RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kirania Yang Merasa Puas


__ADS_3

Selepas menenangkan diri, Kirania memutuskan meninggalkan apartemen yang ditunjuk Dirga untuk ditempatinya. Kirania segera mengepak kembali baju-bajunya ke dalam koper, dan bergegas keluar kamar apartemen dengan tujuan stasiun Gambir dengan menggunakan taksi online.


Dalam perjalanan menuju stasiun Gambir, Kirania berpikir akan ke mana dia selanjutnya. Apa dia akan kembali saja ke kotanya? Tapi pasti akan menjadi tanda tanya dan beban pikiran mamanya jika akhirnya dia pulang, karena sebelumnya sempat memberitahukan dia cancel pulang ke Cirebon. Sempat juga ingin sembunyi di tempatnya Bude Arum di Purwokerto, tapi dia tidak enak dengan keluarga budenya itu. Belum lagi nanti bakal ada bermacam pertanyaan dari Bude Arum kepadanya, itu yang membuat dia mengurungkan niatnya.


Sesampainya di stasiun Kirania tak juga turun dari taksi online yang dia tumpanginya.


" Mbak, kita sudah sampai tujuan." Driver Ojol itu mengingatkan Kirania karena wanita itu hanya tercenung.


" Oh, tolong antar saya ke hotel terdekat dari sini saja, Pak. Nanti saya kasih tambahan uang tip buat Bapak." Kirania akhirnya memilih beristirahat di salah satu hotel terdekat di stasiun itu sembari berpikir langkah selanjutnya akan seperti apa.


***


Sekitar pukul lima Kirania terbangun, setelah semalaman dia tak juga bisa tidur dan baru tertidur jelang Shubuh. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat fardhu, Kirania akhirnya mengambil keputusan untuk tetap bertahan dengan pekerjaannya sekarang ini, tapi tentu saja dia harus lebih tegas menolak setiap perintah Dirga yang dirasanya tidak berhubungan dengan pekerjaan kantor. Dia mesti tough, tak boleh lemah menghadapi seorang Dirgantara sang pemaksa.


Jam delapan kurang lima menit Kirania sampai di kantor. Dia yakin Dirga pasti belum sampai karena menurut informasi yang dia dapat dari Lisna, Dirga selalu sampai di kantor di atas jam sembilan sampai jam sepuluh.


" Pagi, Mbak Lisna." Kirania menyapa Lisna, sekretaris dari Dirga.


" Pagi, Mbak Kirania. Sudah datang? Nggak sama Pak Dirga?" tanya Lisna heran.


" Memang saya harus datang dengan beliau, Mbak?" Kirania menyahuti.


Lisna terkekeh. " Ya siapa tahu, kalau di film-film 'kan seperti itu. Aspri selalu mengikuti bos ke mana si bos pergi."


" Ke mana pun pergi selama masih urusan kantor sih, oke, Mbak. Kalau di luar kantor itu tugas istrinya buka asprinya." Kirania memutar bola matanya.


" Iya kalau istrinya tinggal bersama, kalau mereka pisah, gimana?"


Perkataan Lisna membuat Kirania tergelitik untuk menanyakan perihal kehidupan pribadi mantan kekasihnya itu.


" Memang Pak Dirga pisah dengan istrinya?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut Kirania. Dia tergoda juga untuk bertanya.


Lisna melirik cctv yang mengarah ke mejanya. " Kita ngobrolnya pelan-pelan saja sambil melakukan aktivitas ya, biar nggak kelihatan sedang bergosip." Lisna kemudian menyodorkan arsip yang mesti Kirania taruh di meja bos. " Ini beberapa surat yang mesti ditanda tangani Dirga.


" Oh, iya, Mbak." Kirania yang paham dengan perkataan Lisna langsung mengambil arsip tersebut dan mengecek bagian mana yang harus dibubuhi tanda tangan Dirga.


" Sebenarnya pak bos sejak dulu memang kurang harmonis dengan istrinya, makanya tinggal terpisah." Lisna mulai bercerita. " Padahal Ibu Nadia itu orangnya baik banget, sama karyawan juga ramah, beda dengan Pak Dirga yang kini berubah galak, untuk senyum sama karyawan saja susah banget."


" Nadia? Berarti dia benar menikah dengan kekasihnya itu." Kirania membantin.


" Padahal dulu nggak gitu, deh. Dulu Pak Dirga waktu masih muda jamannya masih sekolah sama kuliah itu humble banget orangnya. Kadang kalau kebetulan datang kemari menemui Pak Poetra selalu bawa makanan buat dibagi-bagi karyawan sini. Tapi sejak menggantikan Pak Poetra sekitar enam tahun lalu, Pak Dirga itu berubah sifatnya jadi dingin, wataknya juga jadi keras. Kesalahan karyawan sedikit saja kadang nggak bisa ditolerir sama beliau." Lisna melanjutkan ceritakan.


" Mbak Lisna sudah lama kerja di sini?"

__ADS_1


" Lebih dari sepuluh tahun saya kerja di perusahaan ini."


" Jadi Mbak Lisna tahu jaman Pak Dirga kuliah dulu?"


" Tahu dari sejak SMA malah."


