RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Jaga Jarak


__ADS_3

" Hei, kenapa malah melamun?" tanya Dirga seraya mengusap pucuk kepala Kirania saat Dirga mengantar Kirania pulang. Setelah perbincangan yang menegangkan antara Dirga, mamanya dan juga Nadia.


" Kenapa kamu tega melakukan itu?" tanya Kirania lirih.


" Melakukan apa lagi, sih? Kamu masih kurang percaya jika aku benar-benar sayang dan serius sama kamu? Kamu ingin bukti apa lagi?"


Kirania menoleh ke arah Dirga yang sedang melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


" Apa kamu pikir aku bahagia dengan kejadian ini? Apa kamu pikir aku senang dengan pengakuan kamu di depan mama kamu dan Kak Nadia tadi?" ada nada gusar yang terdengar dari pertanyaan-pertanyaan Kirania yang dilontarkan kepada Dirga.


" Bukankah itu yang kamu inginkan? Pengakuan tentang siapa kamu sesungguhnya buat aku?"


Kirania menggelengkan kepala berkali-kali. " Kamu nggak perdulikan kekecewaan mama kamu. Kamu nggak perduli sakitnya hati Kak Nadia dengan sikap kamu ini."


" Mereka harus menerima kenyataan itu."


" Kamu mencintai Kak Nadia?"


" Dulu iya."


" Kamu cinta aku?"


" Itu sudah pasti."


" Untuk berapa lama?"


Dirga menoleh ke arah Kirania dengan kening berkerut. " Maksud kamu?" tanyanya bingung.


" Kamu dulu sangat mencintai Kak Nadia. Sekarang rasa cinta kamu untuknya telah hilang. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama terhadap aku nantinya? Saat kamu menemukan wanita lain, kamu juga akan mencampakkan aku seperti Kak Nadia?"


" Kamu jangan bicara ngaco. Itu nggak akan terjadi!" tegas Dirga seolah tak menyukai perkataan Kirania tadi.


" Apa kesalahan Kak Nadia sehingga kamu melepaskan perasaan cinta kamu ke dia? Apa dia selingkuh? Apa Kak Nadia mengkhianati kamu?" pertanyaan Kirania seolah menuntut penjelasan, tapi tak ada juga jawaban yang keluar dari mulut Dirga. " Sebelum sama aku, kamu dekat sama banyak wanita. Bahkan kabarnya kamu sering tidur ...."


" Itu nggak benar! Berita itu hoax!" dengan tegas Dirga menyangkal. " Okelah, aku memang terlihat bebas, kencan dengan banyak wanita, icip-icip tubuh mereka. Tapi aku berani bersumpah, aku nggak pernah sampai berse tubuh dengan mereka." Dirga mengungkapkan bagaimana pergaulannya selama ini.


" Apa saat bersentuhan dengan teman kencan kamu, kamu nggak pernah mengingat Kak Nadia yang masih menjaga cintanya untukmu, Kak? Bagaimana jika suatu saat itu terjadi padaku? Jika suatu saat aku yang harus berpisah jarak dan waktu dengan kamu. Apa kamu juga akan meninggalkan aku, seperti kamu meninggalkan Kak Nadia?"


" Itu nggak akan terjadi. Kamu nggak akan pergi ke mana-mana. Aku nggak akan ijinkan kamu jauh dari aku!"

__ADS_1


" Kamu egois, Kak."


" Aku nggak perduli dibilang egois. Yang pasti aku tak akan biarkan kamu pergi meninggalkan aku."


Kirania menarik nafas dalam-dalam.


" Aku pikir ... sebaiknya kita jaga jarak untuk sementara waktu ini."


Dirga langsung menghentikan laju mobilnya secara mendadak saat mendengar perkataan Kirania.


" Astaghfirullahal adzim ... hati-hati, dong, Kak." Kirania memegang dadanya karena merasa sangat kaget atas tindakan Dirga tadi.


" Kamu bicara apa, sih?!" geram Dirga marah karena ucapan Kirania.


Kirania menunduk, dia juga sebenarnya bingung apa yang dia inginkan. Dia ingin bisa bersama Dirga, tapi mengetahui hal yang sebenarnya terjadi antara Dirga dan mantan kekasih pria itu, membuat hatinya menjadi gamang.


" Sebaiknya kita menjaga jarak sampai kamu bisa menyelesaikan permasalahan kamu dengan orang tua kamu dan Kak Nadia."


