
Karina mengerjapkan mata mengedar pandangan di sekitar ruangan yang terasa asing untuknya. Sementara aroma maskulin terasa menyengat di penciumannya. Seketika Karina tersadar lalu bangkit mendudukkan tubuhnya di springbed empuk. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya semalam.
Karina mendesah mengingat kejadian semalam yang hampir merenggut kesuciannya. Untung saja kehadiran Gilang meloloskan dia dari bahaya yang menghadang.
Gilang?
Mengingat nama itu, seketika dia langsung melirik kemeja yang dia kenakan saat ini, sebuah kemeja pria. Lalu, apa saat ini dia berada di rumah pria itu.
" Di mana kau sembunyikan Karina?"
Karina membelalakkan matanya saat mendengar suara kakak iparnya yang terdengar cukup keras. Dengan cepat dia turun dari tempat tidur.
" Sopanlah jika bertamu ke tempat orang."
Kini terdengar suara Gilang menyahuti perkataan Dirga.
Karina mendekat ke arah pintu, dia melihat Dirga yang berdiri sembari berkacak pinggang berhadapan sekitar lima meter dengan Gilang yang berdiri dengan posisi tangan yang dimasukan ke kantong kimononya. Sementara tatapan mereka layaknya seorang gladiator yang siap menaklukan lawannya.
" Di mana adik istriku itu?" tanya Dirga bernada tegas.
" Bukankah semalam Anda tidak perdulikan panggilan saya yang ingin mengabarkan tentang keberadaan adik ipar Anda?" sindir Gilang dengan nada dingin.
" Saya tidak ingin berdebat denganmu, suruh Karina segera keluar." Di mana pun berada, Dirgantara adalah seorang Dirgantara, yang jika memberi perintah harus segera dilaksanakan.
Karina bisa melihat sorot mata geram saat mendengar perkataan Dirga akhirnya memilih keluar dari dalam kamar.
" Kak, Dirga ..." Karina tentu saja tidak menginginkan ada adu jotos antara Dirga juga Gilang.
Kemunculan Karina sontak membuat kedua pria yang sejak pertama kali mereka berdua bertemu memang selalu ada aroma permusuhan itu menolehkan pandangannya ke arah Karina.
Dirga memicingkan matanya mendapati penampilan Karina yang hanya mengenakan kemeja milik Gilang sepanjang setengah pahanya sehingga memperlihatkan setengah paha hingga ujung kakinya yang putih mulus. Begitu juga dengan Gilang yang langsung nenelan salivanya kerena berkali-kali disugihi kemolekan tubuh Karina.
" Kenapa kamu memakai baju dia?" Dirga kini menatap tajam ke arah Gilang. " Apa yang sudah kau lakukan padanya?" selidik Dirga curiga.
Gilang tersenyum sinis menanggapi kecurigaan Dirga. " Apa Anda tidak memahami isi pesan saya, Tuan Dirgantara yang terhormat?! Adik ipar Anda ini semalam berada di club malam dan dia hampir diperko*sa orang. Anda ini kakak iparnya, dan Anda lalai mengawasai dia. Kakak ipar macam apa Anda ini?" Gilang berkata dengan nada sinis.
Kata-kata yang diucapkan Gilang bagaikan sebuah tamparan untuk Dirga. Bagaimana tidak? Semalam dia asyik memadu kasih dengan istrinya tanpa dia ketahui jika Karina pergi keluar apartemen menuju tempat hiburan malam. Ditambah lagi karena sikap posesifnya terhadap istri tercintanya dia sampai mengabaikan panggilan masuk dari Gilang. Seketika dia ingat perkataan Kirania yang mengatakan jika ada orang yang telepon di jam-jam tidak wajar itu pasti ada satu hal yang penting. Bagaimana dia bisa mengerti itu, sementara dia sendiri jika menelepon orang tak pernah kenal waktu.
" Sebaiknya kamu cepat pulang, Karina. Kakakmu sangat mencemaskanmu," ucap Dirga kemudian tak ingin meladeni ucapan Gilang tadi.