" Oh, gitu ..." Kirania berpikir sejenak. " Apa Pak Dirga itu dijodohkan dengan istrinya sehingga hubungan rumah tangga mereka kurang harmonis?"


" Ibu Nadia itu kekasih Pak Dirga sejak SMA. Mereka itu dulu saling mencintai, pasangan yang serasi dan terlihat sangat bahagia. Bu Nadia sering diajak kemari jaman pacaran dulu, makanya saya heran kenapa sejak menikah malah jadi seperti ini?"


" Apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangga mereka, mungkin karena memang ada alasan tertentu yang membuat hubungan mereka jadi seperti ini." Kirania menanggapi. " Kalau begitu saya ke dalam dulu ya, Mbak."


" Oke, Mbak Kirania."


" Panggil saya Rania saja, Mbak. Nggak usah pakai embel-embel Mbak segala," pinta Kirania.


" Oke deh, Rania. Biar lebih akrab juga 'kan, ya?" Kirania tersenyum seraya menganggukan kepalanya sembari melangkahkan kaki menuju ruangan Dirga.


***


Satu jam Kirania berada di ruang kerja Dirga. Tak banyak yang dikerjakan olehnya. Arsip yang perlu ditanda tangani sudah dia letakan di atas meja kerja Dirga. Proposal yang diperlukan untuk pembahasan kerjasama dengan PT. Cakrawala Persada pun sudah dia siapkan.


Kirania memerhatikan tiap sudut ruang kerja Dirga, ada dua foto yang tergantung di dinding. Satu foto terlihat pria paruh baya yang Kirania duga adalah Bapak Poetra Laksmana, karena di samping pria itu ada seorang wanita paruh baya yang Kirania kenal itu adalah mama dari Dirga. Satu foto lagi terdapat sepasang orang tua tadi bersama dua orang anak laki-laki, Dirga dan seorang pria yang tak kalah tampannya dengan Dirga yang Kirania duga itu adalah kakak dari Dirga, yaitu Bimantara. Sebenarnya Kirania tergelitik untuk menelusuri seluruh ruangan ini, tapi dia teringat ada cctv yang siap merekam setiap aktivitasnya.


" Baik, Pak. Hari ini Pak Dirga ada janji dengan Pak Zulkarnaen dari PT. Cakrawala Persada." Terdengar Lisna berbicara, sepertinya Dirga lah yang menelepon.


" Baik, Pak." sahut Lisna lagi kemudian menutup panggilan telepon.


" Pak Dirga yang telepon, Mbak?" tanya Kirania.


" Iya, Ran. Beliau mau keluar kota jadi hari ini nggak masuk kantor." Lisna menjawab.


" Luar kota?" tanya Kirania mengeryitkan.


" Iya, kamu nggak tahu?"


Kirania menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Lisna.


***


Selepas sholat Dzuhur dan makan siang, Kirania memilih tetap membantu pekerjaan Lisna, karena dia sendiri kebingungan akan melakukan tugas apa, saat tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ternyata adiknya yang menghubunginya.


" Assalamualaikum, Mbak. Mbak ada di mana?"

__ADS_1


" Waalaikumsalam, ada apa, Rin? Mbak ada di tempat kerja." Kirania menjawab pertanyaan Karina.


" Di tempat kerja? Serius di tempat kerja?"


" Iya, kenapa memang?" Kirania mengeryitkan keningnya.


" Beneran di tempat kerja ini? Mbak nggak kabur?"


" Kabur? Kabur ke mana? Mbak ada di kantor, kok." Kirania makin bingung dengan pertanyaan Karina yang seolah sedang menyelidikinya.


" Mbak nggak bohong, kan?"


" Astaghfirullah, kamu nggak percaya? Kamu video call, deh." Kirania terlihat kesal karena Karina menganggap dirinya berbohong.


Tak lama Karina mengganti panggilannya menjadi video call.


" Lihat, nih. Suasana kantor, kan?"


Kirania memperlihatkan ruangan di sekitar dirinya berada untuk meyakinkan adiknya itu.


" Oh, ya sudah. Selamat bekerja ya, Mbak. Assalamualaikum." Kemudian Karina menutup panggilan video call nya.


" Siapa, Ran?" tanya Lisna saat Kirania menutup panggilan telepon.


" Adikku, Mbak."


" Dia nggak percaya kamu kerja?"


" Iya, aku juga heran. Nggak biasa-biasanya dia begitu."


Tak lama berselang sebuah pesan dari Karina masuk di WhatsApp nya.


" Ada Kak Dirga di sini, makanya aku tadi telepon Mbak. Kak Dirga nyari sampai ke sini, karena Kak Dirga pikir Mbak Rania kabur dari Jakarta."


Pesan dari Karina membuat Kirania membelalakkan matanya, tapi tak lama satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Dia tidak pernah menduga jika bosnya itu akan kalang kabut sampai menyusul ke kota Cirebon. Kirania merasa puas dia sudah membuat big boss pemaksa itu berbuat suatu hal yang sia-sia.


Bersambung ....


Parcayalah, Ran. Bukan dirimu saja yang merasa puas. Semua readers juga merasa seperti itu.😂


Mohon maaf kemarin nggak bisa up, karena ada sanak saudara yang sedang berkabung🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2