RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Aroma Persaingan


__ADS_3

Dirga menatap Kirania yang masih tertunduk. Dia masih menunggu pertanyaan apa lagi yang akan dilontarkan kepadanya sebagai jawaban atas unek-uneknya yang masih mengganjal di hati Kirania.


" Ada yang perlu aku jelaskan lagi?" tanya Dirga saat dinantinya wanita itu tak juga mengeluarkan kata-kata. " Sesuatu yang mengganjal yang membuat kamu masih nggak yakin sama perasaan aku ke kamu?"


" Aku mau pulang."


Dirga terkekeh. " Rumah kamu dekat saja mintanya buru-buru pulang. Aku saja yang jauh nggak ingin cepat pulang, kok," sambung Dirga. " Antar aku ke mall dulu, yuk!" Kirania menautkan kedua alisnya mendengar ajakan Dirga.


" Aku dari Jakarta cuma bawa baju yang dipakai ini sama backpack, doang. Isinya juga buku pelajaran karena niatnya aku ke kampus bukan mau ke sini." Dirga kembali tertawa kecil mengingat sikapnya yang seperti kehilangan logika demi menemukan Kirania.


" Lagipula siapa suruh datang kemari!" ketus Kirania.


" Aku itu kangen sama kamu, kalau nggak kangen buat apa aku jauh-jauh datang kemari untuk bertemu pujaan hati?"


" Gombal ..." Kirania dengan cepat menyahuti.


Dirga terkekeh melihat wajah Kirania yang merona. " Kita jalan, yuk. Cari baju ganti, sama cari hotel buat menginap." Kirania langsung membulatkan matanya saat mendengar Dirga menyebut hotel dan menginap.


" Aku 'kan mesti cari tempat menginap, atau aku boleh menginap di rumah kamu?" Dirga memainkan kedua alisnya membuat Kirania memutar bola matanya.


" Ayo!" Dirga bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya tapi tak ditanggapi Kirania. Kirania malah bangkit sendiri tak perdulikan uluran tangan Dirga. Tapi saat berjalan ke arah luar restoran dengan cepat Dirga meraih tangan Kirania dan menggenggamnya erat.


" Kalau orang pacaran pegang tangan seperti ini 'kan wajar," ucap Dirga menghalangi Kirania untuk protes atas perlakuan Dirga.


***


Kirania menemani Dirga mencari baju untuk ganti. Bahkan Kirania juga yang memilihkan model dan warna pakaian untuk Dirga karena pria itu yang memintanya memilihkan bajunya.


" Mau beli berapa baju?" tanya Kirania.


" Tergantung kamu."


" Yang mau pakai baju itu kamu, kenapa jadi tergantung aku?!"


" Yang tahu kamu di sini akan berapa lama itu kamu, jadi kamu yang mesti menentukan berapa banyak baju yang mesti dibeli."


Kirania menautkan alisnya tak memahami maksud ucapan dari Dirga.


" Berapa lama kamu ada di sini, selama itu juga aku akan menemani kamu di sini."


" Aku nggak akan kembali ke Jakarta, aku akan menetap di sini!" Kirania berucap asal.


" Ya sudah, kalau begitu aku pindah saja sekalian ke sini."


" Gila kamu, ya?!"


" Aku memang tergila-gila sama kamu, kok." Dirga langsung melingkarkan tangannya di pundak Kirania dan Kirania tidak bisa berontak, karena Dirga memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


" Rania, kamu Kirania, kan?"


Tiba-tiba terdengar suara wanita menyapa Kirania membuat Kirania menoleh ke arahnya. Kirania mendapati seorang pelayan mall tersenyum kepadanya.


" Elis?" Kirania akhirnya mengenali pelayan SPG salah satu Brand pakaian pria itu. Kirania pun berhambur memeluk Elis, teman satu bangku saat masih di SMA. " Kamu kerja di sini?".tanya Kirania.


" Iya, aku pindah kerja, Ran. Kamu gimana? Masih kuliah?" Elis balik bertanya, tapi pandangannya bertumpu menatap pria yang bersama Kirania. " Pacar kamu, Ran?"


" Bu ...."


" Iya!" Dirga memotong ucapan Kirania, karena Dirga tahu Kirania akan berkata apa. " Saya Dirga, calon Imamnya Kirania." Dirga tersenyum lebar seraya memperkenalkan dirinya.


" Saya Elis, teman SMA Rania." Elis membalas perkenalan Dirga." Wah, kemajuan kamu sekarang, sudah mau pacaran." Elis terkikik sambil menutup mulutnya.


" Memang waktu SMA dia nggak pernah pacaran, ya?" selidik Dirga mencoba mencari informasi, sedang Kirania mencebikkan bibirnya menanggapi pertanyaan Dirga kepada temannya.


" Dia anti didekati cowok, Mas. Padahal yang suka keren-keren. Sampai ketua OSIS pun lewat nggak ditanggapi padahal orangnya cakep." Elis menunjukkan jempolnya.


" Nggak usah buka kartu gitu, deh, Lis!" Kirania berbisik pada Elis.