" Masalah aku dengan Nadia sudah selesai. Kamu tahu sendiri 'kan tadi aku sudah tegaskan kalau aku memilih tetap bersama dengan kamu di depan mereka?!" Dirga terlihat kesal dengan keputusan yang ingin Kirania ambil.


" Selesai menurut kamu, bukan mereka."


" Astaga, Yank. Apa lagi yang kamu ragukan, sih?"


" Aku akan tetap pilih kamu."


" Jangan bersikap egois, Kak."


" Ran, jangan paksa aku melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan! Aku tidak akan pernah menjauh dari kamu! Tidak akan pernah!!" tegas Dirga penuh keyakinan.


***


Kirania baru saja selesai mengikuti mata kuliah yang diajar oleh Pak Reyhan.


" Ran, saya bisa titip sesuatu?"


Kirania menoleh ke arah Pak Reyhan yang berjalan ke arah dia yang sedang memasukan buku ke dalam tasnya.


" Titip apa, Pak?" Kirania mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Tadi Reyna minta dibelikan suatu makanan kalau saya pulang. Tapi sepertinya saya masih harus tertahan untuk beberapa jam di sini. Reyna sedang ada di rumah tantenya. Apa kamu tidak keberatan jika saya meminta tolong membawakan pesanan Reyna?"


" Oh boleh, Pak." Kirania merasa tidak keberatan. Karena bantuan yang diminta Reyhan tidaklah merepotkan.


" Kalau begitu, nanti kamu ke ruangan saya ya, kalau mau pulang."


" Baik, Pak."


" Ya sudah, saya duluan, ya." Reyhan pun kemudian berpamitan sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Kirania dan teman-temannya.


" Bil, apa ada yang terlewat oleh kita, ya?" Sindir Hasna berbicara kepada Sabilla.


" Iya nih, aku juga kok mencium aroma-aroma affair dosen sama mahasiswi, deh." Sabilla ikut menyindir.


" Astaghfirullahal adzim, kamu ini asal banget deh kalau bicara." Kirania mencebik.


" Lalu, tadi apa dong, ada acara titip-titip gitu?" selidik Sabilla. " Kalau aku perhatikan ya, belakangan ini Pak Reyhan kalau sedang mengajar suka curi-curi pandang ke kamu, lho."


" Ck, jangan suka suudzon, dong." Kirania mengelak.


" Awalnya sih mungkin aku suudzon. Tapi setelah apa yang terjadi baru saja, aku rasa curi-curi pandang Pak Reyhan itu mengandung arti, deh." Sabilla memaparkan dugaannya.


" Terus kenapa Pak Reyhan bisa titip barang ke kamu? Memangnya mau diantar ke mana? Dan siapa tadi Reyna itu? Ada apa kamu dengan Pak Reyhan?" Hasna pun penasaran ikut menyelisik.


" Aku lupa belum kasih tahu kalian. Kalau adiknya Pak Reyhan itu pindah ke depan rumah pakde aku. Terus aku pernah ketemu sama anaknya Pak Reyhan, namanya Reyna. Lucu deh anaknya. Kata Pak Reyhan sih, anaknya itu susah bergaul dengan orang asing yang baru dikenal. Tapi sama aku malah bisa cepat akrab. Malah kalau Pak Reyhan berkunjung ke rumah adiknya dan membawa Reyna, pasti anak itu main di tempatku." Kirania menceritakan kenapa bisa Pak Reyhan meminta pertolongannya.


" Wah, gawat kalau urusannya begini." Hasna langsung berkomentar mendengarkan cerita Kirania.


" Gawat jangan sampai ada kejadian mahasiswa meninju dosennya sendiri gara-gara cemburu buta." Sabilla sepertinya paham akan perkataan Kirania.


" Maksudnya?"


" Astaga, Ran. Kamu itu polos banget sih, jadi orang. Kamu tahu 'kan kalau Pak Reyhan itu duren, duda keren. Sekarang anaknya malah dekat sama kamu. Kamu nggak takut kalau anaknya jadi ketergantungan sama kamu, terus minta supaya kamu menikah dengan papanya? Seperti kebanyakan cerita-cerita di novel itu, lho." Hasna memaparkan.


" Kalian sama Kak Dirga kok sama saja isi pikirannya? Kak Dirga juga kemarin bilang begitu." Kirania kembali mencebikkan bibirnya.


" Kak Dirga tahu??" Hasna dan Sabilla bersamaan bertanya.


" Iya, dan dia juga bicara seperti yang kalian bicarakan tadi. Ck, bisa nggak sih, nggak berburuk sangka sama orang lain?" Kirania kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading❤️


__ADS_2