
" Mestinya kau jangan terlalu egois, jangan hanya memikirkan kebahagian dan kesenanganmu sendiri saja dengan mengorbankan orang yang benar-benar mencintaimu." Edward yang selesai menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Nadia langsung menyindir Dirga.
Dirga menoleh ke arah Edward. " Kau tak sepenuhnya tahu apa yang terjadi, Edo. Aku sudah tidak mencintai Nadia, mau dipaksa seperti apapun perasaan aku sudah tak bisa berubah terhadapnya."
" Karena kau sudah tak mencintainya, lalu kau bisa dengan mudah melupakan dan ingin melepas dia, begitu? Kau memberikan harapan dengan menikahinya lalu setelah kau tak menginginkannya, kau ingin menceraikannya? Come on, dude! Jangan jadi pria pengecut," sindiran Edward semakin membuat telinga Dirga panas.
" Aku tak pernah menjanjikan apa-apa dalam pernikahan kami. Dari awal pun aku sudah meminta dia untuk tidak berharap banyak dengan pernikahan ini!" tegas Dirga geram.
" Kau menyuruhnya tidak berharap dengan pernikahan kalian, tapi kau menghadirkan Kayla di antara kalian. Jangan kau bilang kehadiran Kayla itu karena suatu ketidaksengajaan yang terjadi di antara kalian," cibir Edward kembali.
" Itu tidak yang seperti kau pikirkan, Edo! Sebenarnya Kayla itu ..." Dirga menjeda ucapannya.
" Dirga, Mama mohon ... jangan membahas hal itu. Biarkan ini menjadi rahasia, kasihan Kayla jika harus mengetahui fakta yang sebenarnya."
Sekelebat perkataan mamanya tergiang di benaknya. Jika dia mengatakan pada Edward tentang siapa Kayla sebenarnya, berarti akan semakin banyak orang yang tahu kebenaran tentang Kayla. Karena selama ini yang mengetahui kisah tentang Kayla hanya dia, mamanya, Nadia, orang tua dan adik perempuan Nadia.
" Sebenarnya Kayla itu apa?"
Suara Edward membuyarkan Dirga yang tadi sempat termenung. Dia kembali berpikir, jika dia tak memberitahukan kepada Edward tentang siapa Kayla yang sebenarnya, besar kemungkinan Edward akan menghalangi niatnya bercerai dengan Nadia dan akan menjadi rintangan dalam usahanya mendapatkan Kirania kembali.
" Sebenarnya Kayla itu ... dia bukan anakku."
" What???" Edward langsung melotot saat Dirga mengatakan yang sebenarnya tentang siapa Kayla. " Ma-maksudnya apa dengan kau bilang Kayla bukan anakmu, Ga? Apa Nadia selingkuh dengan pria lain di belakangmu? Apa karena itu sikapmu berubah terhadapnya??" selidik Edward yang benar-benar sedikit syok mengetahui jika Kayla yang dia tahu sangat disayang oleh Dirga bukanlah darah daging sepupunya itu.
Dirga mengedikkan bahunya, dia juga tak bisa menyalahkan dengan mengatakan Nadia selingkuh, karena wanita itu telah terjebak dengan permainan abangnya.
" Lalu Kayla anak siapa? Siapa ayah dari Kayla? Apa kau tahu siapa dia? Kenapa kamu masih terlihat menyanyangi Kayla meskipun kau tahu dia bukan darah dagingmu?" Edward terus menyerbu Dirga dengan beberapa pertanyaan. Dia merasa kecewa, dia sampai tidak mengetahui tentang hal besar seperti ini, padahal keluarga dia dan keluarga Dirga sangatlah dekat.
Dirga menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia memutuskan memberitahukan fakta yang keluarganya sembunyikan selama ini tentang Kayla.
" Tentu saja aku menyanyangi Kayla, karena bagaimanapun juga dia masih berdarah Poetra Laksmana."
Edward memicingkan matanya, dia mulai serius mendengarkan penjelasan dari Dirga. " Maksudmu?"
" Kayla anak dari Bang Bima."
__ADS_1
Bola mata Edward membulat, sudah pasti dia sangat terperanjat dengan fakta yang Dirga ungkapkan. " What the he*ll??" Edward menggelengkan kepala seolah tak percaya. " Kayla anak Bima? How come ? Nadia selingkuh dengan Bima maksudmu?"
Dirga menghela nafas kembali, akhirnya dia pun menceritakan dari awal sampai akhir apa yang dikisahkan Nadia kepadanya beberapa tahun lalu.
" My goodness," Edward mengusap kasar wajahnya.
" Aku menikahi Nadia hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga Poetra Laksmana juga keluarga Om Fachri." Dirga menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun. " Waktu empat tahun lebih, aku rasa cukup pengorbananku selama ini. Sekarang aku sudah menemukan kembali cinta sejatiku. Kerena itu aku akan bercerai dengan Nadia."
