
" Abang, apa hari ini aku boleh tinggal di apartemen saja menemani Karina? Mumpung dia sedang ada di sini jadi aku nggak ngerasa kesepian ada yang menemani?" tanya Kirania saat dia menyiapkan pakaian kerja untuk Dirga.
" Aku nggak mengijinkan." Dirga menolak permintaan Kirania.
" Sehari saja, Abang. Besok 'kan Karina pulang ke Cirebon." Kirania mencoba merayu sang suami.
" Aku bilang nggak, ya nggak. Mau ada siapapun yang menemani kamu di sini, kamu tetap harus ikut ke kantor denganku," tegas Dirga tak mau dibantah.
" Ck, Abang menyebalkan!" Kirania berdecak kesal seraya berlalu meninggalkan Dirga yang menyeringai mendapati istrinya merajuk seperti itu.
Beberapa menit kemudian di meja makan.
Karina memandangi kakak dan kakak iparnya itu bergantian. Entah mengapa dia merasa ada keanehan di antara Dirga dan Kirania. Memang sejak kecil orang tua Karina membiasakan untuk tidak berbicara saat sedang makan, tapi suasana kali ini nampak sedikit beda terlebih saat dia mendapati wajah kakaknya yang sejak tadi terlihat cemberut.
" Mbak, sedang bertengkar dengan Kak Dirga, ya? tanya Karina saat mereka sedang membereskan piring dan gelas setelah mereka selesai sarapan sedang Dirga beranjak ke ruang kerja.
* Abangmu itu menyebalkan sekali. Mbak minta ijin untuk nggak ikut ke kantor hari ini karena ingin menemani kamu, tapi nggak diijinkan." Kirania menggerutu.
" Kak Dirga benar-benar nggak mau jauh dari Mbak Rania. Kak Dirga terlalu sayang sama Mbak." Karina berpendapat.
" Sayang sih sayang, tapi nggak mengekang gini juga mestinya." Kirania menampik.
* Ya sudah, terima saja nasibmu, Mbak." Karina terkekeh.
* Kenapa kalian masih merumpi di situ? Cepat ganti pakaian." Tiba-tiba terdengar suara Dirga memecah obrolan kedua kakak beradik itu.
" Iya buruan sana ganti baju, Nyonya Dirga." Karina meledek kakaknya.
" Kamu juga cepat ganti baju, kamu nanti menemani kakakmu di kantor." Dirga kembali memberi perintah,
" A-aku mesti ikut ke kantor lagi, Kak?" tanya Karina menunjuk dirinya.
" Iya."
" A-aku di sini saja deh, Kak. Nggak apa-apa kok, sendirian juga." Karina menolak permintaan Dirga seraya melirik kakaknya yang hanya mengedikkan bahunya.
" Aku tidak sedang memberikan kamu pilihan. Cepat ganti bajumu!" perintah Dirga lagi.
" Dan kamu, kenapa masih di sini saja, cepat ganti bajumu atau ..." Dirga mendekat ke dekat telinga Kirania. " Aku yang akan menelan*jangimu di sini, hmmm?"
Ancaman Dirga sontak membuat Kirania bergegas menuju kamarnya membuat Dirga terkekeh.
__ADS_1
***
" Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri dengan lingkungan kantor Angkasa Raya, Karina. Karena aku akan memindahkan kamu untuk bekerja di sana," ucap Dirga saat mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju kantor dengan Pak Seno yang mengemudikan mobilnya.
" A-aku kerja di perusahaan kakak?"
" Apa maksud Abang?"
Karina dan Kirania bertanya berbarengan walau dengan pertanyaan yang berbeda.
" Aku ingin Karina bekerja di perusahaanku,* tegas Dirga.
" Karina kerja di kantor Abang? Berarti mama ditinggal sendirian di rumah? Nggak bisa begitu dong, Bang. Aku nggak setuju jika Karina pindah ke Jakarta ini dan meninggalkan mama sendiri." Kirania menentang keputusan suaminya.
" Aku sudah bicara dengan Mama Saras, tentang rencana kepindahan Karina kemari, dan Mama Saras sudah menyetujuinya." Dirga menerangkan.
" Abang nggak bisa seenaknya saja ambil keputusan tanpa persetujuan dariku, dong." Kirania terlihat kesal.
" Aku ini suamimu, Sayang. Aku mengambil keputusan yang terbaik untuk kalian." Dirga membelai lembut kepala Kirania.
