RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tidak Bisa Move On


__ADS_3

Selepas kembali ke ruang kerjanya, Kirania hanya diam termenung. Semangat kerjanya seolah menguap entah ke mana. Dia memperhatikan jam dinding. Menanti waktu setengah jam terasa sangat lama sekali. Dia tidak tahu apa yang akan Dirga lakukan kepadanya nanti. Dari sorot mata pria itu tadi juga saat pria itu menanyakan tentang siapa dirinya kepada Pak Leo, apakah Dirga benar-benar telah melupakannya? Atau mungkin sikap dinginnya tadi adalah buntut atas kekecewaan atas keputusan yang dia ambil dulu. Kirania tiba-tiba teringat akan mimpinya beberapa hari lalu. Mimpi yang mempertemukannya kembali dengan pria yang mungkin sampai saat ini masih dicintainya. Dan kali ini sepertinya yang dia hadapi bukanlah sekedar mimpi.


" Ran, kata Pak Leo, kamu ditunggu di ruangan big bos sekarang." Ucapan Pandu membuyarkan lamunan Kirania.


" Iya." Kirania lalu bangkit hendak melangkah tapi tangan Sheril mencekal tangan Kirania, membuat Kirania langsung menoleh ke arahnya.


" Semoga nggak terjadi apa-apa, Ran. Aku khawatir big bos sampai pecat kamu." Sheril terlihat khawatir.


Kirania menepuk punggung tangan Sheril. " Nggak ada alasan beliau pecat aku. Aku rasa tindakan yang aku ambil sudah tepat, kok. Kamu bisa bayangkan jika anak beliau terkurung sendirian dalam lift berjalan dari lantai delapan ke lantai empat?"


" Pasti ketakutan banget."


" Jadi itu bukan alasan buat dia pecat aku, kan?"


" Lalu kenapa big bos suruh kamu ke ruangannya?"


Kirania mengedikkan bahunya. " Mau kasih aku reward mungkin." Kirania masih sempat berkelakar sebelum meninggalkan ruangannya menuju dua lantai di atasnya.


Ting


Pintu lift terbuka ...


Dengan langkah sedikit agak ragu dia melangkahkan kakinya. Bukan karena takut disalahkan karena kejadian dengan Kayla tadi yang membuatnya gelisah, tapi orang yang akan ditemuinya itu yang membuat hatinya gelisah.


" Permisi, Mbak. Saya disuruh menghadap Pak Dirga." Kirania berkata kepada sekretaris bosnya.


" Oh iya, Mbak sudah ditunggu di dalam." Lisna kemudian melangkah ke arah ruangan Dirga.


Tok tok tok


." Permisi, Pak. Karyawan dari divisi marketing sudah menunggu di depan," ucap Lisna setelah


membuka pintu ruangan Dirga.


" Suruh dia masuk," tegas Dirga.


" Baik, Pak. Permisi ..." pamit Lisna kemudian mempersilahkan Kirania masuk dan kembali menutup pintu.


Kirania menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya memasuki ruangan Dirga.


Tiba saat mengerti, jerit suara hati ...


Letih meski mencoba, menaklukkan ...


Rasa yang ada ...


Kirania menelan salivanya saat terdengar suara Reza Artamevia melantunkan tembang dari dalam ruangan Dirga. Perih, itu yang terasa di hati Kirania.


" Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" Dengan suara hampir tercekat di tenggorokan Kirania berkata.

__ADS_1


" Hmmm ..." hanya itu sahutan yang keluar dari mulut Dirga.


Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu ...


Temani air mataku, teteskan lara ...


Merajut asa, menjalin mimpi ...


Endapkan sepi-sepi ...


Dengan diiringi lagu yang sepertinya sengaja diputar oleh Dirga, Kirania melangkah perlahan menuju ke arah di depan meja Dirga.


Dirga kemudian duduk menyandarkan punggungnya ke punggung kursi kerjanya. Sedang matanya kini menatap Kirania yang sedikit tertunduk tak menatapnya.


Cinta 'kan membawamu kembali di sini ...


Menuai rindu, membasuh perih ...


Bawa serta dirimu, dirimu yang dulu ...


Mencintaiku apa adanya ...


Kirania harus menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan matanya. Apa maksudnya dengan memperdengarkan lagu itu saat ini.


" Eheemm ..." Dirga berdehem, membuat Kirania langsung mendongakkan kepalanya hingga saat ini mata mereka saling bertemu, saling bertautan dan menatap lekat beberapa saat.


" Iya, Pak," lirih Kirania.


" Kalau ditanya jawab yang tegas, jangan seperti orang bergumam." ketus Dirga membuat dada Kirania serasa bergemuruh.


" Iya, Pak." tegas Kirania dengan lantang.


