
Mama Dirga terkesiap saat Dirga melontarkan pertanyaan penuh selidik kepadanya.
" Apa maksud ucapan Mama tadi? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Sorot mata elang Dirga menatap tajam mamanya, seolah menuntut sebuah kejujuran dari wanita paruh baya itu.
" A-apa maksud kamu, Dirga? Mama tidak menyembunyikan apapun dari kamu." Mama Dirga dengan cepat menyangkal tuduhan Dirga.
" Katakan sejujurnya padaku, Ma. Karena jika suatu saat aku mengetahui ternyata ada sesuatu yang sengaja Mama atau Nadia sembunyikan selama ini dariku, aku tidak akan pernah memaafkan Mama!" tegas Dirga sedikit mengancam.
Mama Dirga menelan salivanya mendengar ancaman dari putranya itu.
" M-mama benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Dirga. Kenapa kamu tidak percaya pada Mama? Apa selama ini Mama pernah berbohong sama kamu? Kenapa kamu tega menuduh Mama?" Mama Dirga mendramatisir seolah merasa terdzolimi karena tuduhan Dirga tadi.
Dirga terus menatap bola mata mamanya, dia mencari apakah ada kebohongan di sana.
" Papa ..." Suara Kayla tiba-tiba terdengar dari pintu kamar Mama Dirga, tak lama gadis kecil itu berlari menghampiri Dirga. " Papa tidul cini (tidur di sini), ya? Kela juga tidul cini." Kayla memeluk tubuh Dirga. " Kela kangen Papa."
" Coba kamu lihat Kayla, apa kamu tega akan meninggalkan dia, Dirga?" Mama Dirga seakan menemukan alasan agar Dirga mengurungkan niatnya menceraikan Nadia. " Bagaimana dengan Kayla nantinya jika dia melihat kamu bersama dengan wanita lain, bukan bersama mamanya? Kayla pasti akan sedih, dia pasti merasa kalau kamu tidak menyanyanginya lagi, Dirga."
" Aku tidak akan meninggalkan Kayla, Ma. Seandainya aku berpisah pun, aku tetap akan menyanyangi Kayla." Dirga membelai kepala Kayla yang sedang bersandar di dadanya dengan penuh kasih sayang." Karena bagaimanapun juga di dalam tubuh Kayla mengalir kuat darah Poetra Laksmana," ucapnya kemudian.
" Dirga, Mama mohon ... jangan membahas hal itu. Biarkan ini menjadi rahasia, kasihan Kayla jika harus mengetahui fakta yang sebenarnya."
" Kelak dia pasti akan tahu yang sebenarnya, Ma. Cepat atau lambat, kebenaran itu akan diketahuinya."
Mama Dirga menghela nafas yang terasa berat. Ingatannya kembali pada kejadian lima tahun lalu saat sang suami pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Illahi.
Flash back on
Empat tahun lebih empat bulan yang lalu
Sejak meninggalnya Papa dari Dirga, Tuan Poetra Laksmana. Dirga seolah dipaksa untuk menghandle beberapa perusahaan yang dimiliki oleh Almarhum Papa Dirga, dibantu oleh Ricky, yang sebelumnya menjadi asisten papanya. Sementara Bima, akhirnya kembali ke Indonesia. Kehilangan seorang suami untuk Nyonya Utami Poetra Laksmana, membuat wanita paruh baya itu terpukul, hingga membuat anak sulung mereka memilih mengakhiri pertualangannya di luar negeri.
Meskipun kembali ke Indonesia, tapi Bima tidak pernah mau berurusan dengan segala hal yang berhubungan dengan perusahaan papanya. Selama di tanah air pun Bima tetap berpergian dari pulau ke pulau mencari inspirasi untuk karya seni lukisnya, tapi seminggu sekali dia selalu menyempatkan diri untuk pulang menemui mamanya.
Seperti itulah selama berbulan-bulan, Dirga lah yang sibuk mengurus segala urusan beberapa perusahaan Papa Dirga. Karena kesibukan itulah yang membuatnya tak tersentuh oleh wanita manapun termasuk mantan kekasihnya, Nadia.
Dirga baru saja memimpin rapat, saat suara getar telepon beberapa kali mengusiknya. Dia menjeda sejenak rapatnya saat dia melihat nama mamanya yang muncul di layar teleponnya.
" Saya minta waktu sebentar." Dirga pamit meninggalkan ruang rapat.
__ADS_1
" Halo? Ada apa, Ma? Aku sedang memimpin rapat." tanya Dirga.
" Mas Dirga, Ibu, Mas ..." terdengar suara Bi Mus asisten rumah tangga di rumah orang tua Dirga.
" Ada apa dengan mama, Bi?" Dirga bertanya dengan penasaran. Apalagi saat dia tahu Bi Mus sedang menggunakan ponsel mamanya.
" Ibu pingsan, Mas."
" Pingsan? Kenapa mama bisa sampai pingsan, Bi? Apa mama sakit?" Dirga seketika dilanda kecemasan.