" T-tapi, Kak." Karina memandangi tubuhnya sendiri.
" Ratih ...!" Gilang memanggil ART nya.
" Saya, Pak?" Ratih yang sedang di dapurpun segera menghampiri Gilang.
" Bisa kamu pinjamkan celana untuk dia?" Gilang menunjuk dengan matanya ke arah Karina.
" Wah, kalau celana sepertinya nggak akan cukup, Mbak Karina tinggi orangnya. Tapi kalau rok bawahan panjang saya punya. Mungkin akan cukup untuk Mbak Karina. Mari sini ikut saya, Mbak." Ratih pun mengajak Karina untuk masuk ke kamarnya.
Setelah memimjam rok bawahan panjang milik Ratih yang hanya sebatas betis saat dipakai olehnya, Karina pun kembali ke ruang tamu menemui kakak iparnya.
__ADS_1
" Kita pulang sekarang." Dirga mengajak Karina untuk segera meninggalkan rumah Gilang. " Terima kasih atas pertolonganmu," lanjutnya seraya berjalan keluar dari rumah Gilang
Sementara Karina masih berdiri tak langsung mengikuti langkah Dirga. Dia kini menatap sendu ke arah Gilang.
" Pulanglah, kakakmu pasti mencemaskan keadaanmu." Gilang langsung memutar tubuhnya dan beranjak menaiki anak tangga.
" Kak Gilang ..." Ucapan Karina membuat Gilang menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Karina.
" Terima kasih ..." lanjut Karina sebelum akhirnya Gilang kembali melangkah menuju kamarnya tanpa menunjukkan reaksi apa-apa atas kalimat yang diucapkannya.
Karina tersenyum samar menanggapi sikap Gilang yang terlihat dingin seperti itu terhadapnya. Tapi peristiwa semalam semakin meyakinkan dia jika Gilang tetaplah pribadi yang baik di matanya.
***
" Apa terjadi masalah, Pak?" tanya Ricky saat mengetahui Kirania dan Karina tidak datang ke kantor. Karena selama ini Dirga justru seperti tak rela jika harus jauh dari istrinya itu.
" Adik iparku itu benar-benar membuatku pusing, Rick ..." keluh Dirga meyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
" Apa dia berbuat ulah lagi?" tanya Ricky.
" Ya, semalam di ke club' malam dan dia hampir dicelakai pria asing."
Ricky mengeryitkan keningnya. " Apa dia baik-baik saja, Pak?" tanya Ricky penasaran.
" Ya, semalam Gilang menolongnya dan dia aman. Kau tahu apa yang terjadi jika malam itu tak ada yang menolongnya?? Istriku pasti akan sedih sekali." Dirga mengusap kasar wajahnya.
" Rick, apa kau belum ada tanda-tanda tertarik dengan Karina? Aku ingin kalian menikah agar dia aman." Dirga kembali membicarakan rencananya ingin menjodohkan Ricky dan Karina.
" Apa ini ada hubungannya dengan apa yang sedang kau cari?" selidik Dirga
Ricky hanya menarik sudut bibirnya tanpa menjawab pertanyaan Dirga. Dan Dirga sangat memahami sikap Ricky yang seperti itu artinya Ricky tak ingin urusan pribadinya diulik.
" Oh ya, bagaimana dengan persiapan untuk grand opening apartemen di daerah Tangerang, Rick?" tanya Dirga kemudian.
" Iya, siang ini rencananya saya akan pantau ke sana, Pak."
" Ya sudah, kau pergilah kalau begitu."
" Baik, Pak. Permisi ..." Ricky pun berpamitan dan meninggalkan ruangan kerja Dirga.
***
" Bagaimana untuk acara persiapan acara besok, Pak Syamsul?" tanya Ricky pada orang ditunjuk untuk mengurus persiapan grand opening apartemen milik Angkasa Raya Group saat mereka menunggu di depan pintu lift.
" Sudah sembilan puluh sembilan persen beres Pak Ricky." Pak Syamsul menyahuti.
" Bagus, saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun saat acara berlangsung besok," ujar Ricky kembali.