" Tidak usah teriak-teriak, pendengaran saya masih normal." Masih dengan nada sinis Dirga berbicara, membuat Kirania mendengus kesal.


" Berapa lama berkerja di kantor cabang Cirebon?"


" Lima tahun, Pak."


" Hmmm, Atas dasar apa kantor cabang mempromosikan kamu naik ke pusat?" Setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dirga kepada Kirania seakan mengintimidasinya.


Kirania menelan salivanya, tentu dia sendiri tidak tahu pasti kenapa kantor tempatnya dulu bekerja itu mempromosikan dirinya. Tapi satu yang pasti dia selalu bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan tempat kerjanya dulu.


" Kenapa tidak menjawab? Apa karena kamu tahu jika bosnya adalah saya?" sindir Dirga tak pernah putus mengarahkan pandangan matanya ke arah Kirania.


" Saya rasa pimpinan saya di sana punya penilaian yang matang mengapa mempromosikan saya ke kantor pusat, Pak," tegas Kirania membuat Dirga sedikit menaikan satu alisnya mendengar jawaban Kirania yang lugas.


" Kirania Ambarwati, S.E ... pernah kuliah memangnya?" Pertanyaan Dirga membuat Kirania mengeryitkan keningnya.


Bagaimana mungkin pria di hadapannya ini meragukan gelarnya dengan menanyakan apakah dirinya pernah kuliah? Bukankah pria itu tahu jika dirinya memang kuliah bahkan satu kampus dengan pria itu. Bukankah pria ini juga adalah ... rasanya Kirania tidak cukup sanggup untuk mengingatnya lagi.

__ADS_1


" Maaf, Pak. Saya bukan orang licik yang memanipulasi gelar sarjana hanya untuk mendapatkan suatu pekerjaan layak," sergah Kirania.


" Memang pernah kuliah di mana?" Sungguh Dirga berlaga seperti orang asing di hadapan Kirania.


" Di Universitas X ..." sahut Kirania.


Dirga kemudian bangkit dan berjalan ke depan Kirania dan menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerjanya berhadapan langsung dengan Kirania yang berjarak hanya satu meter dengannya.


" Sudah menikah?" tanya Dirga seraya melipat tangan di dadanya.


" Maaf, Pak. Saya bukan orang yang baru melamar pekerjaan hingga harus ditanya perihal itu." Kirania merasa tak nyaman dengan pertanyaan Dirga tadi.


" Kamu lupa kalau kamu itu karyawan baru di sini? Saya tidak ingin karyawan baru di tempat saya dipusingkan dengan masalah rumah tangganya, tiba-tiba ijin karena suami sakit, tiba-tiba ijin karena ...."


" Bapak tidak perlu khawatir, saya belum menikah. Jadi kinerja saya tidak akan terganggu oleh permasalahan yang bapak sebutkan tadi." Dengan sedikit kesal Kirania menjawab pertanyaan Dirga.


Sementara Dirga menarik sedikit sudut bibirnya, hingga tercipta senyuman tipis dan terlihat samar.


" Tunangan? Pacar?"


Kirania memicingkan matanya mendengar pertanyaan Dirga, rasanya dia ingin segera keluar dari ruangan itu secepatnya.


" Kenapa tidak dijawab?"


" Apa saya perlu menjawab itu, Pak?"


" Ya ... saya tidak mau juga, karena kamu ribut-ribut putus sama pacar kamu, bikin kamu patah hati, tidak konsen sama pekerjaan."


" Saya pastikan pekerjaan saya tidak akan terpengaruh akan hal itu." Kirania berucap tegas.


" Kamu belum menjawab pertanyaan saya."


Kirania mendengus, dia tahu tujuan Dirga sebenarnya ke arah mana.


" Tunangan? Pacar?" Dirga kembali mengulang pertanyaannya. Padahal jika alasan Dirga menanyakan hal itu seperti yang Dirga sampaikan tadi, sebenarnya jawaban Kirania sudah menegaskan jika Kirania bisa bersikap profesional.


" Saya tidak bertunangan dan tidak ada pacar." Dengan nada tercekat Kirania terucap.


Dirga melangkah mengitari Kirania yang masih berdiri.


" Umur kamu?"


" Dua puluh tujuh tahun."


" Dua puluh tujuh tahun? Usia yang matang. Masih single, tidak punya tunangan, tidak punya pacar, kenapa?" Dirga kini berhenti tepat di belakang Kirania. " Kenapa belum menikah? Apa kamu tidak bisa move on dari mantan kamu dulu?" Suara dan hembusan nafas Dirga di telinga Kirania seketika membuat darah Kirania berdesir, terlebih lagi dengan kalimat terakhir yang diucapkan Dirga kepadanya.


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2