." Kirania tertawa puas menjawab pertanyaan Sabilla.
" Sialan." Sabilla pun turut tertawa. " Tapi benar dia nggak sakiti kamu tadi, Ran? Bahaya deh kayaknya kalau kamu ditinggal sendirian. Mereka bisa leluasa ganggu kamu seperti tadi."
Kirania mengedikkan bahunya. " Aku nggak apa-apa, kok. Dia cuma minta aku tanggung jawab, memangnya aku menghamili dia, apa? Minta tanggung jawab segala." Kirania memutar bola matanya, sementara Sabilla tergelak menanggapi balasan Kirania. Mereka pun akhirnya tertawa bersama sembari berjalan menuju kelas mata kuliah mereka pagi ini.
***
" Aku ke perpus dulu sebentar, nanti langsung ke kantin." Kirania mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya. Hari ini giliran dia membayar makanan yang akan mereka beli. Seperti itulah setiap hari, mereka bertiga bergiliran membayar makanan tiap harinya. Harga makanannya pun yang pas di kantong mereka bertiga tentunya.
" Aku batagor yang pedas. Minta bumbu kacangnya yang banyak sama air mineral," pesan Kirania sebelum mereka berpisah
" Oke." Sabilla dan Hasna kemudian berjalan menuju ke arah kantin, sedangkan Kirania berjalan ke arah perpustakaan.
__ADS_1
Kirania baru saja melangkahkan kaki memasuki perpustakaan saat matanya menangkap sosok pria yang berjalan ke arah pintu, yang sudah pasti akan berpapasan dengannya jika Kirania melanjutkan langkahnya. Dengan cepat Kirania memutar badan dan segera mengurungkan niatnya untuk masuk perpustakaan tadi.
" Aman ..." Dengan berdiri bersandar di dinding, Kirania langsung memegang dadanya, merasa terbebas dari Dirga yang dilihatnya tadi ada di dalam perpustakaan. Dia berharap Dirga tidak menyadari kehadirannya tadi di sana.
" Apanya yang aman?"
" Astaghfirullahal adzim ..." pekik Kirania terperanjat saat dilihatnya Dirga sudah berdiri menjulang di sampingnya.
" Kaget, ya?" Tanpa merasa berdosa Dirga bertanya dengan polosnya.
Kirania yang merasa kesal dengan sikap Dirga, hendak melangkahkan kaki meninggalkan Dirga, tapi tangan Dirga lebih dulu mencekal tangan Kirania. " Mau ke mana?"
" Lepaskan ...!" Kirania mencoba menyingkirkan tangan Dirga dari tangannya.
" Aku akan lepaskan kamu, kalau kamu kasih alasan kenapa kemarin nggak mau temui aku, waktu aku ke rumah bude kamu?"
" Kak, tolong lepaskan ...!" Kirania masih berusaha meloloskan tangannya dari balutan tangan Dirga. Apalagi saat ini dilihatnya banyak mata yang sedang memandang interaksi mereka dengan tatapan mata berbeda-beda, dan itu sangat membuat Kirania merasa tak nyaman. " Kak ..." lirihnya memohon agar Dirga segera melepaskannya.
" Oke, aku akan lepaskan. Tapi nanti pulang kuliah aku yang antar kamu pulang, deal ?!"
" Deal, kan ?" Dirga mendekatkan wajahnya ke arah Kirania, membuat jantung Kirania kembali berdebar kencang. Apalagi saat tatapan mereka saling bertemu. " Aku tunggu di parkiran siang ini." Dirga melepaskan tangan Kirania. " Jangan berani-berani kabur, ya!" sambungnya sebelum meninggalkan Kirania yang masih tercenung dengan puluhanĀ pasang mata menatapnya.
***
Kirania memandang bergantian kedua temannya yang sedang menatapnya seperti kedua orang tua yang sedang mendapati anaknya melakukan kesalahan.
" Ini kedua kalinya lho, Ran." Hasna memulai pembicaraan.
" Bukan kedua, Has. Ini sudah ke empat kali, kamu terlihat bersama Kak Dirga tapi kita nggak tahu sama sekali." Sabilla meralat.
" Kamu menganggap kita teman nggak sebenarnya, Ran? Tiap ada kejadian kita selalu tahu dari pihak ketiga." Hasna menaruh ponselnya agak kasar ke depan kursi Kirania. Tanpa Kirania melihat apa isi yang ingin ditunjukkan, Kirania sudah bisa menebak, pasti itu soal kejadian di depan perpustakaan tadi.
__ADS_1
" Dan kamu masih mau menutupi ke kita tentang hubungan kamu dengan Kak Dirga sebenarnya?" sambung Sabilla.
" Ya ampun, kenapa kalian nggak percaya sama aku, sih? Aku tuh sama Kak Dirga nggak ada apa-apa!" tegas Kirania, dia juga sebenarnya bingung, mau mengaku ada hubungan ... memang kenyataannya mereka nggak punya hubungan serius. Mau bilang nggak ada hubungan, faktanya beberapa waktu belakangan ini , pria itu terlihat getol mendekatinya.
" Nggak mungkin sering terlihat berdua dalam beberapa waktu terakhir ini kalau nggak ada yang kamu sembunyikan, apalagi di gambar dan video yang beredar di grup, sampai Kak Dirga pegang-pegang tangan segala," sergah Hasna lagi.
Kirania menghempas nafas yang terasa sesak. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana ke kedua temannya itu.
" Ran, kalau kamu dan Kak Dirga ada hubungan, kita nggak melarang, kok. Kita cuma mau kamu jujur. Kita juga merasa senang akhirnya kamu punya pacar, tapi tolong jangan ditutupi dari kita berdua." Sabilla berucap bijak.
" Sebenarnya kita juga khawatir, Ran. Gosip Kak Dirga yang player, sedang kamu masih innocent banget. Aku takut kamu cuma buat dipermainkan saja sama dia." Hasna merasa cemas.
" Iya aku juga takutnya seperti itu, Has. Aku takut Kak Dirga cuma iseng saja dekatin kamu, Ran." Sabilla melirik ke arah Kirania yang tertunduk. " Eh, aku nggak maksud menyepelekan kamu lho, Ran. Aku cuma takut kalau nantinya kamu tersakiti."
" Benar kata Billa, Ran. Sudah berapa banyak cewek yang patah hati oleh Kak Dirga. Terakhir kamu lihat sendiri si Naura, dia diputusin depan umum dengan tidak terhormat pula. Dan kita nggak mau jika hal yang sama menimpa kamu, Ran ..." ucap Hasna lirih.
" Tapi aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Itu semua kebetulan saja kita berpapasan dan sialnya malah terekam." Kirania mendesah.
" Ada Kirania, nggak?" teriak seseorang tiba-tiba dari pintu kelas.
" Saya Kirania, ada apa?" Kirania menoleh ke arah orang yang tidak dia kenal yang menanyakan namanya tadi.
" Ditunggu Dirga tuh di parkiran ..." sahut orang itu langsung menghilang dari balik pintu.
Sementara saat itu juga tubuh Kirania berubah menegang demi mendengar pemberitahuan dari orang tadi, apalagi kedua sahabatnya yang tadi sikapnya sudah melunak kembali memasang tampang galak dengan sorot mata penuh intimidasi.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung,,,
Happy Readingš