" Bukan, Mas. Ta-tapi ...."
" Tapi apa, Bi?" Dirga semakin penasaran, dia tak sabar menanti jawaban dari Bi Mus.
" Tadi ada orang dari kepolisian datang kemari, dan mengabarkan jika Mas Bima mengalami kecelakaan di puncak, dan ... dan hiks ... hiks ..." hanya tangisan yang mengakhiri ucapan Bi Mus.
Seketika tubuh Dirga serasa menegang, pikirannya sudah melayang akan suatu hal yang buruk telah menimpa sang kakaknya itu.
" Dan apa, Bi? Kenapa dengan abang, Bi? Polisi itu kasih info apa?"
" Mas Bima, me-meninggal di tempat kejadian, Mas. Hiks ...."
***
Dirga berlari di koridor rumah sakit menuju kamar jenazah. Dirga mendapati mamanya yang sedang menangis hampir semaput di pundak Tante Riska, adik sepupu mamanya.
" Tante?' Dirga memperhatikan mamanya yang terlihat sangat terpukul, menangis seakan tak perduli dengan yang ada di sekitarnya. Dirga langsung meraih tubuh lemah mamanya dari tangan Tante Riska, dan memeluk erat seraya menciumi pucuk kepala mamanya.
" Apa yang sebenarnya terjadi dengan abang, Tan?" tanya Dirga kepada adik sepupu mamanya yang juga berprofesi sebagai dokter itu.
" Abangmu mengalami kecelakaan tunggal saat pulang dari puncak." Tante Riska menyahuti. " Dan abangmu tidak pergi sendiri saat kecelakaan terjadi."
" Ada korban lain? Siapa? Bagaimana kondisinya?" Dengan cepat Dirga bertanya, dia seketika khawatir penumpang lain pun akan mengalami nasib yang sama dengan abangnya.
" Masih ditangani dokter, tapi dia dan bayi yang dikandungnya selamat."
Dirga mengerutkan keningnya. " Abang pergi berdua dengan wanita?"
Tante Riska mengangguk menjawab pertanyaan Dirga.
__ADS_1
" Bima, Dirga ... abangmu Bima, hiks ...."
" Sabar ya, Ma. Ini mungkin sudah kehendak Allah, abang mesti menyusul papa terlebih dahulu." Dirga tak kuasa menahan air matanya. Dia bisa merasakan luka yang dirasakan oleh mamanya, belum genap setahun harus kehilangan suami tercintanya, kini harus kehilangan anak sulungnya. Itulah adalah pukulan hebat untuk mamanya dan tentu saja untuk dirinya juga.
" Tan, siapa teman wanita abang? Karena setauku, abang tak pernah mengenalkan teman wanitanya ke aku atau mama." Dirga kemudian bertanya pada tantenya.
" Hmmm, kamu kenal siapa wanita yang bersama dengan abangmu itu, Dirga."
" Siapa?" Dirga sampai memicingkan matanya, sembari mengingat-ingat kapan Bima pernah mengenalkan teman wanitanya.
" Wanita yang bersama abangmu adalah ... Nadia."
Deg
Dirga terperanjat mendengar nama yang disebutkan oleh Tante Riska.
" Nadia??" Seakan tak percaya Dirga kembali meyakinkan bahwa pendengarannya masih normal.
" Iya, Nadia yang saat kejadian bersama Bima. Dan dia ternyata sedang hamil enam Minggu," ungkap Tante Riska.
Dirga memijat pelipisnya menanggapi berita itu. " Tante yakin, Nadia hamil?" Bagaimana mungkin Dirga bisa percaya jika wanita yang hampir dua tahun ( setelah dia putus dengan Kirania ) selalu saja mengejarnya itu bisa hamil? Apakah Nadia hamil anak Bima? Jika bukan, kenapa dia bisa sedang bersama abangnya itu saat kecelakaan terjadi? Bermacam pertanyaan berkecamuk di benak Dirga saat itu juga.
Tiga hari setelah kepergian Bima, Dirga menemui Nadia yang masih berbaring di rumah sakit yang sama.
" Boo ..." Nadia langsung terisak saat melihat kehadiran Dirga di ruang rawatnya.
" Dirga?"
Tante Farah dan Om Fachri pun menyapa Dirga.
" Om, Tante ... bisa saya bicara empat mata dengan Nadia?" tanya Dirga memohon.
" Baiklah, silahkan kalian berbincang berdua," ujar Om Fachri kemudian menuntun istrinya untuk keluar dari ruangan Nadia.
Dirga menatap Nadia yang masih terisak dan kini menutup seluruh wajah dengan telapak tangannya.
" Bagaimana kondisimu dan bayimu sekarang? Apa janin yang kamu kandung adalah darah daging abangku Bima?" pertanyaan yang lebih terdengar seperti tuduhan tentu saja semakin membuat Nadia terisak semakin kencang, karena wanita itu merasa sangat bersalah dan mengkhianati Dirga.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️