RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tunjukkan Aksimu


__ADS_3

Karina baru saja sampai di meja kerjanya setelah dia selesai mengikuti rapat bulanan mendampingi Dirga dan Ricky saat ponsel di dalam kantong bajunya berbunyi. Karina dengan cepat meraih ponsel itu.


" Kak Gilang?" Mata Karina langsung berbinar melihat nama yang hadir di layar ponselnya saat itu.


" Ehem ..." Sambil berdehem dan menarik nafas dalam-dalam Karina kemudian mengangkat panggilan telepon dari Gilang itu.


" Halo, Assalamualaikum ... ada apa, Kak Gilang?" sapa Karina berusaha sesantai mungkin menerima panggilan telepon masuk dari Gilang.


" Waalaikumsalam, maaf ... apa saya mengganggu waktu kamu, Rin?" tanya Gilang dari seberang.


" Hmmm ... nggak, sih. Ada apa, Kak?" tanya Karina.


" Ah, tidak apa-apa, hanya tanya kabar saja." Gilang nampak agak canggung bicara.


" Oh ..." Karina pun hanya menyahuti 'Oh' saja.


" Kamu sedang sibuk, ya?"


" Nggak juga. Baru selesai meeting. Ada apa memangnya, Kak?" tanya Karina memancing, karena dia merasa jika Gilang seperti hendak menyampaikan sesuatu tapi terlihat ragu.


" Tidak apa-apa. Hanya ingin menyapa saja. Ya sudah kalau begitu saya tutup teleponnya."


" Oh, oke ...."


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Karina mencebikkan bibirnya setelah membalas salam Gilang.


" Gitu, doang?? Ngapain pakai telepon segala?" Karina menggerutu seraya menaruh ponsel di meja kerjanya dan melangkah ke toilet. Dan setelah dia keluar dari toilet, dia mendengar notif pesan masuk dari ponselnya. Dia mengintip si pengirim pesan ternyata Gilang. Karina segera membuka isi pesan dari Gilang itu.


" Kalau besok malam tidak ada acara, bisa temani saya menghadiri pesta pernikahan dalah satu nasabah saya?"


Karina tersenyum lebar mendapat pesan itu. Bahagia sudah pasti dirasakan wanita itu.


" Hmmm, tinggal bilang langsung saja pakai malu segala," gumam Karina, tak bisa menutupi rasa bahagianya.


" Gimana? Tidak bisa, ya?"


Satu pesan lagi masuk dari nomer Gilang, dan akhirnya Karina segera membalas pesan itu.


" Besok malam, ya? Nanti aku kabari secepatnya ya, Kak."


" Kalau kamu memang punya acara, tidak apa-apa, kok." Nada bicara Gilang terdengar kecewa mendapat jawaban yang tak pasti dari Karina.


" Kalau Kak Gilang butuh jawaban cepat dan punya kandidat lain, ya sudah Kak Gilang ajak dia saja. Jangan menunggu jawaban dari aku, Kak." Karina benar-benar menguji keseriusan Gilang.


" Saya mau kamu yang menemani."


Serasa diterpa angin semilir hati Karina mendengar keinginan dari Gilang. Belakangan ini sikap pria itu nampak mulai melunak terhadapnya.

__ADS_1


" Tapi aku nggak bisa jawab sekarang, Kak. Aku mesti minta ijin dulu ke Mbak Rania, ke Kak Dorga "


" Oh, ya sudah tidak usah kalau begitu. Sorry ya sudah ganggu waktu kamu. Assalamualaikum." Balasan jawaban dari Gilang seketika membuat hati Karina mencelos, matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.


" Oke, Kak. Aku di sini menumpang dengan Mbak Rania dan Kak Dirga. Jadi aku mesti minta ijin ke mereka. Apalagi sejak kejadian malam itu, mereka tidak akan membiarkan aku pergi malam hari sendiri tanpa alasan yang jelas. Semoga Kak Gilang memahami dan tidak salah paham. Waalaikumsalam ..." Air mata Karina langsung meleleh saat mengetikkan pesan itu. Dia sudah sangat percaya diri jika Gilang akan gigih mempertahankan ajakannya namun ternyata dia keliru.


Karina meletakkan punggungnya di sandaran kursi, sementara tangannya memijat pelipisnya. Dia benar-benar merasa kecewa saat ini. Namun tak lama suara ponselnya kembali berbunyi dan lagi nama Gilang yang muncul di sana.


Karina segera menyeka air matanya sebelum menerima panggilan itu.


" Ha ...."


" Maaf kalau saya egois." kata-kata Gilang terdengar dengan nada menyesal memotong perkataan Karina.


" Saya pikir kamu hanya mencari-cari alasan untuk menolak ajakan saya." Ucapan Gilang kali ini kembali membuat air mata Karina meleleh.


" Kalau begitu saya tunggu kabar kamu secepatnya."