" Rumit, sungguh rumit perjalanan kisah percintaan mu ini, Bro." Edward menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa seraya menyisir rambut ke belakang dengan jari tangannya.
" Oh ya, apa Nadia yang menyuruhmu untuk membujukku agar mengurungkan niat bercerai dengannya?" Dirga mencurigai Edward, membuat Pria blasteran itu terkesiap.
" Tentu saja tidak! Aku hanya kasihan padanya, melihat dia sedih sampai mabuk hanya karena kecewa dengan nasib pernikahannya." Edward mengelak.
Dirga berpikir sesaat, sebelum akhirnya seringai tipis nampak di sudut bibirnya. " Kau sangat perduli padanya, aku rasa kau akan bisa mengerti dia."
Edward melirik ke arah Dirga, seketika dia langsung curiga melihat senyuman sepupunya itu. " Apa yang sedang kau rencanakan?"
" Kau tahu, tujuan aku ingin bercerai bukan hanya untuk kebahagiaanku semata, tapi juga untuk kebahagiaan Nadia. Agar dia mendapatkan pria yang bisa menerima dia, yang mencintai dia. Terlepas apa yang terjadi antara dia dan Bima, dia seorang wanita yang setia pada cintanya. Dia layak mendapatkan pria baik yang akan mengerti dirinya, yang menerima dia apa adanya."
" Dia harus secepatnya mendapatkan pria yang bisa membuatnya nyaman agar pikirannya terbuka. Dan aku rasa kau pria yang cocok untuk Nadia. Dan tentu saja agar kau tidak terus menerus mengganggu Kiraniaku." Dirga menyeringai.
"Oh shit ..." umpat Edward menanggapi ide Dirga yang dia anggap gila, karena menyodorkan wanita yang masih berstatus istrinya itu.
***
" Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Kirania dibuat terkesiap saat tiba-tiba dilihatnya Dirga sudah terduduk di tepi meja kerjanya.
" Bapak sedang apa duduk di situ?" tanya Kirania.
" Sedari tadi aku ajak bicara kamu nggak menjawab, ternyata kamu sedang asyik melamun. Apa yang sedang kau lamunkan?" selidik Dirga.
Kirania mendengus kecil, dia teringat kata-kata yang diucapkan mamanya kemarin.
__ADS_1
" Kenapa Bapak nggak menceritakan tentang status Bapak kepada mama saya?" tanya Kirania.
" Dan akan langsung mendapat penolakan dari mamamu, itu yang kamu mau?!" Dengan cepat Dirga membalas Kirania. " Aku sudah mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama, kita tinggal menunggu prosesnya. Semoga semua berjalan lancar."
" Apa Bu Nadia akan menyetujuinya?"
Dirga tersenyum mendengar pertanyaan Kirania, sejauh yang dia ingat, ini pertama kalinya Kirania mulai merespon rencananya dengan baik.
" Aku akan melibatkan Edo dalam hal ini. Aku sedang berusaha meminta bantuan Edo agar membujuk Nadia untuk menyetujui rencana perceraian ini."
Kirania menatap Dirga. " Tuan Edward?"
" Jangan panggil dia tuan, panggil saja seperti kamu memanggilku."
" Kenapa meminta bantuan Pak Edward?"
" Feelingku, sepertinya dia pria yang cocok untuk Nadia."
Kirania membelalakkan matanya. " Bapak ingin menjodohkan Bu Nadia dengan Pak Edward?"
" Tak ada salahnya bukan, kita mencarikan jodoh untuk Nadia? Seperti yang aku bilang kemarin, Nadia pantas mendapatkan pria yang tepat untuknya. Dan aku rasa Edo bisa memberikan kebahagiaan itu untuk Nadia." Dirga membelai kepala Kirania dengan penuh kelembutan.
" Aku sungguh tak sabar untuk segera menikahimu, Sayang. Kita sama-sama berdoa semoga Tuhan mempermudah jalan kita."
Kirania mengerjapkan matanya mendengar ucapan Dirga. Sementara ini, selama Dirga belum benar-benar menyelesaikan pernikahannya dengan Nadia, dia mesti bisa menjaga sikap walaupun sebenarnya dia sangat bahagia jika apa yang Dirga inginkan menjadi kenyataan. Tapi di dalam relung hatinya, dia meng-Aamiin-kan doa yang tadi diucapkan oleh Dirga.
Bersambung ...
Tenang readers, tenang ...
Santai, jangan tegang🤭 Semua udah diatur kapan waktu yang tepat membongkar rahasia satu persatu ya 😁😁
Seperti apa yang aku bilang kemarin, Othor akan memberikan kebahagiaan kepada masing² tokohnya✌️
Happy Reading❤️
__ADS_1