Bruuuggg
Ricky langsung menoleh saat terdengar sesuatu terjatuh dari arah sebelah kiri dia berdiri. Dia melihat seorang wanita menabrak sebuah standing banner di dekat pintu lobby. Dia melihat wanita itu menoleh ke arahnya dengan memasang wajah ketakutan. Setelah wanita merapihkan kembali standing banner yang terjatuh wanita itu terlihat bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ricky mengeryitkan keningnya. Wajah itu, wajah ketakutan itu, mengingatkannya pada seseorang. Ricky langsung berlari ke arah wanita itu pergi tapi dia tak mendapati jejaknya.
" Kenapa, Pak Ricky? Ada apa?" Pak Syamsul yang melihat Ricky berlari, dia pun mengikuti langkah Ricky.
" Wanita tadi, siapa wanita tadi?" tanya Ricky kepada Pak Syamsul.
" Wanita tadi?" Pak Syamsul dibuat terheran dengan pertanyaan Ricky. " Pak Roni, bapak tahu siapa perempuan yang menabrak itu tadi?" Pak Syamsul menunjuk arah standing banner kepada security yang berjaga.
" Oh, itu dari toko bunga, Pak. Tadi ada yang kirim bunga ini kemari." Pak Roni menunjuk karangan bunga.
" Toko bunga? Maksud Bapak dia bekerja di toko bunga?" tanya Ricky penasaran.
" Sepertinya begitu, Pak. Tadi saya disuruh tanda tangan surat tanda terima barang." Pak Roni menjawab.
Ricky kini memutar tubuhnya, dia memandang beberapa karangan bunga ucapan selamat di sana.
" Yang mana karangan bunganya, Pak?"
" Yang tepat di belakang bapak berdiri," sahut Pa Roni.
Ricky langsung memperhatikan karangan bunga itu. Dia mencari nama toko florist di bagian bawah.
Alabama Florist
021 xxxxxx
Ricky dengan cepat mengambil ponsel di saku bagian dalam blazernya. Dia segera menyimpan nomer telepon dan nama toko bunga itu di ponselnya.
Setelah selesai meninjau dan kembali ke kantor lalu melaporkan semua hal tentang persiapan acara untuk besok kepada Dirga, Ricky kembali ke ruang kerjanya.
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menegadahkan wajahnya menatap langit-langit ruangannya beberapa saat. Kemudian di teringat akan sesuatu. Ricky membuka laci meja kerjanya bagian paling bawah. Dia mengambil box kecil yang sudah bertahun-tahun dia simpan di laci meja kerjanya. Ricky membuka box itu dan mengambil sebuah ikat rambut berwarna biru muda milik wanita yang telah dia celakai lima tahun silam.
Ricky menelan salivanya lalu menarik nafas dalam-dalam mengingat kejadian lima tahun lalu yang telah dia perbuat pada seorang gadis cantik yang dia sendiri tak pernah tahu siapa namanya. Dan tadi saat dia melihat wanita yang menabrak standing banner, entah kenapa ingatannya kembali akan perbuatannya di masa lalu.
" Apakah itu kamu?" batin Ricky kemudian mendekatkan ikat rambut itu ke bawah hidungnya seraya memejamkan matanya.
*
*
*
Bersambung ...
Hai #timkarinaricky mohon maaf yg sebesar-besarnya jika Othor tidak bisa memenuhi keinginan kalian, karena dari awal Othor tidak berminat menjodohkan Karina dengan Ricky. Tapi Othor sudah membuatkan novel tersendiri tentang Ricky.
Sejujurnya awalnya ga kepikiran juga bikin novel tentang Ricky, tp karena aku liat banyak yg terpesona sama sosok Ricky muncullah ide buat novel itu. Apalagi di usianya yg ke 35 THN Ricky blm berumah tangga jadi aku buatkan kisahnya seperti yg mungkin sudah sebagian readers ketahui di novel ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Malu. Yang belum meluncur segeralah meluncur ke sana, jangan lupa masukan ke favorit ya. Makasih🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1