Karina seakan terpaku tak sanggup berkata apa-apa selain sebuah senyuman yang terukir di bibirnya karena kecemasannya tadi tak terbukti nyata.


" Rin, kamu masih dengar saya, kan?" tanya Gilang karena tak terdengar lagi suara Karina di ponselnya.


" Iya, Kak."


" Kamu menangis?"


" Ah, nggak kok, Kak."


" Iya, Kak."


" Oke ya, assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam."


Setelah menyelesaikan panggilan telepon Gilang kini Karina menyilangkan tangannya di dada.


" Kak Gilang, I love you ..." gumamnya seraya tersenyum bahagia.


***


" Abang, besok malam kita jadi menghadiri pesta pernikahan relasi bisnis Abang, kan?" tanya Kirania.


" Iya, sayang." Dirga membalas tanpa menghentikan aktivitasnya di depan laptop.


" Mama Utami juga kemarin tanya aku, untuk resepsi pernikahan nanti kita mau pakai tema outdoor atau indoor ?"


" Kamu saja yang pilihkan, Yank. Menurut kamu yang mana?"


" Mana aku tahu, Abang. Aku ini 'kan orang biasa, mana tahu ditanya seperti itu. Orang seperti aku ini 'kan tahu nya menikah itu, lamaran, akad, terus langsung resepsi di rumah, atau di gedung untuk yang banyak uang."

__ADS_1


Dirga menghentikan aktivitasnya, lalu bangkit dan berjalan menuju istrinya yang sedang membuka-buka majalah di sofa.


" Kamu pernah membayangkan wedding party impian? Biasanya wanita suka berkhayal jika menikah nanti ingin pestanya seperti ini seperti itu. Lalu impian kamu yang seperti apa?" Dirga mendudukkan tubuhnya di samping Kirania sambil melingkarkan tangannya di pundak Kirania.


Kirania menatap wajah Dirga, " Aku nggak pernah berkhayal ingin pesta pernikahan yang seperti apa. Lagipula buat aku acara akad kemarin sudah lebih dari apa yang aku bayangkan, Abang."


" Itu karena kamu nggak punya ambisi," sindir Dirga.


Kirania menangkup rahang kokoh suaminya dengan kedua tangannya.


" Untuk apa aku punya ambisi karena hidup aku sekarang ini sudah sangat sempurna bersama Abang?" Kirania membenamkan sebuah kecupan lembut di bibir Dirga yang tentu saja langsung disambut Dirga dengan ciuman yang lebih berhasrat hingga menimbulkan suara decapan di ruangan itu.


" Kita lanjut di kamar, gimana?" pinta Dirga


"'Nanti saja di rumah, Aku nggak mau ketahuan lagi bercinta di kantor apalagi Abang masih sibuk." Kirania menolak halus.


" Sebentar saja Sayang. Sudah ada yang mulai bangun ini dan kamu harus tanggung jawab." Dirga bangkit berjalan ke meja langsung memencet intercom di meja kerjanya itu.


" Lis, saya tidak mau diganggu satu jam ke depan, ya!" perintah Dirga kepada sekretarisnya. Lalu Dirga melangkah ke arah pintu dan mengunci pintu ruang kerjanya.


" Aman ..." ucapnya kembali menghampiri Kirania.


" Mau lanjut di mana? Di sofa atau di kamar?" Dirga menyeringai.


" Abang, iiihhh ..." Belum sempat Kirania menjawab pilihan yang diberikan oleh suaminya itu, kini tubuhnya sudah direngkuh kedua lengan kokoh Dirga. Pria itu pun langsung membawa sang istri ke ruang istirahatnya.


" Abang 'kan masih sibuk," protes Kirania. saat Dirga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Karena aku sibuk makanya aku butuh vitamin yang bisa bikin aku semangat menyelesaikan tugas-tugasku." Dirga lalu mengungkung Kirania dengan tubuh kekarnya.


" Lho, Abang belum minum vitaminnya tadi?" tanya Kirania karena dia sudah menyiapkan vitamin untuk suaminya itu.


" Aku butuh vitamin yang lain, hanya vitamin ini yang membuat staminaku tetap prima dan imun tubuhku meningkat." Dirga kemudian menyergap bibir manis Kirania. Memberikan ciuman penuh has*rat sementara tangannya sudah melepas satu persatu kancing baju Kirania.


" Kali ini kamu yang memimpin permainan, ya!" Dirga langsung membalik posisi mereka hingga kini tubuh Kirania yang berada di atasnya.


" Silahkan Nyonya Dirgantara, tunjukkan aksimu."


Ucapan Dirga langsung membuat wajah Kirania langsung merona, karena dia merasa malu jika harus terlihat agresif saat bercin*ta dengan suaminya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Mohon maaf karena ada kesibukan di RL jadi agak ngaret up nya🙏

__ADS_1


Tetap dukung terus karya²ku ya, makasih🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2