" Sorry, sorry, Ran. Soalnya aku surprise banget kamu bisa dekat sama cowok, ganteng lagi cowoknya." Elis kembali terkekeh.


" Dia kalau nggak dipaksa juga nggak mau aku jadikan pacar, padahal cewek yang antri mau jadi pacar aku berjibun." Dengan penuh percaya diri Dirga berujar.


" Dia memang aneh, Mas. Makanya aku pikir tadinya dia punya kelainan."


" Kamu kenapa ini tarik-tarik aku? Sudah nggak sabar, ya?" Dirga mengerlingkan matanya. Sontak membuat Kirania buru-buru melepas tangannya yang memegang lengan Dirga.


" Kita beli oleh-oleh buat orang rumah kamu dulu, mau dibelikan apa?" tanya Dirga saat mereka antri di kasir


" Cari muka." Kirania menyindir, membuat Dirga menarik tangan Kirania hingga menghadap ke arahnya, kemudian menangkup wajah cantik itu dengan telapak tangannya membuat Kirania terkesiap.


" Lihat muka aku, ada nggak?" Dirga mengarahkan wajah Kirania tepat di hadapan mukanya.


" Ada dan jelek!" Kirania langsung menepis kedua tangan Dirga, membuat Dirga kini memegang wajahnya sendiri. " Astaga, wajah ganteng kaya Chris Evans gini dibilang jelek."


Mendengar ucapan Dirga, Kirania langsung membuang muka sambil menahan senyumnya. Dan Dirga yang sempat melihat tindakan Kirania langsung menyeringai.


" Aku rela dibilang jelek, asal bisa bikin kamu senyum seperti tadi." Bisik Dirga.


" Siapa juga yang tersenyum? Pede banget ..." sanggah Kirania masih tidak ingin menatap wajah Dirga.


***


Lewat jam lima Kirania sampai di rumahnya, setelah menemani Dirga membeli pakaian dan mencarikan tempat penginapan untuk Dirga, yang tidak jauh dari rumah orang tua Kirania, mereka pun kembali ke rumah.


Kirania terkesiap saat mendapati sepeda motor yang terparkir di halaman rumahnya. Sepertinya dia cukup hapal sepeda motor itu milik siapa. Kiania melirik sebentar ke arah Dirga, dia agak ragu untuk melangkahkan kakinya. Tapi tetap dia melangkah masuk ke dalam rumahnya

__ADS_1


" Assalamualaikum ..." Kirania memberi salam.


" Waalaikumsalam ..."


Balas orang yang ada di dalam rumah.


" Mbak Rania dari tadi ditungguin sama Kak Gilang, ke mana saja, sih?" Karina langsung menggerutu saat melihat kedatangan kakaknya.


" Hai, Ran ..." sapa Gilang.


" Hai ..." sahut Kirania pelan.


" Lho, ada cowok ganteng siapa lagi ini, Mbak?" tanya Karina saat mendapati Dirga di belakang Kirania.


" Hai, kamu pasti Karina, ya?" sapa Dirga sok akrab.


" Lho, kok tahu?" tanya Karina bingung.


" Tahu dong, masa sama calon adik ipar sendiri nggak tahu." ucap Dirga melirik ke arah Gilang yang sedang memandangnya dengan sorot mata tak senang.


" Calon adik ipar? Berarti Kakak ini calon kakak Ipar aku, dong?"


" Iya, kenalkan calon kakak ipar kamu, Dirgantara." Dengan percaya diri Dirga memperkenalkan dirinya kepada Karina.


" Ya ampun, Mbak Rania beruntung sekali, sih. Direbutin cowok-cowok ganteng. Ah, rasanya aku ingin cepat-cepat dewasa, deh." Karina berkelakar.


" Bicara apa, sih, Dek?" Kirania memprotes. " Hmmm, aku ke dalam dulu, ya." pamit Kirania masuk ke dalam rumahnya.


" Ini ada makanan." Dirga menyerahkan sekotak dun kin donuts dan Pi zza Hut kepada Karina.


" Wah, Kak Dirga tahu saja ini kesukaan aku." Karina menerima kotak makanan itu dengan riang.


" Kalau kamu suka itu, Kak Gilang bisa belikan kamu tiap hari, Rin." Gilang yang sedari tadi merasa diacuhkan langsung angkat bicara.


Karina yang mendengar ucapan Gilang seketika menatap Gilang dan Dirga bergantian. Dan saat itu juga dia menyadari ada aroma persaingan di antara dua orang pria di hadapannya itu.


" Hmmm, Karina ke dalam juga, ya!" Karina langsung bangkit hendak meninggalkan mereka berdua. " Kalau salah satu ada yang ditolak Mbak Rania. Kalau mau tunggu Karina dewasa. Karina mau jadi pacar kakak-kakak ganteng ini." Karina menyeringai sebelum akhirnya bergegas masuk membawa serta kotak pizza dan donut pemberian Dirga.


*


*


*


Bersambung


Selalu kasih like & komen ya gaes 😁😁

__ADS_1


Happy Reading❤️'


__ADS_2