" Tapi Kak, aku 'kan masih bekerja di tempat kerjaku sekarang," sanggah Karina.
" Mestinya Abang diskusi dulu sama aku, minta pendapat aku, apa aku setuju atau tidak. Jangan mutusin sendiri saja," geram Kirania.
" Apapun pendapatmu, tetap aku yang pegang keputusan 'kan, Sayang?" Dirga kembali membelai lembut kepala Kirania tapi kali ini dengan cepat wanita itu menepisnya.
" Terserah Abang sajalah!" ketus Kirania kemudian menggeser posisi duduknya menjauh dari suaminya dengan melipat tangannya di dada dan melempar pandangan ke luar jendela. Kirania merasa kesal jika menghadapi sikap pemaksa suaminya itu yang sejak dari dulu menjadi ciri seorang Dirgantara. Dia tahu suaminya itu sangat menyanyanginya tapi kadang dia merasa kebebasannya itu terpasung dengan sikap Dirga yang seperti itu
Sementara Karina yang mendengarkan perselisihan antara Dirga dan Kirania memilih diam tak berbicara.
***
" Kamu masih marah sama aku, hmm?" Dirga segera merengkuh pinggang Kirania saat wanita itu keluar dari toilet. Sedangkan Karina sendiri sedang ke pantry untuk membuat minuman.
" Abang lepaskan ..." Kirania berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.
" Aku minta maaf kalau bikin kamu kecewa karena keputusanku." Dirga langsung menghadiahi sebuah kecupan manis di pipi Kirania.
" Aku kesal sama Abang, kita mestinya berdiskusi dulu sebelum Abang mengambil keputusan." Kirania merajuk.
" Iya aku minta maaf, sini aku jelaskan ..." Dirga menarik tangan Kirania lalu mengajaknya deduk di sofa.
__ADS_1
" Semalam aku sudah berdiskusi dengan mama soal Karina ...."
" Abang cerita ke mama soal kebohongan Karina?" Kirania memotong omongan suaminya.
" Mama berhak tahu, tapi aku bilang ke mama everything is under control. Dan mama mengerti karena aku bilang aku nggak ingin ada kejadian seperti yang adikmu itu lakukan brrbohong dengan tujuannya. Jika adikmu itu tetap tinggal di Cirebon bukan tidak mungkin adikmu akan pergi menemui pria itu lagi. Tapi jika Karina bekerja di sini kita bisa mengawasinya bersama." Dirga mengemukakan pendapatnya. ," Nanti Karina aku suruh tinggal di apartemen di samping apartemenku, kamar apartemen yang pernah kamu pakai dulu."
" Lantas mama gimana? Kasihan kalau mama sendirian di rumah." Kirania memasang wajah sendu.
" Aku sudah ajak mama kamu supaya mau ikut bersama kita tapi beliau menolak dengan alasan toko."
" Iya, mama selalu saja keberatan jika diminta meninggalkan toko di pasar yang sudah mama dan almarhum papan rintis dari awal mereka menikah."
" Kita membujuk mama sambil jalan, ya? Semoga Mama Saras cepat berubah pikiran. Sementara ini aku akan carikan orang yang bisa dipercaya untuk menemani mama di sana. Nanti tiap weekend kalau kamu ingin pulang ketemu mama kita bisa pulang ke Cirebon."
Kirania menatap wajah suaminya dengan rasa bersalah. Dia kemudian melingkarkan tangannya ke perut Dirga seraya menyandarkan kepala ke pundak kekar yang suami.
" Maafkan aku, Abang. Aku sudah menuduh Abang semena-mena karena sudah mengatur kehidupan Karina,"
Dirga membelai puncak kepala Kirania. " Tidak masalah kok, asal kau siap menerima hukuman dariku." Dirga menyeringai tapi Kirania tidak memikirkan apa hukuman yang akan diberikan suaminya itu.
" Lalu di sini Karina akan mengerjakan apa?" tanya Kirania kemudian.
" Aku akan menempatkan dia berdampingan dengan Ricky ... Ricky akan sangat sibuk ke depan."
" Pak Ricky?"
" Iya,"
" Aku takut Karina tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, Abang." Kirania merasa cemas.
" Setiap orang berhak untuk belajar, termasuk adikmu itu. Dan alasan terselubung aku lainnya adalah ingin mendekatkan Ricky dan Karina. Siapa tahu mereka berdua itu berjodoh ...."
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1